Reflection, The Black Rose

Reflection, The Black Rose
Ep 9 : Kehidupan Ri di Vietnam


__ADS_3

Pagi ini selepas membantu kedua orang tuanya berbelanja, Ri duduk di teras sembari tertawa membaca pesan yang masuk ke group chatnya bersama teman-teman seangkatannya.Yang menjadi pokok pembahasan adalah gaya rambut temannya yang bernama Ramon Nguyen.


Setelah putus dengan sang kekasih, Ramon punya kebiasaan mengganti model rambut. Teman-temannya menghitung sudah lebih dari 5 kali dia berganti model rambut yang artinya dalam setahun dia sudah berganti pacar sebanyak 5 kali pula.


Pembahasan itu terus berlanjut hingga salah satu teman satu klub paduan suara menyinggung soal Xuan Manh. "Selalu saja ada pembahasan soal itu!" Kata dia menghela nafas.


Ri tidak berniat nimbrung dalam pembahasan kesalahpahaman masa lalunya, dia diam saja meninggalkan layar itu terus berganti dengan pesan baru. Dalam pesan pertama temannya menanyakan perihal Xuan Manh yang ikut main dalam pertandingan kemarin serta kelakuannya saat di pantai, padahal hal tersebut bukanlah kebiasan seniornya itu.


Setelah kelulusan, seniornya itu selalu menolak jika diajak main basket. Selain acara reuni, dia tidak pernah menunjukkan batang hidungnya sama sekali. Namun hari itu berbeda, dia datang bersamaan dengan Ri yang ikut menonton. Mereka menayakan apakah Ri sudah janjian dengan seniornya itu atau ini adalah kebetulan saja.


Ri dibanjiri dengan banyak pertanyaan, membuatnya menghela nafas panjang. Dia siap-siap mengetik namun terlambat, di dahului oleh pesan dari temannya yang mengatakan jika Xuan Manh benar-benar sudah memiliki kekasih.


Seperti perkataan temannya yang bekerja di cafe kemarin.


Ada dari mereka juga bilang bahwa dia pernah melihat Xuan bersama kekasihnya di sebuah penginapan. Mereka sibuk mengetik, sampai Ri menggeleng melihat ada 999+ chat yang masuk.


Ada banyak macam pesan yang masuk melaporkan ini dan itu tentang seniornya itu. Ri tidak merasa harus tahu apa yang terjadi. Dia menonaktifkan notifikasi groupnya dan menghilang dari pembahasan yang sudah jauh.


Wanita itu masuk kedalam rumah, bersiap berangkat ke restoran membantu membersihkan sebelum resto buka siang ini. Ri bergegas sebelum orang tuanya pergi meninggalkan dia dalam kesendirian bersama perabot rumah malam ini.


...đź–¤...


Di selonjorkan kakinya ke depan, menghirup udara malam di atas balkon. Seharian dia berada di restoran, tumitnya kebas. Pundaknya teras perih sebab banyak menunduk membuat kram di bagian tertentu. Ditarik lehernya kesamping kanan dan kiri untuk membantu agar tidak terlalu kaku.


Ibu dan Ayahnya mungkin sudah tidur sejak 1 jam yang lalu. Sementara dia masih terjaga dengan alasan menyambut hari paling bahagia dalam hidupnya, yaitu hari kelahiran sang ibu. Dia memandang langit gelap, bintang-bintang bertabur memancarkan sinar terang, kerlap-kerlip di angkasa.


Ri tersenyum. Di letakkan bunga mawar putih d meja kaca. “Ibu, bagaimana kabarmu hari ini? Anakku baik-baik saja disini, jangan mengkhawatirkanku terlalu sering.” Di tenggelamkan kepalanya di antara lututnya, air matanya turun membanjiri wajah dan pakaiannya.


Dia teringat kenangan bersama ibunya, setiap tahun yang membahagiakan datang padanya sampai dia berumur 12 tahun. Setelah itu tidak ada lagi kenangan baru, Ibunya telah pergi. “Aku berharap kau selalu bahagia di atas sana. Ri akan menjalani kehidupan seperti keinginanmu. Aku mencintaimu, selalu.” Ucapnya masih dibanjiri air mata.

__ADS_1


...đź–¤...


Ri terbangun segar setelah semalam menghabiskan malam curhat dengan ibunya. Ri masih berada di kasurnya, mengucek matanya dan meneguk air mineral yang selalu di siapkan oleh sang ayah. Tidak berapa lama, samar-samar dia mendengar keributan di bawah. Di segera turun ke lantai 1. Ri tekejut melihat siapa yang datang.


"Kakak!” Seru Ri.


Pria yang dia panggil kakak itu tersenyum. “Ri baru bangun?”


Wanita itu melihat ibu dan ayahnya berjalan ke arahnya dan berdiri di depannya, seolah-olah mereka adalah benteng yang melindungi anak dari sang pemangsa. “Jangan harap kalian bisa membawanya!” Tegas Pham.


Ri bingung! Siapa yang akan di bawah pergi. “Apa maksudnya? Kenapa kakak ada disini?” Tanya Ri.


Ravi menutup matanya sebentar dan dia jalan mendekati Ri. “Ketua telah meninggal!” Katanya.


Pham dan Lien terkejut, mereka saling pandang lalu melihat Ri. Anak perempuan yang berdiri di belakang mereka tidak seterkejut kedua orang tuanya. “Lalu?” Sahut Ri atas informasi yang diberikan kakak angkatnya.


“Ri!” Tegur Ravi.


Melihat reaksi dari adiknya. Dia terdiam lagi lalu kemudian mundur kesamping dan memberi kode pada anak buahnya untuk membawa Ri. Anak buahnya memberi respon dengan mengangguk.


Saat tangan para pria itu menyentuh Ri, Ri berteriak memanggil kedua orang tuanya tapi apa daya mereka ditahan oleh segerombolan orang berbaju hitam. Ri sudah berganti tempat ke tangan Ravi, wanita itu menangis dan memberontak. Pedih hati Pham dan Lien menyaksikan itu.


“Ayah, ibu!!” Panggil Ri yang coba di tarik keluar.


Pham dan Lien memberontak dan saat itu bersyukur bahwa Pham bisa lepas dari kekangan mereka itu berlari manarik tangan anaknya dan melindungi Ri di belakangnya. Ri memeluk sang ayah dari belakang. “Ayah!” Sesegukan dia menenggelamkan wajahnya di punggung tegak pria itu.


“Tenang nak, Ayah dan ibu tidak akan memberikanmu kepada mereka.”


Lien menginjak kaki pria yang memegangnya tadi dan berlari ke arah Ri lalu memelunya. Di periksa tangan anaknya yang memerah dan mengelusnya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa nak, ibu dan dan ayah disini." Lien memeluk anaknya. Ri menenggelamkan wajahnya di pundak sang ibu, dia membalas pelukan itu tak kalah erat.


“Kau sudah dimakan oleh iblis!? Teganya kau membawa adikmu ke sarang penjahat!” Teriak Pham kepada Ravi.


“Paman! Ini adalah wasiat Ketua, Ri harus meneruskan tahta Cho Min Sik atau kerjaaan yang dia bangun dengan susah payah itu harus runtuh!”


“Runtuh saja! Semoga dia runtuh dengan sekali hantam!” Ri mengeluarkan isi hatinya.


Ravi tidak suka mendengar perkataan Ri.


Pham menunjuk Ravi. “Bukankah kau adalah anak angkatnya? Mengapa bukan kau saja yang meneruskan tahtanya! Paman lihat kau lebih pantas, sama kejamnya dengan pria itu!” Sahut Pham yang merupakan paman kandung dari Ravi.


“Maaf paman tapi Ri harus kembali korea.”


“Tidak, tidak bisa!” Teriak Lien.


Lien berlari sembari memegang tangan Ri. Dia mengambil ponselnya dan akan menelepon polisi. "Pergi! Atau kau akan berurusan dengan polisi!" Ancam Lien.


Ravi menggeleng. "Bibi, Ri adalah anak Cho Min Sik! Darah yang mengalir di tubuhnya adalah milik Cho Min Sik." Sahut Ravi.


Pham menarik kerah baju Ravi. "Dia anakku! Anak yang aku besarkan dengan darah dan keringat. Kalau hanya karena dia dan Cho Min Sik punya darah yang sama, ini! Ambil darahku tapi jangan pernah datang menemui dia lagi!" Dilempas Ravi kebelakang.


"Aku menghormati pam---"


"Kalau kau menghormatiku, seharusnya kau tidak datang kesini dan merebut anakku! Pergi, tempatmu bukan disini. Kami hanya keluarga biasa, tidak ada hubungan dengan Cho Min Sik atau Gengster seperti kalian."


Saat itu dari luar datang seseorang bertubuh besar kekar menodongkan senjata pada Pham. Ravi terkejut sekilas lalu menetralkan ekspresinya dengan cepat. Dia memegang ujung pistol itu dengan tangannya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2