
Pertemuan pertama kita.
Gadis kecil bermain bersama saudaranya. Bersenda gurau sembari melempar jaring mainan ke kanal di depan rumah. Jembatan yang tepat berada di tengah sudah puluhan tahun di bangun masih kokoh membentang di kedua sisi, hanya catnya saja yang sudah menghilang dan memperlihatkan dasarnya. Belum lagi lumut menghiasi permukaan beberapa bagian. Tetapi walau begitu masih di gunakan hingga kini.
Ri Ahn menarik jaringnya, sekuat tenaga. Sayang, tidak kuat karena jaring itu terkait dengan batu di dalam kanal akhirnya dia terjatuh ke dalam air. Umurnya masih 4 tahun kala itu, saudaranya yang sudah remaja berlari dan melompat ke dalam air untuk menyelamatkan Ri Ahn.
Air yang masuk ke dalam lambungnya membuat perutnya sakit. Sudah payah dia diselamatkan, mereka sudah berada di atas. Gadis kecil itu terus menangis, dia terkejut sehabis jatuh dan berpikir tidak akan selamat. Beruntung, dia memiliki saudara yang menyanyanginya.
Beberapa saudara yang berada di tempat kejadian saling bersahutan bertanya pada Ri Ahn bagaimana keadannya. Dengan muka yang sembab air mata dia mengangguk menandakan keadaannya baik-baik saja.
Karena takut orang tuanya cemas, mereka memutuskan tidak pulang lebih awal. Sampai baju mereka kering dan sore datang menyapa. Ri Ahn pulang di temani saudara yang menolongnya tadi. Tangan mungilnya di genggam erat, takut-takut terjadi hal berbahaya yang akan menimpa sang adik.
Di tengah jalan, saudaranya bertemu dengan teman lama, dia meminta Ri Ahn menunggu sebentar disalah satu kedai minuman langganannya. Kakaknya hanya berjarak 5 meter dari tempatnya duduk, jadi dia tidak begitu khawatir.
Tapi Ri Ahn di takdirkan untuk berbuat baik hari itu, di ujung jalan anak-anak berumur sekitar 7-8 tahun sedang mendorong anak 5 tahun. 2 orang di antaranya memaksa anak 5 tahun itu untuk berlutut sembari memegangi rambutnya. Satunya lagi sedang memeriksa jaket anak itu, mengambil uang di sana.
Mereka tertawa demgan keras mengundang perhatian banyak orang, dari sekian banyak orang dewasa yang lalu lalang disana tidak ada satupun yang menolong anak itu. Ri Ahn mengambil botol minuman dan melemparkan ke arah 3 orang yang sedang tertawa.
Ketiga orang itu kesakitan dan beralih menatap Ri Ahn. Gadis kecil ini sudah berada di depan anak yang di bully. Bertolak pinggang, menantang ketiganya. Tapi ketiga anak pria itu malah tertawa terpingkal-pingkal melihat aksi heroik gadis kecil di depannya.
__ADS_1
Ri Ahn menyadari bahwa aksinya ini bisa membahayakan dirinya, tapi lagi-lagi rasa kemanusiaannya yang begitu besar, tidak bisa melihat kejahatan di depan matanya. Dia mengangkat dagunya, enteng. "Dasar anak-anak nakal!" Sahut Ri keras.
Saat Ri berteriak kencang, 3 anak laki-laki itu reflek mendorong Ri Ahn hingga dia terjatuh ke belakang. Badannya terbentur korban, lengannya berdarah karena tergores kerikil kecil. Saudara sepupunya yang mendengar teriakan Ri Ahn kaget berlari menghampiri adiknya, terlihat marah dan 3 anak laki-laki itu ketakukan
Hampir sejam mereka berada di rumah sakit, Ri Ahn melihat anak laki-laki tadi tersenyum padanya. Dia berbicara kepada Ri Ahn dari kaca kamarnya. Suaranya tidak terdengar tetapi dia bisa membaca gerak bibirnya. "Terima kasih, aku berhutang padamu. Seumur hidupku." Katanya.
Pertemuan kedua "Festival bunga"
Disepanjang jalan, Ri Ahn dan kedua orang tuanya menikmati pemandangan. Sesekali sang ayah melontarkan lelucon yang membuat keduan perempuan di sebelahnya tertawa.
Banyak orang yang datang, hari itu penuh dengan bising orang berbicara urusan masing-masing. Ri Ahn menunjuk jajan di salah satu penjual gerobak, Bhan chon. Dia meminta ayahnya membayar setelah dia mencicipi kue beras kukus khas Vietnam.
Seharian perempuan itu berkeliling, orang tuanya yang melihat dari belakang senang memandang sang anak bergembira. Dari belakang, datang anak laki-laki memakai seragam sekolah. Dia mengagetkan Ri Ahn, bahwa orang tuanya pun terkejut.
Dengan tidak bersemangat, dia mengenalkan dirinya. Mengingatkan Ri Ahn kejadian yang menimpa dirinya 2 tahun lalu. Dia banyak membahas hal tidak perlu sehingga Ri Ahn terus menngeryit. Orang tua Ri Ahn mengajak anaknya pergi dari sana. Mereka tahu bahwa Ri Ahn tidak nyaman.
Meski Ri Ahn tidak mengenalinya lagi tapi dia terus saja melihat kepergian perempuan itu, dia bisa melihat kebahagiaan di wajah gadisnya saat berbicara dengan orang tuanya. Dari jauh dia pandang sampai menghilang Ri Ahn dari jangkauan mata.
Pertemuan berikutnya, Aku sengaja
__ADS_1
Setelah pertempuran kedua, laki-laki itu mencari tahu tempat-tempat yang biasa di datangi gadis pujaannya. Sejak itu, dia terus mengawasi Ri Ahn, pernah beberapa kali pria itu mendekati pujaan hatinya akan tetapi tetap Ri Ahn tidak mengingat dirinya apalagi menghiraukan dia.
Walau terus seperti itu, dia tidak menyerah. Saat Ri Ahn sudah masuk kuliah, dia mulai lebih agresif mendekatinya. Contohnya ketika Ri Ahn berada di cafe dekat kampusnya, Liam Nguyen selalu mengawasinya. Kebetulan cafe itu sedang mencari pelayan. Tidak tanggung, dia di terima dan selalu memgambil pesanan dari meja tempat Ri Ahn duduk.
Sampai satu tahun lamanya, dia berada di cafe itu sebagai pelayan. Bahka teman-teman Ri Ahn sudah mulai menyadari bahwa Liam menyukai perempuan itu. Pernah sekali, dia di bantu melancarkan usahanya oleh teman Ri Ahn tetapi Ri Ahn tidak tertarik. Bahkan melihat wajah Liam saja tidak. Dia selalu sibuk dengan pekerjaan kampusnya.
Melihat sikap Ri Ahn ketika itu, dia cukup tahu diri, bukan menyerah. Setelahnya dia putuskan untuk berhenti sejenak, memikirkan masa-masa yang telah dia lalui untuk mengejar perempuan ini. Hampir seluruh hidupnya di bayang-bayangi oleh sosok Ri Ahn, tidak mudah jika dia harus mundur tetapi tahun-tahun yang dia telah lewati juga berat.
Sementara Ri Ahn, tidak ada yang berubah dari hidupnya. Sejak awak dia memang tidak pernah melihat keberadaan Liam Nguyen. Teman-temanya kala itu juga heran sekaligus kagum, bagaimana Ri Ahn bisa mengabaikan sosok Liam Nguyen yang telah lama mendekatinya.
Satu waktu yang jauh setelah hari itu, Liam kembali bertemu dengan Ri Ahn, di sebuah pesta pernikahan sepupu mereka. Tentu saja bagi Liam ini adalah takdir indah. Tapi bagi Ri Ahn yang tidak memiliki ingatan apapun tentang Liam, hanyalah angin yang lewat saja.
Sekali lagi dia di abaikan. Tapi abaian Ri Ahn kali ini berbeda efek terhadap pria itu. Dia tidak pergi seperti terakhir kali. Justru hal itu menjadi batu paling besar yang bisa dia pijaki untuk kembali memulai mengejar cintanya, pujaan hatinya. Anak kecil yang dulu menolongnya telah dewasa, dia tersenyum manis melihat kepergian taksi yang membawa Ri Ahn pulang.
Ketika dia mendengar bahwa Ri Ahn berada di Korea dengan bantuan mata-mata, orang yang dia bayar mencari tahu tujuan kekasih hatinya pergi. Ke Korea. Keputusannya kali ini lebih ekstrem, dia mengikuti orang-orang Vietnam bekerja di pabrik Korea. Lalu melebarkan sayap mengikuti sebuah geng daerah kecil bernama Huang.
Tidak ada niat lain selain mendekati Ri Ahn.
Kau milikku. Sampai ujung duniapun aku akan menemukan dirimu.
__ADS_1
Kata dia malam itu, ketika melihat sosok cantik berdiri dengan senyuman di wajahnya.
.