Reflection, The Black Rose

Reflection, The Black Rose
Ep 34 : Siapa?


__ADS_3

Pria pertama melihat kepergian Ri Ahn dan Ravi. Mereka sudah berjalan cukup jauh. Dia menengok Ho Young di sampingnya lalu menepuk lengannya. Tapi pria itu sedang asik menyeruput kopinya, posisi duduknya juga sangat elegan.


Pria yang berprofesi sebagai pengacara itu, memperlihatkan ekspresi ' apa yang di lakukan pria ini '


Tidak percaya dengan apa yang di lihat, dia berbicara dengan pelan bermaksud menegur.


"Kau ini sedang apa?" Kata temannya.


"Minum kopi." singkat.


Dia pikir aku tidak lihat? dalam hati mengumpati sikap Ho Young.


"Yah, masih sempat. Kalau kau berteriak memanggil namanya dia pasti akan berlari menemuimu."


Pria itu memberikan ide kepada Ho Young.


"Tidak akan."


"Kenapa kau bisa yakin?"


"Aku yakin."


"Yakin bagaimana?"


Ho Young menghela nafasnya. "Karena, dia pernah bilang jangan sampai kita bertemu lagi."


Pria yang duduk di sebelahnya terdiam, dia merasa kasihan tapi juga lucu. Berusaha keras untuk menahan tawanya, dia merapatkan bibirnya. Tangannya menepuk pundak temannya sekali.


Sementara Ho Young menggeleng. "Kalau kau ingin tertawa tidak perlu di tahan."


"Oh, kenapa kau bisa tahu?"


Temannya pasti seorang peramal.


"Suara nafasmu terlalu aneh untuk orang yang bersedih."


Apa-apan, sahutnya dalam hati.


"Jadi kalian sepakat untuk tidak bertemu lagi? Bukankah kau berencana mengambilnya dengan paksa? Kau tidak perlu menjalani kesulitan seperti ini."


"Memangnya aku kesulitan?"


Pria itu mengangkat tinggi bahunya. "Aku ini profesional, mengerti!? Kau ini bukan menangih utang tapi bersedekah. Seharusnya kau bilang sejak awal, kita tidak perlu bersusah payah sampai bertemu tengah malam untuk membicarakan kontrak, perjaniian pra nikah. Kau bahkan sampai ke Vietnam. Awuh, sulit sekali hidupmu."

__ADS_1


"Kau pikir aku tuhan, bisa tahu masa depan."


Banyak bicara. Ho Young membalas semua perkataan temannya. Dia jadi banyak berbicara, biasanya hanya menyebutkan hal-hal penting saja pada pria itu.


"Jadi mau kamu apa?"


"Tidak ada!"


"Awas saja menyesal."


Dia menyerah, pada akhirnya pembahasan mereka selalu mentok, dia menyumpahi Ho Young.


.


Ravi memandang Ri Ahn yang berada di sebelahnya. Perempuan itu terdiam memandang jalanan sepi. Tidak tahu apa yang di pikirkan sang adik.


"Ri Ahn."


"Ya?"


"Apa kau punya seseorang yang kau sukai?"


Heran. "Hah? Kenapa bertanya?"


Ri Ahn merasa kakaknya sangat aneh. Walau begitu dia memikirkan perkataan Ravi dengan serius.


"Aku--- mungkin, menyukai seseorang."


"Mungkin?"


Dia juga tidak tahu. Menurut Ri Ahn, dia adalah tipe yang tidak cepat menyukai seseorang, butuh proses yang panjang baginya untuk merasakan perasaan itu.


Dan tidak masuk akal baginya untuk menyukai Ho Young. Tapi, dia juga tidak bisa memungkiri bahwa kata tidak suka juga bukan kata yang tepat. Jadi MUNGKIN adalah jawaban yang paling mendekati.


Sementara Ravi sudah bingung melanjutkan kalimatnya lagi setelah mendengar jawaban Ri Ahn. Dia seharusnya lebih berhati-hati, adiknya terlihat tidak nyaman.


"Jika--- ini jika. Jika Ri Ahn menyukai seseorang, kamu bisa memberitahu kakak. Bagaimanapun sulitnya, kakak pasti akan mendapatkan dia untukmu." Imbuh Ravi, dia tegas menguatkan tekat.


Ri Ahn tidak heran lagi. Ravi tipe pria yang bermulut manis dan bertindak dengan cepat. Perempuan itu, menggeleng sekali. Lalu menepuk punggung tangan Ravi.


"Jika--- ini jika. Jika aku menyukai seseorang yang profesinya mirip denganmu, bagaimana tanggapanmu?" Ri Ahn menyelesaikan kalimatnya sebelum Ravi memotong.


Dahi Ravi mengkerut, matanya memicing dan bibirnya terkatup rapat. Pria itu jelas tidak setuju, Ri Ahn pun dapat merasakannya, dia mengangguk dan hanya tersenyum, lebih baik tidak mendengar jawabannya. Ri Ahn kembali fokus ke samping.

__ADS_1


Sekitar 15 menit, Ravi membuka mulutnya.


"Ingatlah, janjimu pada ibumu." Kalimat yang keluar dari mulut Ravi langsung menyadarkan perempuan itu untuk berhenti sejenak.


Restu ibuku tidak akan mudah, tidak mungkin aku berpaling. Katanya dalam hati.


Ravi memang tidak setuju. Karenanya, dia mengungkit perihal pesan Maychau Nguyen. Dan Ri Ahn tidak mungkin mengabaikan janji itu, dia sudah hidup dengan memegang janji pada ibunya.


Lagipula kata Ravi dalam hati, siapa yang akan mendekati adiknya sementara dia ada di sisinya. Jika ada dari anggota HARI, maka dia akan berakhir di tangannya. Lalu bagaimana dengan Geng lain? Ravi belum memutuskan, adiknya mungkin hanya bercanda. Jika.


...🖤...


Ravi tidak bisa tidur, kebiasaan yang dulu menyekapnya kini kembali lagi. Dia duduk di kursi dalam ruang kerja. Meja yang berada di depannya penuh dengan foto-foto Ri Ahn.


Dia menyentuh satu foto ketika Ri Ahh masih berada di Vietnam. Rambutnya di gerai indah, terbang beberapa helai sebab angin yang melewatinya pelan.


Di angkat foto itu untuk melihatnya lebih jelas. Ravi tersenyum, senyuman yang jarang dia perlihatkan. Pekerjaan yang telah dia jalani sejak kecil tidak lagi terasa berat. "Tidak ada lagi kehampaan, melihatmu tersenyum membuatku lebih berani berada di tempat ini. Aku hidup untuk selalu melihat senyummu."


Pria itu mengelus wajah dalam foto yang di pegangnya. Dia mengambil semua yang berada di meja, disatukan dan di simpan di dalam kotak berwarna cream. Dia letakkan dalam brangkas yang di sembunyikan di balik lukisan pemandangan desa asri.


...🖤...


Seharian dengan semua kesibukannya, Ri Ahn lelah. Dia membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk dengan selimut yang tak kalah lembut saat menyentuh kulitnya.


Tumitnya terasa sakit saat menginjak lantai, dia menariknya dan memijat denga pelan. Sulit sekali bekerja, dalam hatinya mengeluh.


Perempuan itu melihat ke samping, pintu kaca kearah balkon belum di tutup. Angin menerbangkan tirai putih kamarnya. Terlihat cantik bagi Ri Ahn.


Senyum bibirnya merekah, dia beranjak menyetuh helai kain itu lalu menyibak hingga terbuka separuh. Dia berjalan ke balkon dan mendapati lampu-lampu taman yang menyala.


Dari atas sini, dia melihat lahan perkebunan luas. Dia juga bisa memandang jalan di luar yang sepi. Tinggal jauh dari kota, adalah impian ibunya. Mungkin karena itu Cho Min Sik membangun rumah di daerah ini.


Mengingat kebaikan yang sering ibunya ceritakan sewaktu kecil tidak membuat Ri Ahn lantas memahami Cho Min Sik. Bagi perempuan itu, kehadiran yang tidak pernah dia tunjukkan adalah kejanggalan.


Matanya menangkap silau lambu mobil dari jauh. Tepat di sana, dia biasanya menunggu Ho Young menjemput. Pasang muda mudi mabuk asrama sedang berbincang di sana, ditempat sepi. Dia menggeleng dan memutuskan masuk ke kamar.


Sudah waktunya dia tidur, besok harinya akan lebih padat dari pada hari ini. Ri Ahn harus berada di casino untuk menangkap Manajer park dan melunasi hutang kepada rentenir bulwang. Dia harus tidur banyak, untuk memulihkan tenaga yang telah terkuras dan akan terkuras.


...🖤...


Dari balik pohon besar di sebelah perkebunan cabe, berdiri seorang pria memakai masker berwarna hitam sedang mengawasi mansion besar milik Cho Min Sik.


Bersama dengan itu seseorang wanita terpantau sedang berasa di balkon menikmati angin malam. Dia menatapnya dan tersenyum.

__ADS_1


.


__ADS_2