Reflection, The Black Rose

Reflection, The Black Rose
Ep 32 : Ri Ahn bekerja dengan giat


__ADS_3

Ri Ahn memeriksa catatan arus kas tempat karoke dan Bar kelompok HARI. Sekitar 1 jam yang lalu dia mulai menyesuaikan catatan dengan uang yang telah di setor. Karyawan yang bertugas terlihat gugup di pojok ruang, dia terus melirik dengan pandangan khawatir.


Bahkan jika ada kekurangan sedikit saja mereka harus menggantinya, kalaupun dipakai harus ada catatan kemana uang itu berakhir. Maka Ri Ahn bisa membuat keputusan apakah bisa diwajarkan atau tidak. Semuanya harus terbuka.


Dia melihat akun pinjaman dari customer, ada beberapa yang belum tertagih. Ri Ahn memanggil pegawai itu. "Bukankah kedua orang ini harus membayar? Lihat, ini sudah jatuh tempo." Dia menunjuk catatan itu dengan pulpen.


Pegawai itu menggaruk belakang lehernya. Dia mengangguk setelahnya. Dia juga sudah memanti-wanti sejak 1 minggu lalu, tapi kedua orang itu tidak pernah datang dan tidak bisa di hubungi. "Mereka tidak bisa dihubungi," Katanya.


Ri Ahn menatapnya. "Apakah kau pegawai baru?"


Pria itu menggeleng. "Tidak, saya sudah bekerja selama 7 tahun."


"Maka kau tidak perlu melakukan kesalahan kecil seperti ini bukan? Kau tidak tahu peraturan tentang customer yang bisa berutang di sini? Belum diajarkan!?"


Ri Ahn menekan setiap kalimat yang keluar, membuat pegawai itu takut. Ravi yang duduk di dalam ruangan tidak ikut campur. Dia sibuk dengan gelas minumannya dan majalah sport terbaru.


"Saya...saya.. "


"Jelasakan peraturan yang kutanyakan tadi?" Tanya Ri Ahn. Di balik kursinya menghadap pegawai itu. Sementara posisi pegawai itu berdiri di hadapan Ri Ahn, kepalanya menunduk malu.


Suara pelan. "Customer yang melakukan utang harus memiliki kredibilitas tinggi, dilihat dari pakaian, mobil serta kartu yang dia pakai. Mereka di minta meninggalkan kartu Identitas asli jika di rasa ada keraguan, hal itu secara khusus diperuntukkan bagi peminjam baru,


"Jika dalam 1 waktu dari 2 kali waktu yang di tentukan dia belum melakukan pembayaran, baik customer lama atau baru akan dilayangkan penangihan ke alamat sah dengan bantuan deb kolektor tergantung berapa jumlah utang yang bersangkutan. Jika dalam 2 waktu itu tidak ada niat baik, maka yang bertanggung jawab terhadap pemeriksaan atau pegawai yang memberikan pinjaman akan mrngambil alih sesuai dengan kondisi berbeda setiap peminjam."


Ri Ahn membalik kertas itu dan tidak menemukan surat perjanjian utang mereka. "Dimana surat utangnya?" Tanya Ri Ahn.


Pegawai itu terdiam.


Ri Ahn menggebrak meja hingga pandang Ravi naik melihat apa yang terjadi. Setelah di rasa tidak terjadi apa-apa, dia kembali fokus lagi pada kegiatannya tadi.


"Panggil manajer mu!" Perintahnya.


Mereka saling pandang. Ri Ahn memicingkan matanya. "Aku bilang panggil manajer kalian!"


"Ketua, manajer tidak berada di tempat. Dia sedang berlibur. . ."

__ADS_1


"Apa maksudnya, bukankah tadi aku bertemu dengannya?"


"Sebenarnya---" Saat pegawai itu ingin berbicara, pegawai lainnya menyenggol lengannya pelan.


"Apa maksudnya ini? Kalian tidak ingin bekerja? Bilang saja, di luar sana banyak yang mengantri mencari pekerjaan." Kata Ri Ahn tegas.


Pegawai tadi bergeser agak jauh dari teman-temannya. Dia melanjutkan pembicaraannya yang terpotong tadi. "Orang yang menyambut anda tadi bukan manajer kamui, dia hanya terlihat mirip dengannya. Sebenarnya manajer sudah lama tidak bekerja, dia pergi liburan ke jepang selama 1 bulan."


"Dan.." Ragu.


Ri Ahn tetap diam menunggu.


"Bulan lalu penghasilan Bar minus, karena ada pengecekan jadi kami mengganti dengan meminjam uang di rentenir bulwang. Saya tidak bermaksud melakukannya, kami hanya pegawai biasa dan manajer mengancam."


Ravi masih dalam mode diam tak bergeming. Sesekali melirik ekspresi Ri Ahn dan kembali sibuk. Dia harus membiasakan Ri Ahn mengambil keputusan sendiri tanpa campur tangannya. Hari ini, dia tidak boleh terlibat.


Terlihat Ro Ahn menghela nafas, dia melihat kakaknya yang duduk santai. "Kakak!" Panggil dia.


Ravi mengangkat kepalanya. "Hem"


"Hem?"


"Oh!"


Dia kembali berbicara dengan pegawainya.


"Aku akan mengurus manajer park dan berikan perjanjian pinjaman bar kepadaku."


Mereka bergegas dan memberikan dokumen itu kepada Ri Ahn. Diperhatikan semua detail perjanjian lalu merasa tidak ada yang aneh. Ri Ahn beranjak dari kursinya sembari memanggil kakaknya. "Ayo kak, disini sudah selesai."


Pegawai memberi hormat kepada Ri Ahn saat dia sudah berada di mobil. Tugasnya memeriksa tempat karoke da bar sudah selesai, dia harus mengunjungi salah satu usaha rental mobil tidak jauh dari sana.


"Kak!" Panggil Ri Ahn.


Pria di sebelahnya yang sejak tadi memandang ponsel akhirnya melihat Ri Ahn.

__ADS_1


"Ada apa?"


"Soal manajer park dan rentenir itu, bagaimana aku harus menanganinya?" Tanya Ri Ahh. Dia benar-benar tidak tahu.


Wajah heran Ravi terpampang jelas. "Cari dan bayar." Singkat padat dan terang-terangan.


"Heh? Sesimpel itu?" Ri Ahn juga heran. Ada keraguan di raut wajahnya, dia tidak percaya.


"Lalu? Kau ingin bagaimana? Ah, Ri Ahn ingin kakak menculik dan menyiksa orang, kalau begitu---"


"Tidak, bukan! Bukan begitu maksudku."


"Lalu?"


"Aku hanya heran, kakak menjawabnya dengan santai."


"Drama yang sering kau tonton tidak selalu sama, tidak semua urusan geng harus di selesaikan dengan (Kode, gerakan jari melintang dari ujung leher ke ujung lainnya.) Kita tidak bisa mendapatkan uang kembali. Rugi."


Ri Ahn mengelus dadanya, dia berpikir harus membunuh orang untuk melancarkan urusannya. Ternyata tidak juga. Terlalu banyak memikirkan hal yang tidak perlu. Helaan nafasnya yang berat membuat Ravi tertawa dalam diam.


Saat kepalanya di lempar ke samping melihat jalanan melalui jendela tidak sengaja Ravi menangkap salah satu mobil yang melaju cepat melewatinya. Cepat dia beralih melihat kaca depan. Bersamaan dengan itu sang supir juga melihatnya memberikan tanda yang hanya mereka berdua sadari.


Dalam hati Ravi memiliki banyak kata. Untuk apa mereka disini?


Walau dengan pemikiran yang kompleks, Ravi tetap meminta sang supir melalui kode mata untuk meneruskan perjalanan. Lirikan matanya ke arah samping menangkap layar sang adik sedang sibuk beermain game di ponselnya.


15 menit kemudian, mereka sudah sampai. Ravi turun mendahului Ri Ahn. Pria itu mendekati salah satu pengawalnya dan mencari tahu tujuan pria itu datang ke wilayahnya.


"Kak! Ketua!"


Salah satu pegawai lari ke arah mereka. Keduanya di antar ke kantor. Banyak pegawai yang bekerja di tempat rental mobil itu, karena pemasukan perhari juga lumayan. Usaha ini termasuk yang paling banyak memberikan keuntungan untuk kelompok HARI.


"Bagaimana bulan ini, tidak ada masalah?" Tanya Ri Ahn.


Yah, dia sudah hatam persolaan rental, beberapa bulan lalu. Saat Cho Min Sik meninggal, banyak dari pelanggan yang membuat onar, seperti tidak mengembalikan mobil pada waktu yang di tentukan, berhutang dan juga ada beberapa yang merusak fasilitas di dalam mobil.

__ADS_1


Saat itu Ri Ahn kewalahan melacak mereka, karena kurangnya informasi. Jadi dia merombak ulang karyawan yang bekerja di bawahnya. Semua peraturan tidak masuk akal yang di desain oleh orang-orang Cho Min Sik tidak lagi berlaku.


.


__ADS_2