
"Ternyata Cho Min Sik lebih baik darimu,"
Raut wajah Ho Young berubah, ada amarah di sana. Dia meremas punggung wanita yang berada di pangkuannya hingga wanita itu meringis sakit.
Tidak tinggal diam, Ri Ahn terus memprovokasi Ho Young dengan terus membandingkan dirinya dan Cho Min Sik, musuhnya.
"Setidaknya pria itu tidak berselingkuh dan hanya mencintai ibuku sampai akhir hayatnya. Terlepas dari prilakunya yang lebih mencintai pekerjaan, dia jauh lebih baik darimu. Memangnya apa hebatnya kau? Apa uangmu bersih? Aku merasa sedih untuk istrimu, harus menerima pria seperti mu."
Ri Ahn membalas sersenyum sinisnya kepada wanita tadi. "Kalau kau sudah bersenang-senang sebaiknya pulang, karena saya akan berbicara dengan pria itu." Sambil menunjuk Ho Young.
Wanita tadi ragu lalu terlihat Ho Young perlahan melepas pelukannya. Saat itu juga, wanita tadi berdiri dan keluar dari kamar. Tidak lupa dia mengambil cek yang sudah di sediakan di atas meja kecil.
"Dari pada memberikan uang pada wanita sembarangan lebih baik gunakan uangmu untuk berbisnis atau membantu anak yang tidak mampu sekolah. Adikmu bisa sakit, kau tidak takut?" Sahut Ri Ahn berdiri dan duduk di depan Ho Young.
"Aku datang untuk menperjelas perjanjian kita. Kau benar-benar akan membatalkannya? Lalu bisnis HARI bagaimana?"
Ho Young terus melihat Ri Ahn, dia tidak menjawab pertanyaan wanita itu.
"Salah siapa aku harus jauh dari istriku!?" Dia menatap tajam Ri Ahn, tatapan yang tidak pernah di lihat oleh Ri Ahn telah mendatanginya.
Amarah dalam tatapan itu seperti akan melahap Ri Ahn. "Kau bertanya padaku?" Tanya Ri Ahn yang tidak mengerti, arti dari kalimat barusan dan arti tatapan itu. Asing.
"Kemalangan dan kebahagiaan itu berada di batas yang berseberangan. Kau bisa tergelincir dan jatuh, tidak ada tahu. "
Tidak paham, Ri Ahn mengerutkan keningnya. Dia sama sekali tidak mengerti maksud Ho Young. "Apa kepalamu terbentur sesuatu? Kau melantur. Pokoknya, jelaskan soal perjanjian kita?"
Ho Young terlihat tenang. Dia menatap lama Ri Ahn. "Aku membatalkan perjanjian kita," Dia mengeluarkan kertas. "Tanda tangani." Perintahnya kepada Ri Ahn.
Wanita itu mengambil dokumen tadi dan membacanya dengan seksama tanpa ada yang tertinggal satu katapun. Sesekali keningnya mengkerut, salah satu alis naik dan kepalanya di miringkan. Kemudian dia mengangkat wajahnya melihat Ho Young yang sedang menatapnya sejak tadi.
"Pebisnis yang gagal!" Imbuh Ri Ahn.
Ho Young mengerti maksudnya. Dalam hal perjanjian dia telah rugi banyak hal. Salah satunya membiarkan bisnis kelompok HARI berjalan mulus setelah musuhnya menghancurkan banyak potensi yang dia miliki.
Dia juga memberikan akses Ri Ahn untuk memulai bisnis dengan salah satu koleganya. Tujuannya hanya Ho Young yang tahu. Bahkan orang-orang yang menyusun perjanjian itupun tidak tahu mengapa Ho Young mengambil jalan sesulit ini hanya untuk seorang wanita.
"Kau benar-benar sakit rupanya." Kata Ri Ahn.
Dia mendekati Ho Young dan berhenti saat jarak mereka 20 centi. "Apa yang kau rencanakan? Mustahil seorang Ho Young memberiku banyak kemudahan. Kau ingin mengambil apa dariku?"
__ADS_1
Ho Young tersenyum miring. "Terserah padamu, jika kau tidak menginginkannya, kembalikan saja."
Ri Ahn mengigit bibirnya, dia yang tidak sadar bibirnya berdarah karena terlalu keras menekan bibir bawahnya dengan gigi. Pria itu terkesip, dia bergerak ke depan tetapi Ri Ahn sudah duduk kembali ke tempat semula.
Rasa besi dari darahnya menjalar dengan cepat, tersisa perih yang membuatnya mengatup bibirnya rapat. Ri Ahn menatap tajam Ho Young.
Dia bebas.
"AYAHHH!!!"
Teriakan itu memekik telinga Ri Ahn. Kepalanya otomatis berbalik mencari sumber suara. Dari arah pintu yang terbuka secara paksa, datang anak kecil masih dengan balutan piama dinosaurusnya. Tangannya berada di pingang, dia mengangkat kepalanya dan berdiri di depan Ho Young.
"KAU MENGINGKARI JANJIMU!" Teriaknya tidak kalah keras dari sebelumnya.
Ri Ahn memperhatikan anak kecil tadi.
"Dengan siapa Yun datang kesini? ayah sedang bekerja." Tanya Ho Young
"Alasan! Dimana ada pekerjaan--- eh!?"
Saat itu dia melihat Ri Ahn. Matanya menatap wanita itu dari atas hingga ke bawah. Dia menyipitkan matanya. "Apa ayahku memukulmu?" Tanya dia menujuk bibir Ri Ahn.
Ri Ahn memegang bibirnya. "Tidak,"
"Ayahmu?" Ri Ahn melirik Ho Young. "Dia?"
Anak kecil itu mengangguk. "Kak Yun memukulnya karena dia membawa wanita kedalam markas. Tidak boleh ada wanita lain selain kak Yun di dalam sana."
Kak Yun?
Ri Ahn menggeleng. "Ayahmu ben---"
"Tidak perlu di katakan, aku tahu dia punya banyak wanita." Sambung Yun Young.
"Namamu?" Tanya Ri Ahn.
"Yun Young!" Dia mendekati Ri Ahn dan bersalaman dengannya.
"Ri Ahn."
__ADS_1
"Jadi kau orangnya? Wanita yang akan menggantikan ibuku"
Bahkan Ho Young terkejut mendengar perkataan anaknya. Apalagi Ri Ahn. Wanita itu tidak percaya bahwa anak Ho Young akan menyerangnya. Dia shock.
"Aku?"
"Ya, semua orang mengatakan hal yang sama. Kak Yun saja tidak bisa bermimpi, apalagi orang lain."
Ri Ahn menghela nafas, kepalanya di tarik kebelakang bersandar pada sofa. Lalu dia tegakkan kembali posisi duduknya. "Kamu salah paham. Sekarang, aku dan ayahmu tidak punya hubungan yang spesial." Sembari melihat Ho Young.
Yun Young mengangguk-anggukan kepalanya. "Apa itu benar?" Tanya Yun pada ayahnya.
Sang Ayah tidak langsung menjawab, dia terus melihat Ri Ahn. "Sekarang, besok belum tentu."
"Besok belum tentu, ck ck!" Suara pelan Ri Ahn terdengar oleh keduanya.
"Jadi kalian ini apa?"
"Manusia." Bersamaan. Ri Ahn dan Ho Young secara kebetulan menjawab bersamaan.
Yun Young mendekati Ri Ahn, dia berdiri sembari bersedekap. "Kau akan terluka jika bersama ayahku, carilah pria yang bisa di andalkan." Katanya lalu pergi meninggalkan kesan mendalam untuk Ri Ahn. Dia terus menatap kepergian Yun Young.
Lalu matanya beralih menatap Ho Young yang ketika itu sedang menatap cincin di tangannya dengan sedih.
Apa itu cincin pernikahannya? Dalam hati.
Ri Ahn merasa kata-kata Yun, seorang anak kecil bukanlah omong kosong, dia mengatakannya dengan serius dan jujur saat menatap matanya. Dalam dirinya berkecamuk pemikiran tentang rumah tangga Ho Young.
Rasa penasarannya pada kehidupan pria di depannya begitu besar, sampai dia ingin berlari melihat dengan matanya sendiri, tapi perjanjian pernikahannya telah di batalkan, dia juga harus merasa bahagia.
Ho Young kembali menatap Ri Ahn. "Kembalilah, kakakmu mungkin sudah pulang."
Ri Ahn menggeleng. "Apa itu adalah tanda kegagalan seorang ayah?"
Diam.
"Jika seorang anak mengatakan hal seperti ayahku tidak bisa diandalkan, kau pasti sudah gagal. Tapi bagus juga, aku tidak akan berasa bersalah padamu. Karena kau memberikan keuntungan maka aku akan menerimanya tapi, jangan sampai kita bertemu lagi."
Ri Ahn pergi.
__ADS_1
Karena jika kita bertemu lagi, ceritanya sudah berbeda.
.