
"Tidak ada masalah Ketua, semuanya bekerja dengan baik." Kata pengelolah yang Ri Ahn pekerjaan.
"Jika ada masalah, pastikan untuk segera melapor padaku."
"Siap."
Ri Ahn berkeliling melihat mobil-mobil yang terparkir. Dia memeriksa kondisi badan mobil dan semuanya terlihat mulus. "Bagus, semuanya bersih, pastikan semuanya mulus tanpa lecet. Pengecekan rutin itu perlu, jangan sampai lupa."
Pegawainya mengangguk.
"Ohiya, pegawai magang itu mana?"
"Dia bekerja di dalam, Kak Ravi bilang dia harus bekerja di ruangan."
"Hm?"
Terlihat bingung. Tidak biasanya kakaknya ikut campur soal karyawan. Dulu juga begitu. Kenapa sekarang, dia merubah poisis karyawan tanpa persetujuan Ri Ahh. Perempuan itu patut curiga.
"Kakakku dimana?"
"Kak Ravi dikantor,"
Ri Ahn berjalan kembali ke kantor untuk menemui kakaknya.
"Sejak kapan dia pindah posisi?" Tanya Ri Ahn sembari berjalan.
"Seminggu setelah anda membawanya."
"Secepat itu?"
Pengelola itu mengangguk.
"Tumben."
Tiba di kantor, Ravi terlihat duduk di sofa.
"Kakak!"
Pengelola rental memberikan ruang bagi keduanya untuk berbicara. Dia kembali bekerja seperti biasa.
Ri Ahn duduk di depan Ravi. Menilai Ravi terang-terangan. Pandangan menilai itu terlihat jelas oleh pria di depannya. Dia menaikkan satu alisnya.
"Kakak menyukai pegawai magang itu?"
"Siapa?" Polos.
Pura-pura tidak tahu, dalam hati Ri Ahn.
"Kim bilang kakak memindahkan posisinya dari lapangan ke administrasi, masih lupa?"
Awalnya dia bingung tapi setelah Ri Ahn mengingatkan dia ingat. "Oh, tidak juga."
Jawaban apa itu, dalam hati Ri Ahn terus mencemooh.
"Tidak juga itu apa?"
"Seperti yang kau dengar, tidak juga."
Ah terserahlah.
__ADS_1
"Kakak jangan menyukainya, titik!" Ri Ahn memperingatkan kakaknya.
"Kenapa?" Tanya Ravi. Dia penasaran kenapa adiknya yang tidak pernah ikut campur urusan percintaannya kini mencoba masuk ke ranah itu.
Di tarik naik bahunya. "Lakukan saja apa yang aku katakan, insting wanita itu kuat kak. Jangan dia." Ucap Ri Ahn.
Alasan dia membantu perempuan itu karena dia merasa kasihan, dia juga pernah ada di posisi sedang mencari pekerjaan tetapi tidak lolos. Wanita itu mengingatkannya pada Tam, temannya di Vietnam. Tanpa melihat prbadi, dia membantunya.
Tapi beda lagi jika itu sudah menyangkut kakaknya. Dia jelas harus melihat semuanya termaksud karakter. Urusan percintaan Ravi yang selalu haram untuk dia campuri, kali ini dia harus turun tangan.
"Ya," Pasrah. Dia tidak bisa menolak Ri Ahn.
Ri Ahn tertawa melihat kepasrahan kakaknya Tidak jauh dari ruangan mereka, seorang wanita melihat ke arah mereka dengan malu-malu. Ri Ahn menemukan pemandangan itu pertama kali. Dia menghela nafas panjang.
Dia memberikan tatapan dingin kepada wanita itu. Kemudian wanita yang juga tidak sengaja menemukan keberadaan Ri Ahn tersenyum kecut menggantikan senyum malu-malunya tadi. Ri Ahn menutup matanya perlahan, berpikir bahwa dirinya jahat kepada wanita tadi.
Perasaan Ri Ahh kepada wanita itu menjadi abu-abu ketika memikirkan kakaknya mungkin menyukainya. Dia bersikeras menolak tapi bagaimana jika Ravi menyukainya dan menemui wanita itu di belakangnya sama seperti dia waktu itu.
Ri Ahn cepat menggeleng menghilangkan khalayan buruknya. Ravi menolak mengabaikan sikap adik kecilnya. "Ada apa Ri Ahn?"
"Hah! Tidak ada kak."
"Sepertinya tidak begitu, tadi kau menggeleng dengan keras. Ada yang mengganggumu?"
Ri Ahn menggeleng dan tertawa, tawa canggungnya menyelamatkan dirinya. Dia tidak bisa menghilangkan perasaan cemas itu.
Mereka saling pandang mencari jawaban masing-masing. Karena takut dia akan kalah Ri Ahn menyudahi lebih dulu, dia mengalihkan pandangannya ke arah dinding kaca.
Keheningan menerpa. Saat itu, Ravi di landa kesedihan mendadak, tiba-tiba. Dia menghayalkan hal buruk.
"Ri Ahn." Panggil Ravi.
"Kakak berharap kau bahagia."
Kalimat itu tampaknya mengganggu Ri Ahn. Dia menyadari kesedihan di raut wajah Ravi. Pria itu berdiri dan menghampiri Ri Ahn. Di peluknya sang adik erat.
"Kakak akan menahan semua seragan untukmu, kau bisa berdiri di belakangku dan menjadikanku tameng. Jangan melakukan apapun dengan gegabah,"
"Apapun yang akan kau lakukan tolong jangan sampai melukai dirimu, kakak bisa menanggung semua rasa sakit tapi tidak dengan rasa sakit kehilanganmu."
Lebih erat. Ri Ahn bisa merakan remuk hati Ravi saat berbicara. Air matanya jatuh melewati pipi mulusnya hingga membasahi pundak Ravi.
"Aku akan hancur jika kau terluka."
Kalimat terakhir itu membuatnya tidak ingin melepaskan pelukan Ravi. Dia selalu berlindung di belakang Ravi. Dulu, dan sekarang. Ri berharap esok hari dia yang akan melindungi Ravi.
.
Di luar pengelola dan pegawai serba salah, mereka ingin mengabarkan berita tetapi melihat keadaan keduanya, mereka mengurungkan niatnya. Sibuk saling lempar tugas, tidak sengaja salah satunya menabrak pintu kaca hingga membuat orang yang berada di dalam beralih melihat sumber ribut.
"Ketua, kak."
Cengiran khas orang yang ketahuan sedang mengintip.
Ri Ahn tertawa kecil, dia meminta keduanya masuk.
"Ada apa?" Kata Ravi.
"Pengawal kak Ravi meminta bertemu."
__ADS_1
Ravi mengangguk, dia pamit sebentar pada Ri Ahn untuk menemui pengawalnya. Ri Ahn mengiyakan dan berakhir sibuk pada ponselnya.
.
"Bagaimana?" Tanya Ravi ketika dia sudah berada di tempat.
Mereka memberi hormat. "Mereka mencari seseorang bernama Jeong Somin."
Ravi mengingat-ingat siapa Jeong Somin tapi dia tidak mengenal orang dengan nama itu.
"Siapa dia?"
"Seorang wanita penghibur kak, dulu dia bekerja di salah satu Club milik Ho Young tapi club itu sudah tidak beroperasi. Ada kabar bahwa Jeong Somin sekarang tinggal di Kota ini."
Ravi mengangguk. "Kalian mengetahui alasan dia mencari wanita bernama Jeong Somin itu?"
"Tidak kak, hanya itu yang bisa kami dapatkan." Katanya.
Ravi kembali mengangguk. "Baiklah, terima kasih."
Setelah itu dia kembali ke kantor dan tidak menemukan adiknya di sana. Dia berbalik mencarinya di semua ruang kantor. Tidak lupa bertanya pada beberapa karyawan, tapi tidak ada yang melihat Ri Ahn.
Dia turun ke bawah dan bertemu dengan pengelola. "Dimana ketua?"
Pria itu menunjuk kerumuan orang yang berada di trotoar jalan. "Ada kecelakaan kak, ketua berlari untuk melihat keadaan mereka"
Melihat kekhawatiran Ravi, dia kembali bersuara. "Tenang saja kak, ketua di temani pengawal anda."
Tanpa basa-basi, Ravi berlari ke arah kerumunan itu dan menemukan adiknya sedang menelepon ambulance.
"Ri" Kata Ravi.
Adiknya balik meminta pria itu menunggu. Setelah dia memberikan alamat kepada petugas, dia segera menghampiri Ravi.
"Kakak sudah bicara dengan pengawalmu?"
"Ya, bagaimana keadaan orang itu?"
Dia melihat ada sepeda motor dan mobil serta beberapa orang yang duduk di pinggir trotoar.
"Aku sudah telepon ambulance,"
Ravi mengangguk, dia menarik pelan tubuh Ri Ahn. "Ayo, kita pulang."
"Tapi... " Ri Ahn ingin menunggu sampai ambulance datang.
"Ada yang lain." Ravi memberikan kode kepada anak buahnya agar menunggu para korban. Kemudian dia membawa Ri Ahn pergi.
.
Dari seberang jalan, ada sebuah cafe. Di luar, dibawah payung duduk dua pria. Salah satunya sedang melihat ke arah kerumunan orang, yang lainnya sedang menikmati kopi hitam di gelas kecil berwarna putih.
"Kebetulan yang pas. Aku sempat berpikir kalian memang di takdirkan satu sama lain." Kata pria yang tadi melihat kerumunan dengan mulut terbuka. Dia sedang menggoda temannya tapi temannya tidak tertarik akan godaan yang dilemparkan.
"Berpura-pura tidak perduli tapi hatimu senang. Kita datang mencari wanita, istirahat pun masih menemukan wanita lainnya, bebar-benar hebat kau Ho Young, "
Ho Young diam, dia tidak membalas satu katapun.
"Lain maksud hati, lain tindakan. Kau cocok menjadi actor." Ujar pria itu lagi sembari mengibaskan tangannya. "Terserahlah, kau juga yang menyesal."
__ADS_1
.