
Ho Young hanya melihat pintu itu sekilas lalu kembali bekerja seperti biasa. Memeriksa semua bisnisnya berjalan dengan baik. Ada saat, ekspresi wajah Ho Young membuat Dori pucat seketika, dia pamit untuk membantu Yun.
Dalam ruangan itu tinggal lah Ho Young seorang diri. Dia mengambil ponselnya dan menekan nomer seorang teman yang sudah lama tidak dia temui. Seseorang yang telah kehilangan dirinya sejak hari naas menimpa istrinya.
Sejak hari itu tidak ada komunikasi antara mereka, hal itu juga karena temannya sedang mengejar jejak kehidupan sebelum istrinya meninggal dia di tempat lain.
Barulah setelah dia pulang untuk mengurus masalah perusahaan mendesak, Ho Young ingin bertemu dengannya. Jangan sampai tidak ada hari esok lagi ketika temannya sudah meninggalkan Korea untuk selamanya. .
Dia pernah berasa di posisi temannya saat itu, kehilangan istrinya karena kesalahan orang lain. Sambungan telepon itu pelan dan akurat. Lee Seok Hoon atau yang biasa di kenal sebagai Darren Lee mengangkat telepon tersebut.
"Ho Young," Sapanya singkat.
"Darren. Apa kita bisa bertemu?" Tanya dia.
Beberapa hari ini Darren sibuk mengurus perusahaannya. Ayahnya yang mengambil tanggungjawab itu sedang tidak sehat. Jadi Pria itu kembali. Entah berapa lama dia berada di Korea.
"Tentu. Kirimkan lokasimu."
Tidak ada basa basi ketika dia berbicara dengan Darren. Pria itu juga tidak senang berputar ketika membahas sesuatu masalah.
Ho Young mengirim lokasi pertemuan mereka. Di salah satu hotel bintang 5. Walau masih terbilang pagi, Ho Young berangkat lebih awal.
Dia dan Darren tidak suka orang yang telat. Mungkin mereka akan bertemu saat memasuki lobi hotel.
20 menit kemudian, Ho Young sudah sampai. Dia sudah memprediksi bahwa mungkin dia dan Darren akan berpapasan. Terlihat mobil pria itu berada di depannya sedang di pindahkan oleh seorang petugas valet.
Dia juga turun dan memberikan kunci mobilnya kepada petugas Valet lainnya. Ho Young mengangguk kepada Darren. Mereka masuk bersama kedalam hotel.
"Jangan bilang kau memesan ballrom atau ruang rapat."
Suara tawa singkat Darren memecah perasaan ragu Ho Young pada kondisi temannya.
"Tentu tidak, kamar biasa." Sahutnya.
Ada banyak hal yang ingin dia tanyakan juga sampaikan kepada Darren. Mengingat pria yang paling bijak di anatara temannya.
"Ayahmu bagaimana?" Tanya Ho Young saat mereka berada di lift.
Darren menghadap ke depan. "Ayahku baik-baik saja. Dia mungkin terlalu lelah mengurus dua perusahaan secara bersamaan. Salahku membiarkan dia mengurus semuanya."
Pria yang tadi bertanya mengangguk membenarkan. Bagaimana mungkin tidak lelah. "Jadi, berapa lama kau berniat tinggal di sini?" Lagi Ho Young bertanya.
Darren tidak langsung menjawab, dia berpikir sebentar. "Sampai aku menemukan seseorang yang bisa mengurus perusahaanku, kau tertarik?" Langsung.
__ADS_1
Ho Young tertawa sembari menggeleng. "Aku mengurus bisnismu? Kau ingin semua orang tahu hubungan kita? Tidak, terima kasih. Hidupku cukup sulit." Dia tertawa lagi tetapi kali ini lebih singkat.
Lift terbuka, mereka jalan berdampingan sampai di depan kamar. Ho Young menarik kartu aksesnya. Tidak ada yang berubah dari tempat mereka sering bertemu. Semuanya masih sama.
Darren lebih dulu duduk di sofa, sementara Ho Young mengambil minuman dingin di kulkas.
Terlihat sangat lelah, tidak seperti tadi di depan umum. Darren memgambil minuman dari tangan Ho Young. Pria itu duduk di depannya.
"Kau baik-baik saja?" Kata Ho Young.
Mereka hanya berdua, apa yang tidak pantas terlihat di depan umum Ho Young mengetahuinya dengan jelas. Dan apa yang bisa dia katakan jika hanya berdua.
"Sulit, seperti yang kau tahu."
Ho Young mengangguk. Sulit sekali kata dia dalam hati. Apalagi dirinya memiliki Jung Yun Young.
"Dia benar-benar merubahmu Darren."
"Aku juga berpikir seperti itu, Valerie----"
Darren diam. Menyebut nama istrinya terasa menyakitkan. Dia di tinggal sendiri.
Suaranya mendadak serak. "Istriku, sepertinya marah. Dia pergi lebih dulu sebelum menerima banyak hal dariku. Mungkin juga dia lelah, suami yang tidak bisa melindunginya, dan juga masalah yang timbul karenanya. Dulu saat istrimu datang padaku, aku berpikir mungkin dia sedang berpikir berlebihan. Karena itu aku memintanya menunggu sampai kau menjelaskan semua hal tapi aku merasa bersalah karenanya."
Ho Young mengerti kemana arah pembicaraan pria itu. Dia menundukkan kepalanya menatap tangan yang terkatup erat satu sama lain. Saat kehilangan istrinya dia juga menyalahkan diri. Darren mungkin akan selalu dalam fase itu. Dia mengerti.
Darren tersenyum. Dia membenarkan perkataan Ho Young. "Kau benar. ----- ngomong-ngomong, kau tidak mungkin memanggilku hanya untuk menepuk pundak teman yang bersedih karena kehilangan kekasihnya."
"Kau ini peramal ya? Ah jangan deh, Valerie tidak suka mendengar kata itu."
Ha ha ha ha
Suara tawa Ho Young terdengar renyah. Dia berusaha menghibur.. Darren ikut tersenyum dan tetawa kecil lalu menggeleng. Tidak pernah sia-sia bagi Darren menemui Ho Young. Dia tahu dimana titik harus bersimpati dan bagian mana dia berusaha menghibur.
"Kau tampak kehilangan banyak otot, tidak olahraga lagi?"
"Haruskah aku memperlihatkan ototku?" Darren bercanda dan hampir melepaskan pakaiannya.
Ho Young mengangkat tangannya. "Oh tidak perlu Darren, aku takut tergiur. "
"Sialan kau!" Umpat Darren.
Mereka asik berbicara, sampai Ho Young lupa ingin berbicara tentang masalah yang menimpanya. Tapi Darren selalu ingat.
__ADS_1
"Lalu? Masalah apa yang menimpamu?" Sahut Darren sembari berdiri dari sofa. Dia berjalan ke arah mini bar mengambil minuman di kulkas. "Kau mau apa?"
"Apa saja, asal jangan racun." Teriak Ho Young.
Tidak lama, tapi dia selesai membuat kopi untuk Ho Young dan jus untuknya. Jus di dalam kulkas langsung di tuang ke gelas jadi tidak butuh waktu yang banyak.
"Kau jadi mirip Valerie. "
"Ya, Valerie akan marah jika aku minum kopi terlalu banyak. Cukup 1 gelas sehari."
"Dan kau mengikutinya?"
Darren mengangguk.
"Yah, tentu saja. Itu salah satu kebahagiaan menjadi seorang suami."
Mereka saling setuju. Dan berakhir dengan Ho Young yang tidak membalas pertanyaan Darren tadi. Darren yang belum menemukan titik terang berbicara lagi.
"Kau mau bicara tentang wanita?"
Ho Young berhenti tertawa, dia menatap Darren.
Jadi benar ya? Dalam hati pria itu, sekali lihat dia bisa tahu maksud tatapan Ho Young kepadanya.
"Aku pikir itu bukan Yun. Dimana kau bertemu dengannya ?"
Untuk pertama kalinya, Ho Young akan bercerita tentang wanita setelah istirahat meninggal. Selain Yun yang selalu berada di sisinya, dia tidak pernah tertarik kepada wanita manapun.
"Hubungan kamu tidak seperti yang kau bayangkan" Jelas Ho Young, agar Darren tidak salahpaham kepadanya.
Darre mengangguk mengerti perkataan temannya. "Ya, dan aku tidak membayangkan bagaimana hubungan kalian," Diselingi dengan tawa pelan. Ekspresi pria itu menunjukkan dia tahu banyak hal.
Ho Young tidak bisa membantah. "Jika seorang pria berbohong, apa wanita akan memaafkannya saat kebohongan itu terbongkar?"
Darren menaikkan satu alisnya. "Tergantung, kebohongan seperti apa itu. Karena semua orang menganggap bohong itu sesuatu yang salah dan tidak semua wanita mudah memaafkan."
Benar. Lalu dia ada dimana? Kebohongan seperti apa yang dia lakukan sampai memikirkan soal maaf wanita itu.
"Bagaimana soal cinta?"
Darren diam dulu. Dia juga tidak se berpengalaman itu. Salah langkah, dia bisa membuat Ho Young salah jalan.
"Saranku, sebaiknya tidak memulai apapun pada wanita yang ingin kau bohongi. Tapi, jika sudah terlanjur, tolong katakan padanya dengan keberanian dan rasa tanggungjawab. Karena bicara soal cinta itu bicara soal hati dan perasaan. Selagi masih bisa diperbaiki dan kau belum memiliki perasaan padanya. "
__ADS_1
Kalimat terakhir yang keluar dari mulut Darren, menampar nya. Selagi aku belum punya perasaan? Ho Young sudah bilang, jangan bicara soal umur dengannya, bisa di lihat Darren lebih bijak darinya.
.