Reflection, The Black Rose

Reflection, The Black Rose
Ep 16 : Kita sepakat


__ADS_3

"Aku datang kesini untuk membantu keluargamu, sebagai gantinya kau harus melepaskan bisnis HARI. Menjadi wanitamu tidak ada dalam daftar pertukaranku." Kata Ri berusaha menahan dirinya.


"Tentu saja tidak ada, dan aku tidak pernah meminta bantuanmu. Penawaran ku hanya sebatas kau menjadi wanitaku dan bisnis keluargamu akan berjalan lancar." Sahut dia kembali menekankan.


Ri menggigit bibirnya. "Apa yang kau ingin lakukan brengsek!?" Umpat Ri.


"Hanya bersenang-senang, lebih baik dari pada tidak sama sekali. Kau menjadi wanitaku dan bisnis keluargamu berjalan lancar." Ho Young mengangkat bahunya cuek.


Mendengar kata keluarga yang keluar dari mulut Ho Young membuat Ri mual. "Berhenti bicara soal bisnis keluarga, seolah-olah itu pekerjaan yang baik. Jika bukan karen---" Dia berhenti, mengingat untuk apa dia curhat kepada pria gila itu.


"Jika bukan karena apa? Kenapa tidak dilanjutkan?" Pria itu terdengar mengejek Ri dengan nada bicaranya.


Ri mengalihkan pembicaraan. "Aku dengar kau dan Cho Min Sik adalah teman yang menjadi musuh?"


"Itu masa lalu,"


"Masa lalu? Jadi istrimu itu juga masa lalu?"


Smirk muncul di sudut bibir Ho Young. "Jangan menanyakan hal yang tidak perlu, kau bisa terluka." Ujar Ho Young.


Kemudian pria itu melangkah mendekat sampai tidak ada jarak di antara keduanya. Nafasnya menerpa wajah Ri membuat wanita itu pusing karena bau rokok intens mengisi indra penciumannya. Ri memegang kepalanya dan tangan dia yang bebas mendorong badan Ho Young. "Aku bisa pingsan, menjauhlah!" Geramnya.


"Kau sudah menyuruhku menjauh 2 kali, keputusanmu? Aku tidak bisa menunggu, waktumu 10 detik." Ujar Ho Young.


Dia mengigir kembali bibirnya, keputusan apa yang harus dia berikan. Mendadak atmosfer di sekitar keduanya tegang. Ho Young masih menatapnya.


"Aku butuh kontrak, tidak ada yang tahu kau akan melanggar atau tidak." Akhirnya keputusan Ri turun juga. Pria di depannya senang.


Ho Young mundur kebelakang, mengambil pemantik dari saku jasnya, dinyalakan dan dia lempar kedalam tong yang penuh kayu. Segera ruangan gelap tadi sedikit terang karena api yang membara memenuhi seluruh ruangan di dalam tong.


Walau terang api itu bisa sedikit membuat gerakan Ri bebas tapi dia belum melihat wajah pria di depannya dengan jelas. Ho Young duduk di sofa, dia memandang sosok Ri dengan intens. "Selamat datang." Sembari membuka lebar tangannya.


Ri geram, dia akan berbalik tapi mendengar nada licik di wajah pria yang duduk di sofa dengan santainya membuat darahnya mendidih sampai ke kepala. Berjalan ke arah Ho Young, dia berdiri di depan pria itu.


"Bagaimana dengan anakmu? Apa dia dewasa untuk bisa mene--"


Ri mendengar gemerutuk gigi yang bergesekan, pria itu marah.


"Aku tidak pernah melihat pria sepertimu di duniaku yang indah sampai datang ke sarang penjahat. Ah, aku mengerti sekarang kenapa kakakku tidak ingin aku datang ke tempat ini."


Mendengar sebutan kakak dari wanita di depannya, Ho Young menyindir balik. "Kakak? Apa sekarang dia sudah berubah? Tidak, tidak, kau tidak tahu ya!? Pantas saja!"


Tidak tahu apa maksud Ho Young, Ri mengerutkan dahinya.


"Tunggu sampai kau tahu, wajah sesungguhnya dari pria yang kau sebut kakak itu. Ketika masa itu datang, dia akan mengggerogoti lehermu sampai kau kehilangan suara."

__ADS_1


Tidak terima. "Kau hanya penjahat, beraninya menghina kakakku!"


Ho Young diam membiarkan amarah Ri keluar dari sarangnya.


"Istrimu pasti tidak akan senang mendengar kau punya wanita lain." Sindir Ri lagi.


Tapi Ho Young menjawab dengan santai. "Tenang saja dia bukan tipe pencemburu sepertimu,"


"APA!?"


"Jangan terlalu marah, kau datang kesini untuk berbisniskan? Kita sudah sepakat kau menjadi wanitaku dan aku membiarkan bisnis keluar---"


Ho Young mengangkat tangannya karena mendengar Ri mendengus ketika dia akan menyebutkan soal bisnis keluarga. "Oke, bisnis kelompok HARI. Berikan ponselmu." Dia menjulurkan tangannya ke depan.


Awalnya Ri hanya melihat tangan itu lama, tapi setelahnya dia mengeluarkan ponsel dari saku jas berwarna abu-abu.


Dia menekan nomornya di ponsel Ri sembari berbicara. "Tidak perlu mengangkat atau membalas pesanku, cukup baca saja. Sekedar kau tahu."


"Kau pikir aku mau!? Gila!" Sahut Ri pelan.


Ho Young lagi-lagi tersenyum kecil. Dia bertemu dengan wanita yang lucu.


Di kembalikan ponselnya.


"Jangan mengingkari janjimu! Kalau sampai aku mendengar bisnis keluar-- aish sialan," Ri keceplosan karena Ho Young terus-terus mengatakan bisnis keluarga. Mendengar Ri kebablasan Ho Young tertawa.


"Kau ingin apa? Aku yang memegang kendali dan ternyata anak baik-baik sepertimu bisa mengumpat juga ya? Aku pikir.."


Ri geram menghentakkan hilsnya ke lantai. Dia marah, membalik badan ingin keluar kemudian setelah beberapa langkah dia kembali berbalik berjalan ke arah Ho Young dan meletakkan Flashdisk berwarna hitam dengan gantungan icon salju dan sebuah amplop coklat kecil.


Dia tidak bicara lalu berbalik pergi tapi penerangan di bagian jalan keluar kurang memadai hingga kakinya harus menahan sakit karena terkena pilar.


"Ahk!"


Ho Young memperhatikan setiap gerakan Ri. Dia menggeleng lalu menepuk tangannya. Tidak lama lampu-lampu kecil di tembok menyala. Pria itu berdiri melihat flashdisk dan amplop diatas meja.


Ho Young mengambil dan menyimpan di saku jaketnya. "02.00, Hotel Kingdom" itu kata yang dia ucapkan sebelum meninggalkan Ri sendiri.


...🖤...


Ri sudah berada di luar, matanya sinis memandang gerbang yang baru saja tertutup.


"Brengsek, aku membantunya tapi dia memperlakukanku seperti itu!" Marah Ri. Dia kesal mengomel sendiri lalu dari depan kakaknya datang.


"Kau ini! Bukannya kakak sudah bilang jangan sembrono, dia bukan orang yang bisa kau dekati."

__ADS_1


Seandainya Ravi tidak ingat status adiknya sebagai pimpinan, dia sudah mendapat jitakan manis dikepalanya. Kakaknya tahu bagaimana harus bertidak untuk menjaga martabat Ri sebagai ketua.


Ri mendadak lelah, dia menepuk pundak kakak angkatnya, dia sedang tidak mood mendengar ceramah dari pria itu. "Kak, bisa kita bicara nanti? aku lelah!"


Otomatis membuat Ravi menghela nafas, dia mengangguk dan mendorong punggung pemimpin kelompok HARI.


Sepanjang perjalanan tidak ada yang berbicara, baik Ri dan Ravi keduanya terdiam. Ri melihat jalan raya di balik kaca mobil dari kursi penumpang. Disampingnya Ravi duduk memeriksa ponselnya yang berbunyi sejak tadi.


Dalam pikiran Ri berkecamuk tentang pria yang baru saja dia temui, Ho Young. Dia memikirkan cara agar pertemuannya dengan pria itu tidak di ketahui oleh sang kakak. Awalnya dia berpikir aka meminta bantuan Baren tapi jika suatu saat kakaknya mengetahui keterlibatan Baren, dia bisa di pecat sedangkan pria itu harus mencari nafkah untuk keluarganya di vietnam.


Ri terus mencari solusi terbaik untuk memecahkan masalah yang dia hadapi, sampai terlintas olehnya meminta bantuan Ho Young. Tapi sedetik kemudian dia kembali menghapus ide itu dari kepalanya. Membuat Ravi sibuk sementara dia pergi menemui Ho Young, tidaklah mudah.


Terus menjelajahi otaknya, dia akhirnya mengiyakan cara tadi karena tidak menemukan lagi cara lain. Ri melirik Ravi dengan ekor matanya, terlihat pria itu masih sibuk dengan ponselnya. Lalu dia mengeluarkan ponsel, baru setelah Ravi sudah memanggilnya.


"Ri!" Seru Ravi.


Ri yang terkejut, langsung berbalik dan meletakkan kembali ponselnya ke saku jas.


"Kenapa?" Tanya Ri.


"Besok kakak ada keperluan di luar. Mungkin butuh waktu 4-5 hari, jika keadaan memungkinkan kakak akan pulang secepatnya."


Ri terdiam sambil menatap Ravi. Keadaan berpihak padanya, dalam hati.


"Ri!? Kamu dengar?"


"Hah? O, oh dengar. Apa ada masalah?" Tanya Ri, walau dia senang bisa keluar tapi keadaan lain dia khawatir dengan Ravi.


Pria itu menggeleng. "Tidak ada, kakak akan menyelesaikan dengan cepat. Bagaimana dengan Ho Young?"


Ri mengangguk. "Tenang saja, dia sepakat."


Ravi mengerutkan dahinya. Tidak mungkin, sahut hatinya.


"Kau serius, dia setuju?"


"Hem, dia tidak sejahat yang aku pikirkan." Dalam hati Ri mengumpati Ho Young, apanya yang tidak jahat.


Ravi kurang percaya, tapi dia memutuskan untuk diam untuk saat ini. Pria itu harus melihat usaha Ri terlebih dahulu baru jika tidak berhasil dia akan turun tangan. "Baiklah, kau harus hati-hati. Mengerti?"


Ri kembali mengangguk.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2