Reflection, The Black Rose

Reflection, The Black Rose
Ep 39 : Tidak sengaja


__ADS_3

"Kau menyukainya ya?" Tebak Darren.


Tapi Ho Young kemudian menggeleng, menolak tebakan Darren.


"Benar tidak suka?" Lagi Darren bertanya.


Jawaban Ho Young tetap sama, meski kali ini mengangguk.


Darren menggoyangkan sekilas kepalanya kesamping. "Benarkah.. Kenapa aku merasa pertanyaanmu aneh."


"Aneh bagaimana?"


Darren mengganti posisi duduknya, tadi dia masih terlihat santai menyenderkan tangannya di lengan sofa lalu sekarang pria itu condong sedikit kedepan. Fokus pada pria besar di depannya.


"Kalau kau berharap dia memaafkanmu artinya kau suda punya perasaan padanya. Berdasarkan pertanyaanmu, kalian sudah bersama--- atau mungkin sudah berpisah."


Ho Young diam, Darren sudah menebak. Dia juga tidak menduga bahwa Ho Young dengan muda masuk perangkapnya.


"----- Aku tidak menyukainya"


Ragu.


Darren mengerti, kembali bersandar di punggung sofa. Sudut bibirnya tertarik ke atas.


"Kau tidak menyukainya tapi berharap dia memaafkanmu?"


"Ituu----"


"Baiklah, katakan saja kau tidak menyukainya lalu kalian berpisah?"


"Ya"


"Apa aku mengenalnya?"


"Mungkin"


Darren kembali mengangguk, kata mungkin yang di utarakan Ho Young bagi Darren ini sebuah petunjuk bahwa dia jelas mengenalnya.


"Baiklah, semoga kau beruntung. Lebih baik melepaskan dari pada kalian hidup dalam kebohongan."


"Seperti kau dan Valerie?"


Darren menarik dirinya melihat Ho Young, dia menaikkan satu alisnya. Apa itu sama? Kata Darren dalam hati. Dia tidak melihat adanya kesamaan pada hubungan mereka.


"Aku tidak membohongi Valerie, kalau yang kau maksud soal menyembunyikan kabar pernikahan dari kalian. Pernikahan kami terjadi karena keinginan kedua pihak. Aku suka padanya saat pertama kali bertemu. Dan tidak pernah berbohong soal perasaanku. HANYA, kau tahulah aku orang dingin yang gila kerja. Kadang kehidupan itu tidak selalu berjalan sesuai dengan yang kita inginkan. Ada kesalahpahaman, miskomunikasi dan sebagainya."


"Ya, pria brengsek!"


"Ya, pria brengsek." Darren setuju pada Ho Young. Dia egois, hanya karena mengira dia sudah menyelamatkan istrinya dari keserakahan orang-orang pada bisnisnya.


Belum lagi soal masa lalu. Jika saja dia tegas saat itu, mungkin Valerie dan anaknya masih berada di sisinya. Ya ANAK.


"Aku beri saran lagi, jangan mengambil keputusan dengan tergesa-gesa, atau saat sedang marah. Tenanglah dan pikirkan baik-baik semuanya. Jika tidak kau akan menyesal seumur hidupmu."

__ADS_1


Saran terbaik adalah ketika orang yang memberi punya pengalaman yang sama. Dia tahu betul, bagian mana yang perlu di hindari dan bagian mana tempat berjalan yang tepat. Ho Young mengerti, dia mengangguk.


Tidak terasa waktu semakin malam, Jam berputar sangat cepat dan hari hampir berlalu lagi. Mereka keluar dari kamar Hotel pukul 11.44 PM. Lift sebelah kanan terbuka, kosong. Mereka masuk dan menekan tombol 1.


Lift berjalan dan kembali berhenti satu lantai dari lantai tempat kamar mereka. Saat pintu akan terbuka, mata Ho Young sempat memandang lantai. Lalu ketika pintu terbuka sempurna, sekilas dia angkat kepalanya. Dia terkejut.


Menyadari ada Darren di sampingnya, dia menormalkan ekspresi terkejutnya tadi. Sedangkan sikap Darren biasa saja, dia tetap menatap lurus kedepan. Bahkan saat wanita itu tersandung, Darren masih berdiri tegap dengan ekspresi dingin dan acuh.


Wanita bersama seorang pria masuk ke lift, wanita itu lebih terkejut pada sosok pria di dalam lift itu. Dia bahkan sempat tersandung, beruntung pria yang bersamanya membantu dengan memegang lengannya.


Sulit menormalkan ekspresi Ri Ahn. Jantung wanita itu juga berdetak cepat. Dia genggam sisi bajunya erat agar tidak gemetar. "Kau hampir jatuh, lain kali hati-hati." Kata pria itu perhatian.


Senyum canggung Ri Ahn terdengar jelas. "Terima kasih."


"Oh ya kakakmu menunggu di bawah?"


"Tidak, dia sedang ada urusan. Asistennya yang menjemputku."


"Oh tidak, harusnya kau bilang sejak tadi, aku akan mengantarmu pulang." Sahut dia ramah sembari tersenyum.


"Terima kasih tapi tidak perlu merepotkan."


"Tida-----"


Pria tadi akan berbicara tetapi suara Darren menghentikannya. Tone bass itu membuat suaranya tenggelam.


"Halo?"


Sahut Darren saat telepon itu sudah berada di telinganya. Ponselnya dalam mode getar.


Seseorang dari seberapa telepon itu berbicara cukup panjang lalu Darren hanya menjawab singkat. "Tidak perlu." Dan sambung telepon itu di putus Darren.


Ho Young tidak perlu bertanya siapa yang menelepon karena dia tahu, dari raut wajah dan cara bicara Darren. Pasti salah satu adiknya.


Dari samping, Ri Ahn terus bertanya dalam hatinya siapa gerangan Pria yang bersama calon mantan suaminya. Yah, apa yang baru saja dia katakan?


Saat lift itu berhenti di lantai 1, Ri Ahn dan pria tadi turun. Sementara Ho Young dan Darren keluar setelah mereka.


Lobi di penuhi banyak orang yang lalu lalang, silih berganti. Darren menepuk pundak Ho Young. "Aku pulang deluan, takut ibuku lelah menunggu di rumah sakit." Kata Darren.


Ho Young mengangguk, dia di tinggal sendiri. Entah kemana wanita itu pergi, dia kehilangannya setelah fokusnya teralih kepada Darren.


.


Darren keluar dari Hotel, dia melihat ada seseorang yang dia ingat berada di villa saat istrinya dan anak Ho Young diculik. Anggota HARI kah? Imbuhnya dalam hati.


Pria itu terlihat berbicara dengan wanita yang tadi dia temui di lift. Ia menyeringai. Benar pengamatannya soal Ho Young. Saat berada di lift dia sempat melirik Ho Young ketika melihat keterkejutan pada ekspresi wanita itu.


Dia mengerti mengapa Ho Young tidak menyebutkan nama wanita itu ternyata karena dia adala anggota kelompok HARI. Kau dalam masalah Ho Young, ejek Darren sembari tersenyum kecil.


.


Ho Young keluar dari lobi dan seorang valet menemuinya memberikan kunci mobil, dia menunjuk mobil yang berada di depan lobi siap untuk pergi. Pria itu berterima kasih lalu masuk ke mobilnya, dia melihat panjang antrian mobil yang akan kembali.

__ADS_1


Namun, ketika dia sudah naik ke mobil. Betapa terkejutnya Ho Young saat mendapati Ri Ahn duduk di samping joknya.


Baru dia ingin berbicara, suara klakson dari belakang menghentikan kegiatannya. Dia membawanya mobilnya sampai di depan hotel dan menepi di samping trotoar.


"Turun!" Tegas Ho Young.


"Aku lupa bawa uang, mereka sudah pulang." Ujarnya santai, dia terus menatap Ho Young dari sebelah.


"Turun, atau aku akan menelepon Ravi." Ancam Ho Young berharap wanita itu mengerti.


"Ada yang ingin aku katakan, jalan." Dia di perintah oleh wanita.


Ri Ahn memejamkan matanya dan bersandar pada punggung kursi. Pria itu diam, mobilnya juga selaras.


"Astaga, pelit sekali!" Ri Ahh membuka pintu berniat turun. Saat satu kakinya sudah berada di luar, lengannya di tarik Ho Young, sehingga dia kembali duduk.


"Tutup pintunya!" Tegas pria itu.


Ri Ahn tersenyum simpul.


Di perjalanan, Ri Ahn buka suara. "Pria tadi yang bersamamu siapa?" Tanya dia.


"Teman"


"Siapa namanya?"


"Mr Lee."


"Oh, kau tidak tahu aku di hotel ini?" Tanya dia bersikap ramahz seolah-olah mereka sangat akrab hingga harus menjawab pertanyaan satu sama lain.


"Tidak!"


"Oh--- jadi kau sedang apa di hotel?"


Ho Young melirik sebentar ke samping. Bukan hanya melihat sosok Ri Ahn tetapi dia cukup terkejut mendapati sikap wanita itu begitu berbeda dari sebelumnya. Diapakan dia oleh Ravi sampai seperti ini.


Meski merasa aneh, dia menjawab semua pertanyaan Ri Ahn walau dengan ekspresi cuek dan jawaban singkat.


"Ada urusan."


"Urusan apa?"


"Apa aku harus melapor?"


Tanya Ho Young membuat Ri Ahn menggeleng.


"Tidak perlu."


Mereka diam.


Saat Ho Young melihat halte bus, dia berhenti. Dia menunjukan halte tersebut. "Kau bisa naik bus itu untuk sampai ke rumah." Ucapnya.


Tidak salah? Aku di suruh naik bus.

__ADS_1


.


__ADS_2