Reflection, The Black Rose

Reflection, The Black Rose
Ep 19 : Hubungan rumit


__ADS_3

Geram. "Kau bercanda!?"


"Tidak, aku bilang hati-hati dijalan. Itu salah?" Tanya Ho Young.


"Yak!!!" Teriak Ri. Dia bukan orang yang mudah emosi bahkan Ri termaksud dalam kategori wanita agak lembut dan jarang marah atau mengomel, paling-paling dia diam. Namun, setelah dia berada di Korea dan bertemu dengan pria itu dia menjadi tidak sabaran dan selalu berteriak.


"Ada apa? Berteriak tidak baik untukmu."


"Dimana orang yang mengantarku tadi? Tolong panggil dia, aku ingin pulang." Ri mencoba bersikap baik, sedikit memohon. Jika tidak dia bisa pulang jalan kaki.


"Hati-hati dijalan." Ucapnya mengulangi perkataan tadi.


"Dasar brengsek! Kau menyuruhku pulang jalan kaki? Aku tidak bawa apa-apa!"


"Kau ingin aku membangunkan dia? Ok baiklah, kasihan sekali padahal dia baru tidur." Ho Young mendapati jiwa wanita itu tidak bisa bersikap diktator pada orang lain. Tipe manis yang tidak akan menyusahkan orang lain.


Ri benar-benar kesal. Dia mengambil bantal kursi lalu melemparkan ke arah Ho Young. Bertubi-tubi.


Ho Young menangkap bantal itu dengan mudah lalu dia letakkan di kursi yang ditempati Ri duduk tadi, semuanya disusun rapi. Terakhir dia melihat Ri mengambil stik golf, jika Ho Young tidak cekatan barang di hotel bisa rusak.


Pria itu menahan tangan Ri. Tapi Ri tidak perduli dan tetap menariknya keluar. Stik golf yang di ayunkan Ri menghantam guci keramik berukuran besar berwarna hijau di sampingnya. Secara tidak sengaja.


Saat Guci itu terjatuh kelantai, Ho Young menjauh sembari mendorong Ri juga ikut menjauh. Suara pecahannya terdengar renyah di telinga. Pria itu berbalik, melihat guci sudah tak berdaya dengan pecahan di mana-mana.


Ho Young tidak bisa berkata apa-apa. Jujur itu kesalahannya karena bermain-main dengan wanita yang sedang marah. Pelipisnya di elus, tentu saja pusing.


"Wah, kau. Jangan-jangan berniat menghancurkan kepalaku." Kata Ho Young.


Ri melihat guci itu dengan perasaan bersalah. Dia juga tidak sengaja. "Apa gucinya mahal?" Tanya dia.


"Menurutmu?"


"Sepertinya mahal, apa aku bisa ganti tidak ya?" Tanya dia sendiri pada dirinya. Ho Young menganggap lucu Ri.


"Bisa!" Seru Ho Young.


Ri mengangguk. "Dengan apa?"


Pria itu mengerutkan alisnya. "Memangnya mengganti guci selain dengan uang dengan apa lagi?"


"Kan bisa dengan guci yang mirip."


"Oh, terserah mau yang mana."


Ri diam. Dia berpikir sebentar sebelum mengeluarkan pertanyaan. "Kalau tidak di ganti juga boleh?"


"Boleh." Kata Ho Young.


Ri terkejut dia mengangkat wajahnya melihat pria itu. "Serius?"


"O, tapi.."

__ADS_1


Kata tapi di sana membuat Ri waspada.


"Tapi...?"


"Sekarang baru jam 3 lewat,"


Ri melihat jam di dinding. Benar, lalu?


"Aku juga belum tidur, bagaimana kalau kita--"


"Kau sinting!"


"Hei, aku memintamu tidur sendiri di kamar tamu. Memangnya apa yang kau pikirkan? Aku belum tidur, jika memaksa menyetir dalam keadaan mengantuk itu bisa berbahaya untuk kita berdua. Dan, " Ho Young mendekat ke arah Ri, dia berbisik di telinga wanita itu. " Selain dengan istriku, aku tidak tertarik tidur dengan wanita manapun." Ho Young pergi ke kamarnya, dia menunjuk kamar tamu lalu meminta Ri tidur disana.


Ekspresi Ri tidak karuan. Dia ikut senang mendengar pria itu berbicara tapi mengapa ada yang mengganjal di hatinya. Ri pergi ke kamar tamu itu, dia memperhatikan setiap sudut ruangan. Kasur yang berada di tengah ruangan memanggil Ri dengan gemulai.


"Aku juga belum tidur rupanya, pantas saja mengantuk." Sahut Ri berjalan ke arah kasur itu.


Dia naik telentang disana sembari menatap langit-langit kamar.


"Lalu kenapa dia memintaku menjadi wanitanya?" Tanya dia heran. Memori yang baru saja terjadi berputar di kepalanya. Kata-kata Ho Young terus menghantui pikirannya sampai dia tidak sadar subuh telah tiba.


Pukul 05. Suara ketukan di pintu kamarnya terdengar.


Ri yang belum tidur, bangun dari kasur. "?"


"Ayo, aku antar pulang." Kata Ho Young.


Setelah mengagumi pria itu, Ri lalu ingat dia melihat kedalam, dia belum membersihkan kamar yang sudah di gunakan.


"Biarkan saja, ayo."


Ri mengikutinya di belakang.


.


"Nanti setelah kontraknya selesai timku akan mengirimkan via email. Cek baik-baik pasalnya." Kata Ho Young sibuk mengetir.


"Boleh aku bertanya?"


"Hm!"


"Kau terlihat sangat mencintai istrimu lalu untuk apa kau memintaku menjadi wanitamu?" Tanya Ri, dia penasaran. Rasa penasaran itu membuatnya tidak bisa tidur.


"Tidak ada alasan." Dia masih fokus pada jalan di depan. Tanpa melihat Ri, Ho Young berbicara dengan santai.


Mobil itu sudah berhenti tanpa di sadari oleh Ri. Ho Young membantu melepaskan sabuk pengaman Ri. Dia melihat wanita yang juga sedang menatapnya. "Sudah sampai, turunlah." Kata dia.


"Hem?"


Ri berkedip beberapa kali lalu mengangguk, dia turun sembari memeriksa jam di tangannya. Saat turun dari mobil, Ri tidak pernah berbalik melihat Ho Young. Dia sibuk, biasanya pada jam begini pergantian dilakukan di gerbang samping. Segera Ri memeriksanya dan ternyata benar. Tanpa basa basi, wanita itu masuk ke dalam.

__ADS_1


"Nona!"


Kaku, Ri berbalik.


"Ada apa Nona, kenapa anda bisa kemari?" Tanya seorang pengawal.


"Oh, itu saya baru saja melihat apa kakak saya sudah datang."


"Belum Nona, mungkin 2 hari lagi." Kata dia.


"Oh iya? Baiklah, selamat bekerja." Sahut Ri lalu bergegas kembali ke kamarnya.


Dia selamat, buru-buru naik ke kamarnya. Dia memasukkan kunci dan masuk ke kamar. Di sofa Yooju duduk mengaitkan tangannya berharap sang majikan segera pulang.


"Yooju!"


"Nona! Syukurlah, aku pikir nona tidak pulang."


"Wah, jantungku hampir copot."


"Bagaimana nona, apa misinya berhasil?"


"Tenang saja, aku sudah menyelesaikan misi."


"Baiklah kalau begitu, Yooju turun dulu sebelum yang lain sadar."


Ri mengangguk dan berterima kasih sekali lagi pada wanita itu.


.


Mobil yang dikendarai Ho Young masih terparkir di dekat rumah Cho Min Sik. Pria itu duduk bersandar meraup wajahnya. Ucapan Ri padanya saat berada di hotel terngiang-ngiang menghantam pikirannya. Jika dia masih mencintai istrinya mengapa mencari wanita lain? Hati Ho Young terganggu dengan pertanyaan itu.


Dia mengambil ponselnya, mencari galeri yang menyimpan foto-foto sang istri. Senyum manis terpancar membuatnya ikut tersenyum. "Apa aku belum bisa melupakanmu?" Ucapnya sembari mengelus foto itu.


"Aku berharap kau tidak marah. Melihat wanita itu seperti melihatmu. Aku berjanji, hanya akan mencintaimu seorang!" Setelah dia mengatakan beberapa kata untuk sang istri. Ho Young mendapat panggilan telepon dari Yun.


Terdengar suara kesal dari balik telepon. " Kau dimana!?" Seru Yun.


"Aku akan pulang sebentar lagi." Jawabnya.


"Cih, aku pikir kau lupa pulang karena mengurus wanita!" Sindir Yun. "Anakmu menunggu, sebelum dia menghancurkan markasmu cepatlah pulang." Tambah Yun lalu menutup sambungan telepon itu.


Ho Young melihat ponselnya yang sudah berganti layar. "Siapa yang memberitahu dia."


Pertemuannya dengan Ri selain karyawan Firma hukum yang mengurus masalah bisnisnya tidak ada lagi orang yang tahu bahwa dia bersama Ri di hotel. Siapa dari mereka yang membocorkan keberadaannya. Ho Young berpikir sebentar, dalam kepalanya ada dua orang yang mungkin melakukan itu. Yang pertama Dori, yang kedua Sean. Siapa diantara mereka?


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2