
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, Ri kebosanan sendiri di rumah. Dia sudah mengerjakan semua pekerjaan rumah, membersihkan ruangan dan mencuci piring kotor. Bolak balik dari atas ke bawah begitupun sebaliknya. Lalu, dia mencoba peruntungan dengan bermain game di ponsel. Belum sampai sejam dia sudah kembali ke mode awalnya, bosan.
Dengan banyak pertimbangan, akhirnya dia mengambil inisiatif untuk mengunjungi Restoran. Jam 8 Ri sudah siap berangkat menggunakan sepeda motor. Di jalan, Ri bersyukur menggunakan jaket. Angin malam kencang juga dingin.
Setalah 15 menit berlalu, Ri memarkirkan motornya di parkiran yang disediakan restoran. Dia berjalan masuk dari pintu samping, melewati gudang penyimpanan. Menengok kanan-kiri, melihat ruangan serta keadaan restoran yang sudah lama tidak dia kunjungi.
Sekitar 2 tahun belakang, Ri selalu di rumah dan tidak dibiarkan berada di restoran. Tepat hari sabtu. Kala itu, sesudah pulang kuliah Ri mengunjungi orang tuanya. Bermaksud menjemput lalu pulang bersama. Senang Ri bersenandung.
Dalam perjalanan menuju restoran Ri bertemu dengan seorang pria tua yang mengalami kecelakaan. Berniat membantu, Ri segera berlari ke tempat pria itu. Karena terburu-buru, dia tidak sadar bahwa bus dari arah berlawanan sedang melaju kencang. Ri terhempas jauh, dia tidak sadarkan diri selama 1 minggu.
Jarak tempat kecelakaan dari restoran tidak begitu jauh, sekitar 30 meter. Pegawai yang datang untuk shift malam menyaksikan kejadian mengerikan itu, kemudian dia menelepon ambulan dan melaporkan apa yang dia lihat ke bosnya, orang tua Ri.
Orang tuanya khawatir dengan keadaan Ri, mereka berniat membawa Ri ke Amerika untuk mendapatkan perawatan terbaik. Malam sebelum dia berangkat, Ri sadar. Pham Minh Thien mengambil keputusan untuk menunda keberangkatan mereka. Dokter melakukan pemeriksaan dan tidak menemukan masalah di dalam, kecuali luka luar di wajahnya dan badan sebelah kiri.
Setelah dia di pulangkan dari rumah sakit, Ri langsung berangkat ke Amerika dengan orang tuanya. Doktet terbaik dari berbagai spesialis telah dia temui. Selama setahun penuh dia harus melakukan penyembuhan dan perawatan untuk kembali normal.
Sementara orang yang telah menyelamatkan dirinya, tidak diketahui keberadaannya. Malam itu, orang tua Ri menjenguk sang penolong tapi dokter mengatakan bahwa pasien itu telah dipindahkan oleh keluarganya. Mereka belum berterima kasih, dan hanya bisa berdoa semoga orang itu baik-baik saja. Ri pun tidak mengingat rupa sang penolong, sebab kejadian yang begitu cepat.
Kekhawatiran akan terulang kejadian memilukan itu, orang tua Ri tidak pernah mengizinkan anaknya keluar seorang diri ke restoran atau pergi terlalu jauh dari rumah. Mereka masih mengingat bagaimana tubuh Ri saat itu. Hati En sakit.
Ri melihat kedua orang tuanya sibuk dikasir. Dia masuk ke ruang ganti wanita dan mengambil seragam yang di gunakan pelayan resto. Ri keluar, dan membuat orang tuanya terkejut.
Ayahnya terdiam sebentar dan melanjutkan pekerjaannya di kasir. Bibirnya senyum dikarenakan ada pelanggan di depannya tetapi matanya menatap tajam sang anak yang sedang mencatat pesanan.
"Baik, ditunggu." Ramah Ri.
Di bawa catatan itu ke dapur dan digantung agar cheff restoran dapat melihatnya dengan jelas.
__ADS_1
"Meja nomor 3, pesanannya sudah masuk." Suaranya agak di tinggikan.
Ketika kakinya kembali melangkah, sang ibu sudah berada di depannya bersedekap. Ri canggung menggaruk belakang lehernya. "Ibu, pelanggan kita menunggu daftra menunya." Ucap dia agar terhindar dari amukan wanita itu.
"Naik apa kesini? Jangan bilang kamu naik motor!" mata ibunya melotot.
Ri terdiam, mati dia.
HE HE HE
Tawa canggung itu dapat didengar oleh semua karyawan yang berada di dapur. Takut, Ri menunjuk motornya dari pintu kaca di sebelah. "Naik motor bu, kasihan motornya tidak di pakai."
Setelah dia mengutarakan jawabannya, dia mendapatkan hadiah sebuah ketukan kecil dikepala. Walau tidak sakit, Ri menutup sedikit matanya sebelah.
"Sudah, diluar banyak pelanggan," Tegur dia pada istrinya. Lalu dia melihat Ri. "Duduk, jangan berlarian." Katanya seolah-olah Ri adalah anak kecil.
Cemberut bibirnya dia tarik ke depan. "Ayah ini, Ri sudah besar." Sanggah dia.
Pham Minh Thien dan Mai Lien Nguyen saling pandang. Mereka sama-sama setuju, bahwa sudah saatnya Ri kembali memulai hidupnya. Setelah 2 tahun mereka mengurung anaknya karena khawatir.
"Dia sudah sebesar itu, aku belum rela jika dia harus menikah." En mendadak sedih memikirkan masa depan anaknya.
"Jadi anak kita tidak perlu menikah?" Tanya Pham.
Lien mengangguk, lalu dia menggeleng.
"Jadi Ri boleh menikah atau tidak?" Tanya pham kembali, menggoda istrinya.
__ADS_1
Dari dalam Chef sanchez bergabung dengan percakapan. "Auw, Bibi En bisa tidak tidur semalaman suntuk."
Pham setuju, dia melihat Sanchez dan mengangguk.
"Saya mau jodohin Ri sama Chef tapi Chef sudah punya istri, gimana dong?" Kata En yang menggoda balik Chef terbaik di restorannya.
Sanchez tertawa, dia dan Ri memang pernah di jodoh-jodohkan oleh orang tua Ri dan karyawan Resto. Jika saat itu Ri mengiyakan ajakan Sanchez untuk menjalin hubungan mereka sudah pasti menikah. Tetapi Ri belum berpikir untuk menjalin hubungan dengan siapapun. Dia masih muda dan masih ingin bersenang-senang bersama orang tuanya.
Dari belakang seorang wanita berpakaian sama dengan Ri bicara dengan intonasi lucu, dia sedang bercanda bersama keluarga jauhnya. "Itu sih salah Ri, saya awalnya tidak punya kesempatan. Eh, memang jodohnya saya Bi, paman." Ucap dia.
"Iya iya, memang jodoh kamu." Ri datang dengan 3 lembar kertas pesanan. Dia menempelkan di dinding. "Pesanan masuk." Teriak dia, teriakan itu dia tujukan ke telinga Lan Anh.
Wanita bernama Lan Anh menutup telinganya. Dia mengaduh kepada suaminya, Chef Sanchez. "Sayang!"
Sanchez hanya tersenyum. Begitupun Pham dan En. Mereka sudah sering melihat tingkah bar-bar dua anak perempuan ini. Ri dan Lan Anh adalah sepupu jauh. Keduanya sudah bertemu sejak kecil dan menjadi teman main.
"Ih mengaduh, huh!" Ri mengibaskan rambut panjangnya, kibasan itu mengenai wajah Lan Ahn. Tidak terima, dia bermaksud membalas Ri tapi rambutnya terlalu pendek untuk mengenai Ri. Melihat itu, Ri tertawa agak keras.
Ketika sadar bahwa pelanggan Resto akan terganggu dia menutup cepat mulutnya dan pergi dari sana sembari cekikikan. Lan Ahn kalah lagi. Wanita berambut pendek itu menghentakkan kaki lalu masuk ke dapur. Dia mengambil makanan yang sudah jadi untuk di bawa ke depan. Walau sedang bermain dengan Ri, dia tidak melupakan tugasnya.
Sanchez membuka sarung tangannya dan mengelus punggung sang istri. Dia mengerti watak Lan Ahn. Mereka sedang bercanda dan istrinya tidak benar-benar marah ataupun kesal. Mendapat perhatian, Lan Ahn tersenyum manis memperlihatkan deretan giginya. "Terima kasih." Ucapnya tulus.
Lan Ahn tidak marah, dia selalu berterima kasih kepada Ri. Sejak kecil, dia dan Ri selalu bersama. 8 tahun Umur Lan Ahn saat Ri mengunjungi keluarga Pham di desa. Ri yang masih kecil mengikuti kemanapun Lan pergi. Tiba-tiba, Ri berlari pulang ke rumah keluarga Pham sambil memangis dan meminta Pham Minh Thien dan Mai Lien Nguyen menyekolahkan Lan Ahn di sekolah yang sama dengannya.
Usut punya usut. Keluarga Lan memasukkan semua anaknya ke panti asuhan agar bisa diadopsi atau di jual ke luar negeri, sama seperti anaknya yang lain bernama Thien Nam Nguyen. Ketika mendengar pembicaraan itu, Ri tidak memahami apa yang dibicarakan orang dewasa di sana tetapi Lan menangis dan memberontak tidak ingin dibawa pergi. Melihat Lan menangis, Ri juga ikut menangis.
.
__ADS_1
.
.