
Langit senja mulai temaram tenggelam di ufuk timur. Toko malam hari mulai terbuka satu persatu menawarkan hidangan untuk para pengunjung. Riuh kanan kiri mulai terdengar, suara pelanggan juga suara pemilik toko bersahutan menjalin harmoni yang erat.
Ri dan teman-temannya duduk di salah satu meja panjang depan pantai. Sehabis mereka berdiskusi, Xuan Manh dan Guan mentraktir mereka jajanan malam yang tidak bisa dilewatkan jika berkunjung ke rumah Ri. Tidak lagi malu-malu Xuan Manh duduk di samping Ri, tepat di samping kirinya.
Dia juga banyak berbicara kepada wanita itu. Merasa beban dalam hatinya seperti di angkat Berbeda dengan Ri, wanita itu hanya membalas seadanya saja, tidak risih tidak juga suka. Van sampai takut melihat kondisi dua manusia yang berbeda itu.
Semakin larut semakin banyak pengunjung yang datang. Meja mereka juga sudah di penuhi makanan. Asik menikmati hidangan Ri dikejutkan dengan tingkah Xuan Manh yang tiba-tiba. Pria itu mengambil makanan lalu meletakkannya di piring Ri. Padahal di dalam piring wanita itu sudah penuh oleh hidangan yang dia ambil sendiri.
Helaan nafas pelan dari Ri membuat Guan meringis. Dia mengambil cumi bakar itu dari piring Ri dan memakannya. "Eh di piring Ri masih banyK cumi, ini buat aku ya?" Kata Guan. Dia merasa jika tidak bertindak, Ri akan membanting mejanya.
Kelakuan Xuan Manh ini di dasarkan pada kebaikan singkat Ri yang menggeser minuman untuknya. Saat itu Ri sudah menjelaskan bahwa minum pria itu hampir terjatuh karena berada di ujung meja. Terjadilah kesalahpahaman dari satu sisi. Dalam pikiran Xuan Manh, dia telah mendapat lampu hijau.
Ekspresi tidak suka Xuan Manh saat Guan mengambil cumi yang dia letakkan di piring Ri menjadi tontonan semua orang. Ada yang kembali makan, seperti tidak terjadi apapun. Ada juga yang masih memandang Xuan dengan alis terangkat. Sementara Van tidak bisa membiarkan ini terus berlanjut. Dia harus menyelamatkan dunia terlebih dahulu.
"Ri bukannya malam ini ada urusan keluarga?" Tanya Van berpura-pura ingat sesuatu. Mereka yang tadi melihat Xuan Manh sembari mengangkat alisnya heran juga menimpali kata-kata Van. "Sepertinya cumi di piringmu bisa diberikan kepadaku," Ucapnya lalu tertawa.
Ri mengerti maksud Van. Dia berdiri dari kursinya. "Astaga, aku lupa. Maaf ya lain kali kita main lagi." Ri mengangkat tangannya dan melambai sembari berlari pulang. Semakin lama dia disana, makanannya tidak akan tercerna dengan baik.
Sepeninggal Ri, suasananya mendadak hening. Xuan Manh yang tadinya senang dari ekspresinya terlihat berbeda dengan wajah di tekuk. Van memberi kode pada teman angkatannya untuk bebincang. Namun, kode itu di salah artikan oleh sebagian temannya.
Mereka justru membahas soal masa lalu Xuan Manh dan Ri. Van menepuk jidatnya pelan.
"Jadi kak Xuan Manh ini suka Ri ya?"
__ADS_1
"Terlihat jelas kak, pantas saja Ri kabur."
"Eiy, kaburlah. Kak Xuan Manh kan pernah menolak Ri."
"Memangnya Ri pernah suka kak Xuan Manh? Bukannya cuma salah paham karena permainan?" Sahut pria yang duduk di sebelah Van.
Setelah itu semuanya terdiam.
.
Di jalan pulang, Ri melewati pedangan accessories yang berjejer sepanjang jalan menuju pantai. Ada pasar malam dan banyak lagi tempat pengunjung menghabiskan malamnya. Dia berhenti di salah satu gerai yang terlihat ramai pengunjung. Melewati beberapa orang yang berkerumun dan menemukan ikan-ikan lucu yang dijajakan di sana.
Lalu dia berjalan ke sebelahnya, makanan khas berbagai negara juga di jual di sana. Seperti, takoyaki, kue ikan, nasi goreng merah, dan juga eskrim viral dari turki serta makanan india. Ada banyak macam lagi. Ri melihatnya dengan mata berbinar. Dia terus berjalan sampai ujung gerai dan berbelok menuju rumahnya.
Ayah dan Ibunya menunggu di ruang keluarga. Drama kesukaannya telah habis 5 menit sebelum Ri datang. "Ri naik dulu ya." Ujar Ri, kedua orang tuanya mengangguk.
"Iya!" Balasan dari Ri terdengar agak jauh, dia sudah berada di lantai 2.
Ri ke kamar mandi, menyelesaikan ritualnya dan naik ke kasur. Ponselnya penuh dengan pesan dari group angkatan. Beberapa pesan pribadi juga menghiasi layar ponselnya. Dia memilah pesan-pesan itu berdasarkan nama pengirim. Dia hanya membaca pesan dari Van dan beberapa teman dekatnya dan membalas jika perlu.
Pesan dari Xuan Manh juga menghiasi panggung. Ri menekan pesan itu lama lalu memilih opsion hapus, sebelum membacanya. Jarum jam di nakas menunjukkan pukul 8 malam. Terlalu dini untuk tidur, dia mengambil buku tulis dan pulpen. Ri menambah deretan catatan kesehariannya di buku kecil berwarna coklat.
Menghabiskan waktu sekitar 2 jam, mata Ri lelah ingin beristirahat dengan nyaman. Dia letakkan buku itu di laci. Ikat rambutnya di tarik keluar dan dia masuk ke dalam selimut. Sebelum kesadarannya di renggut secara utuh, Ri melihat adegan aneh seperti mimpi melintas dalam ingatannya. Lalu dia terlelap.
__ADS_1
.
Kuliahnya selesai lebih cepat dari biasanya. Ri mengunjungi orang tuanya dan berencana pulang bersama. Dia berjalan ke restoran tempat kedua orangnya bekerja sebagai pengelola. Ditengah jalan yang lenggang, Ri melewati halte bus yang juga sepi. Sebelum dia berhenti di persimpangan jalan besar masuk ke dalam pusat pertokoan. Di tengah jalan seberang, ada seorang kakek terduduk di pinggir jalan sembari memegang kakinya kesakitan.
Ri menajamkan indra penglihatannya dan benar saja kakek itu kesakitan dengan barang dagangannya yang terjatuh ke aspal berserakan disana. Tidak ada orang, dia melihat sekeliling yang sepi. Dengan tekat membantu, Ri berlari ke seberang dengan cepat. Sebelum dia sampai ke tempat kakek itu, Ri merasakan tubuhnya tidak berjalan di aspal.
Saat matanya terbuka, hanya sebagian cahaya yang bisa masuk, ia sudah terjatuh dan berada di aspal dengan tubuh yang terasa remuk. Sayup-sayup dia mendengar teriakan orang-orang yang tadi tidak terlihat di jalan sepi. Sebuah tangan menyentuh pundaknya, dia merasakan kehangatan dari sentuhan itu.
Sentuhan erat yang lama kelamaan menjadi longgar. Ri berusaha berbalik ke sebelah, tapi sesuatu seperti menarik kepalanya tetap terjaga. Dia diangkat, dan di baringkan lagi. Tangannya yang memegang erat ujung baju yang berdarah itu mendadak lemas.
Sebelum tubuhnya berpindah lagi. Ri mendengar suara seseorang. "Semoga kau baik-baik saja!" Pelan dan sedih. Mata Ri terpejam, dia tidak merasakan atau mendengar lagi suara dari luar. Yang dia rasakan setelahnya seperti melayang di udara dingin.
.
Dalam tidurnya Ri meneteskan air mata, bulir keringat jatuh bersama di atas kening. Kedua tangan menggenggam erat selimut putihnya. Suara kesakitan keluar dari bibir membuat siapa saja yang mendengar ikut merasakan kesedihan kala itu.
Pahlawan yang telah menyelamatkan hidupnya. Dia berharap di suatu tempat yang jauh dan masih terjangkau, orang itu hidup bahagia bersama keluarganya. Sama seperti dirinya saat ini, berkat kebaikan dirinya dia bisa merasakan kehidupan sekali lagi.
Mata Ri terbuka pelan, dadanya nyeri setiap kali bermimpi masa lalu. Malam ini termaksud dari malam-malam yang sering. Tangan wanita itu terjulur ke wajahnya dan mengusap air mata yang jatuh.
"Aku juga berharap kau baik-baik saja!"
.
__ADS_1
.
.