Reflection, The Black Rose

Reflection, The Black Rose
Ep 14 : Pertama kali


__ADS_3

Ri menopang wajahnya, cemberut melihat sang kakak makan dengan lahap setelah mengabaikan ucapannya barusan. Dia memicingkan matanya, bibirnya sudah mengerucut lucu. Dia kesal karena belum mendapatkan jawaban.


"Kakak!"


"Kakak!"


"Yuhu!"


"Budek kali ya!?"


Banyak lagi. Dia lalu duduk disamping Ravi. "Kakak ganteng, sudah ada kabar belum? Ini sudah keesokan hari loh."


Ravi mengabaikan Ri, dia tetap makan. Tetapi sudut matanya melihat adiknya yang kesal. Dia tersenyum dalam hati. Ravi berhenti makan dan melihat Ri. "Besok kita temui Frederick t---"


"Yes!" Dia berteriak riang sebelum kalimat Ravi selesai.


"Tapi, kakak ikut!" akhirnya dia ucapkan.


"Hah? kakak ikut? Oh yasudahlah. Jadi bagaimana tentang para tetua itu?" Tanya Ri. Dia tahu menjelaskan dan membuat mereka setuju tidaklah mudah. Kakaknya pasti memberi janji yang berat untuk di tukarkan sebagai imbalan.


"Kamu tidak perlu tahu, tugasmu adalah membuat bisnis kita kembali! Soal uang, mereka tidak akan menolak." Ucap Ravi.


Ri menganggukkan kepala. Dia sudah berjanji kepada Ravi akan mendengarkan semua yang kakaknya katakan. Menjadi adik penurut yang manis tidak masalah, selama dia bisa memuluskan rencananya.


.


Hari esok datang lebih cepat dari yang Ri bayangkan. Setelah bersiap-siap, dia duduk manis menunggu kakaknya di meja makan. Di meja makan terdapat banyak hidangan kesukaan Ravi. Semuanya di tata sedemikian rupa, cantiknya.


Tidak lama Ravi masuk ke mansion utama. Selama Ri menjadi ketua Ravi tinggal di luar mansion utama tepatnya di Paviliun dekat taman angrek. Paviliun itu dulunya merupakan tempat Cho Min Sik menghabiskan waktunya. Bisa di bilang, dia yang mewarisi seluruh harga dan kebiasan sang ayah angkat.


Ri tersenyum manis saat kakaknya duduk di meja makan. "Kenapa tidak makan?" Tanya Ravi, dia melihat banyak makanan dan belum satupun yang di sentuh oleh perempuan itu.


Ri menggeleng. "Aku tunggu kakak, mau makan yang mana? Aku ambilkan." Ri berdiri, dia melayani Ravi dengan cekatan. Ravi belum mengatakan apapun tetapi piringnya sudah penuh dengan lauk yang di ambilkan adik perempuannya.


Dia lihat dengan seksama setiap lauk itu lalu dia menatap kata Ri dan berkata. "Kau memberiku makan seperti tidak ada lagi hari esok. Semuanya harus aku habiskan?" Tanya dia.


Perempuan itu tertawa kecil sembari mengangguk. Dia kembali ke tampat duduknya makan dengan lahap dan tenang. Setelah sesi makan dia mengikuti kemanapun Ravi pergi bahkan ketika Ravi pergi ke toilet, dia akan menunggu di samping tembok bernyanyi lagu yang tidak Ravi ketahui.


Mendengar nyanyian itu, Ravi menggeleng menghilangkan ketakutan akan trauma mendengar lagu itu jika nanti dia mendengarnya di jalan. Dia keluar dari sana dan tepat di samping pintu, Ri tersenyum menampilkan gigi putihnya yang terlihat menyeramkan bagi Ravi.

__ADS_1


"Jadi kapan?" Tanya Ri tidak sabaran.


Bagaimana tidak, dia tidak tidur karena rasa penasaran yang begitu menggebu-gebu dihatinya. Dia juga tidak tahu mengapa begitu bersemangat.


"Kakak tidak akan berbohong, tunggu saja!"


Ravi pergi ke ruang tengah dan duduk di hadapan TV besar. Ri mengikutinya tanpa henti juga ikut duduk di sampingnya. Mata Ri tidak berada di layar TV melainkan menatap Ravi, dia tidak terpesona hanya menunggu kakaknya berbicara. Takut ketika Ravi siap bicara, dia tidak mendengar dan melewatkan satu kata dari banyaknya kalimat.


"Ini masih pagi Ri." Ravi menghela nafas.


"Ya aku tahu, kalau sudah siang kau pasti akan berangkat melihat-lihat bisnis. Kali ini aku boleh ikut? Bukankah seharusnya sebagai ketua aku harus melihat bisnis-bisnis Geng HARI?"


Ravi berhenti menatap layar TV kemudian dia memalingkan wajahnya melihat Ri. Di tatap seperti itu, Ri sudah paham dan yakin akan mendapatkan penolakan tapi itu salah. Ravi mengangguk. "Tentu saja, imagemu sebagai ketua harus tetap terjaga. Pakai baju yang sudah di siapkan, kita berangkat beberapa jam lagi dan ingat!"


Ri akan berteriak senang duluan sebelum Ravi selesai bicara karena itu Ravi memberi lampu kuning untuk mengingatkan adiknya. "Ingat apa?" Dia lesuh.


"Jangan lepas dari pandanganku, mengerti!?"


"Baiklah!"


Ri naik ke kamarnya, dia ingin bersiap-siap sebelum memulai harinya.


.


Sebelum alarm berbunyi, Ri turun sembari tersenyum manis melambai kepada kakaknya. "Ow, pria yang selalu on time!" Jempolnya di goyang-goyangkan. Ri menyenggol lengan Ravi. "Kakak tidak masalah membawaku?" Tanya dia. Sebelum turun dia bertemu dengan paman Baren. Pria tua itu memintanya berhati-hati, karena para tetua tidak menyukai Ri. Jangan sampai membawa masalah untuk Ravi, itu adalah pesannya.


Ravi cuek. "Memangnya mereka bisa apa?"


"Oh kakak tidak takut lagi?" Walau terdengar seperti sindiran tetapi Ri hanya bercanda. Dia tahu kakaknya tidak takut hanya menunggu waktu yang tepat.


Ravi menatapnya tajam. "Masuk, nanti kita terlambat!" Tegasnya.


"Oh iya kak, kalau mereka melihatku bagaimana? Terus aku harus bilang apa?" Sembari dia masuk ke dalam mobil Ri membombardir Ravi dengan beberapa pertanyaan.


"Ri jangan bicara dengan mereka, biar kakak yang hadapi. Ingat, jangan memberi mereka kesempatan untuk bicara denganmu!" Ujar Ravi lalu menghidupkan mobil.


Dalam perjalanan Ri banyak bertanya, Ravi yang terbiasa tenang saat menyetir agak pusing di buatnya. Ketika bersama Cho Min Sik, pria itu lebih suka diam dan bertanya ketika memang ada hal penting. Beda halnya dengan Ri, dia selalu penasaran dengan kehidupan kakaknya dan Geng HARI setelah sampai di Korea. Namun, itu bukan hal yang bisa membuat konsentrasinya buyar. Ravi mencoba terbiasa.


30 menit mereka sampai di salah satu club besar di daerah itu. Ravi dan Ri turun dari mobil. Selain orang-orang di depan club itu, banyak warga yang melakukan aktifitas. Lalu-lalang kendaraan dan pejalan kaki.

__ADS_1


Tidak jauh dari club itu terdapat pasar bersih. Karena masih pagi, mereka masih melakukan transaksi. Lapak yang menjual baju bekas serta accessories berhamburan di depan ruko-ruko. Pelajar berlarian di sepanjang jalan, Ri yakin jam sudah menunjukkan pukul dimana sekolah akan menutup gerbangnya.


"Pagi kak!" Sahut mereka pada Ravi.


Ravi mengangguk lalu dia berbalik melihat Ri yang sedang asik memperhatikan sekitar club. Adiknya terlihat fokus pada beberapa anak sekolah yang berlarian di pinggir jalan. "Ri!" Panggil Ravi. Ri balik badan dan mengambil tangan Ravi.


Empat orang di depannya hanya diam. Ravi menatap mereka dengan alis terangkat. "Dimana sopan santun anak buahmu Jung!" Sahut dia pada seseorang yang berada di belakang. Dia berlari dari atas dan menunduk sebentar pada Ravi. "Ketua!" Katanya berbalik melihat Ri.


Empat pria yang jadi hanya terdiam terkejut mendengar perkataan bosnya. "Ah? Ketua!" Mereka ikut.


"Maaf kak, mereka tidak ikut saat penobatan Ketua." Ujar bos mereka.


"Bagaimana bisnismu?" Tany Ravi, sementara Ri bergelantungan di lengan Ravi. Dia tersenyum kepada kelima orang di depannya. Mau bagaimana lagi? Orang tua angkatnya selalu mengajarkan dia ramah kepada orang lain. Lagipula kata Ri dalam hati, mereka tidak se menyeramkan itu.


Empat pria disana canggung melihat senyum Ri, bahkan bos mereka yang berbicara dengan Ravi saja kesusahan menjawab pertanyaan Ravi sebab secara singkat menyaksikan senyum itu. "Be--begitulah kak, bisnisku tidak terlalu terganggu tapi Ho Young menyulitkan bisnis kami yang berada di paju."


"Paju? Kalau tidak salah, adikmu yang mengelolanya?" Ingat Ravi, dia yang mengangkat adik pria itu.


Pria ke lima menganggukkan kepala, membenarkan perkataan Ravi. "Apa yang di laporkan padamu?" Ravi berjalan sembari berbicara, dia masuk ke dalam club di sambut oleh semua anak buahnya yang berada di cabang selatan. "Halo Ketua, halo kak!"


Ravi mengangguk, dia terus berjalan di dampingi Ri yang tersenyum dan melambai.


"Kak, masalah ini agak aneh. HARI dan KOM memang selalu bersaing tapi tidak pernah menganggu bisnis masing-masing. Kita selalu hidup seperti itu selama bertahun-tahun lamanya dan selalu damai. Apa ada yang terjadi?"


Ri mendengar mereka sambil berdiri di depan kaca besar yang kusam dengan tempelan-tempelan stiker hampir terkelupas dan tersisa bekas-bekas lem saja.


"Kau tidak perlu khawatir soal itu, Ketua akan menyelesaikannya denga cepat." Ravi berbicara sembari menatap punggung Ri.


Pria tadi menganguk mengerti. Dia meletakkan kopi instan di depan Ravi lalu melihat Ri, dia memiliki pertimbangan dalam dirinya. Ravi memperhatikan gerakan itu. "Tidak usah, Ketua tidak minum kopi. Bersabarlah, besok semuanya akan selesai." Ravi berdiri. "Ketua, jadwal anda padat. Sebaiknya kita berangkat."


Ri mengangguk lalu dia melambai pada pria di sana. Saat mereka keluar, padat anak buah mereka berjejer di sana memberi salam. Ravi menepuk pundak pria yang menjadi bos cabang selatan dan keluar bersama Ri.


"Kita mau kemana lagi?" Tanya Ri.


"Bertemu Ho Young seperti permintaanmu."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2