Reflection, The Black Rose

Reflection, The Black Rose
Ep 20 : Peringatan


__ADS_3

Mansion of the Mafia, Stonewall


Yun Young bersama Dori dan Sean sedang berada di markas. Mereka berdua megawasi Yun Young anak dari Ho Young. Majalah yang dipegang Yun tidak sengaja tergelincir dan jatuh di lantai.


Saat itu wanita bernama Yun datang, dia mengambil majalah yang terjatuh dan melihat isinya sekilas. "Ini tuan Darren?" Katanya pada diri sendiri.


Di dalam majalah itu terdapat foto dari pengusahaLee Seok Hoon atau yang biasa di kenal sebagai Darren Lee. "Dari mana Yun mendapatkan majalah?" Tanta Yun kepada Dori dan Sean.


"Entah kak, majalah itu sudah ada sejak tadi." Jawab Dori.


Yun Young menggeleng, dia meminta majalah di tangan Yun. "Ayahku sering melihat berita tentangnya." Kata Yun Young.


"Kenapa?" Tanya Yun. Yun tahu mereka berteman tapi membeli majalah seperti ini bukan kebiasaan Ho Young yang dia tahu.


"Ayahku selalu berterima kasih pada paman Darren, salah satu caranya adalah mengawasi bagaimana pandangan publik pada sahabatnya. Kalau kau masuk ke kamarnya, disana ada tumpukan buku, semua itu majalah tentang Paman Darren." Panjang lebar Yun Young memberikan informasi akurat.


"Bagaimana bisa kau tahu?" Tanya lagi Yun. Dia saja tidak tahu fakta itu.


Anak kecil itu tersenyum. "Karena aku anaknya?" Semacam memberi pernyataan dengan nada bertanya.


"Ayahku itu hanya keras di luar saja. Coba kau dekati, dia bisa mencair seperti salju." Seperti orang dewasa, Yun Young mengangguk membenarkan kata-katanya sendiri.


"Jangan telalu cepat dewasa Yun, ayahmu bisa pensiun." Sahut Yun bermaksud mengejek Ho Young.


Yun Young menilai, dia melihat Yun dengan pandangan berarti. Lalu, kemudian dia meminta Dori dan Sean pergi ke bawah. Yun Young memiliki pandangan yang akan dia sampaikan kepada Yun soal ayahnya.


Yun menghadap Yun Young, alisnya terangkat menandakan kebingungan dan kegelisahan. Dia meremas tangannya yang berair, entah mengapa.


"Kak Yun mencintai ayahku?" Langsung, membuat Yun tercekik, tenggorokannya mendadak sakit seperti ada biji kedondong yang ditarik keluar.


Yun Young melihat kegelisahan di mata dan sikap wanita itu. "Kak Yun tidak perlu khawatir, aku bisa menutup mulutku." Kata dia.


Justru perkataan Yun Young membuat Yun tambah gelisa. "Yun jangan asal bicara, anak kecil tidak boleh ikut campur masalah percintaan orang dewasa." Saran Yun.

__ADS_1


Dia akan segera berbalik tetapi Yun mulai berbicara kembali. "Aku bukan anak kecil, aku bisa mengerti semuanya."


Yun bingung, semua orang sudah tahu kisahnya dan Ho Young. Sementara Yun Young hanya tersenyum kecil menanggapi kebingungan yang terpancar jelas di raut wajah Yun. Helaan nafas dia terdengar berat, bagi Yun Young.


"Kau sudah bersama Ayahku untuk waktu yang lama. Tidak ada yang rahasia jika menyangkut perasaanmu pada Ayahku, begitu kata mereka. Tapi kak Yun itu sudah bertahun-tahun lamanya, kau melewati banyak hal termaksud ibuku. Apa cintamu tidak sia-sia untuk pria sepertinya?”


Yun merasa dunianya begitu gelap, dia paham kemana arah pembicaraan dirinya dengan Yu Young. Walau dia tahu, dia tetap bersikeras. Apa baginya sia-sia itu, jika semuanya bisa dia tangani.


“Kau harus dewasa untuk merasakan yang namanya cinta Yun Young. Bertahun-tahun sudah aku lewati, menunggu beberapa tahun lagi tidak ada masalah."


“Lalu bagaimana jika kau harus bersaing dengan wanita selain ibuku?”


Yun Young melemparkan geranat paling mematikan untuk Yun. Wanita itu terdiam, matanya menerawang jauh di masa depan.


Dulu dia harus berhadapan dengan Ibu Yun Young, lalu sekarang apakah dia harus menemui wanita lain lagi? Tidak, kata dia dalam hati. Selama Ho Young memberinya waktu bertahan dan tetap berada di sisinya maka dia tidak harus menghadapi kepedihan itu lagi.


Yun Young melihat pergantian ekspresi Yun, dia menggeleng menandakan arti paling tidak bijaksana. “Ayaku punya atau tidak perasaan terhadapmu, aku rasa kau juga tahu. Kalau kau ingin berjuang maka berjuanglah semampumu, jangan sampai melukai siapapun termaksud dirimu.”


Setelah mengatakan pendapatnya, Yun Young keluar dari ruangan itu. Dia meninggalkan keheningan pada Yun. Wanita itu masih dalam mode diamnya. Menyerah baginya adalah sesuatu yang tidak mungkin. Bayangkan saja, tahun-tahun yang dia lewati akan menjadi tidak berarti jika kakinya melangkah mundur hanya karena kekhawatiran yan belum terjadi. Namun, jika dia mengambil keputusan untuk menyerah mampukah dia bertahan mellihat Ho Young bersama wanita lain lagi?


...🖤...


Ho Young baru sampai di markasnya yang berada di pegunungan. Gedung besar itu dibangun dekat dengan teping, dari sana pemandangan matahari terbit terlihat jelas.


Tempat yang diperuntukkan untuk sang istri sebelum ajal menjemputnya. Pria itu keluar dari mobil dan melihat pavilion yang tepat bersebelahan dengan tebing.


“Jika kau masih berada di sisiku, kau mungkin akan menyukai tempat ini.”


“Sedang apa kau disitu?” Tanya seseorang.


Ho Young berbalik dan menghela nafas pelan saat dia tahu siapa yang berbicara. “Kau tidak bertugas?”


“Tidak, aku menunggumu!” Tegas Yun.

__ADS_1


Ho Young terbebani, dia menatap Yun dan mendekati wanita itu.


“Nanti Yun, aku sedang tidak ingin berbicara apapun.” Kata Ho Young, setelahnya dia pergi meninggalkan Yun sendiri di terpa angin sejuk pengunungan.


.


Didalam keadaan markas seperti biasanya. Dia tidak melihat sang anak. “Dori, Sean!” Panggil dia pada kedua orang kepercayaannya. Tapi bukan keduanya yang menjawab melainkan Yun Young, anaknya.


“Ayah jangan mengganggu! Aku sedang bermain bersama mereka.” Cemberut Yun Young.


Sang ayah mengerutkan dahinya. “Main apa? Ayah  ingin bicara dengan keduanya.”


Yun Young memandang sinis dengan bibir yang maju beberapa centi. Ekspresi ayahnya tidak baik, dia menyerah. “Mereka bersembunyi, cari saja.” Lalu dia naik ke kamarnya.


Ho Young meminta anak buahnya mencari Dori dan Sean, tidak sampai beberapa detik mereka datang dengan berlari dan berdiri tegak di depan pria itu. Ho Young menatap keduanya menimbulkan getaran dari dalam diri kedua orang kepercayaannya.


Sebelum Ho Young berbicara, Sean dan Dori sempat saling pandang. “Kalian bekerja denganku berapa lama?” Pertanyaan yang menggetarkan sanubari, ada yang salah seperti yang tubuh mereka rasakan.


“Sejak anda membangun kelompok ini tuan.” Kata Dori.


“Lalu kalian mengkhianatiku dengan mudah?”


Kaget, Sean terkejut. Berbeda dengan Dori yang tidak mengerti masalah apa yang di bicarakan Ho Young.


“Sean, kau pikir aku tidak tahu?”


Sean berlutut. “Saya pantas untuk dihukum tuan!” Ujar dia.


Ho Young marah tapi dia tahu Sean tidak bermaksud mengkhianatinya. “Kau tahu rencanaku tidak boleh gagal! Jadi jangan mengulangi apa yang tidak ku minta kerjakan, mengerti!” Imbuh Ho Young dengan tegas menekan semuanya.


Keduanya mengangguk mengerti.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2