Reflection, The Black Rose

Reflection, The Black Rose
Ep 28 : Batalkah?


__ADS_3

Ho Young dibuat bingung dirinya sendiri. Untuk apa menjelaskan kepada musuhnya bahwa Gu Myung Jin berkhianat kepada mereka. Entah bagaimana perasaannya sekarang.


"Mengapa kau memberitahu semua ini? Kau bisa saja diam, lagipula kita adalah musuh. Maksudku, kau dan Ketua Cho tidak lagi berteman." Ungkap Ravi.


"Bukan lagi teman ya?" Sejenak dia berpikir lalu melihat kembali Ravi. "Baiklah, urusanku sudah selesai." Ho Young berdiri dari sofa, dia tetap menatap Ravi yang mendongak karena pria itu masih duduk di sofa depan Ho Young.


Saat dia sudah berdiri tegap, dia berbicara kepada Ravi. "Aku datang bukan karena memandang Cho Min Sik." Tangan bebas menepuk pundak lebar kakak Ri Ahn dengan santai. "Kita akan bertemu lebih sering nanti." Imbuh Ho Young ambigu membuat Ravi mengerutkan alis.


Baik Ravi dan Ri Ahn kebingungan dengan sikap Ho Young, saat pria itu berjalan matanya sempat melirik Ri Ahn sekilas. Ri Ahn menggigit bibirnya, dia tidak tahu harus bersikap seperti apa saat bertemu dengan Ho Young. Apa sikapnya yang keras tadi tidak masalah atau sebaliknya.


Ho Young d ikuti para bawahannya keluar dari Mansion, saat kakinya sudah berada di luar pintu, Ri Ahn berteriak agak keras.


"Tunggu!"


Ri Ahn berlari mengejar Ho Young dan berdiri di sampingnya. Ho Young berbalik, mereka saling pandang.


Ravi terdiam saja di kursinya saat adiknya berlari ke Ho Young. Seperti seseorang yang belum sadar dari hipnotis. Ketika dia menyadari keadaan Ri Ahn sudah ada di sana.


.


Ho Young diam, tidak mengeluarkan sepatah katapun. Sementara Ri Ahn ingin berbicara tapi dia terpesona oleh pria itu. Mulutnya terbuka menimbulkan kekehan kecil dari belakang Ho Young. Dengan tatapan matanya Ho Young memperingatkan kepada bawahannya agar mereka diam.


Gelagapan ketahuan memandang pria itu dengan kagum, dia bersemu merah. Karena kekehan itu Ri Ahn mengedipkan matanya sembari menggeleng menghilangkan pikiran anehnya. Dia berbicara dengan sangat pelan meski tahu bahwa itu bisa menimbulkan kesalah-pahaman.


"Kau mengatakan tentang rahasia kita pada kakakku?" Tanya dia.


Ho Young tidak menjawab, dia justru balik melihat Ravi yang melotot menatap perempuan di sebelahnya.


Ri Ahn terus bertanya pada Ho Young meski pria itu tidak menatapnya lama. "Apa yang terjadi, kau datang hanya ingin mengatakan hal itu? Jadi urusan kita?"


Ho Young menjauh sedikit tapi Ri Ahn terus mendekati dirinya. Perempuan itu mencari jawaban atas banyak pertanyaannya yang belum satupun terjawab.


"Ri Ahn!"


Bukan Ho Young yang berbicara, justru Ravi memanggil adiknya dengan penuh penekanan. Tapi Ri Ahn hanya berdehem sebentar lalu menatap Ho Young kembali.


"Urusan kita sudah selesai seperti kata kakakmu."


Ri Ahn tidak percaya pada apa yang dia dengar, dia otomatis mencengkram lengan Ho Young meminta pria itu berbalik melihatnya. "Apa kau bilang?"


Ho Young menatap Ri Ahn, dia melepaskan tangan perempuan itu dari lengannya. "Aku telah membatalkan pernikahan kita, kau pasti senang."


Sebelum Ri Ahn berbicara lagi, tubuhnya sudah di angkat menjauh dari Ho Young. Ravi bergegas membawa sang adik masuk ke dalam rumah. Sementara Ho Young tidak melirik sedikitpun Ri Ahn yang berada di gendongan Ravi, dia hanya diam lalu setelahnya pergi bersama ke 20 orang pengawalnya.


...🖤...

__ADS_1


Ravi sedang bersantai bersama seorang pria berkacamata yang sedang sibuk membaca buku di tepi kolam ikan. "Kau berbohong padanya?" Tanya pimpinan firma hukum itu yang juga merupakan teman Ravi.


Pandangan matanya masih tertuju pada buku baru yang dia beli beberapa hari, tangannya sibuk membalik halaman setelah dia selesai, begitu terus.


Sementara Ho Young duduk di kursi santai tidak jauh darinya. "Tidak, aku memang membatalkan pernikahan kami di pengadilan."


Salah satu alis pengacara itu naik. "Kau membatalkan lewat mana? Kenapa aku tidak tahu."


Dia selesai, menutuo bukunya lalu duduk di sebelah Ho Young menyerap minuman dingin berwarna orange.


"Lewat mimpi."


Pimpinan firma hukum itu tersedak minumannya, dia melihat Ho Young dengan mata melebar. "Aku tidak paham bagaimana caramu berpikir." Katanya menyerah, dia tidak tahu pria ini sedang melakukan apa.


"Aku serius!"


Jarinya mengetuk-ketuk meja, dia selalu melakukan kebiasaan itu saat sedang berpikir keras.


"Aku bertemu orang tuanya di Vietnam."


"Aku tahu, lalu?"


"Mereka menolak Ri Ahn menikah denganku."


Hah?


"Kau ngambek?"


Ho Young memberinya tatap membunuh.


"Lagipula kenapa kau meminta izin jika bisa memaksa, tidak seperti dirimu."


Temannya benar, dia bisa saja memaksa wanita itu dan keluarga untuk setuju tapi ketika dia akan bersikap di luar batas, tubuhnya seperti tidak mengizinkan itu.


"Oh atau jangan-jangan kau menyukainya?"


"Kau gila!"


"Kau bereaksi berlebihan, aku cuma bertanya. Kalau tidak suka bilang saja tidak suka, kenapa harus berteriak. Jika orang-orang tidak tahu masalah, mereka akan mengira kau ngambek karena orang tuanya tidak setuju, dan calon pengantin wanita juga tidak menyukaimu."


"Diamlah!" Peringatan Ho Young kepadanya, di balas bahu yang terangkat tidak perduli.


"Lalu bagaimana dengan perempuan itu?"


Ho Young tidak lagi menjawab, dia juga tidak tahu bagaimana hubungan dengan Ri Ahn ke depannya.

__ADS_1


...🖤...


Ri Ahn bingung, sikap Ho Young berubah-ubah lagi membuatnya pusing. Mendengar kata pria itu bahwa pernikahannya telah di batalkan bukannya senang, dia justru merasa sedikit kesal.


Dia tidak bisa menemui Ho Young sesuka hati karena kakaknya telah pulang, tapi dia harus mendapatkan jawaban pasti soal perjanjiannya dengan pria itu. Jangan sampai perjanjian yang telah dia tanda tangani bermasalah dan menghancurkan bisnis kelompok HARI.


Pertama-tama dia harus memikirkan cara keluar dari Mansion yang penuh penjagan ini. Seperti sebelumnya dia hanya memikirkan Yooju. Namun, seharian dia tidak melihat wanita itu berkeliaran di Mansion.


Ri Ahn turun ke bawah, mencari Yooju disetiap ruangan dan sudut di Mansion itu tetapi belum nampak keberadaannya. Saat dia akan melewati ruangan kerja Ravi, dia mendengar suara dari dalam. Tubuhnya berhenti secara otomatis, penasaran yang melanda nya tidak bisa di bendung.


Pintu itu tidak tertutup rapat, dia mendekat dan menempelkan telinga disana.


"Ho Young tidak mungkin mendekati adik anda, setahu saya dia sudah memiliki kekasih." Kata pria yang berdiri di seberang meja Ravi.


Ri Ahn melihatnya kakaknya mengerutkan alisnya.


"Kau yakin? Dia tidak mungkin datang ke Mansion hanya untuk membongkar kebusukan Gu Myung Jin. Kau bilang beberapa hari lalu dia berada di Vietnam?" Kata Ravi.


Kakaknya tahu?


"Ya tuan muda, dia melakukan liburan di pulau bersama seorang wanita asal jepang. Aktris muda Yumiko."


"Yumiko? Dia kekasih Ho Young?"


"Bukan tuan, dia hanya menemani Ho Young selama di Jepang. Setahu saya kekasihnya adalah kak Yun, seorang yang berasal dari Busan dan merupakan orang kepercayaan Ho Young."


"Orang kelompok KOM? Wah, dia benar-benar luar biasa. Pastikan saja adikku tidak terlibat jauh dengan Ho Young, dia benar-benar berbahaya."


"Baik tuan muda." Katanya.


Ri Ahh buru-buru pergi dari sana, saking cepatnya dia berlari secara tidak sengaja kakinya menabrak wadah berisi kain pel dan kerabatnya. Karena lantai yang licin dia terseret ke depan ajak jauh sementara wadah itu berhamburan di lantai.


Pelayan yang bertugas mengepel kaget bukan main, dia membelakangi kejadian karena sibuk dengan lanta lainnya. Saat dia berbalik, Ri Ahn sudah tersungkur jauh ke depan begitupun peralatannya.


Bergegas pelayan itu membantu Ri Ahn yang kesakitan. Dia melihat tubuh Ri Ahn yang sedikit basah di bagian baju. Di beberapa bagian memerah yang cukup kentara karena kulit putihnya. Di bantu perempuan itu berdiri, nampak dia kesakitan lebih parah dari sebelumnya.


"Nona, anda baik-baik saja?" Tanya dia.


Ri Ahn menggeleng, dia memegang telapak tangannya yang sudah berdarah karena menabrak vas bunga yang terjatuh, dia terkena pecahannya.


Suara gaduh itu membuat semua orang terkejut, Ravi bergegas keluar dari ruangannya, kaget melihat keadaan adiknya. "Ri Ahn!"


Tanpa basa basih dia mengangkat perempuan itu duduk di sofa. Melihat darah yang keluar dari telapak tangan adiknya, dia berteriak meminta dokter datang. Mereka panik.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2