
Ri Ahn berada di mobil, dia duduk di belakang menghadap ke depan tanpa berpaling melihat Ho Young yang berada di luar mobil. Pria itu berdiri menghadap pintu berbicara dengan pengawalnya. Hari ini dia akan berangkat ke Vietnam jadi dia meminta pengawalnya mengantar Perempuan itu pulang.
Ri Ahn belum berbicara sejak bangun di kamar Ho Young, bahkan saat pria itu berbicara dia hanya diam. Perkataan pria itu padanya seperti pisau yang menusuk jantungnya. Dia tidak bernafas bebas selalu merasa sakit di sana. Tangannya memegang dadanya yang terasa sakit sejak tadi. Hal itu tidak lepas dari pandangan Ho Young.
Raut wajah Ri Ahn yang pucat tidak pernah lepas dari pikirannya. Dia mengepalkan tangannya di samping badannya. Pengawal itu menunduk sopan dan naik ke mobil di depan mobil yang di naiki Ri Ahn. Ho Young mendekati pintu mobil dan mengetuk kaca jendela itu. Supir yang sigap menurunkan jendela. Posisi Ri Ahn masih sama.
"Kirim pesan jika kau sudah sampai. Kakakm--"
"Pak bisa kita berangkat!?" Agak keras Ri Ahn bertanya kepada supir. Pak supir itu kaget, takut melirik bosnya yang mengerutkan kening karena perkataannya di potong.
Ho Young diam sebentar, lalu dia menarik pintu dan terbuka. Hati Ri Ahn ciut, dia juga takut akan tetapi dia harus berusaha tegar dan tidak terintimidasi. Pria itu naik ke mobil dan duduk di samping Ri Ahn.
"Pak Lee, anda bisa keluar dulu." Katanya pada pak Lee sang supir yang telah bekerja padanya sejak pria itu masih muda.
Tanpa menjawab, pak Lee keluar dari mobil dan beridri sedikit jauh dari mobil. Di dalam mobil lain, mereka melihat pak Lee dan mengerti posisinya.
Ri Ahn mencengkram jok mobil di dekatnya tanpa terlihat Ho Young. Kepala Ho Young di buat menghadap padanya. "Kau ingin semua orang tahu kita bertengkar?" Ujar Ho Young.
Tapi Ri Ahn tetap diam, dia tidak menjawab apapun yang keluar dari mulut Ho Young.
"Kau mau bagaimana?" Tanya Pria itu.
Ri Ahn mendengus dan menarik bibirnya ke atas mengejek. Dia menengok ke samping. "Kenapa kau bertanya, bukakah kau yang mengatur semua hal."
"Jawab dengan baik Ri, atau--"
"Atau kau akan mengancamku seperti semalam di hadapan banyak orang? Anggaplah kau benar, kasihan sekali, dia menunggumu di rumah tapi kau bersenang-senang di luar, apa dia sudah tidak sanggup menyena---"
Sebelum dia menyelesaikan kalimatnya, lehernya sudah di cengkraman erat. "Apa kau merasa pantas menghina istriku hanya karena kau besar di lingkungan berbeda dengannya?" Cengkraman itu semakin dalam dan erat.
__ADS_1
Ri Ahn merasa lehernya bisa patah. Dia menegang tangan Ho Young ingin menariknya dari lehernya tapi dia tidak bisa, tenaganya kalah jauh. "Dia lebih baik darimu, JAUH!!!" Ho Young menghempaskan tubuh Ri Ahn menabrak pintu di sampingnya. Suara itu terdengar hingga keluar. Semua orang kaget dan kembali mengalihkan pandangan dari arah mobil.
Tangan perempuan itu mencari tumpuan, dia memegang sandaran yang berada di pintu mobil. "Tapi kau membuatnya seperti itu," Merasa harus membalas, Ri Ahn terus berbicara. "Apa aku salah?" Dia mengangkat kepalanya dan melihat Ho Young yang juga melihatnya. "Bukankah kau sendiri yang menjadikan dia seperti itu?"
Kilatan amarah di wajah Ho Young bisa membuat Ri Ahn kehilangan hidupnya saat itu juga. "Kau mencari wanita lain, sementara dia di menunggumu pulang. Jika dia lebih ba-- DENGAR BRENGSEK!!"
Ri Ahn berteriak karena Ho Young bersiap memukulnya atau menyumbat mulutnya dia juga tidak tahu, tapi sikap pria itu membuktikan dia akan menghentikan perempuan itu berbicara lebih lanjut.
"Jika dia lebih baik dariku, lalu untuk apa kau memintaku menikah dan membahas masalah intim di kontrak. Kau mencari orang yang bisa menyenangkan dirimu karena istrimu tidak sanggup lagi? Aku salah!?"
"Diamlah, atau aku benar-benar akan melakukannya disini." Ancam Ho Young pada Ri Ahn.
Ri Ahn berhenti, dia melengos.
"Jangan bicara seolah-olah kau tahu istriku!"
Perempuan itu diam, berbicara lebih lanjut tidak akan menguntungkan dirinya. Dia mengelus lehernya yang terasa sakit, air matanya turun tidak di minta. Dia berbalik ke arah kaca agar Ho Young tidak bisa melihatnya.
"Nona, di kulkas kecil itu ada minuman dingin." Kata Pak supir.
Awalnya, Ri Ahn tidak mengerti tetapi dari kaca dia bisa melihat arah pandangan pak supir. Malu melanda, buru-buru Ri Ahn menutup lehernya dengan rambut yang bebas dan menarik kerah bajunya ke atas.
.
Ho Young memukul dinding lift, dia bersandar ke dinding lainnya. Menghembuskan nafas berat dan panjang. Kenapa dia bisa memukul seorang perempuan, dalam pikirannya dia mengumpati diri sendiri.
Saat lift terbuka, seorang pengawal berbicara padanya. "Kak, sepertinya Ravi sudah tahu masalah tuan Gu."
"Biarkan saja, lebih baik dia yang mengurus masalah itu. Jangan ikut campur." Kata Ho Young.
__ADS_1
Tuang Gu adalah mitra bisnis lama HARI tapi saat ketua Cho Min Sik meninggal, dia menghianati HARI dan lari ke KOM. Meminta pertolongan kapada Ho Young agar di bebaskan dari HARI dengan imbalan dia akan memulai bisnis dengan KOM.
Sebagai pebisnis, tentu saja bekerjasama dengan Tuan Gu adalah keuntungan untuk KOM tapi etika dalam berbisnis menahan keserakahan Ho Young. Dia menangguhkan semua bisnis dengan Tuan Gu. Pada akhirnya dia menyerah dan mengembalikan semuanya pada HARI seperti janjinya.
"Minta anak buahmu mengurus Ri Ahn dengan baik di mansion Cho Min Sik. Bagaimana dengan Yooju dia bekerja dengan baik?" Tanya Ho Young.
"Seperti yang anda inginkan kak, saya juga meminta Hyunjoo adik Yooju agar menyamar menggunakan plastik wajah Ri Ahn. Untuk sementara tidak ada kendala.".
"Bagus dan jangan beritahukan ini kepada markas. Cukup kita saja yang tahu. Mengerti!?" Tegas Ho Young.
"Tentu kak." Jawabnya lalu dia pergi.
...🖤...
Sudah 2 hari sejak dia meninggalkan apartemen Ho Young, belum ada kabar tentang pernikahan mereka. Ravi, kakaknya juga belum pulang. Dia mendapat kabar tengah malam nanti dia pulang. Tidak ada pesan ataupun telepon dari Ho Young. Pria itu seperti menghilang di belahan dunia lain.
Kegiatan Ri Ahn masih sama seperti sebelumnya, dia berada di mansion dan hanya pergi jika ada masalah di bisnis HARI. Contohnya hari ini, dia baru saja memeriksa laporan uang masuk dan keluar dari bisnis club HARI yang berada di goyang. Tidak ada masalah lainnya. Dia menjadi lebih pendiam dari sebelumnya.
"Nona," Panggil Yooju. Ri Ahn balik melihatnya.
"Ada apa?"
Mengetahui identitas Yooju dan menyembunyikannya adalah simpatinya kepada Yooju. Dia gadis baik yang di manfaatkan menjadi mata-mata. Ri Ahn merasa perlu melindunginya sebagai seorang yang telah di bantu. Dia juga tidak melupakan Hyunjoo adik Yooju yang menyamar menjadi dirinya.
Mereka berdua sekarang menjadi pelayan pribadinya. Hyunjoo masih duduk di bangku SMA kini sedang menjalani ujian hingga mengharuskan dirinya berada di asrama beberapa bulan ke depan. Sesekali dia datang atas permintaan Ri Ahn.
.
.
__ADS_1
.