Reflection, The Black Rose

Reflection, The Black Rose
Ep 27 : Bertemu Ravi


__ADS_3

Ho Young menyunggingkan senyum kecil melihat ekspresi Geng HARI. Sebelum dia duduk, Yooju terlihat di area tangga berdiri bersama para bawahan Ravi. Biasa saja, tidak ada raut wajah Ho Young mengenalnya. Begitupun Yooju, raut wajah tidak menyenangkan sama seperti orang-orang di sebelahnya.


Ho Young di dampingi 20 orang kepercayaannya tanpa Dori dan Sean. Santai dan tidak terintimidasi walaupun dia berada di markas besar HARI. Ravi menilai ekspresi pria di depannya. Untuk apa dia datang, apa motivasinya sehingga berani menampakkan kaki ke kediaman ini setelah anak buahnya membunuh sang ayah angkat. Dia tidak menemukan alasan.


Namun, mata pria itu terus melihat foto besar yang tergantung di dinding. Foto Cho Min Sik beserta istrinya. Ho Young terus menatapnya membuat Ravi yang penasaran bertanya. "Apa yang anda lihat?" Katanya.


"Aku pikir dia tidak mirip dengan ayahnya dan ternyata benar, dia jiplakan ibunya." Ucap Ho Young sembari berganti dari menatap foto lalu melihat Ravi.


"Dia?" Ucap Ravi.


"Kau bertanya karena tidak tahu atau karena tidak mengira aku menyebutkan adikmu?" Ungkap pria itu tersenyum miring di salah satu sudut bibirnya.


Ravi menatapnya. "Mana mungkin tidak tahu, tapi adik saya bukan orang yang bisa anda sebut dengan santai seperti itu." Terlihat marah.


"Lalu dia orang seperti apa?" Tanya Ho Young.


Ravi tidak menjawab, dia hanya menunjukkan sikap tidak sukanya pada pertanyaan Ho Young. Lalu dia memulai pertanyaan lain. "Untuk apa orang yang telah membunuh ketua kami datang kesini?"


"Hanya penasaran,"


"Penasaran? Sangat tidak cocok dengan anda."


Ho Young menghela nafas dalam hati. Dia tidak jadi mengutarakan apa yang dia ingin katakan. Setelah memikirkan semuanya, juga mendengar pendapat orang tua Ri Ahn di Vietnam, dia tidak perlu terburu-buru membawa wanita itu. Rencananya perlu di tinjau ulang. Dia juga bingung mengapa harus ditahan padahal semuanya ada di depan mata.


"Sebagai anak angkat Cho Min Sik yang telah diberikan kekuasaan penuh, kenapa mengalah kepada seorang gadis kecil yang tidak mengetahui apapun tentang masalah Geng. Apalagi dia hanya seorang boneka."


"Tolong jaga ucapan anda, adikku tidak pernah menjadi boneka siapapun. Dia datang ke sini dengan tujuan mulia membantu orang tuanya melanjutkan bisnis." Ravi tidak suka, jika adiknya di cemooh. Walaupun dia tahu, Ri Ahn memang menjadi boneka.


"Tujuan mulia dalam pekerjaan ini." Ho Young tertawa kecil, sindiran yang Ravi juga tahu.


"Aku datang untuk membicarakan bisnis."


"Bisnis dengan HARI bukankah sudah selesai?" Tanya Ravi. Dia juga tahu bisnis Ho Young dengan adiknya. Yang dia dengar bahwa kerjasama itu berjalan lancar. Semua bisnis kelompok HARI sudah berjalan lancar seperti sediakala.


"Ketua HARI bilang itu sudah selesai? Dibagian mana kerjasama kita berakhir. "


"Adiku tidak pernah berbohong."


"Siapa yang bilang dia berbohong?"

__ADS_1


Ravi terdiam. Kemudian suara dari atas menghentIkan mulut Ravi yang ingin membalas perkataan Ho Young. "


"Kakak, tadi ak----" Dia terdiam, dia ujung tangga paling atas. Ri Ahn memegang pengangan tangga, di remas kuat. Mulutnya yang terbuka di tutup segera. Raut wajahnya tentu tidak baik-baik saja.


Ri Ahn takut. Dia takut jika Ho Young membongkar semuanya termaksud pernikahannya secara hukum dan semua isi dari kontraknya.


"Ri.. " Kata Ravi, dia segera berdiri.


Ho Young menatap wanita itu sekilas lalu melihat Ravi yang spontan berdiri saat adiknya menampakkan diri.


"Aku pikir kesetiaanmu pada Cho Min Sik hanya ketika dia masih hidup. Jadi kau juga setia pada wanita yang mengambil posisimu?"


Ho Young mendapat tatapan tajam dari semua orang yang berada di ruangan itu. Kecuali orang-orangnya malah tertawa mendengar ucapan sarkas bosnya.


"Bukankah berbeda dari kelompokmu? Berkhianat itu kebiasaan kah?" Ungkap Ri Ahn. Dia tidak tahu mengapa kata-kata itu keluar dari mulutnya saat mendengar Ho Young menghina Ravi.


Kelompok HARI cekikikan menggantikan tawa KOM yang tadi keluar.


"Sejak tadi kau tidak membalas perkataanku tapi hanya menjawab, berbeda sekali dengan adikmu." Sahut dia kepada Ravi.


Tapi Ravi tidak menghiraukan Ho Young, dia tersenyum kepada Ri Ahn. "Tidak tidur? Ada yang ingin kau katakan?" Tanya Ravi.


Ri Ahn menggeleng. "Aku lupa bertanya, oleh-olehku tidak ada?" Tanya dia sedikit canggung karena ada orang lain di dalam mansion."


Mendengar itu Ho Young tersentak. Ada apa dengan nada manis dan manja wanita itu, dalam hati dia berbicara.


Ravi mewanti-wanti jika Ri Ahn ingin bergabung dengan diskusi keduanya. "Ada di atas, Ri naik tunggu kakak."


Ho Young risih mendengar balasan Ravi yang juga ikut bernada lembut.


Perempuan itu tetap berjalan mendekat dan berdiri di samping Ravi. Kakaknya terlihat khawatir dan memegang tangan Ri. "Kakak yang urus urusan disini, Ri naik saja ya?" Lembut Ravi lagi bertanya pada adiknya.


Tapi perempuan tetap berdiri di samping Ravi, dia juga mengelus tangan kakaknya tanda pria itu tidak perlu khawatir. Ri Ahn duduk.


"Bisnis apa yang akan anda bicarakan dengan wakil HARI?" Tanya Ri Ahn. Dia berusaha mendominasi, meskipun tahu Ho Young tidak akan terintimidasi.


Ravi ikut duduk, dia tidak bisa menghalangi Ri Ahn lebih lanjut, posisinya di rasa tidak pantas. Dia hanya perlu melindungi Ri Ahn dari pria di depannya.


Ho Young tidak melihat Ri Ahn, dia justru melihat ke arah lain. Ri Ahn sampai bingung di dalam pikirannya, dia mencari tahu mengapa pria itu menghindari tatapannya. Hanya sekilas, bisa di hitung detik dia menatap wajahnya dan berpaling.

__ADS_1


Namun demikian dia tidak bisa langsung mengutarakan pikirannya dan bertanya mengapa pria itu tidak melihatnya. Ravi dan semua orang di ruangan itu akan menganggap Ri Ahn menggoda seorang Ho Young, musuh mereka.


Ravi merasa ada kecanggungan antara keduanya. Dia juga memperhatikan Ho Young tidak menatap adiknya. Apa yang di rencana oleh pria itu adalah pikirannya saat ini.


"Tuan Gu menghentikan kerjasamanya dengan HARI dan datang kepada KOM. Dia takut kau menghancurkan bisnisnya dan mencari perlindungan di bawah kuasa kelompok lain."


Ho Young bertanya kepada Ravi tanpa menjawab pertanyaan dari Ri Ahn. Respon Ri Ahn langsung menatap sang kakak. Perempuan itu tahu, urusan bisnis kelompok HARI bukanlah spesialisnya, hanya karena beberapa dia melakukan pengecekan rutin.


"Bukan kau yang mengejarnya? Aneh sekali jika dia tiba-tiba menghentikan kerjasama yang menguntungkan dengan HARI."


"Ravi, jangan bilang kau sudah lelah di bidang ini setelah Cho Min Sik mati. Dia tidak bekerja karena sedikit keuntungan, dia ingin keuntungan yang besar."


"Apa maksudmu? Bisnis dia dan HARI sudah berjalan dengan baik. Keuntungan yang dia dapatkan hanya dalam beberapa tahun sudah bisa membuatnya memiliki harta lebih banyak dari Cho Min Sik."


"Cho Min Sik itu bodoh, dia membiarkan rekan bisnisnya mendapatkan untung yang lebih banyak dari dirinya. Karena itu dia diperlakukan seperti ini saat dia sudah tidak ada. Bisnis tetaplah bisnis bagi seorang pengusaha Ravi. Kalau dia bisa mendapatkan lebih banyak di tempat lain untuk apa bertahan di lubang yang sama?"


"Berapa tahun kau ikut dengan ayahmu sampai lupa cara kerja Tuan Gu? Dia bekerjasama dengan seseorang bernama Dayun. Seorang pengusaha Tiongkok, berhati-hati lah dengannya." Tambahnya lagi.


Anak buahnya memberitahu bahwa Ravi sudah tahu tentang Gu, ternyata belum semuanya.


"Kau memberiku saran?" Ejek Ravi.


"Tidak, itu peringatan." Balas Ho Young.


"Peringatan untuk apa?" Ri Ahn kembali berbicara. Jika kali ini Ho Young juga mengabaikannya dia tidak perduli.


Namun, Ho Young memalingkan kepalanya menghadap Ri Ahn.


"Kalau kau ingin bekerjasama dengan para mafia yang menyelundupkan manusia dan obat-onat terlarang, boleh saja." Ujar Ho Young,


"Maksudmu tuan Gu bekerja dengan mereka bukan dengan KOM?"


Ho Young tidak bodoh, dia tahu siapa Gu Myung Jin. Manusia tanpa rasa simpati. Dia bisa membawa putrinya sendiri menjadi seorang sandara dan sampai sekarang tidak pernah di ketahui keberadaannya. Sampah masyarakat.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2