Reflection, The Black Rose

Reflection, The Black Rose
Ep 13 : Mulai mencari tahu


__ADS_3

"Ho Young siapa?"


Dibelakang Ri bicara setelah mendengar diam-diam percakapan beberapa orang. Dari kamarnya dia mendengar suara berisik di bawah. Mendadak penasaran, dia memutuskan untuk mencari tahu dan hal yang mungkin membuka teka teki, sangat tepat. Dia mendapati pembicaraan tentang ayahnya.


Wanita itu turun. Semua orang memandang, semakin dekat semakin jelas wajah Ri. Para pria tampak seram dengan tubuh dihiasi oleh tato dan belas luka, semuanya menunduk 90° pada Ri. "Halo Ketua!" Sapanya.


Ri terkejut, dia mundur kebelakang dan menabrak pegangan tangga. "O--oh!" ucapnya terbata-bata. Apa ayahnya juga mendapat sapaan seperti tadi, dalam hatinya ngeri.


Mereka mengangkat kepalanya lagi, salah satu dari mereka akan mendekat tapi Ravi menghadang. "Ketua baru saja sampai, dia harus istirahat. Saya akan membicarakan hal itu dengan ketua nanti!" Ravi berusaha menenangkan mereka.


Terjadi saling pandang antara pria itu, terlihat beberapa orang tidak setuju tapi mereka juga tidak dapat mengatakan secara langsung penolakan itu. Meski dia anak angkat tetapi seluruh bawahan Cho Min Sik sangat menghormati pria itu. Dia adalah copian dari Cho Min Sik muda. Tidak membuat Ravi marah juga merupakan cara mereka menghormati mendiang ketua terdahulu.


"Kami pamit jika anda sudah mengatakannya." Mereka keluar dari rumah.


Ravi berjalan menuju Ri. Dia menggerakkan kepalanya agar Ri naik ke atas tanpa berbicara. Mendapati kode itu, Ri buru-buru naik ke atas.


"Bukannya kamu tidur?"


"Memangnya aku kebo? Ketemu kasur langsung tidur!"


"Kebo tidak punya kasur!"


"Adalah, tanah juga kasur, kasur bagi kebo!"


Ravi kalah. Dia mengangkat tangannya tanda menyerah. Ri duduk di sebelah Ravi dan memeluk lengan kakaknya. "Kak, aku tidak ingin menjadi boneka!"


Ravi merespon itu dengan menggenggam tangan adiknya yang sedang memeluk lengannya. "Tidak ada yang berani melakukannya."


"Para tetua itu menganggapku sebagai boneka, kakak pasti tahu."


Peran adik yang mengadu kepada kakaknya setelah ada pria yang mengambil lolipop kesukaannya. "Kakak akan melindungimu, jadi jangan khawatir. Kau bisa tidur nyenyak!"


"Sebelum kakak berjanji, aku tidak bisa tidur nyenyak!"

__ADS_1


Ravi menepuk pelan tangan Ri agar dia melepaskan pelukan di lengannya. Wanita itu melihat wajah Ravi dan melepaskan pelukannya. "Kakak janji akan melindungimu!" Tegas sembari dia melipat keempat jarinya dan hanya meninggalkan jari kelingking. Dia dekatkan pada Ri.


Mendapat tindakan itu, Ri tertawa kecil. "Kakak kira aku masih kecil?" Meski dia menertawai tingkah Ravi, jari kelingkingnya tetap dia ikat ke jari kelingking Ravi.


"Tidurlah!"


Ri berdiri dan melambai ke Ravi. Dia kembali ke kamar, begitupula kakaknya.


.


Di kamarnya Ri merenung. Setelah membaca email dari Baren, dia tidak bisa tidur. Dia telah menemukan pekerjaan rahasia yang di setujui ketua Cho. Menyadari bahwa pria tua itu akan melakukan apa saja untuk keuntungan, Ri mendadak mendapati dirinya merasa jijik dan benci yang mencekam jiwanya semakin membara. Jadi ibunya bukan satu-satunya wanita? Dalam kepalanya berkecamuk pikiran buruk tentang Cho Min Sik.


Dia juga sudah mengetahui hubungan Ayahnya dan Ho Young, pria yang dibicarakan tadi. Bukan hanya itu, dia juga tahu tentang penculikan anak dari Ho Young. Tidak ada foto dan informasi lainnya untuk sementara tentang pria itu. Yang dia ketahui, Ho Young pria berbahaya. Jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan Ayahnya.


Tinta di atas kertas itu sudah kering. Dia menulis nama Ho Young disana. Kemudian, Ri mengambil ponselnya dan menghubungi Baren. Meminta agar Baren mengatur komunikasi dengan pria itu secara langsung. Dia harus berbicara dengannya. Harus.


.


Keesokan hari, laporan itu datang. Baren dengan segala kewaspadaan memberikan Ri informasi tentang markas Ho Young yang sering dia datangi selain Villa di atas tebing. Dia juga sudah menyiapkan segala bukti untuk bernegosiasi dengan pria itu tanpa sepengetahuan Ravi. Semua bukti itu dia simpan di bawah kasur dengan di tempelkan menggunakan selotip.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu. Dia buka dan mendapati Ravi berdiri. Mata dia menatap Ri tajam dan ekspresi marah terpancar disana, Ri waspada.


"Kakak?"


"AKU SUDAH BILANG, JANGAN IKUT CAMPUR!" Teriakan Ravi bergema membuat Ri mundur selangkah kebelakang. Dia takut.


Ravi melangkah masuk dan menatap tajam mata Ri. Saking marahnya matanya memerah. "Aku berusaha agar mereka tidak menganggumu dan kau memutuskan segalanya sendiri!? Kau menganggap aku bermain-main disini?"


"Bukan kak, bukan begitu!"


"Lalu apa ini!" Dilemparkan foto Baren sedang bersama informan. "Meminta Baren mencari tahu artinya kau tidak percaya padaku, benarkah begitu?"

__ADS_1


Ri menggeleng, dia memegang tangan Ravi. "Bukan, bukan begitu. Aku percaya!"


Baren langsung duduk, dia ikut memohon. "Tuan muda, ini salah saya. Saya yang mengusulkan ide ini. Saya hanya berpikir jika kebenaran tentang ayahnya akan membantu Nona."


Ravi melepaskan tangannya. "Kebenaran yang kau mau itu bisa membuatmu dalam bahaya. BAHKAN DI DALAM MANSION SEKALIPUN KAU BISA DI LUKAI! Karena itu aku memintamu jangan ikut campur. Bukan melepaskan kebenaran, hanya menunggu, bersabar! Kakak pasti akan membantu. Tapi sepertinya Ri tidak percaya, baikl--"


"Aku salah!" Ri berlutut.


Dua orang duduk di atas lantai yang dingin. Kedua telapak tangan Ri dia dekap dan di gosok-gosok pelan.


"Aku salah kak." katanya.


Ravi tidak tega, tapi dia harus memberikan pelajaran kepada Ri supaya adiknya itu tidak bertindak emosional dan menghancurkan Geng serta rencana yang dia susun.


Sementara wanita itu masih memohon maaf, dalam pikiran Ri, dia tidak ingin salah satu orang yang bisa melindunginya di dalam Geng meninggalkan dia seorang diri. "Maaf!"


Menghela nafas panjang Ravi menarik adiknya agar berdiri. "Aku memintamu untuk tidak ikut campur karena mereka berniat menekanmu. Tunggu sampai besok, kakak pasti memberinu jawaban!"


Ravi bukan tidak ingin membantu, dia sudah berusaha tapi para tetua itu punya niat buruk terjadap Ri. Mereka merencanakan scenario jahat pada Ri, hal itu diupayakan agar sang adik turun sebelum dia bisa menguasai Geng dan mengeluarkan dia dari semua aktivitas Geng HARI.


Saat Ri diangkat, dia menjadi Wakil Ketua. Para tetua sepertinya tidak senang dengan pekerjaan Ri. Mereka telah menawarkan seseorang dari kubu mereka akan tetapi Ri tidak menggubris dan menaikkan kakaknya sebagai wakil dirinya.


Menjadi wakil Ketua sama dengan menjadi Ketua bagi mereka. Karena Ri hanyalah boneka yang diatur untuk memuluskan jalan mendapatkan keuntungan dari setiap kerjasama Geng HARI dengan para CUSTOMER.


.


Setelah kakaknya meminta dia menunggu, Ri tidak punya alasan lagi untuk membantah. Terpaksa rencana yang sudah dia atur harus diundur. Sudah ada Ultimatum dari Ravi yang menyatakan dirinya tidak boleh terjun langsung dalam mengurus tikus-tikus nakal.


Tangan Ri tidak pernah kotor dan akan bersih selama dia menjadi Ketua Geng HARI. Dia yang akan menggantikan pekerjaan itu untuk adiknya. Namun, besok pagi bagi Ri merupakan waktu yang lama. Jika dia dalam keadaan seperti itu, tidak bisa tidur adalah efeknya. Ri punya kebiasaan, saat mengerjakan tugas dia harus menyelesaikannya hingga tuntas sebelum tidur pada hari itu. Jika tidak, ya dia tahu waktu tidurnya akan bermasalah.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2