
Ravi menghela nafas, dia sudah mengira akan kedatangan orang lain selain dirinya. "Apa yang kau lakukan disini!" Geram Ravi menatap mata pria berjas hitam yang menodongkan pistol itu.
"Tetua menginginkan Nona Ri berada di korea sekarang juga, anda diminta mundur Tuan Muda." Katanya dengan sopan. Dia memundurkan pistol yang masih di genggam Ravi dan menyimpannya di saku.
Ravi memijat pelipisnya. Dia tahu maksud dari para orang tua itu. Mereka bekerja dengan keras mencari orang biasa, pengganti Ketua untuk menjadi boneka kayu. Sebagai tameng keserakahan.
Memasukkan kembali Ri dalam daftar pewaris salah satu tujuan gila mereka. Ravi mengetahuinya sejak awal, sebab itu dia tegas menolak tapi sayangnya, penolakan itu tidak berarti meski dia adalah anak angkat ketua yang memegang kekuasaan setelah Cho Min Sik.
Darah yang mengalir dalam tubuhnya menjadi permasalahan bagi mereka. Jadi, Ravi sepakat dia akan membawa Ri dengan tangannya tanpa campur tangan siapapun. Namun, para tetua sepertinya tidak begitu percaya. Dilihat dari hadirnya pria berjas hitam ini.
"Aku sudah bilang akan membawa Ri ke Korea, Apa yang mereka lakukan!" Geram Ravi. Wajahnya memerah marah, menunjuk pintu. "Keluarlah, aku bisa mengurus adikku! Katakan pada Tetua sialan itu, aku bisa menghancurkan HARI saat ini juga jika tidak mengingat Cho Min Sik!"
Kata itu tidak terdengar seperti ancaman belaka, pria berjas tadi memandang ke depan pintu, mengangkat dagunya kepada seorang bawahan. Pria kedua yang mendapat sirine dari pria pertama berbalik menelepon seseorang.
Berselang beberapa menit, pria kedua menyimpan ponselnya di saku dalam jas dan berjalan ke arah pria pertama. Dia membisikkan kalimat singkat lalu kembali ke berdiri di posisi semula.
"Maaf Tuan Muda, tapi kami tidak bisa menolak permintaan Tetua." Sesudah kalimat itu keluar dari mulutnya, beberapa orang datang dari luar menodongkan senjata ke arah bawahan Ravi. Mereka di kurung dalam lingkaran.
Sigap pria pertama tadi menodongkan pistol ke kepala orang tua Ri. Ri yang berada di belakang tersentak maju ke depan tapi Ravi segera menahannya. Lengannya di tarik tetap berada di belakang.
"Ini perintah tuan, saya hanya menjalankan perintah!" Sahutnya. Dia melihat tatapan membunuh Ravi kepada dirinya jika dia tidak melepaskan dua orang sandera itu.
"Tetua sialan itu!"
Pria pertama itu melihat Ri, dia berbicara kepadanya. "Nona, silahkan pilih. Orang tuamu mati dan kehilangan hartanya atau kau ikut dan orang tuamu selamat." Ri tidak bisa menolak, dia langsung setuju ketika mendengar orang tuanya bisa selamat.
"Baiklah, Tapi lepaskan orang tuaku!" Sahut Ri berlinang air mata.
Ravi tidak menyangka, adiknya itu setuju hanya karena orang tua angkatnya menjadi objek. "Ri!"
__ADS_1
"Kakak diam! Kakak tidak bisa menyelamatkan mereka dengan balik mengancam." Ri mengangkat jari telunjuknya ke arah bibir Ravi. Kakak laki-lakinya terdiam lalu menurunkan tangan Ri pelan. Dia berjalan ke depan, matanya menatap langsung pria pertama tadi. "Jangan sampai kita bertemu di Korea." Katanya lalu mengawal Ri keluar dari sana.
Di pintu Ri menengok kedua orang tuanya yang berada di belakang. Mereka menangis sesegukan. "Ibu, ayah!" Katanya. Pipinya basah air mata itu mengalir deras. Ri menahan lengan Ravi yang akan beranjak keluar. "Tunggu dulu." Ucapnya lalu berlari kembali pada orang tuanya.
Ri memeluk keduanya erat dan menangis bersama. "Aku akan kembali, jangan melupakan aku." Ujar dia menghapus air mata keduanya secara bergantian.
"Nak, hiks hiks." Bukannya berhenti, tangisan Lien semakin deras. Pria pertama berjas hitam tadi segera memisahkan mereka lalu menarik Ri keluar tapi Ravi menghadang dan memegang tangan adiknya. "Tanganmu tidak pantas menyentuh adikku!" Dia keluar meminta pengamanan dan pergi dari Vietnam kembali ke Korea.
...🖤...
Bagi Ri perpisahan dengan orang tua angkatnya setelah ibunya meninggal adalah kesedihan paling mendalam. Dia tidak pernah membayangkan akan berpisah dengan keduanya denga cara paling menyakitkan. Mendapat ancaman dari bawahan ayah kandungnya, seperti penghinaan dilempari dengan kotoran.
Selama dalam perjalanan, dia tidak mengatakan apapun kepada Ravi. Dia duduk diam memandang awan yang membentang luas di langit biru. Sesekali pesawat itu berguncang karena turbulensi. Pria yang duduk di sebelahnya merasa bersalah dan terus memperhatikan Ri.
"Ri," Panggil Ravi pelan. Dia takut mengganggu sang adik.
"Maaf, kakak tidak... "
Ravi memalingkan wajahnya melihat sang adik. "Tidak Ri, ketua tidak ingin kau terlibat. Ini bukan perintah dari ketua Cho Min Sik. "
"Sama saja bukan, intinya aku harus menggantikan dia."
"Ri, kakak tah---"
"Pastikan saja orang tuaku tidak terkena masalah. Jangan menyakitinya, kau harus melindungi mereka. Aku akan mendengarmu." Kata Ri lalu menutup matanya.
Ri menggenggam erat tangannya, berharap orang tuanya baik-baik saja. Sementara Ravi bersandar dan mengingat pembicaraan dengan pamannya sebelum dia meninggalkan Vietnam.
.
__ADS_1
Ravi pamit pada pamannya, Pham. Dia berjanji akan melindungi adiknya selama dia berada di Korea. Kesedihan Lien terpancar dari wajahnya, dia memeluk sang suami menguatkan dirinya. Melihat punggung Ri air matanya menetes.
"Walau nyawaku menjadi taruhannya, aku tidak akan memberikan anakku! Teganya kalian memberi dia tekanan mengatasnamakan kami. " Sebagai Ayah, Pham merasa tidak berguna. Dia yang seharusnya menjadi pelindung malah di lindungi oleh anak perempuannya.
"Paman, alasanku kemari lebih cepat karena tidak ingin Ri bertemu dengan para pemangsa itu."
"Kau dan Ri punya hubungan erat sebagai saudara, jaga dia. Dan sebelum pergi, apa tidak sebaiknya kau mengunjungi adikmu?" Sahut Lien yang masih sesegukan.
Ravi menggeleng. Sejak dia pergi meninggalkan Vietnam namanya bukan lagi Thien Nam Nguyen tapi Ravi Cho. Dia meninggalkan semuanya di belakang dan melangkah seorang diri. Begitu orang tuanya meninggalkan dia dan hidupnya.
"Jika dia terlibat dengan manusia sepertiku, hidupnya tidak akan tenang. Lebih baik menjauh sama seperti yang di lakukan orang tuaku." Kata Ravi.
"Saat itu mereka tidak punya pilihan Nam, tidak ad---"
"Paman salah, tidak punya pilihan itu hanya alasan untuk membenarkan kelakuan mereka yang membuangku dan menjual anak kecil. Mereka punya pilihan, pilihannya adalah menjual anaknya sendiri."
Pham terdiam begitu juga Lien. Mereka merasa perkataan pria muda itu benar adanya. Pilihan yang di lakukan saudara adalah salah.
Ravi berbalik, dia menyudahi pembicaraan soal masa lalunya. Jika bukan karena Cho Min Sik, dia sudah berada di tanah yang dingin.
...🖤...
Pria berjas hitam berdiri di bawa terik matahari, memandang kuburan yang masih basah oleh hujan tadi. Tetua yang di maksud berdiri paling depan, tidak sedih dan tidak berduka atas kepulangan Cho Min Sik. Justru beberapa dari mereka bersuka cita atas musibah ini karena memikirkan kekuasaan yang penuh di tangannya.
"Sayang sekali Min Sik, kau harus memeluk kesepian lebih dulu."
.
.
__ADS_1
.