
Judul:Misi Menyelamatkan Seorang Bocah
By. :@Mitsuki776._
Neji tersenyum. "Aku tidak akan membiarkan Nona lepas dariku" ucap Neji mengarahkan dagu Valleire agar mendongkrak dan menatap wajahnya.
"Baiklah terserah!" ucap Vallerie menepis tangan Neji. Neji tersenyum.
❄❄❄❄❄❄
Vallerie kini sampai di sebuah hutan yang menuju ke arah tebing yang tingginya mencapai blasan meter ke bawah. Di sana sudah terdapat seorang anak kecil yang di perlakukan dengan kasar oleh beberapa orang bertudung hitam.
Mereka adalah perampok yang biasanya akan menunggu mangsanya di sekitar hutan dan lalu membawanya ke pinggir tebing itu untuk di bunuh. Neji terkejut ketika mengetahui ada seorang anak kecil di sana, yang lebih menarik perhatianya adalah, bagaimana cara Vallere bisa mengetahui akan ada bahaya di wilayah ini? Apa tujuanya melakukan semua ini?.
"Hei bocah! kalau kau tidak berhenti menangis, aku akan segera memotong kepalamu dan melempar mayatmu ke bawah sana, seperti apa yang kami lakukan kepada orang tuamu, apa kau menginginkan itu?" ucap sala seorang perampok itu memukul tubuh sang bocah.
"Hikss... M..Maaf hiks" ucap bocah itu menangis. Vallerie ingin sekali menolong anak itu, tapi akan sangat berbahaya jika dia segera turun tangan. Setelah orang-orang itu sibuk dengan rampasan mereka, Vallerie keluar dengan membawa senjata pedang bersihir es milik kerajaan Mibakawa yang dia dapatkan dari Pangeran Hyuga.
"Pedang berlambang kerajaan Minakawa?!, darimana dia mendapatkan itu!" batin Neji sedikit kesal, dia tidak pernah mau Vallerie terlalu dekat dengan anggota kerajaan Minakawa, terutama Pangeran Hanji yang statusnya sama dengan Pangeran Rao, yaitu pewaris tahta kerajaan.
Vallerie segera menebas para penjahat itu, selama ini dia tidak pernah bermain kotor. Namun kali ini, dengan pedang es yang sihirnya tidak terlalu kuat, pedang itu hampir sama dengan pedang pada biasanya. Dengan darah yang membanjiri tempat, juga beberapa noda darah di bajunya membuat dirinya tampak mengerikan di kala hujan juga turun sedikit demi sedikit.
Valleire membunuh semua orang itu dengan mudahnya, namun kini dirinya juga sempat terluka di bagian samping perut akibat tusukan dari sala-satu penjahat yang di bunuh Vallerie. Neji juga tidak berdiam saja, dia juga ikut menyerang para perampok itu dengan sihirnya, jadi di bajunya sama sekali tidak ada noda darah seperti yang ada pada Vallerie saat ini.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Vallerie pada bocah yang tampak ketakutan itu. Melihat Vallere yang bersimbah dengan darah, bocah itu takut dan malah berlari ke arah Neji, bersembunyi di balik tubuhnya seakan Vallere lah yang saat ini menjadi seorang penjahat.
Vallerie terdiam, biar anak itu takut padanya, itus sama sekali tidaj berpengaruh pada misinya, dia tetap akan mendapatkan apa yang seharusnya menjadi imbalan dari misi tersebut.
__ADS_1
Vallerie melangkah kembali, namun karena aliran hujan pada permukaan tanah membuatnya tergelincir dan secara tidaj sengaja terjatuh ke bawah tebing. Melihat itu, Neji segera ikut melompatkan diri untuk melindungi Vallerie dari alasan tanah yang keras di bawah sana.
Xixi yang tadinya hanya melihat pertarungan, segera terpabng dengab kecepatan tinggi menghampiri Vallerie. Dia masih ingin bersama Vallerie, dan tidak ingin kehilangan bosnya dalam jangka waktu secepat ini.
"Sial!" batin Vallerie di kala dirinya terjatuh ke bawah, dia juga sempat melihat Neji dan Xixi yang menuju dan ingin menggapai tubuhnya.
Vallere menutup matanya rapat.
BRUKKK
"Vallerie membuka matanya saat merasa dirinya tidak merasakan sakit apapun, melainlan rasa lembut yang nyaman juga pelukan hangat yang memeluk tubuhnya erat. Vallerie membuka matanya.
Dia segera bangkit, "aku tidak mati, dan kenapa alas pada tempatku jatuh ini terasa lembut namun agak basah" batin Vallerie heran. Neji ikut bangun dan bersyukur ketika melihat kekasihnya selamat tanpa luka, namun kini dia juga cukup heran dengan dirinya yang menjadi tameng Vallere saat jatuh, seharusnya dia merasa sakit.
Namun, bukanya merasa sakit dia malah merasakan perasaan hangat dan lembut yang sangat ketika dirinya terjatuh. Seperti tejatuh di permukaan bulu-bulu yang basah.
"Ah, maaf nona" ucap Xixi merasa bersalah dan menurunkan Vallere dari atas perutnya, begitupun dengan Neji(Rao)
"Aku tidak tahu kau punya kekampuan berubah menjadi besar seperti ini?" ucap Vallerie menatap Xixi dengan tatapan intimidasi, Vallerie bahkan tidak memperdulikan dirinya yang basah kuyub dengan guyuran hujan juga noda-noda darah yang mulai merembas ke seluruh pakaianya.
"Ini, kemampuanku yang lain nona, kumohon maafkan aku. Tapu berdasarkan misi nona tadi, bukankah imbalanya 300 poin dan kemampuan mengendalikan racun? bagaimana maksudnya?" tanya Xixi dengan yang berubah ke wujud semua dan membisikan seluruh kalimatnya itu di samping telinga Vallerie.
"Kemampuan Racun?" ucap Vallerie mengingat.
IMBALAN DI TERIMA
300 POIN+KEMAMPUAN PENGENDALIAN RACUN.
__ADS_1
UNTUK PENGENDALIAN RACUN, SILAHKAN DI TERIMA ULAR PITON MERAH KECIL SEBAGAI PERMULAAN LV.1 YANG KINI SEDANG BERADA DI BALIK POHON BESAR YANG ADA DI BELAKANG ANDA.
Kalimat itu segera muncul ketika Vallerie mengucapkan kalimat 'kemampuan Racun'.
Vallerie berbalik dan mendatangi pohon besar itu, di sana sudah terdapat anak ular piton yang berdiam di dahan pohon.
"Nona.." ucap piton merah itu, Vallerie terkejut, dia tidak menyangka ular piton itu akan bisa berbicara. Sedangkan Neji yang melihat ular piton itu segera mengarahkan pisaunya ke arah ular itu, Namun dirinya segera di hentikan oleh Vallerie.
"Dia miliku!" ucap Vallerie kesal. Vallerie mendekati piton itu, "kamu bisa berbicara?" ucap Valleire memastikan, "Iya nona, tapi mungkin hanya Anda dan saudara sesama saya yang bisa mendengar ucapan saya" ucap piton itu sambil mengeluarkan lidahnya.
"Kenapa begitu?" tanya Valleire tidak mengerti, mengaoa hanya dirinya yang dapat mendengar ucapan ular piton itu. "Ya, itu karena di antara kita telah terjadi kontrak yang di mana saya harus mengabdi kepada anda sebagai tuan saya, dan Anda yang akab meningkatkan kemampuan saya hingga ke level tertinggi." jelas ular itu pada Vallerie.
Neji yang melihat itu tersenyum, "dia bisa berkomunikasi pada ular.." batin Neji tersenyum. "Saat ini level saya baru mencapai Level awal, untuk meningkatkanya, saya perlu bantuan Anda sebagai tuan saya" ucap piton itu menaiki tangan Vallerie.
"Sebaiknha kau bersembunyi di sini dulu" ucap Vallerie membuka sebuah kantung yang berukuran lumayan becar untuk ular itu berdiam. Ular itu menuruti perintah Vallerie.
Vallerie tersenyum dan kemudian menggunakan sihirnya untuk mengeringkan tubuh Xixi yang basah. "sementara kita mencari gua dulu di sekitar sini untuk berteduh, Xixi berikan aku informasi" ucap Vallerie mengikat kantungnya dan menggantungkanya pada pinggang bajunya, tepat di sebelah kantung uang miliknya.
"Di dekat sini ada gua yang lumayan bisa kita tempati sementara, jaraknya hanya beberapa meter ke dalam hutan ini. Kalau kita kembali ke kota Phoxyee akan mencapai waktu lama mengingat ketinggian dari bawah ke atas tempat di mana Kota Phoxyee berada ada belasan meter jaraknya" ucap Xixi menjelaskan, Valleire hanya mengikuti saran Xixi untuk encapai gua terdekat saja.
"Dia benar-benar menarik, Vallerie.. ah tidak, sejak awal aku mencintaimu, kau adalah Eva, tak peduli tubuh siapa yang kau diami, aku hanya akan mencintai Valleire yang kini berada di depanku" batun Neji tersenyum
**TBC
SAMPAI SINI DULU YA
MAAF MEMBOSANKAN, SAYA MASIH BERUSAHA UNTUK MENGGMBANGKAN CERITA INI SAMPAI SELESAI
__ADS_1
MOHON KESABARANYA**...