
Ri adalah nama panggil dari Ri Ahn atau Cho Ri Ahn. Dia merupakan anak dari Cho Min Sik, ketua Geng HARI. Salah satu kelompok terbesar di Korea. Walau terlahir sebagai anak ketua Geng, Ri Ahn di besarkan jauh dari segala aktivitas yang melibatkan kelompok berbahaya itu.
Ibu kandungnya bernama Mychau Nguyen, wanita berkebangsaan Vietnam. Setelah mendekati waktu lahiran, dia lari ke Vietnam dan melahirkan disana. 1 tahun Mychau di Vietnam, lalu dia kembali ke Korea seorang diri tanpa membawa sang putri.
Saat itu, tidak ada tanggapan dari Cho Min Sik, dia beruntung suaminya selalu sibuk dan hanya memikirkan urusan Geng HARI. Sedangkan Ri Ahn tetap tinggal di Vietnam bersama keluarga barunya. Mychau memberikan Ri Ahn kepada Pham Minh Thien dan Mai Lien Nguyen. Pasangan suami istri yang sudah menikah selama 20 tahun dan tidak memiliki anak.
Pham Minh Thien merupakan saudara jauh Mychau. Saat diminta mengasuh Ri Ahn mereka terkejut. Tidak pernah terbayangkan di usia mereka penginjak 50 tahun, pasang itu akan memiliki anak. Mengingat waktu lama yang mereka lalui. Bahagia adalah jawabannya.
Alasan dia di asuh jauh dari ayahnya sebab Mychau tidak ingin anaknya mewarisi bisnis sang suami. Dia berharap anak satu-satunya hidup dengan baik dan menjadi perempuan biasa di lingkungan yang biasa. Tanpa melibatkan kekerasan.
Orang tua angkatnya di Vietnam bekerja di sebuah restoran bernama thiếu niên yang artinya masa muda. Nama yang diberikan oleh pemilik asli restoran bernama Nhat Nguyen. Ketika dia memutuskan untuk pindah ke Islandia bersama keluarganya, dia memberikan restoran itu kepada ayah angkat Ri Ahn.
Mereka membesarkan Ri dengan kasih sayang selayaknya anak sendiri, bahkan keluarga besar keduanya menyukai Ri. Ketika acara keluarga pun, Ri selalu ikut ambil bagian. Ayah angkat Ri, Pham Minh Thien memiliki saudara tiri bernama Truong Yam Nian, dia adalah ibu kandung Thien Nam Nguyen, atau yang dikenal sebagai Ravi.
Ravi merupakan nama panggil yang diberikan oleh Cho Min Sik, dia keponakan dari Pham Minh Thien. Orang tua kandungnya menjual dia karena mengalami kesulitan keuangan. Dia dijual kepada seorang cartel perdagangan manusia. Entah takdir buruk apa hingga Ravi menjadi anak angkat dari ayah Ri di Korea. Secara tidak disengaja.
Ravi dan Ri sudah dekat sejak kecil. Kenangan masa kecil itu masih membekas dalam ingatan Ri. Dia menggambarkan Nam panggilannya kepada Ravi sebagai sosok kakak yang baik dan perhatian. Dia yang lemah sejak kecil sering menjadi objek empuk penindasan teman sebayanya. Disitulah Nam selalu menjadi benteng kokoh.
Dia baru mengetahui bahwa Nam di bawa ke Korea dan bekerja di Geng HARI saat berumur 15 tahun. Waktu itu secara tidak sengaja dia bertemu dengan Nam saat mengejar anggota yang berkhianat dan kabur ke Vietnam, kala itu. Ri mengenali sang kakak, karena setiap tahun dia mendapatkan kiriman foto dari Ravi.
Sejak awal Ravi tahu bahwa anak angkat pamannya itu adalah anak dari ketua Geng HARI. Bahwa mereka tidak memiliki hubungan darah. Dia tidak marah dan tidak iri. Malahan menganggap itu sebagai takdir yang telah di tetapkan. Dia menyayangi Ri sepenuh hatinya sebagai seorang saudara.
Ri selalu menasehati Ravi agar keluar dari kelompok itu tapi Ravi tidak bisa melakukannya. Perjanjian dengan Cho Min Sik menjadi satu dari banyak alasan. Ri tidak berdaya begitupun Ravi.
...🖤...
__ADS_1
Ri memandang lahan hijau luas di depannya dari balik balkon besar di rumah Cho Min Sik.
Setelah penobatannya, dia mendapat kabar bahwa kelompok yang dipimpin Cho Min Sik telah melakukan sesuatu yang besar di belakang. Siapa yang menjadi kliennya belum di ketahui. Ri meminta bantuan kepada kakaknya yang baru dia angkatnya menjadi Wakil Ketua Geng HARI.
"Bagaimana kak?" Tanya Ri setelah kakaknya duduk.
Jelas di mata Ravi ada ketidaknyamanan. Dia tidak ingin memberitahu Ri apa yang terjadi sebelum dia datang. "Kakak berharap kau tidak ikut campur. Ketua terdahulu sudah membuat perjanjian dengan klien dan beberapa orang yang dibentuk Ketua Cho sedang melakukan misinya."
"Kakak, aku menyadari sesuatu."
"Apa itu?" Tanya Ravi.
"Untuk terbebas dari kekangan harimau aku harus menjadi singa."
Matanya menatap mata Ri dengan tegas dia menyampaikan keinginannya.
"Ketua terdahulu sudah meninggal! Aku ketua yang baru, sudah seharusnya mereka mengikuti peraturan yang aku buat!"
Ravi menghela nafas berat. "Kakak tahu! Tapi Ri, kalau kau membuat mereka marah para tetua itu tidak akan tinggal diam. Kau tahu mengapa mereka membiarkan mu mengambil jabatan ayahmu!?"
"Kakak pikir aku bodoh? Aku tahu semuanya, hanya karena aku tinggal jauh dari Geng HARI bukan berarti aku tidak tahu apa-apa!"
"Kalau tahu, seharusnya kau tidak mengusik apa yang mereka kerjaan! Kau bisa dalam bahaya!"
Dia juga tahu, bahwa dia bisa dalam bahaya. "Kakak kan ada, apa aku juga harus takut kalau kau berada di sisiku? kau bisa menolongku kalau mereka marah! Walau kau tidak menjadi ketua Geng, mereka tidak bisa mengeluarkanmu."
__ADS_1
Ravi terdiam.
"Karena mereka takut padamu. Cho Min Sik, mewariskan harta dan kerajaannya padamu tapi karena kau menghormati para orang tua itu makanya kau mundur menjadi Ketua. Seandainya, kau meminta semua anggota Geng berada di hadapan mu saat ini juga mereka akan berbaris. Cobalah kalau kau tidak percaya."
Ri melihatnya sendiri, Ravi selalu menjadi otak Geng HARI. Tidak ada satupun dari mereka yang berani kepada Ravi bahkan Ketua terdahulu sangat menghormati anak muda itu. Ravi adalah satu-satunya anak yang di didik sendiri oleh Ketua. Para tetua dalam kelompok HARI mengira Ravi tidak akan berani kepada mereka sebab itu mereka berani mengusik dirinya. Padahal ada kisah dibalik itu semua.
Dua minggu sebelum Cho Min Sik meninggal, dia dan Ravi berlibur ke Villa pribadinya yang berada di Provinsi Chungcheong Selatan. Pada waktu itu dia juga memanggil pengacaranya dari firma hukum DM & Partners. Ada 4 orang pengacara yang menjadi saksi kala itu.
"Aku lemah, tapi kakak kuat. Aku mengambil keputusan untuk datang kesini karena mereka mengancam nyawa orang tuaku! Aku akan mengembalikan ancaman itu kepada mereka!"
"Berbahaya! Mereka tidak akan tinggal diam. Kau ingin orang tuamu menjadi objek lagi?" Kata Ravi mengingatkan Ri agar dia tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Menjadi Ketua tidaklah mudah. Kemampuan analis dan kemampuan untuk menekan egoisme harus di utamakan. Mereka berada dalam kelompok yang penuh dengan karakter.
"Kakak---"
"Tidak Ri, keamananmu lebih utama bagiku. Aku sudah berjanji kepada Paman Lien. Dan tentang orang tuamu, tenang saja. Beri kakak waktu."
Ri memandang lantai keramik, kakinya yang polos terasa dingin. Ravi ikut memperhatikan kaki adiknya tanpa alas. Dia berjalan ke rak kecil samping pintu mengambil sendal rumah bulu berwarna merah hati. Dia meletakkan sendal itu di depan kaki Ri. "Pakai." Pintanya.
Tapi Ri belum bergerak, dia masih memusatkan pandangannya ke bawah. "Apa yang kau pikirkan?" Tanya Ravi lagi. Ri mulai sadar dan menggeleng. "Aku hanya berpikir, bagaimana seseorang gadis sepertiku menjadi Ketua dari kelompok berbahaya. Ini seperti lelucon di siang bolong."
.
.
.
__ADS_1