Reflection, The Black Rose

Reflection, The Black Rose
Ep 31 : Bab Baru


__ADS_3

Ri Ahn terus berada dalam pengawasan Ravi. Selama 10 bulan penuh hidupnya dipenuhi urusan Kelompok HARI. Contohnya hari ini, sehabis mengunjungi para tetua. Tentu saja tanpa Ri Ahn, dia menunggu di dalam mobil. Keduanya berada di sebuah gedung tua menunggu klien yang telah membuat perjanjian. Dia sibuk mengurusi banyak hal.


Ketika keduanya berada di posisi masing-masing, anak buah Ravi datang membawa kabar. "Tuan klien kita sudah sampai."


"Bawa mereka masuk." Tegas Ravi.


Dia menatap punggung Ri Ahn, gadis itu menatap keluar jendela. Terik datang menerpa cela jendela yang terbuka sedikit pada ujung sisinya. Membuat Ri Ahn tampak dipenuhi dengan sinar terang jika di lihat dari posisi Ravi saat ini.


Selama itu, perlahan Ravi melihat perubahan sikap adiknya. Walau masih ada sikpa manja seperti sebelumnya, tapi dia merasa Ri Ahn sedikit lebih serius dari biasanya. Dia tetap tersenyum hanya saja senyumnya terasa dipaksakan. Setiap kali mereka berbicara, Ri Ahn tidak fokus, dia terus mengulang perkataannya.


Sejak beberapa hari, hatinya tidak tenang. Dia berusaha mendekati Ri Ahn dengan tujuan mencari tahu apa yang di pikirkan adiknya tetapi gadis itu selalu menolak di dekati. Entah alasannya mengantuk atau dia lelah.


"Tuan." Panggil pengawalnya.


Dia berdiri menyambut uluran tangan pria dengan balutan setelan formal. Ravi menyambut sembari tersenyum singkat. Dia mempersilahkan pria itu duduk di depannya. Mata pria itu menyusuri ruangan dan mendapati sosok yang berdiri masih membelakangi mereka. Ravi juga ikut melihat.


"Dia, adalah ketua kelompok HARI, datang untuk melihat bisnisnya." Menjawab rasa penasaran pria itu.


Ri Ahn tidak berbalik sepenuhnya, tubuhnya di serong, dia menganggukkan kepalanya sekilas dan pelan. Pria itu kaget, kabar bahwa ketua pengganti Cho Min Sik adalah seorang wanita seperti yang di rumorkan.


"Bisa kita memulai?" Buka Ravi.


Pria itu menyambut antusias. "Ini foto adik saya sebelum mereka dinyatakan menghilang."


Ravi melihatnya dengan hati-hati dan detail. Semua orang yang berada dalam foto bisa menjadi saksi ataupun tersangka. Kemudian dia melihat data panti asuhan bahagia. Dia mengingat nama panti asuhan bahagia. Karena kasusnya besar yang menghabiskan banyak kerugian.


Panti asuhan bahagia tidak lagi beroperasi mulai dari masalah pembangunan makrak dan sebab korupsi yang di lakukan oleh direktur. Karenanya banyak dari karyawan yang telah mengundurkan diri dan tersebar di seluru negeri.


Mencari tahu keberadaan mereka tidak akan semudah kelihatannya. Ravi meletakkan kembali data dan foto anak perempuan berumur 10 tahun bernama Jia dan Jimin.


Pria itu terlihat khawatir saat melihat Ravi menghela nafasnya pelan. Dia merekatkan kedua telapak tangannya, intens menunggu konfirmasi.


"Panti asuhan itu sudah tutup 10 tahun yang lalu, mengapa anda baru mencari keduanya?"


Tatapan ragu itu terlihat jelas mengerubungi wajah pria di depannya. Dan Ravi menangkapnya. Dia mengingat masa lalu yang mengerikan saat dia di jual oleh keluarganya demi uang.


"Saya tidak ingin memberi harapan palsu sebab 10 tahun itu bukan waktu yang singkat, apalagi untuk anak 10 tahun. Mereka sudah bisa mengingat jelas, alasan dan mengapa mereka bisa berakhir di sana."

__ADS_1


Pria itu tertunduk dengan tangan yang terpaut.


Ri Ahn memegang tepi jendela erat. Dia berbicara dengan pelan yang masih bisa di dengar keduanya.


"Bodoh juga tidak mengapa, tidak tahu bukan perkara hebat. Dari pada tahu segala hal tapi tetap membiarkan, lepas tangan, menutup mata. Jauh lebih mengerikan."


Keduanya mendengar perkataan Ri Ahn. Ravi tidak menanggapi Ri Ahn, walau itu benar.


Dia mengambil foto di atas meja yang tadi sempat dia lihat. "Saya tidak menghakimi keputusan masa lalu yang anda buat. Karena anda sudah datang, kelompok HARI akan mencari informasi keduanya. Mungkin akan memakan waktu. Setiap kali mereka turun mencari informasi, anda akan mendapatkan update terbaru. Saya berharap tidak ada penyesalahn." Jelas Ravi.


Pria itu mengangguk, dalam hatinya sarang-sarang penyesalan telah terbentuk sangat lama. Berharap kali ini ada jalan terang yang mendahului kegelapan nya. Tidak terbebas, terkurung dalam sangkar tak nampak, talinya mengikat bagian dirinya, tersangkut pada jaring-jaring besi.


"Terima kasih." Katanya sebelum dia melangkah, pria itu berbalik menatap punggung Ri Ahh.


"Saya mengenal baik Cho Min Sik. Kata orang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya tapi hari ini mendengar anda berbicara, Ayah dan anak berbeda jauh. Saya mengerti mengapa Ravi tidak membiarkan mereka melihat wajah anda. Dia tidak ingin ada penyesalan."


.


Tinggallah Ravi dan Ri Ahn di ruangan itu. Setelah intruksi mencari informasi dari orang-orang yang pernah bekerja di panti asuhan di kordinasikan kepada seluruh tim. Mereka duduk berhadapan, sebelum pulang Ravi meminta Ri Ahn berbicara dengannya, 4 mata.


"Kakak perhatikan, Ri Ahn selalu gelisah, ada apa?"


Mata Ri Ahn terlihat berbeda, dia marah. Menatap tajam Ravi. "Apa kakak berbohong padaku?"


"Tidak pernah!" Tegas dan cepat sang kakak menjawab.


"Tidak ada yang lebih aku khawatirkan dari pada orang tuaku, sudah hampir setahun aku tidak bisa menghubungi keduanya. Sebelumnya tidak seperti itu, sebenarnya dimana mereka berada?"


"Jadi karena ini kau berubah?"


"Berubah?


Ravi terdiam, apa benar dia tidak menyadari perubahan? Tidak ingin berdebat dengan adiknya, dia menyudahi percakapan.


"Tidak, kakak merasa Ri Ahn lebih dewasa dari sebelumnya. Itu hal yang bagus."


Dia pikir percakapan itu akan berhenti.

__ADS_1


"Kakak tidak menjawab pertanyaanku?" Sahut Ri Ahn lebih curiga. Dia tahu ada yang tidak beres dengan orang tuanya.


Ravi mendadak bisu, dia tidak bisa menjawab pertanyaan Ri Ahn.


"Alasan aku datang kesini agar orang tuaku baik-baik saja, AKU TANYA, DIMANA ORANG TUAKU?" nadanya semakin tinggi. Dia mendorong meja di depannya hingga terbanting.


Emosi Ri Ahn tidak bisa di kendalikan. Dia hampir melukai Ravi, jika pria itu tidak menghindar.


"Nona!" Yooju dari arah pintu berlari menahan Ri Ahn. Dia lebih takut Ravi emosi dan membalas wanita itu.


"Orang tua anda pasti baik-baik saja." Berusaha menenangkan.


Ri Ahn berbalik melihat Yooju. " Bagaimana aku yakin mereka baik-baik saja? Sedangkan aku tidak bisa menghubungi keduanya, sementara orang yang membawa mereka diam seperti itu!"


"1 tahun! Tunggu 1 tahun dan aku akan membawamu pulang melihat keduanya. Hanya sampai hari itu bertahanlah tanpa kabar orang tuamu." Akhirnya Ravi berbicara.


"Kondisi orang tuaku!?"


"Mereka baik."


Ravi pergi.


Sesingkat itu dia bicara. Ri Ahn kembali duduk di temani Yooju yang mengelus punggung, menenangkannya.


...🖤...


Para tetua sedang berdiskusi tentang Ri Ahn dan Ravi. Ketiga orang tua itu menganggap keduanya tidak bisa di kendalikan. Selama Ri Ahn menjadi ketua, mereka tidak lagi mendapat keuntungan dari bisnis Kelompok HARI.


"Tua bangka Min Sik sepertinya mempersiapkan anak-anaknya untuk melawan kita. Dia sudah meninggal tetapi masih menghalangi orang yang masih hidup."


"Cho Min Sik, Cho Min Sik. Bagaimana mencari tahu kelemahan anak-anakmu. Selama mereka bersih, kita tidak bisa mengendalikannya seperti ayahnya."


"Cho Min Sik punya kelemahan karena kasus-kasus melanggar hukum, tapi Ravi tidak pernah terlibat langsung. Pohonnya sudah tumbang selanjutnya kita harus memotong ranting agar daunnya berjatuhan di tanah."


"Kau punya cara?"


Senyum pria tua yang duduk di depan itu menggambarkan akan ada rencana besar menanti keduanya.

__ADS_1


Dari balik tirai seorang pelayan yang baru saja melewati ruangan mereka mendengar percakapan itu, dia sempat berhenti lalu masuk ke ruangan sebelah. Saat dia melepas sepatu, tato di pergelangan kaki pelayan wanita itu terlihat. Tato berbentuk mawar hitam.


.


__ADS_2