
Mereka berada dalam mobil berkendara jauh dari kediaman dengan tujuan bertemu dengan Ho Young. Di tangan Ri sudah ada fileyang mungkin dibutuhkan pria itu. Ravi disampingnya tidak bisa berhenti khawatir, dia menyerahkan rompi anti peluru. “Pakai.” Kata Ravi.
Ri yang tidak tahu benda apa yang berada di tangan kakaknya mengangkat rompi itu dengan jarinya. “Untuk apa?”
“Disana berbahaya, mereka menggunakan senjata. Kau harus berhati-hati.” Saran Ravi.
Sebelum Ri membalas Ravi, supirnya memberi peringatan kepada orang di belakang, jika mereka sudah memasuki kawasan milik Ho Young. Gerbang pertama sudah lewat, lalu mereka juga harus melewati pos utama dari gedung itu.
Ri mengira mereka akan diberhentikan tapi tidak ada tanda-tanda. Otomatis mobil itu tetap melaju ke depan.
Sampai mereka di lapangan luas depan gedung, Ri melihat pemandangan dari kaca mobil. Agak suram dan kumuh? Kata wanita itu dalam hati.
Seperti bangunan yang ditinggalkan sejak lama dengan coret-coret di dindingnya. Penerangan juga kurang memadai. Sebelum turun Rid an Ravi bicara banyak hal di dalam mobil.
“Sebagai kakak tolong jaga aku!” Tambahnya, lalu turun dari mobil.
Ravi menghela nafas berat saat adiknya turun dari mobil, dia mengambil foto yang berada di dompetnya dan melihat foto Cho Min Sik dan berbicara dengan pria tiu. Lalu dia kembali melihat keluar. “Buka sedikit jendelanya, kalian bisa menembak jika keadaan tidak terkendali, pastikan adikku aman.” Perintahnya pada orang selain dirinya di dalam mobil.
.
Di luar Ri mengeluarkan senter lalu digantung ke lengannya, senter itu menyala yang diarahkan ke tanah. Berkedip beberapa kali lalu dia arahkan senter itu ke arah depan gedung dengan sebuah jendela kaca lama, setelah itu senternya di matikan.
Tidak lama sebuah gerbang besi terbuka dari bawah ke atas, Ri yang melihat isyarat lampu hijau berjalan ke arah pintu masuk, sebelum benar-benar tertutup dia melambai ke arah mobil yang ditempati wakil ketua kelompok HARI.
Tapi ketika gerbangnya kembali tertutup Ri dapat melihat sang kakak turun dari mobil dan dihadiahi oleh sejumlah leser merah, wanita itu terkejut ingin berlari keluar tapi dia tidak bisa kembali karena pintunya tertutup. Dalam kekhawatiran yang melandanya dia kembali berjalan kedepan.
Dengan hati-hati Ri berjalan sebab gelap itu menghalangi pergerakannya. Tangan yang bebas diarahkan ke depan mencari-cari pegangan atau benda yang mungkin membahayakan dirinya.
Tangannya menyentuh dinding, jadi Ri berbelok ke kanan. Namun, dia dikagetkan oleh seragan tiba-tiba dari depan yang menekannya ke dinding. Leher mulusnya menjadi sasaran empuk. Dicekik.
“Aakkh!” kesakitan, dia memegang tangan besar yang menekan lehernya.
“Siapa kau?” Tanya orang di depannya.
Ri kesulitan bernafas.
“Se-har-seharus—nya, aa-aku yang bertanya!!”
__ADS_1
Tangan kecilnya memukul tangan besar itu tapi tidak ada yang terjadi, dia merasa lehernya akan mengalami lebam perah.
“Mereka membuang potensi besar lalu memberikan posisi ketua pada orang yang hidup dalam kebebasan. Sayang sekali.” Sindir pria itu membuat Ri tidak nyaman, ditambah dengan posisinya saat ini.
Ho Young pernah mendengar rumor yang sudah di konfirmasi oleh Ketua terdahulu HARI adalah fakta,bahwa jika suatu saat dia mati, Ravi akan menjadi satu-satunya pewaris. Tapi sekarang dia melihat ada anak perempuan mengambil alih.
Dan Ri tahu siapa pria yang dia maksud dengan potensi besar.
“Lee—pas!” saat kaki Ri melayang ke depan, pria itu menghindar lalu menahan kaki Ri. Beberapa detik cengkraman di lehernya mengendur. Cepat wanita itu mundur, tapi tangannya di tarik mendekat, sebuah bisikan menghinggapi pendengarannya.
“Untuk apa seorang wanita yang tidak memiliki kekuatan masuk ke sarang penjahat? Kau pasti punya sesuatu?”
Ri merasa jika dia berbalik kesamping, wajahnya akan menyantuh wajah pria itu saking dekatnya mereka. Mengingat kondisinya saat ini, dia diam tidak berniat bergerak. “Aku bisa bekerjasama denganmu.” Katanya tetap dalam posisi yang sama.
Terdengar suara tawa pria itu. “Apa yang bisa kau berikan?” Pria itu semakin dekat, dia mengangkat wajahnya hingga bibirnya berada tepat di telinga Ri.
“Apa yang kau inginkan?” Tanya Ri pada pria itu.
Merasa gugup, Ri menutup matanya sebentar.
“Bagaimana dengan menjadi wanitaku?” Kata Pria itu tanpa merasa canggung.
Tangannya di kepal erat, Ri ingin memukul wajah pria itu jika tidak mengingat bahwa lawannya adalah mafia.
“Ayah dan kakakku memang seorang mafia, walau begitu aku di besarkan di lingkungan yang baik. Jangan menyamakan aku dengan wanita-wanitamu, aku bukan pelacur!” Sahut marah Ri.
Ho Young bingung. “Apa aku bilang kau akan jadi pelacur?”
Giginya di rapatkan hingga menimbulkan bunyi. “Menjadi wanitamu bukankah sama dengan apa yang baru saja aku katakan, tuan!!”
Ri ingin meludahi wajah pria itu. “Apa tidak cukup dengan memiliki seorang istri dan anak? Oh, aku hampir lupa, kau juga punya seorang wanita yang terus berada di sisimu sepanjang waktu. Dasar lelaki hidung belang!”
Bukannya marah mendengar perkataan Ri, Ho Young malahan tertawa keras. “Sepertnya kau tahu banyak tentangku?”
“Semua orang tahu!”
“Jadi kesepakatannya?”
__ADS_1
“Kau bertanggungjawab terhadap kematian Cho Min Sik.”
“Lalu, bagaimana aku harus bertanggungjawab?”
Ri mendapat kesempatan besar. Karena gelap, Ri tidak dapat melihat dengan jelas kemana pria itu memandang.
“Jangan menganggu bisnis kami!”
“Tapi ayahmu yang lebih dulu menyerangku. Cho Min Sik melanggar peraturan untuk tidak saling melibatkan keluarga. Pria tua Bangka itu yang lebih dulu mengusik keluargaku, dia bahkan menculik anak kecil.”
Mendapat peringatan dari Ho Young, Ri menunduk. Jari-jari Ho Young berada di rahang Ri menekannya kebelakang hingga menabrak dinding. “Bisa kau mundur sedikit!?” Ri marah, tangan Ho Young di tepis.
“Kau butuh pass untuk memerintahku!”
Ri menghela nafas kesal. Brengsek katanya dalam hati.
Ho Young berbicara . “Jangan mengumpat, aku bisa mendengar.”
“Brengsek!” Sahut Ri keras agar di dengar lalu dia menutup mulutnya rapat.
Ho Young tertawa kecil tidak lagi menanggapi Ri.
Ri yang meraba lengan dan baru menyadari dia memiliki senter, saat dia mengangkat senter kecil itu, tangan Ho Young lagi-lagi menahannya. “Menjadi wanitaku lebih menguntungkan dari pada menjadi ketua kelompok HARI." Ujarnya.
Ri hanya mengira-ngira jika pria di depannya ini mengetahui persoalan di dalam Geng HARI. "Jika aku menolak?"
"Tidak ada yang akan memaksa tapi kau harus ingat, bisnis kalian."
Ho Young menjauh dia mundur selangkah. "Kau bebas memilih, aku menunggu!"
Ri mengepalkan tangannya, dia tidak punya pilihan selain mengikuti kemauan pria itu. Jika dia gagal menjalankan misi pertamanya sebagai ketua, besok lusa tidak ada lagi kesempatan yang sama.
Pikirannya melayang-layang mengingat Ravi. Kakaknya itu orang yang keras, bagaimana cara memberitahukan isi pertemuannya.
"Waktumu tidak banyak."
.
__ADS_1
.
.