Reflection, The Black Rose

Reflection, The Black Rose
Ep 12 : Kisah baru kehidupan Ri


__ADS_3

Setelah bicara dengan kakaknya Ri kembali ke kamar. Ri melihat foto yang berada di nakas. Foto itu terlihat kusam. Disana, dirinya berumur 3 tahun, Ibu kandung dan kedua orang tua angkatnya tersenyum ke arah kamera. Lalu dia membukan laci bagian bawah, diambil satu album foto berukuran sedang. Dibuka perlahan, satu demi satu lembar telah berganti. Tangannya tiba-tiba berhenti, jejeran foto itu menunjukkan bertapa seringnya Ibu kandung dia datang mengunjungi dirinya.


Mulai saat dia bayi, 1 tahun, 2 tahun, 3 tahun, 4 tahun, 5 tahun sampai umurnya 11 tahun. Dia membalik lagi lembarnya dan di sebelah itu terdapat foto ketika dia berumur 12 tahun. Lembar fotonya tidak punya teman seperti sebelumnya. Setelah foto itu, terdapat titik kosong di sebelahnya. Yang menandakan bahwa mereka tidak lagi punya waktu bertemu. Waktu bersama telah menghilang bersama ibunya.


Dia ingat hari itu, hari dimana pertama kalinya Cho Min Sik datang ke rumahnya setelah ibu kandungnya meninggal. Dia mendapat kabar duka dan membuatnya menangis tak henti. Bahkan ketika Cho Min Sik memeluknya dia tidak merasakan kehangatan sama sekali. Dingin, layaknya Es yang merendam dirinya. Dia ingin berteriak agar orang-orang menjauhkan Es itu.


Yang dia butuhkan adalah pelukan hangat sang ibu, tapi itu tidak akan pernah terjadi lagi. Ketika ayahnya melepaskan pelukan, dia merasa lega. Kaki kecilnya bergerak menjauh dari Cho Min Sik dan memeluk Mai Lien Nguyen. Dia menangis sejadi-jadinya melimpahkan seluruh kesedihan. Cho Min Sik, memandang sendu anaknya. Dia tidak tahu bahwa kedatangannya ini tidak berpengaruh sama sekali.


Tujuan kedatangan Cho Min Sik kala itu untuk membawa Ri kembali Ke Korea. Namun, orang tua angkat Ri tidak setuju. Mereka memiliki surat wasiat Ibu Ri dan telah mendaftarkan Ri menjadi anaknya. Tidak ada yang bisa Cho Min Sik lakukan saat itu, jadi dia membiarkan saja. Pria itu menyalahkan dirinya karena tidak mencegah sang istri membawa Ri setelah dia dilahirkan.


Terlalu sibuk dengan urusannya dia jadi mengabaikan rumah tangannya. Cho Min Sik menyesal. Dia berharap penyesalan tidak pernah datang, tapi nasi telah menjadi bubur. Dia telah kehilangan sang istri begitupun dengan Ri, anak semata wayangnya. Melihat menolakan dari anaknya, saat itu juga dia kembali ke Korea.


Ri, teridam cukup lama masih memegang album foto itu. Bulir-bulir air turun membasahi pipi mulusnya. Dia rindu kehidupan tenangnya, dia rindu orang tuanya. Tapi dia tidak tahu kapan bisa pulang dan berkumpul bersama keluarganya lagi. Tangannya perlahan menutup album itu dan di simpan kembali ke tempatnya.


Kakinya melangkah ke kamar mandi, membilas wajahnya yang sembab sehabis menangis.


Tok tok tok


Ketukan pintu terdengar, Ri baru saja keluar dari kamar mandi. "Siapa?" Tanya dia.


"Saya Nona!"


Setelah mendengar suara dia bergegas membuka pintu dan mempersilahkan pria itu masuk. "Apa sudah ada informasi pak?"


Satu-satunya pelayan Mychau Nguyen yang masih hidup. Dia mendedikasikan masa mudanya dengan menjadi pelayan di rumah Cho Min Sik untuk membantu Mychau. Bernama Baren Nguyen, dia adalah sepupu jauh dari ayah Mychau. Walaupun sang majikan telah meninggal, Baren masih tinggal di Korea. Alasannya adalah menunggu sang pewaris sah datang.


Ri meminta bantuan untuk mencari informasi tentang pekerjaan terakhir sebelum ayahnya meninggal. Meski berstatus sebagai pelayan Mychau, Baren banyak mengenal orang-orang yang setia kepada Mychau. Selama dia tinggal di sisi Mychau, dia diperkenalkan dengan layak dan mendapat banyak jaringan. Bahkan informasi penting sekalipun, dia mengetahuinya.


"Ketua Cho telah menandatangani kontrak dengan seorang perempuan. Didalam kontrak itu tertera pekerjaan kotor apa yang harus dia lakukan dan apa imbalannya"


"Pekerjaan apa dan apa imbalannya?"


"Menghancurkan keluarga Lee. Soal imbalannya, saya tidak tahu detail, hanya di katakan bahwa imbalan itu sesuatu yang di inginkan oleh ketua."


Ri mengerutkan keningnya. "Keluarga Lee itu siapa? Dan siapa wanita itu?"


"Saya tidak mengenali wanita itu. Namun, jika tentang keluarga Lee, siapa yang tidak tahu. Mereka adalah keluarga kaya terpandang di Korea."

__ADS_1


Ri akhirnya mengangguk. Dia cukup khawatir masalah ini akan menimbulkan bencana. Dia punya firasat aneh.


"Nona, mengapa anda tidak memberitahu Tuan Muda Ravi. Lebih dari saya, dia pasti akan membatu anda" Tanya Baren.


Justru itu, dalam hati Ri.


Kakaknya tidak akan setuju jika dia tahu. Sebab itu Ri meminta bantuan orang lain.


"Apa cuma itu? Ada hal lainnya?"


"Saya tidak tahu apakah ini pantas untuk disampaikan, tapi pekerjaan itu memakan banyak korban. Sebelum saya bertemu anda, suasana di bawah tidak kondusif. Beberapa orang telah di bawa ke markas Geng KOM."


Kepalanya pusing, tidak menyangka banyak sekali yang terlibat. "Geng KOM itu siapa lagi? Kenapa dia ikut campur?" Terlalu banyak informasi.


"Itu--"


"Kakak sudah bilang, jangan mencari tahu!"


Marah, dari belakang Ravi menatap Ri dengan tatapan tajam. Suara berat dan dalam Ravi membekukan tubuh Ri dan Baren.


"Keluarlah, aku akan berbicara dengan adikku!"


Ucap Ravi tanpa melihat Baren.


Matanya masih beradu dengan mata Ri yang sudah memerah karena takut.


"Kau tahu itu berbahaya dan masih mencari tahu? Kau anggap ucapan kakak sebagai lelucon?"


"Bukan begitu, aku mengerti itu berbahaya tapi pekerjaan apa yang membuat orang mati seperti itu?"


"Ri, hal itu sudah biasa di industri ini! Mereka memilih sudah sepantasnya bertanggung jawab terhadap segala resiko!"


"Nyawa begitu tidak berharga bagimu?" Ri marah. "Bagaimana bisa kau berkata seperti itu? Jika mereka keluargamu akankah kata itu keluar dari mulutmu?"


Ravi mengerti adiknya. Dia hidup dengan pemahaman dalam masyarakat biasa. Dia tidak pernah menginjakkan kaki ke tempat berlumpur seperti dimana dia besar.


"Keluarga? Aku besar bersama mereka, kami menjalankan tugas bersama, tidur dan makan bersama! Kau bilang mereka bukan keluargaku? Keluarga itu bagaimana menurutmu? Yang punya hubungan darah? Oh bagaimana ya, orang yang punya hubungan darah denganku malahan menjual anaknya untuk keuntungan sendiri dan keluarga yang kau maksud itu!"

__ADS_1


Ri tidak bermaksud melukai kakaknya. Dia sadar perkataan barusan adalah kesalahan. Ri berdiri dan memeluk kakaknya. "Aku salah. Maaf, jangan marah lagi!" Tulus.


"Tapi kak--"


"Tidak, jangan katakan tapi! Kakak sudah katakan dengan jelas padamu, jangan berani ikut campur urusan Ketua Cho!"


Ravi melepaskan pelukan adiknya dan pergi meninggalkan Ri seorang diri di kamar.


.


Ravi menatap pintu kamar Ri setelah dia keluar. Cukup keras dan tegas dia pada Ri hari ini, semuanya dia lakukan untuk membuat adiknya aman. Para tetua itu tidak akan tinggal diam setelah mengetahui jika Ri ikut campur.


"Tuan muda, ada seseorang yang ingin bertemu," Pelayan itu menyampaikan pesan lalu kembali.


Ravi melihat jendela dari atas. Sebuah mobil sedan berwarna silver terparkir di bawah, untuk pertama kalinya dia tidak mengenali siapa pemilik mobil itu. Dia turun setelah memperbaiki kemejanya yang tergulung ke siku.


"Ada urusan apa anda kesini?" Tanya dia begitu membuka pintu ruang tengah.


Beberapa orang berjas hitam memberi hormat kepada Ravi. Salah satu dari mereka mendekat dan memberikan surat kepada Ravi.


Ravi membaca dan terkejut melihat isinya. "Siapa yang membuat laporan itu?"


"Ho Young! Mereka mengganggu bisnis kami. Bahkan seorang jaksa datang membawa surat penggeledahan dan penyitaan. Dan bukan hanya kami, mereka yang berada di daerah lain juga mendapat masalah yang sama!"


Lalu pria gondrong dengan bekas luka di dahinya berbicara. "Sebenarnya apa yang terjadi? Ho Young tidak mungkin menganggu tanpa alasan! Apa ada pekerjaan yang kami tidak ketahui?"


Ravi tidak menyangka, masalahnya akan meluas sampai ke bisnis Geng HARI. Dia kembali bertanya-tanya bagaimana Ketua terdahulu menyetujui kontrak yang merugikan bagi kelompok. Dia menyadari ada yang disembunyikan. Sebelum menjawab suara perempuan dari belakang terdengar.


"Siapa Ho Young!?"


Ri berdiri di ujung tangga. Semua orang memperhatikan dia.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2