
Pukul 6.30 pagi Ri sudah berada di tribun lapangan basket. Semalam setelah dia beres-beres baju yang akan di sumbangkan, chat group SMA nya banjir dukungan untuk para alumni yang akan bertanding di sekolah hari ini. Ri sudah mengiyakan ajakan Van Nguyen untuk ikut dengannya menjadi pendukung tapi sampai
jam 8 belum menampakkan juga batang hidung pria itu.
"Kemana dia!?" Ri agak kesal menunggu Van. Satu setengah jam dia duduk di sana.
Baru saja di bicarakan, pria itu duduk di sebelah Ri mengatur nafas yang terputus-putus sehabis berlari. Ri berwajah masam, dia memandang Van dengan mata memicing.
"Kau tahu ini sudah jam berapa?"
Van yang lembut mulai tersenyum, matanya juga ikut tersenyum. "Maaf, tadi aku bantuin nenek angkat barang." Kata dia.
Tangan Ri sudah gatal ingin memukul pundak Van, sebelum terealisasikan panitia berbicara menggunakan microphone. "Untuk semua yang masih berada di luar, silahkan mengambil tempat duduk di tribun."
Orang-orang berdatangan, banyak dari mereka yang saling mengenal sesaama jurusan di Universitas. Ri memperhatikan salah satu pria yang sedang berdiri di bangku pemain cadangan bersama pelatih senior. Seperti sehati Van juga memperhatikan pria itu lalu dia menyenggol lengan Ri.
"Dia, kamu ingat?" Tanya Van, otomatis Ri mengangguk.
Mana mungkin dia lupa, jika saat itu dia harus mengalami mimpi buruk di sore hari. "Mimpi buruk itu terkadang masih datang. Bagaimana bisa aku melupakan wajahnya!" Ri mendadak kesal melihat pria itu berada di lapangan.
"Tahan, tahan. Kita kesini untuk meramaikan pertandingan mendukung jurusan jangan sampai niat baikmu berubah menjadi Tempat perkara. Oke?"
"Mm!" Singkat Ri. Sebelum dia palingkan pandangan matanya ke arah lain, kedua mata pria itu bertemu dengan mata Ri. Terkejut sedikit, pria itu langsung mengalihkan pandangannya ke lantai.
Van juga melihat itu, dia ngeri pada pandangan mata Ri layaknya pisau yang siap menikam siapapun. "Ri, kak Guan datang," Lengan wanita itu kembali di senggol, dagu Van terangkat memberi kode menujuk pria yang berada di pintu masuk.
Ri mengikuti arah dagu Van menunjuk, pria memakai kaos polos berwarna hitam dengan celana training putih bis hitam di setiap sisinya. Bahkan sepatunya juga bernada sama dengan celananya, belum lagi rambut pria itu di tata rapi menggunakan jel rambut yang populer belakang ini. "Dia mau kemana?" Seru Ri melihat perbedaan style seniornya setiap kali dia melihatnya.
"Kalau datang kelapangan memangnya mau apa?" Van geleng kepala sembari tertawa kecil.
Setelah itu Van mengangkat tangannya dan melambai-lambai manis membuat Guan berseru saat dia melihat sambutan hangat dari Van. Pria itu berjalan pelan dan duduk di samping Van. "Hai, kalian datang juga?" Sahutnya, dia sedikit condong ke depan dan menengok Ri yang berada di sebelah Van.
Ri tersenyum sangat canggung. Dia tidak akrab dengan para senior kecuali pria yang dia lihat tadi duduk di bangku cadangan. Bisa di bilang sekarang Ri tidak punya senior yang dekat dengannya seperti Van. Dia dan para senior hanya saling mengenal nama saja.
Berbeda dengan teman baiknya, Van. Van di kenal karena sifatnya yang friendly pada semua orang, mulai dari wanita, pria, anak kecil, hingga orang dewasa. Dia TOP di antara para mahasiswa.
Tapi bagaimanapun Van menjadi superstar di antara mereka, dia tidak begitu iri. Justru sebaliknya, Ri merasa hal itu menganggu. Mungkin karena hal serupa teman akrab Ri hanya satu, Van.
__ADS_1
"Tumben Ri ikut? Bukannya orang tuamu tidak menginzinkan kau keluar rumah?" Tanya dia.
Ri memang tidak terlalu akrab dengan para senior, tapi karena Van sering kali berbicara mengenai dirinya kepada para senior, mereka terlihat saling tahu kehidupan masing-masing.
"Begitulau kak, lagi dibolehkan." Singkat wanita itu.
Pertandingan di lapangan sudah mulai, mereka saling merebut bola. Teriakan-teriakan dukungan bergelora di dalam sana. Ri agak menjauh dari sisi kanannya, sebab seorang wanita yang dia sangka adalah mahasiswa baru itu berteriak dengan sangat kencang.
"Ganti tempat duduk dong, aku hampir budek." Kata Ri berbisik di telinga Van. Mendengar permintaan Ri, Van tertawa sembari merilik sebelah sahabatnya. Dia berdiri sambil membungkuk dan menepuk Ri agar berpindah ke tempatnya.
Senior bernama Guan itu melihat keakraban dua manusia di sebelah, membuat rasa penasarannya kepada hubungan persahabatan antara wanita dan pria. Dia sendiri tidak percaya ada hubungan murni antara kedua maunsia beda gender. Guan yakin salah satu dari mereka ada yang saling menyukai.
Rasa penasarannya semakin membabi buta, saat Van membantu Ri membuka botol. Alisnya naik sebelah. Mulut yang sudah di latih untuk bermartabat dan elegan itu mengingkari janjinya. Guan condong sedikit ke arah Ri. "Ri, percaya tidak jika persahabatan antara pria dan wanita itu tidak ada atau ada?"
Ri berbalik melihat Guan. Matanya menyipit. Ramai sorak tiada henti bergemah di sekelilingnya membuat Ri juga ikut condong ke kiri. "Mungkin ada, mungkin juga tidak."
Guan berpikir sebentar. " Jadi Ri ada di bagian mana?"
"Aku? Ada di bagian mungkin ada."
"Artinya Ri tidak punya hubungan special dengan Van?"
"Ini kak Guan tanya soal hubungan persahabatan wanita dan pria."
"Oh." Sembari dia anggukan kepalanya pelan, lalu dia kembali fokus pada pertandingan, seakan-akan tidak terlalu perduli. Guan melihat respon Van menjadi bingung.
Ri mengerti ekspresi Guan. "Bukan cuma kakak saja yang penasaran dengan hubungan kami, senior yang tidak aku kenal pun terkadang bertanya. Aku dan Van selalu menegaskan bahwa hubungan kami tidak di dasarkan atau berdasarkan perasaan antara wanita dan pria. saling suka, yah kakak tahulah. Secara pribadi aku tidak menyukai Van sebagai pria yang ingin aku pacari atau nikahi."
"Lalu Van bagaimana? Kau mungkin tidak ada rasa tapi bagaimana dengan prianya?"
"Kakak harus tanya sama orangnya langsung." Ri kembali fokus ke pertandingan setelah rekan dari jurusannya memasukkan bola ke ring lawan.
"Oh, jadi Ri tidak punya pacar? Atau sebenarnya ada?" Guan terus bertanya
"Hem?"
"Sepertinya punya ya?"
__ADS_1
Ri bingung, apa maksudnya?
"Aku? Belum, memangnya ada apa kak?" Tanya Ri, menjadi penasaran mengapa seniornya itu bertanya seolah-olah dia tahu sesuatu.
Guan langsung berbisik di telinga Ri yang membuat fokus Van kembali ke mereka berdua.
"Dari tadi kita bicara, Xuan Manh terus menatapmu." Guan terus merasa ada mata yang mengawasinya sampai dia melihat Xuan Manh terang-terangan memberinya tatapan sinis.
"Ah," Ri tidak tahu harus mengatakan apa. Perasaan canggung menerpanya.
"Kak Guan juga merasa seperti itu?" Tanya Van condong ke arah samping sampai Ri mundur kebelakang.
Guan mengangguk. "Xuan Manh bersikap seperti kau yang menolaknya?"
"Kakak ini terang-terangan sekali, aku tidak ingin membalasnya sejak tadi." Ujar Ri tersenyum tipis.
"Eiy, semua orang juga tahu dia menolakmu dengan kejam di lapangan. Waktu kamu lulus terus kita ada reuni dia cari kamu sampai teman-teman angkatanku dan angkatanmu heran. Kenapa orang yang tidak menyukai Ri terus mencarinya setelah dia lulus. Tanya Van, dia juga ada disana." Kata Guan mengingat kejadian kala itu.
Van ikut mengangguk, dia juga heran. "Dia mungkin menyesal, makanya jangan menolak dulu kalau belum pasti suka atau tidak. Sekarang rasakan!"
"Iyakan? Makanya aku bilang, sekarang terbalik."
Kedua pria itu asik saling lempar melempar kalimat, Ri merasa tidak nyaman mendengar keduanya berbicara tentang masa lalunya yang sangat kekanak-kanakan.
"Memangnya Ri dulu benar-benar suka sama Xuan atau cuma karena kalah permainan?"
"Kalah dari permainan, waktu itu aku yang sarankan dia untuk menembak senior. Pas-pas saja Kak Xuan keluar dari perpustakaan, jadi anak-anak memilih Xuan yang jadi target. Ri ini tidak pernah dekat dengan pria selain ayahnya, kakaknya dan aku!" Tegas Van.
"Oh iya?" Kata Guan.
"Heh, memangnya kau pria?" Tanya Ri kepada Van yang di balas tepukan di kening Van olehnya sendiri. "Iya yah, maaf-maaf saja aku juga tidak menganggapmu sebagai wanita." Balas Van mengejek. Ri hanya tertawa kecil sementara Guan membiasakan diri dengan candaan keduanya.
Waktu terus berjalan hingga pertandingan selesai, mereka menghiraukan Xuan Manh yang terus memberikan sinyal-sinyal aneh pada Ri. Keduanya pamit pada Guan dan Van mengantarkan Ri pulang.
.
.
__ADS_1
.