Reincarnation A Princess

Reincarnation A Princess
[SEBUAH CINCIN GIOK SIHIR] CH.38


__ADS_3

Judul:Sebuah Cincin Giok Sihir?


By. :@Mitsuki776


Vallerie menarik Rao dan menyuruh beberapa pelayan untuk mengambilkan makanan di dapur kerajaan. "Kukira kau tidak suka makanan istanaku" ucap Rao bingung. "tidak, aku bukanya tidak suka, tapi hanya tidak terlalu suka!. Lagipula makanan itu bukan untuku" ucap Vallerie menyeringai.


"lalu untuk siapa?" tanya Rao tidak mengerti. Vallerie kembali tersenyum polos.


🍁🍁🍁🍁🍁


Kini Rao dan Vallerie menuju tempat tahanan dengan membawa sebuah mangkuk dengan isi makanan bergizi di dalamnya.


Ketika Vallerie dan Rao memasuki ruang tahanan, seluruh prajurit yang tadinya bersantai panik dan gelabakan segera membereskan alat bermain mereka, beberapa prajurit juga segera berdiri dan memberi hormat pada Rao.


"Pangeran Sihon!" ucap semuanya serempak. Vallerie tampak menatap semua prajurit itu, di antara mereka terlihat dua orang yang tampak sangat ketakutan. sudah tentu para tahanan wajib mendapatkan makanan, jika ada yang mengkorupsi jatah makanan atau tidak memberi makanan pada tahanan sudah tentu mereka juga ikut di penjarakan atau bahkan di hukum mati, memang agak keterlaluan tapi begitulah ketetapan yang ada di kerajaan Sihon.


Vallerie meletakan mangkok makanan itu pada tangan Rao dan segera mendrkati kedua prajurit yang terlihat ketakutan itu. Mereka menunduk. Vallerie menatap mereka berdua "kalian... kenapa?" tanya Vallerie yang berpura pura tidak tahu.


"bisakah kalian berdua mengantarku untuk melihat para tahanan?" tanya Vallerie yang sudha tentu juga sengaja. Rao tahu maksud sikap Vallerie, jadi dia hanya diam mengamati saja.


"B Baik Tuan Putri!" ucap kedua prajurit itu mebunduk dan melangkah menuju sel-sel para tahanan. Vallerie mengamati dengan seksama dan menemukan seorang laki-paruh baya dengan umur 50 tahunan sedang lemas berbaring di lantai sala satu sel tahanan. Vallerie mendekat ke arahnya, itu membuat kedua prsjurit itu berwajah pucat sekarang.


"Tuan, ada apa denganmu?" tanya Vallerie lembut, laki laki itu menoleh, sepertinya dia sudah lama tidaj di beri makan, bahkan wajahnya sangat mucat dengan mata yang sendu. Vallerie masih menatap orang itu.

__ADS_1


"Buka sel ini!" perintah Vallerie pada dua prajurit itu. Prajurit itu tidak membuka selnya langsung, mereka lebih dulu menoleh ke arah Rao yang merupakan pemimpin sesungguhnya mereka.


"Lakukan apa yang dia perintahkan" ucap Rao dingin. Prajurit berwajah pucat itu pun segera membuka sel itu. Vallerie masuk dan menghampiri laki-laki itu, "Apa yang terjadi padamu?" tanya Vallerie menyentuh sedikit dahi dari laki-laki praruh baya itu, dia sakit.


"Apa yang kalian lakukan hingga tidak menyadar ada tahanan yang sakit?" ucap Vallerie sedikit terdapat kemarahan di sorot matanya. "K Kami tidak tahu Tuan Putri.." ucap prajurit itu takut-takut.


Kini Rao mengerti apa yang terjadi,"Kumpulkan semua prajurit yang menjaga tahanan di lapangan!" perintah Rao tegas, seluruh prajurit pun dengan cepat beranjak pergi dan menyusun barisan mereka. Sedangkan Vallerie menyuruh beberapa pelayan untuk mengurus tahanan itu untuk sementara waktu dan menyerahkan makananya.


Vallerie ikut turun tangan ke lapangan. "Apa saja yang kalian lakukan hingga tidak menyadari ada tahanan yang sakit?" teriak Vallerie marah. "Maaf Tuan Putri! saya menyadarinya, tapi kami sudah menugaskan prajurit Rui san Zhao untuk memberi makan mereka ..." tutur seorang prajurit dengan penuh hormat, dia tahu kalau dia tidak menjawab maka mereka semualah yang akan di hukum, itulah hukum dari kerajaan.


"Siapa Rui dan Zhao?" tanya Vallerie masih dalam nada tinggi agar mereka semua mendengar. Dua prajurit yang tadi berwajah pucat mengangkat tangan, Vallerie mendekati mereka berdua. "Jadi, jelaskan!" ucap Vallerie menatap tajam keduanya. Mereka berdua diam, itu membuat Vallerie kesal hingga mengeluarkan mata Fighternya dan membuat kedua prajurit itu mengambil pedangnya dan mengarahkanya ke ketubuh masing-masing.


Itu membuat keduanya terkejut dan berwajah pucat pasi. Tangan mereka bergetar mencoba menghentikan pergerakan mereka sendiri. "Jawab atau kubuat kalian kehilangan nyawa!" teriak Vallerie dengan sorot mata mereh menyalanya.


"T Tuan Putri!! saya mengaku salah! saya mempunyai dendam lama padanya dan keluarganya maka dari itu saya ingin membalas dendam!" tutur sala satu dari mereka dengan terburu buru dan penuh keputus asaan. "Baiklah ..., memang dendam apa yang kau punya pada mereka?" tanya Vallerie masih dengan sorot mata merah tajam yang menyala.


kedua prajurit itu segera berlutut memohon ampun. "Maafkan kami Tuan Putri! kami..kami salah maafkan hamba Tuan Putri!" ucap keduanya begitu putus asa, "Apa kalian ingin tahu bagaimana rasanya tidak di beri makan seperti orang yang kalian hukum itu?" tanya Vallerie menyeringai, ifu membuat keduanya ketakutan.


"Kalian para prajurit masukan dua prajurit ini ke dalam tahanan dan bisarkan dia merasakan bagaimana rasanya tidak diberi makan!" perintah Vallerie dengan sedikit berteriak lalu meninggalkan lapangan, dia ingin melihat tahanan yang tengah sakit itu.


Rao menghampiri Vallerie, "bagaimana kau bisa tahu?" tanya Rao di kala dirinya sudah sejajar dengan Vallerie, "tentang tahanan itu?, mataku bisa melihat kejahatan kejahatan apa saja yang ada di istana ini, jaid wajar jika aku tahu" ucap Vallerie berbohong lagi.


"matamu itu serba guna ya" tutur Rao yang membuat Vallerie tersenyum. Dia memang berbohong pada Rao, tapi dia berencana untuk tidak berbohong terlalu lama padanya.

__ADS_1


Vallerie kini berjalan ke arah kediaman tabib istana, Vallerie ingin melihat keadaan sang tahanan yang tadi ia selamatkan. Vallerie memasuki kediaman tabib dan melihat pria paruh baya itu telah sadar "Hallo tuan" ucap Vallerie menyapa, mendengar suara Vallerie sang tahanan terdiam tapi kemudian menuruni ranjang dan bersujud hormat pada Vallerie.


"Terimakasih! Anda telah menyelamatkan saya! terimakasih!" ucapnya penuh ketulisan. Rao yang mendengar penuturan sang tahanan sedikit kesal, sebab sang tahanan itu sama sekali tidak memanggil Vallerie dengan sebutan 'Tuan Putri'.


"Panggil dia Tuan Putri Ocktavia!" tergur Rao dengan dingin, dia tidak pernah mencoba ramah pada siapapun apalagi tahanan yang pernah melakukan kejahatan. Tapi tidak dengan Vallerie, dia akan mencoba seramah mungkin pada Valllerie.


Mendengar penuturan Rao, sang tahanan sadar dia telah salah. "Maafkan hamba Tuan Putri!" ucap sang laki-laki masih bersujud, Vallerie tersenyum dan lalu menyuruh sang tahanan untuk duduk di atas kasurnya. "Tuan, saya rasa Anda telah banyak berubah setelah berada di tahanan, bukankah seharusnya dia di lepaskan Rao?" tanya Valleire sengaja.


Rao sedikit tidak suka dengan ucapan Vallerie, "Vallerie, sudah menjadi hukum kerajaan Sihon kalau seorang tahanan itu akan di hukum sesuai dengan perilakunya, dan dia mendapat hukuman di tahanan selama hidupnya karena dia telah melakukan banyak pembunuhan!" ucap Rao memberi pengertian.


Mendengar itu hati Vallerie sedikit sakit, sebab di dalam ingkarnasinya sebelumnya dia juga melakukan banyak kejahatan dan pembunuhan, itu benar-benar membuatnya sakit. Vallerie pun mengalihkan pandanganya pada laki-laki paruh baya itu. "Tuan Putri.." panggilnya yang kini merogoh saku celananya, di keluarkanya sebuah cincin giok yang terlihat seidkit lama, hanya perlu sihir cincin itu akan kembali berkilau seperti baru.


"Ambilah ini sebagai tanda terimakasih saya, saya mohon, saya ingin Tuan Putri memiliki ini" ucapnya tulus. Vallerie menerima cincin itu, karena itu juga termasuk hadiah dari misinya kali ini, Vallerie lalu memakai cincin itu "terimakasih" ucapnya.


Melihat itu Rao seidkit tidak suka, sekarang dia berniat untuk ikut memberikan sesuatu yang lebih berharga daripada cincin itu kepada Vallerie.


**TBC


SAMPAI SINI DULU YA


SAMPAI JUMPA


DAN JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK

__ADS_1


KALIAN


TERIMAKASIH**..


__ADS_2