
Ho Young berada di kamarnya setelah perbincangan dengan kedua pengawal pribadinya. Dia terlihat menyeramkan dengan balutan hitam dan sebuah gelas berwarna merah pekat di tangannya. Garis wajahnya terpahat sempurna, sedikit meruncing di bagian dagu.
Isi dalam gelas itu hampir tandas, dia menikmatinya sampai melupakan pagi akan datang lagi. Sambil menikmati hawa dingin udara pengunungan, pesan masuk ke dalam ponsel Ho Young menghentikan gerakan tangannya pada gelas itu. Dia berbalik menyimpan gelas di atas meja dan mengambil ponselnya.
Nomor tidak di kenal. Dalam pesan itu tertera nama gadis yang kemarin dia temui. Isi pesannya singkat. Gadis itu meminta Ho Young menjemputnya di sebuah cafe di kawasan Cheongdam-dong. Ho Young heran juga bingung, dia takut salah dan melihat jam di tangannya. Pukul 4 pagi.
Wajahnya mengkerut, dia tidak tahu mengapa gadis itu berada di sebuah cafe di kawasan elit pukul 4 pagi. Apa yang di lakukan Ri Ahn. Katanya dalam hati. Sebelum dia sempat berpikir, satu lagi pesan datang. Masih dengan pengiriman yang sama.
Disana tertulis. Jika Ho Young tidak datang, dia akan menelepon polisi. Pria itu menelepon setelah mendapat pesan aneh dari orang yang tidak mungkin menghubunginya lebih dulu. Panggilannya langsung di tolak, itu membuat Ho Young bertambah heran.
Panggilan dia yang kesekian kalinya juga tidak di terima. Ho Young langsung menghubungi Dori mencari tahu keberadaan gadis itu. Tidak sampai 1 jam, ponselnya berdering lagi. Dari Dori, dia sampaikan bahwa Ri Ahn tidak berada di cafe itu. Bahkan cafe yang tertera di pesan juga sudah tutup pada pukul 9 malam.
Ho Young memintanya mencari tahu dimana lokasi orang yang mengirimkan dia pesan itu. Agak lama prosesnya dan Dori kembali menghubungi Ho Young. Lokasinya tidak jauh dari markas yang dia tempati. Saat melihat itu, Ho Young sudah paham siapa yang megirimi dia pesan.
Dia menghela nafas berat sembari menangkup wajahnya dan menariknya kasar. "Yun benar-benar membuatku sakit kepala!" Katanya. Dia sudah mengira bahwa Yun lah yang mengirimkan dia pesan itu.
Dori juga memberi kabar bahwa Yun tidak dalam keadaan sadar saat ini setelah berpesta bersama anak buahnya. Wanita itu terus meracau nama Ho Young dan mengumpat dengan keras. Pria itu meminta Dori melihat Yun dan membawanya kembali ke ruangan wanita itu.
...🖤...
Sudah 4 hari Ravi tidak pulang, seperti perkataannya sebelum dia berangkat. Jika urusannya cepat selesai dia akan pulang sebelum 3 hari dan sebaliknya. Mungkin butuh 1 minggu. Tidak ada yang Ri lakukan kecuali bermain bersama pengawal-pengawal di mansion juga sesekali mengecek bisnisnya bersama Baren.
Dia tidak pernah menghubungi Ho Young begitupun sebaliknya. Pria itu tidak pernah menelepon atau sekedar berkabar lewat pesan singkat. Dia menjalani kehidupannya selayaknya Ri Ahn sebelum mengenal Ho Young.
Jangankan kabar orang lain, orang tuanya juga belum bisa di hubungi, dia akan bertanya kepada Ravi tentang kabar orang tuanya segera setelah kakanya pulang. Ri melihat jendela kamarnya yang dipenuhi embun pagi. Tukang kebun sudah bertugas di bawah dengan alat-alat kebunnya.
__ADS_1
Gunting rumput sudah bekerja maksimal membentuk semak-semak tinggi menjadi bentuk bulat yang lucu. Ri Ahn membuka kaca jendela, udara sejuk dari luar masuk memenuhi ruangan dengan cepat. Udara pagi selalu menjadi yang terbaik. Dia duduk di pinggir jendela melihat sekeliling.
Ri Ahn berpikir, Cho Min Sik membangun rumah di tempat yang baik. Pemandangan di semua sisi terlalu indah. Tidak lama dia menikmati keindahan mansion, ponselnya berdering. "Halo!" Sapa dia tanpa melihat siapa penelepon.
Di seberang seorang pria berdehem. Saat itu Ri Ahn tahu siapa pria itu. "Apa maumu?" Tanya dia segera.
Pria itu tertawa, lalu dia mulai menetralkan suaranya. "Ravi belum kembali kan? Ayo ketemu!" Kata Ho Young. Namun, Ri Ahn tidak langsung menjawab.
Di sana Ho Young mengerti. "Kau tidak ingin bertemu?" Tanya dia lagi.
"Tidak bukan begitu"
"Lalu?"
"Kemarin? Ah, ke hotel maksudmu? Tidak, kita tidak ke hotel."
"Kemana?"
"Rumahku!"
Ri Ahn terdiam lalu dia meledak. "Kau gila!"
"Bersiaplah, aku akan menjemputmu." Lalu sambungan itu terputus.
Wanita itu tidak dapat membalas, dia pelan mengigit bibirnya karena kesal. Bagaimana dia bisa meninggalkan mansion ini tanpa ketahuan, kemarin saja sudah membuatnya ketakutan setengah mati. Ri Ahn berpikir keras. Dengan cara apalagi dia membungkam pengawai yang terlibat. Cemas.
__ADS_1
30 menit berlalu, Ri Ahn belum bisa keluar dari mansion, sementara Ho Young sudah sampai sejak 5 menit yang lalu. Dia terus memandang keluar jendela, penjagaan semakin ketat, dia sudah menyerah dan memutuskan akan tinggal di dalam kamar tapi Yooju datang seperti peri dalam dongeng.
Dengan senyum khasnya, dia menggenggam tangan Ri Ahn dan membawanya kesebuah gudang tua. Ri Ahn nampak bingung tapi dia tetap ikut. "Gudang tua ini sudah ada sejak dulu, kakekku yang seorang tukang kebun pernah memberitahu bahwa gudang ini dulunya adalah tempat ibu anda sering menghabiskan waktu jika tuan Cho Min Sik keluar,"
"Entah benar ini sebuah cerita palsu atau kenyataan, dalam gedung ini ibu anda membuat jalanan untuk keluar setiap kali ingin menemui anda di Vietnam."
Ri Ahn tidak percaya, ibunya harus sembunyi-sembunyi jika ingin menemuinya. "Aku anak siapa? Dia hanya ingin menemuiku kenapa harus sembunyi-sembunyi?" Tanyanya, dia juga tidak tahu untuk siapa pertanyaan kekesalan yang keluar dari mulutnya.
Sementara itu Yooju sibuk mencari fakta dari cerita yang berkembang di dalam mansion. Sebelum dia bernafas lega, sebuah pintu di lantai dengan gembok yang usang mengganggunya. "Ketemu!" Seru dia pelan. Yooju lalu berlari meninggalkan Ri Ahn sendiri dalam gudang tua penuh debu.
Ri Ahn melihat kepergian Yooju yang tergesa-gesa. Dia berbalik menatap lantai itu. Air matanya turun deras, menangis tanpa suara. Bahkan saat Yooju kembali dengan bolt cutter di tangannya, air mata Ri Ahn belum juga kering. Pipinya terus di guyuri air mata.
"Sudah! Ayo no--" Yooju berhenti berbicara ketika dia berbalik melihat Ri Ahn berderai air mata. Mengerti situasi, dia berdiri memeluk Ri Ahn dengan hangat. Menepuk pundak anak majikannya pelan naik turun. Tidak berapa lama Ri Ahn berhenti, dia melepas pelukan Yooju walau masih sesegukan.
"Kembalilah, aku akan mengurus sisanya." Kata Ri Ahn. Dia takut gagal dan merepotkan Yooju.
Namun, Yooju menggeleng kuat. Dia membuka pintu itu dan menarik tangan Ri Ahn untuk mengikutinya. Gelap. Ruangan bawah tanah itu gelap tanpa cahaya. Di rogoh saku celana Yooju, menyalakan senter HPnya. Keduanya berjalan mengikuti arah lorong kecil itu dan menemukan pintu kayu yang tergembok, lagi-lagi sudah berkarat.
Yooju kembali berusaha membukanya. Tidak cukup lama gembok itu tergeletak tak berdaya di lantai. Ri Ahn membuka pintu itu dan cahaya dari luar menyinari ruangan yang tadinya gelap kini terang menderang, bahkan lampu senter hp milik Yooju tidak berguna degan baik. "Anda bisa sendirikan? Saya harus kembali sebelum semua orang menyadarinya." Yooju berbalik cepat ketika melihat Ri Ahn mengangguk.
.
.
.
__ADS_1