Reflection, The Black Rose

Reflection, The Black Rose
Ep 22 : Membahas kontrak atau...


__ADS_3

Ri Ahn tidak asing dengan pemandangan di depannya, dia menilai sekeliling dan menemukan tempat dia berada sekarang tidak jauh dari lokasi mobil Ho Young. Dia berjalan menyusuri jalan tanah dan keluar dari sana. Tanah sudah berubah menjadi aspal, sepatu yang dia kenakan kotor karena tanah yang lengket karena basah.


Pandangannya tidak fokus, dia harus berhati-hati melihat sekeliling dengan seksama agar tidak menjadi bahan perhatian. Mobil yang sekiranya adalah mobil Ho Young sudah terparkir tidak jauh dari tempatnya. Dia terus menunduk dan berdiri tepat di sebelah pintu mobil.


Bunyi klik pada pintu itu terdengar, Ri Ahn menarik pintunya tapi ragu untuk naik. Dia terus memandang ke arah sepatunya yang telah kotor. Ho Young memperhatikan gelagat Ri Ahn. "Ada apa?" Tanya dia.


Ri Ahn melepaskan sepatunya dan memperlihatkan kepada Ho Young. "Kotor, mobilmu terlihat mahal."


Pria itu menaikkan alisnya. "Sejak kapan kau perhatian pada barang-barang milikku. Naik, mereka akan menemukan kita kalau kau masih sibuk dengan sepatumu." Sarkas


Ri naik, dia hampir melempar sepatunya keluar, jika Ho Young tidak menahan tangannya. "Kau ingin semua orang tahu?"


"Tahu apa?"


Dia harus bersabar. "Sudahlah, simpan sepatumu di dalam dan tutup pintunya." Ho Young memberi perintah yang langsung di ikuti Ri Ahn.


"Kita mau kemana?" Tanya Ri Ahn.


"Belum berganti hari, tapi kau sudah lupa?"


"Rumahmu?"


"Hem."


"Untuk apa kita kesana? Ada banyak tempat di kota ini."


"Kalau kau ingin membahas kontrak di tempat umum juga boleh. Kita buat semua orang yang berada di sana tahu siapa kau dan siapa aku." Santai.


"Kau cepat marah yah!" Ri Ahn membuang wajahnya ke samping, melihat jalan melalui jendela.


Saat mendengar nada bicara perempuan di sampingnya dahinya mengkerut, dia Ho Young melihatnya sebentar lalu kembali fokus menyetir.


"Jangan lupa janjimu, biarkan bisnis HARi berjalan lancar."


"Bukankah sudah ku lakukan?"


"Takut kau lupa!"


"Bagaimana mungkin? Aku bukan tipe yang lupa pada semua hal yang terjadi, bahkan jika itu masa lalu." Dari nada bicara Ho Young terlihat dan terdengar dia menyindir. Ada sesuatu dari caranya berbicara. Ri Ahn merasa gelisah untuk itu.


.


Mereka sudah berada di depan pintu apartemen, Ho Young masuk dan di ikuti Ri Ahn. Saat pertama kali masuk, dia heran. Ini rumahnya? Dalam hati Ri Ahn curiga. Apartemen itu sederhana, untuk ukuran seorang pemimpin geng tidak mungkin dia menempati rumah seperti ini.


"Kenapa?" Tanya Ho Young melihat gerak gerik perempuan di belakangnya.


"Tidak, benarkah ini rumahmu?" Ri Ahn balik bertanya.


"Kenapa memangnya, kau kecewa karena apartemenku bukan apartemen mewah?"

__ADS_1


Ri Ahn menatapnya tajam, dia mengumpat dalam hati. Dia berbalik melihat balkon tanpa menjawab pertanyaan Ho Young.


"Kakakku akan menentang pernikahan ini," Kata Ri Ahn.


"Walau dia menentang, apa yang dia bisa lakukan? Dan, apa aku harus turun tangan untuk meminta restu kakakmu? Padahal keinginanmu sudah kupenuhi, meminta izin kakakmu bukan tugasku tapi tugasmu." Ho Young tidak perduli pada kelompok HARI, bahkan jika mereka menentang, dia harus menikah Ri Ahh.


Perempuan itu mengingit bibirnya, dia menahan kekesalan yang datang setiap kali berhadapan dengan Ho Young. "Kau benar-benar kejam,"


"Kau belum melihat semuanya, bagaimana bisa tahu aku benar-benar kejam atau tidak." Sahut Ho Young lalu pria itu menghilang dari pandangan Ri Ahn. Dia masuk ke dalam ruangan.


Ri Ahn duduk meremas dresnya, menatap ke depan dan air matanya jatuh. Saat itu dia memikirkan kedua orang tuanya. "Ibu, ayah. Ri Ahn mau pulang." Katanya pelan sehingga dia sendiri yang mendengarnya.


.


Dalam ruangan yang dipenuhi dengan layar komputer memperlihatkan setiap sudut di ruangan dalam apartemen. Tidak terlewatkan ruang tamu tempat Ri Ahn duduk menangis pelan juga terekam disana. Pria itu, memandang layar dengan serius. Tatapan matanya berbeda, elang yang menemukan mangsa di bawah tanah gersang.


...🖤...


2 pria sedang menyeruput minuman dalam gelas kaca. Salah satu dari mereka tertawa setelah mendengar cerita yang keluar dari pria satunya lagi. Tawa itu bermakna mengejek.


"Jadi adikmu membuat kesepakatan dengan Ho Young? Ah serius, dia benar-benar berani." Katanya.


"Dia harus menghadapi Ho Young seorang diri, bagaimanapun posisinya di dalam geng tidak boleh goyah."


"Dan kau mengizinkan?"


"Menyerang, tolol."


"Mudah berbicara, kita sudah ada perjanjian untuk tidak saling mengangguk."


"Tapi Ho Young mengganggu bisnis kalian."


"Itu,, itu karena ketua Cho Min Sik lebih dulu menganggunya, kau tahu masalah penculikan anaknya."


"Hah? Maksudmu geng HARI dalang penculikan itu?"


"Kau dari mana saja, semua orang sudah tahu."


Ravi kembali menenguk minuman itu dan bersandar di punggung sofa. "Aku mana tahu, hidupku saja sudah sulit di dalam penjara beberapa tahun. "


"Karena itu aku memintamu berhenti pakai obat-obat, bodoh."


"Kau pikir mudah."


"Kau saja yang tidak mau berusaha berhenti."


"Oh cukup, jadi bagaimana dengan adikmu?"


"Ri mungkin sedang bosan di rumah."

__ADS_1


"Kau yakin dia di rumah?"


Ravi melihat temannya dengan tatapan membunuh.


"Ah, kau bilang dia sudah buat kesepakatan dengan Ho Young. Mungkin saja saat ini dia sedang tid--"


"Ya, kau pikir adikku perempuan murahan!" Ravi berdiri mencengkeram baju temannya itu. Dia tidak suka mendengar perkataan buruk tentang adiknya.


"Dia dibesarkan dengan baik tidak pernah berpacaran atau berdekatan dengan pria manapun, jadi jangan sembarang bicara mengenai adikku." Marah, dia tahu bagaimana Ri Ahn di besarkan.


Pria itu terlihat skeptis melihat bagaimana marah Ravi pada dirinya. Tatapan mata temannya itu memancarkan ketidaksukaan yang besar. "Ravi, aku hanya asal bicara, maaf."


Ravi melepaskan cengkraman dan kembali duduk di kursinya. Dia menghela nafas berat.


"Kau baik-baik saja?"


"Yah!"


"Dia, maksudku adikmu itu kau menyukainya?"


Ravi tidak percaya pada apa yang dia dengar barusan. Dia menengok menatap tajam kesamping.


"Kau terlihat berbeda,"


"Kau tidak punya adik perempuan, untuk apa menilai!" Kata Ravi berusaha menahan kekesalannya pada temannya. Jika dia tidak menahan emosinya, temannya itu sudah tersungkur di lantai.


Ravi benar, dia tidak punya adik. Perasaannya mungkin berbeda dengan milik Ravi. "Hanya saja, ini pertama kalinya aku melihat kau se emosional ini membahas wanita."


"Jangan asal, dia bukan wanita bagiku. Adikku adalah gadis kecil lemah lembut."


"Yah, terserah kau saja. Kau seperti ayahnya berbicara dengan berbinar."


...🖤...


Ho Young memesan makanan, di meja sudah tersedia banyak macamnya. Ri Ahn yang tertidur di sofa masih berada disana. Tangannya bebas terjatuh dan keluar dari sofa dan melayang di atas lantai. Pria yang baru selesai menata makanan datang memperbaiki selimut Ri Ahn membuat perempuan itu kaget hingga mendorong Ho Young ke belakang.


Punggung pria itu menghantam meja kaca tapi tidak ada raut kesakitan dari wajahnya. Ri Ahn masih dalam keadaan mencoba sadar melotot melihat keadaan Ho Young di depannya. Dia segera berdiri membanti pria itu duduk di sofa.


"K--ka-u baik- baik saja?" Tanya Ri Ahn.


"Hem." Pria itu hanya bergumam.


Perempuan itu yakin, dia tidak baik-baik saja. Ri Ahn merasa bersalah.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2