
Ri Ahn akan memegang punggung Ho Young tapi tangannya di hadang. "Tidak apa-apa." Kata Pria itu lalu dia berdiri. "Makanannya sudah datang, makanlah." Setelah dia memberitahu Ri Ahn dia pergi. Keluar dari apartemen.
Perempuan itu terdiam, menatap pintu yang baru saja berbunyi setelah di tutup. Suasananya menjadi canggung. Bagi Ri Ahn, sikap Ho Young tidak bisa di tebak, selalu berubah-ubah. Dia bisa menunjukkan perhatian sampai membuat merinding lalu pria itu mulai bersikap dingin sampai membekukan.
Sibuk dengan pikirannya tentang Ho Young, perut Ri Ahn berbunyi. Lapar melanda sejak tadi dia belum makan. Dia berdiri menuju meja makan, sesampainya di sana rasa laparnya bertambah melihat macam makanan berada di meja. Sebelum duduk, dia menengok ke arah pintu masuk dan menghela nafas.
"Sudahlah, dia sendiri yang bilang makan saja." Ri Ahn menikmati makanan yang sudah di siapkan.
Hampir 20 menit sesi makan Ri Ahn sudah selesai, dia tutup semua lauk dan membawa piring kotornya ke wastafel untuk di cuci.
Tangannya belum kering, dering bel rumah berbunyi. Ri Ahn mengerutkan alisnya. Dia berpikir sembari berjalan ke arah monitor kecil. Di perhatian layar untuk melihat siapa pengunjung itu. Seorang pria dengan seragam pengantar paket berdiri dengan kardus kecil berjumlah 3 kotak berwarna coklat.
"Taruh saja barangnya di depan pintu." Pinta Ri Ahn, berbicara melalui spiker.
"Anda harus tanda tangan Nyonya." Kata pengantar paket itu.
"Tapi pemiliknya tidak di rumah." Jawab dia lagi.
"Anda harus menandatangani tanda terima Nyonya, ini sudah peraturan perusahaan." Ujarnya sopan.
Perempuan itu tidak dapat melihat wajah sang pengirim paket karena topinya yang terlalu kebawah hingga menutup wajahnya. Dia pasrah, sebelum Ri Ahn membuka pintu dari arah belakang Ho Young datang.
"Permisi, ini paket saya?" Tanya Ho Young pada orang itu.
Sedikit terkejut pria tadi berbalik dan mengangguk pada Ho Young. Segera di berikan kertas tanda terima dan di tanda tangani oleh pria itu. "Asisten rumah tangga bapak seperti takut buka pintu untuk orang asing, padahal saya sudah bilang ini untuk tanda terima." Katanya berusaha menjelaskan. Dia juga bingung untuk apa, sekedar bersikap ramah.
"Asisten?"
"Wanita di dalam.. " Tunjuk kurir itu.
"Ah, istri saya."
Terkejut. "Maaf pak. Soalnya tadi istri anda bilang pemilik rumah sedang keluar jadi saya pikir... " Ujarnya menunduk sopan.
"Ya tidak apa-apa. Mari." Ujar Ho Young lalu dia masuk ke dalam.
Pria itu juga pergi sebelum dia menuruni tangga sempat dia berbalik melihat pintu apartemen Ho Young dan kembali berjalan.
.
Ri Ahn mendengar perbincangan kedua pria itu melalui speaker. Canggung dia menggenggam tangannya erat. Saat pintu terbuka memperlihatkan sosok Ho Young wajahnya memerah. Dia menunduk.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Ho Young melihat tingkah tidak biasa dari perempuan itu. Yang di tanya menggeleng dan melengos pergi.
Ri Ahn duduk di sofa yang tadi dia tempati, sementara pria itu memalingkan kepalanya ke arah meja makan. "Kau sudah makan?" Tanya dia lagi.
Kembali perempuan itu bungkam, dia mengangguk sebagai jawaban. Ho Young berjalan ke sofa dan duduk di depan Ri Ahn.
"Lusa kakakmu pulang, katakan padanya kau akan menikah denganku sebagai syarat bisnis HARI kembali beroperasi."
Ri Ahn melotot, dia kaget mendengar Ho Young memintanya jujur. "Aku tidak mengerti,"
"Bagian mana yang tidak kau mengerti?"
"Kau memintaku jujur pada kakakku?"
"Lalu kau ingin berbohong?"
Ri Ahn menggeleng lalu mengangguk. Dia juga tidak tahu harus bagaimana. Tentu saja kakaknya akan menolak pikir dia dalam hati.
Seperti tahu apa yang di pikirkan Ri Ahn. Ho Young bicara. "Penolakan kakakmu tidak ada artinya, kau hanya perlu mengumumkan berita ini padanya."
"Bagaimana aku menikah tanpa persetujuannya?" Tanya Ri Ahn polos.
"Hah? Dia bukan orang tuamu kan, statusnya juga hanya kakak angkat tanpa hubungan darah dan hukum. Untuk apa aku meminta restunya dengan serius?"
"Benar, dia anak angkat ayahmu tapi kau bukan anak Cho Min Sik secara hukum lagi. Pham adalah ayahmu di mata hukum."
Ri Ahn terbelalak. "Kau kenal ayahku?"
Ho Young diam menatap mata Ri Ahn dalam. Tersirat makna yang dalam. Lalu dia menunduk. Tanpa menjawab pertanyaan Ri Ahn. "Besok aku akan berangkat ke Vietnam menemui orang tuamu. Jika mereka juga menolak, pernikahanku denganmu tetap terlaksana. Mengerti?"
Ri Ahn mengangguk, lalu teringat masalah yang lebih penting. "Tapi---"
"Tidak perlu khawatir, para tua bangka itu akan aku urus setelah kau menyandang status sebagai istirku."
"Tapi---"
"Bersiaplah!" Singkat Ho Young.
"Untuk?"
"Orang dari firma hukum akan datang, kontrak kita perlu di sahkan secara hukum. Malam ini kau tidur disini."
__ADS_1
"Tidak bisa!"
"Sudah ku bilang bisa!"
"Ho Young!"
"Ri Ahn, dengar! Akulah yang menyetir semuanya. Jadi ikuti kemauanku atau kesepakatan kita selesai!"
Ri Ahn terganggu dengan sikap Ho Young, dia terhina. "Apa kau tidak keterlaluan?"
"Yooju akan mengurus keberadaanmu dimansion Cho Min Sik, kalau itu yang kau khawatirkan."
"Yooju? Maksudmu, Yooju pelayan mansion Cho Min Sik? Gadis itu membantu---- ah jadi dia.. "
"Benar, jadi kau tidak perlu khawatir. Bagaimana mungkin pengantin perempuan tidak ada di malam pertama pernikahannya!?"
Banyak sekali pertanyaan dalam kepala Ri Ahn. "Aku pikir kau hanya ingin pernikahan ini disembunyikan?"
Tertawa kecil Ho Young membuat Ri Ahn tidak nyaman. "Kau pikir aku Darren? Untuk apa menikah sembunyi-sembunyi, jika bisa menikah dengan Terang-terangan. Keuntunganku adalah menikah secara terbuka denganmu, keuntunganmu adalah bisnis yang berjalan dengan menikah denganku. Jangan terbalik."
Dia menepuk pundak Ri Ahn pelan secara bersamaan pengacara Ho Young datang. Seharian itu pembahasan mereka hanya terkait masalah kontrak dan pendaftaran pernikahan keduanya secara hukum. Sementara acara pernikahan yang akan di gelar belum dipastikan waktunya. Tunggu sampai Ho Young pulang dari Vietnam dan Ri Ahn memberi kabar kepada kakaknya. Barulah mereka akan membahas itu lagi.
Ri Ahn melihat pasal-pasal yang di susun oleh tim hukum Ho Young. Semuanya terasa benar kecuali, pembahasan soal masalah ranjang mereka. Dia melongo ketika pembahasan itu di bahas di atas kertas dengan banyaknya orang disana.
Ri Ahn belum memberi komentar. Kesal dan malu menjadi satu dalam kepalanya dia terus memikirkan cara yang tepat menyampaikan pendapat. Ho Young menunggu, melirik dan mengamati gestur tubuh perempuan itu.
"Apa kita harus membahas masalah ini disini?"
"Kenapa?"
"Tidak, ini terlalu sensitif."
"Apanya? Untukku semuanya harus tertata sehingga tidak ada pihak yang di rugikan."
"Bukankah ini hanya kontrak? Kenapa aku harus naik ke ranjangmu!?" Serbu Ri Ahn.
"Kenapa lagi, bukankah itu sudah biasa? Kau tidak pernah pacaran? Tidak mungkin pria yang mendekatimu tidak pern----"
Tamparan keras mendarat di pipi Ho Young. Semuanya orang yang berada di sana terkesiap pada apa yang di lakukan perempuan itu.
.
__ADS_1
.
.