Reflection, The Black Rose

Reflection, The Black Rose
Ep 17 : Agar tidak ketahuan


__ADS_3

Ho Young berada di ruangannya sendiri, dia tidak mengizinkan siapapun untuk masuk. Bahkan Yun menunggu dirinya bersama dengan para pengawal di depan. Amplop coklat itu sudah dibuka, isinya berhamburan diatas meja, begitupula flashdisk masih menggantung di laptopnya.


Dia menyalin semua data dan di masukkan ke dalam flashdisk baru. Dokumen asli dia simpan di tempat paling aman di ruangan itu. Barulah setelah selesai dia meminta Yun lewat pesan, memberi kabar kepada Darren.


Ho Young tidak pernah berpikir wanita itu akan memberikannya informasi dengan mudah, apalagi setelah kesepakatan dia dan Ri sudah selesai. Namun, wanita itu tetap membantunya. Apa aku terlalu jahat? Katanya dalam hati.


"Dia tidak sesederhana itu rupanya!" Ho Young menyukai wanita itu, senyum miring khas menghiasi wajahnya.


.


Di luar Yun meneliti Ho Young dengan matanya. Dia gelisah sejak kedatangan Ri. Apa yang dibicarakan oleh pria itu dengan ketua baru Geng HARI, dia menjadi penasaran.


Sementara Ho Young sudah tahu apa yang ingin di tanyakan oleh Yun ketika dia melihat tatapan wanita itu. Dia juga tidak tahu harus mengatakan apa pada wanita itu, terkadat kebenaran yang dia akui tidaklah menjadi kebaikan untuk orang lain.


"Ho Young, bisa kita bicara?" Permintaan Yun membuat anak buah Ho Young yang berada di sana mundur. Mereka tidak ingin berada dalam keadaan canggung.


Saat semua orang sudah keluar, Yun mulai berbicara. "Sebenarnya apa yang kau rencanakan dengan bertemu dengan ketua kelompok HARI."


"Hanya berbincang, dia ingin kelompok kita bertanggung jawab terhadap kematian Cho Min Sik."


"Lucu sekali, kenapa dia meminta pertanggungjawaban padamu sedangkan ayahnya mati karena orang lain." Sahut Yun tertawa, dia menertawai kebodohan dan ketidaktahuan Ri.


"Dia hanya menjalankan tugasnya sebagai ketua, kau juga tahu."


Yun tidak terlalu suka mendengar pria di depannya membela wanita itu. "Bisnis Geng HARI jadi seperti itu karena ulah ayahnya sendiri buka karena kita."


"Kau pikir dia tidak tahu? Dia juga tahu itu tapi..."


"Bukannya kau lebih aneh? Kenapa membela dia begitu."


Ho Young lumayan terkejut, dia tidak pernah melihat Yun emosional ketika berbicara tentang bisnis Geng.


"Karena itu dia ingin bertemu untuk membahas masalah bisnis." Ujar Ho Young.


"Jadi apa yang kau berikan?" Yun penasaran


Pria itu diam. Ketika Yun akan berbicara, ponsel Ho Young berbunyi. "Yun kita bicara nanti." Ho Young menghilang dari ruangan itu. Yun hanya melihat kepergiannya. Ini pertama kali dia harus di tinggalkan saat berbicara dengan serius pada pria itu.


Tentu rasa kesal mendominasi hatinya. Dia menelepon pengawal paling dekat Ho Young agar bertemu dengannya.


.


Dalam ruangan tertutup Ho Young berbicara dengan seseorang. Dari suara yang sempat keluar, penelepon itu seorang wanita.


"Jadi kakakmu sudah pergi?" Tanya dia pada wanita di seberang.


"Kau tahu?"


Ho Young tertawa. "Jangan bilang kau percaya kebetulan itu? Sungguh polos."


"Apa sebenarnya yang kau rencanakan, jangan mengusik kakakku!" Marah.

__ADS_1


Ho Young menjauhkan ponselnya sedikit dan tersenyum. Dia akan selalu tersenyum sekarang, tidak sabar.


"Kau tidak akan bisa membodohi Ravi dengan IQ mu itu. Aku hanya membantu agar dia pergi sebentar mengurus urusan lain. Jangan khawatir, dia tidak akan terluka. Takut sekali kau ini." Ejek Ho Young.


"Dasar brengsek!" Teriak Ri.


"Sama-sama." Kata Ho Young menyindir.


"Siapa yang berterima kasih padamu!" Lagi dan lagi wanita itu geram.


Diam, sunyi. Ho Young diam. Di bagian lain Ri tersentak karena suasana tiba-tiba menjadi aneh. Dia ingin bersuara tapi tidak ingin pria itu besar kepala. Apa aku berteriak terlalu kencang, sahut Ri dalam hati.


"Jangan lupa Kingdom Hotel pukul 02.00" Kata Ho Young sebelum mematikan sambungan telepon.


...🖤...


Ri menarik ponselnya dari telinga dan melihatnya sebentar. "Apa itu tadi? Dia marah?" Ujarnya tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.


Aku salah apa? Memang dia brengsek!


Di lempar ponselnya ke kasur empuk. Ponsel itu terbalik tak berdaya di antara bantal-bantal yang tersusun rapi.


Tok Tok Tok


"Nona, ini Baren." Sahut Baren dari luar.


Bergegas Ri membuka pintu dan mempersilahkan Baren masuk.


"Ada apa?" Tanya Ri.


Hah?


Ri terkesip, dia lupa.


"Aku tidak akan pergi kemanapun sampai kakaku datang." Seru dia gelagapan.


Baren mengangguk. "Sebaiknya nona, agar tuan Ravi tidak menghukum saya."


"Oh iya baiklah." Ri tersenyum canggung. Bagaimana nasib dia.


.


Malam tiba, waktunya Ri bertemu dengan Ho Young. Dia menelepon seorang pelayanan perempuan bernama Yooju dan meminta untuk menemui dia di kamar tapi Yooju harus berhati-hati agar tidak ketahuan oleh Baren begitupun orang lain.


"Nona." Panggil Yooju masuk ke kamarnya.


"Pakai ini." Ri memberinya pakaian tidur milik dia.


"Ini untuk apa?" Heran.


"Pakai dulu, nanti aku jelaskan."

__ADS_1


Yooju memakainya. "Sudah nona." Kata dia.


Ri melihat dengan seksama, dia memegang pundak Yooju dan memutar badan Yooju pelan. Setelah dia rasa cukup. Ri memintanya naik ke atas kasur.


"Naiklah."


Tapi Yooju tidak bergeming. Untuk apa dia naik ke atas kasur itu?


"Yooju, kau harus menyelamatkan dirimu."


Hah?


"Menyelamatkan diriku?"


"Pikirkan, jika aku tidak menyelesaikan masalah bisnis kelompok HARI hari ini, kediaman tidak bisa mendapatkan gajimu. Bagaimana dengan keluargamu? Bukankah mereka harus makan? Lalu jika aku tertangkap kau mungkin akan di pecat."


Yooju mengangguk. Tentu saja, lalu apa tugasnya?


"Nona, bagaimana aku harus menyelamatkan diri?"


Ri menepuk pundak Yooju yang polos bukan main itu. "Tidurlah, jangan berisik. Aku akan pulang sebelum orang-orang menyadarinya."


"Tapi bagaimana jika mereka masuk ke kamar anda?"


"Tenang saja, hal itu tidak akan terjadi. Selama itu masih jam tidur, mereka tidak akan menganggu bahkan jika itu kakakku sendiri.


"Baiklah Nona, tapi pastikan kau berhati-hati." Khawatir Yooju.


"Aku akan menaikkan gajimu jika misiku berhasil." Sebelum Ri keluar, dia memberikan kode agar Yooju menutup mulutnya. Wanita itu mengangguk, berulah Ri mengendap-endap keluar dari rumah.


Selama dia tinggal di rumah Cho Min Sik, dia menemukan banyak sekali celah. Hati-hati kakinya melangkah. Gerbang kecil yang berada di samping adalah salah satu celah paling aman yang dia temukan.


Ri bergegas.


"Siapa disana!?" Seorang pengawal dengan senter di arahkan ke dekat Ri. Untung saja Ri sudah bersembunyi di balik pohon besar yang tentu dapat menyembunyikan dirinya dengan sempurna.


Ri jongkok mengambil batu dan melemparnya ke bagian lain. Saat itu juga pengawal itu berlari ke arah berlawanan dengannya. Dia mengecek lagi dan berlari keluar karena gerbang itu terbuka lebar saat pengawal itu akan keluar berganti shift.


Dia tidak perlu khawatir dengan CCTV karena CCTV di gerbang sebelah sedang dalam perbaikan. Dia sudah mengatakannya berulang kali bahwa keadaan berpihak pada pelariannya.


Ri melihat mobil yang sudah di sediakan di bagian luar agak jauh dekat dengan lahan kosong yang tentu tidak berpenghuni dan tidak akan meninggalkan jejak dirinya. Dia naik dan mobil itu melaju membelah jalan.


Kingdom Hotel


Pukul 01.58 AM. Ri berada di lobby hotel. Dia duduk menyilangkan kakinya di sofa, menunggu Ho Young yang tak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Pakaiannya cukup sederhana, dia mengenakan jaket biru navy dipadukan kaos putih polos dan celana jeans. Beberapa kali melihat jam di tangannya.


Meski waktu menunjukkan tengah malam-tepatnya dini hari, pengunjung yang lalu-lalang tidaklah sedikit. Banyak dari mereka yang bercengkrama di luar dan lobby hotel dan beberapa duduk di sofa agak jauh darinya.


Dia memperhatikan keadaan sebelum akhirnya mengomel karena pria itu belum datang, sedangkan dia harus cepat pulang.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2