
Waktu menunjukkan pukul 12 malam, Restoran itu sudah tutup. Semua peralatan dan perlengkapan sudah selesai dibersihkan. Ri duduk menghadap ke jendela, melihat pohon bonsai yang tumbuh besar di dalam pot kramik yang di desain dengan ukiran-ukiran.
"Apa yang anak perempuan ku pikirkan?" Tanya Pham. Mengelus surai indah anaknya dengan sayang.
"Ayah, apa aku pernah menyulitkanmu dan ibu?" Ri bertanya tiba-tiba, membuat sang ayah melihatnya dengan serius.
"Tidak, Ri selalu menjadi anak yang patuh sejak kecil. Kenapa bertanya begitu nak?" Pham mendekat duduk di samping Ri. Dia menggenggam tangannya.
"Saat orang itu datang kesini, kalian tidak meninggalkanku dan tetap memperlakukan aku sama seperti sebelumnya. Aku hanya merasa itu bagai mimpi, mimpi indah."
Mai Lein Nguyen datang dari dapur. "Mimpi indah apa?" Ikut nimbrung dalam pembicaraan.
"Ah, anakmu bermimpi akan menikah." Ujar Pham, Ri tertawa. Sudah jelas, ayahnya menggoda sang istri.
"Sayang, itu mimpi indah benar. Tapi jangan terburu-buru. Oke?" Kata Lein.
"Ibu, ayah menggodamu!"
"Ibu tahu!"
Mereka tertawa, sampai lupa karyawan masih berada di Resto. Lan Ahn dan suaminya datang dari arah ruang ganti dan pamit pulang pada paman dan bibinya. Sebelum keluar dari pintu, Lan Ahn menjulurkan lidahnya ke arah Ri. Ri tertawa menyadari sepupu jauhnya itu belum membalas apa yang dia lakukan tadi. Karyawan yang lainnya juga sudah pulang bersamaan dengan kepergian karyawan dapur.
Lampu di matikan, Pham Minh thien meminta istri dan anaknya keluar. Lien dan Ri masuk ke dalam mobil lebih dahulu lalu mereka menunggu di depan sementara Pham mengunci pintu kaca. Motor Ri tidak dibawa pulang, dia ditinggalkan di sebelah restoran, tempat biasanya karyawan parkir kendaraan. Tempatnya aman, Ri tidak khawatir.
"Besok libur, bagaimana kalau kita piknik?" Saran Pham di dengarkan dengan baik oleh istrinya.
Ri berharap ibunya mengizinkan. Dia menggenggam erat telapak tangannya dengan mata berbinar-binar. Saat Lien mengangguk Ri legah, dia sudah lama tidak keluar rumaah selain urusan sekolah dan pekerjaan.
__ADS_1
Lien sedikit dilanda rasa cemas, rasa takut itu tidak bisa menghilang walau dengan sekali mengambil keputusan. Melihat tatapan berharap dari Ri dan ketika dia setuju anaknya bergembira, terlihat jelas dari ekspresinya. Dia juga ikut legah.
Malam itu Ri tidur sekitar pukul 4 pagi, sehabis mandi dia menyiapkan segala perlengkapan pribadinya termaksud kamera digital yang akan dia gunakan memotret. Ri bersemangat untuk pertama kalinya dia keluar bersenang-senang. Sebelum tidur, dia menghabiskan waktu berselancar di dunia maya.
Lalu, di atas layar muncul notifikasi dari salah satu aplikasi pesan berwarna hijau, tertera nama Tam. Tam memberinya informasi soal komentar di salah satu forum online berjudul, sekolah tanpa ID. Dia baru pertama kali mendengar forum itu jadi Ri memeriksanya. Di dalam forum itu terdapat komentar mengenai perekrutan yang tidak transparan dari sekolah yang baru saja dia datangi untuk wawancara.
Bias, untuk pertama kalinya dia mendengar ada hal seperti itu. Ri menarik layarnya ke atas dan melihat banyak komentar negatif. "Siapa yang membuat forum ini?" Katanya. Kemudian dia melihat profil dan mengirim pesan kepada orang itu.
Dalam pesannya, Ri bertanya dari mana dia mendapat informasi. Sesaat dia ragu, orang yang memposting informasi itu mungkin adalah saingan atau memang dia memang pernah bekerja disana dan melihat kecuragan. Tapi kenapa baru sekarang? Saat semua orang memilih sekolah itu menjadi sekolah paling banyak di tuju.
Namun, dia tidak mendapat balasan apapun setelah lama menunggu. Ri juga melihat keanehan dari forum itu. Dia banyak memposting informasi menjelekkan sekolah tapi tidak satupun membalas pertanyaan orang-orang di dala forum. Jika memang dia berniat membuka tirai dan membantu orang, seharusnya dia memberikan feedback. Tapi orang itu tidak.
Ri hanya punya 2 jawaban. Yang pertama, orang yang membuat akun itu takut indentitasnya terbongkar dan yang ke dua, dia berbohong. Di layar ponselnya nama Tam tertera, dia sedang memanggil. "Halo?" Sapa Ri.
"Kau sudah tahu siapa orangnya?" Tanya Tam dari sisi lain.
Wajah Tam di latar terlihat khawatir, dia melakukan yang terbaik untuk kedua tes tapi jika memang ada kecurangan, apa yang harus dia lakukan? Ri melihatnya. "Sudah aku bilang jangan khawatir. Kau melakukan yang terbaik, tunggu saja."
Tam menatap Ri melalui layar, dia menganggukkan kepala. "Kau benar, aku terlalu sensitif soal itu. Kau tahu, ini kesempatan terakhirku sebelum benar-benar menyerah."
"Lakukan yang terbaik, kita masih punya kesempatan sampai akhir." Kata Ri.
Mereka menghabiskan 1 setengah jam berbicara di telepon. Tam menyudahi percakapannya karena besok dia harus bekerja di swalayan. "Aku berharap ini bukan kali terakhir. Kau sudah mengejar mimpimu selama bertahun-tahun, jangan menyerah karena batu kecil di jalan." Motivasi sebelum Ri benar-benar menutup sambung itu.
Ah, helaan nafas itu terasa berat. "Aku berharap Tam lolos."
.
__ADS_1
Pagi mengembang, cerah tak nampak. Sejak subuh tadi air dari langit turun tak henti hingga pukul 7 pagi. Pham dan Lien sudah khawatir pada sang anak yang masih terlelap dalam tidurnya. Anak perempuan itu tertidur cukup lelap sehabis begadang, apalagi hujan ini menambah lelap berkali-kali lipat. Matanya memiliki lem kuat.
Orang tuanya pun tak membangunkan dirinya, mereka memandang hujan yang semakin deras di dalam melalui jendela kaca. "Kapan hujannya redah istriku?"
Sang istri menoleh. "Aku bukan tuhan, mengapa bertanya?" Kata dia. Sang suami yang tersentak, lantas berbalik. Dia tidak bermaksud seperti itu, sepertinya dia salah lagi.
Lien menyingkap sedikit jendela, percikan air masuk ke dalam membuat matanya berkedip beberapa kali. Lalu dia kembali menutupnya. "Sepertinya akan lama, apa tidak sebaiknya kita membangunkan anak itu?"
Mendengar usulan Mai Lien Nguyen, Pham menggeleng. "Apa dia akan sedih?"
Sekarang giliran sang istri yang menggeleng. "Tida akan, hujan turun dari langit. Itu sesuatu yang tidak bisa kita prediksi. Ayo bangunkan saja." Saran dia lagi.
Dia benar. Sang ayah naik ke kamar anak perempuannya. Dia mengetuk sebanyak 3 kali, lalu masuk ke dalam. Lampu belum menyala, tirai juga masih tertutup rapat, gelap. Sebelum tangannya menyentuh saklar lampu, pergerakan dari kasur mengalihkan matanya. "Ayah?" Panggil Ri.
Lalu dia nyalakan lampu. Gelap menjadi terang, mata Ri belum menyesuaikan cahaya yang masuk sebab itu dia menutup matanya sebentar. "Aakkh, sudah jam berapa, aku letat bangun?" Tanya dia.
Ayahnya menggeleng. "Baru jam 7 pagi, tapi-" Dia jalan ke arah jendela, menarik gorden berwarna abu-abu ke ke kanan. Ri turun dari ranjangnya dan melihat suasana di luar sana. Hujan. Cepat, kepalanya berputar menengok sang ayah. "Hujan?"
Ri mundur dan duduk di pinggi kasurnya. Matanya fokus menatap jendela yang basah. "Ah, hujan. Aku pikir hari ini akan cerah seperti kemarin." Lesu.
"Ya, seperti itu keadannya nak. Bagaimana, mau turun sarapan atau mau lanjut tidurnya?" Ayahnya mengelus rambut panjang Ri.
"Mau sarapan." Ri masuk ke kamar mandi, cuci muka dan turun bersama ayahnya.
.
.
__ADS_1
.