
Lin Yi tidak ingin menjadi seorang yang cacat karena jalan kultivator tidak cocok bagi orang cacat, jika kultivator tersebut mengalami cacat fisik maka bisa dipastikan dia akan menjadi manusia biasa.
“Ayah, kakak, aku akan kembali ke kamar” ucap Lin Yi memaksakan senyum.
“Kakak akan menemani mu malam ini” jawab Lin Ya.
“Aku juga” sambung Lin Yu.
Lin Yi bersyukur mempunyai saudara yang sangat perhatian padanya, tapi kali ini dia ingin menyendiri untuk menenangkan pikiran nya yang kacau.
“Terimakasih kakak, adik ketiga, tapi aku ingin sendiri dulu” jawab Lin Yi sembari berjalan keluar kamar pengobatan.
“Ayah pasti akan menemukan obat untuk menyembuhkan mu” ucap Lin Cheng di dekat pintu sembari memegang bahu kiri Lin Yi.
“Terimakasih Ayah”
~•~
Di dalam kamar, Lin Yi sedang menangis mengingat dia tidak bisa lagi menjadi kultivator seperti sebelumnya.
Semilir angin malam masuk ke dalam melewati jendela yang terbuka.
“Menyedihkan sekali” ucap seseorang.
“Siapa di sana?” tanya Lin Yi yang tersentak kaget.
Terlihat seorang pria yang berpakaian serba hitam dan memakai setengah topeng ungu sedang berdiri di dekat jendela.
“Ranah Absolute God?!” ucap Lin Yi terkejut.
'Bukankah hanya leluhur benua tengah satu-satunya Ranah Absolute God?' batinnya.
__ADS_1
“Tenanglah, aku bisa menyembuhkan mu” ucap pria itu.
“Asal kau berjanji akan memenuhi persyaratan ku” lanjutnya.
“Apa persyaratan nya?” jawab Lin Yi tanpa ragu.
Pria bertopeng ungu itu memberitahukan persyaratannya pada Lin Yi.
“Setelah selesai, aku akan menunggu mu di sana--” ucap pria itu.
“Baik” jawab Lin Yi.
~•~
Lin Ye segera lari ke dalam kamarnya tanpa melihat kondisi Lin Yi terlebih dahulu. Di dalam kamar, Lin Ye mengeluarkan semua barang di cincin penyimpanannya, dia mencari kitab obat yang telah di curi nya dari tangan perampok.
Tumpukan koin emas dan perak memenuhi kamar Lin Ye, dia terus mencari kitab obat tersebut.
Lin Ye membaca kitab obat tersebut yang terlihat sangat tua, di dalamnya berisi informasi mengenai semua obat yang sulit di sembuhkan.
Lin Ye membaca setiap halaman dengan teliti berharap bisa menemukan obat untuk patah tulang.
“Resep obat patah tulang! Akhirnya ketemu!” ucapnya senang.
“Bunga darah biru hidup di gurun benua timur, bagian Utara dan hanya tumbuh seribu tahun sekali” Lin Ye membaca isi kitab tersebut.
“Hmm? Benua timur? Dimana itu?” tanya Lin Ye pada diri sendiri.
“Bahan obat yang satu ini cukup sulit, tapi sepertinya aku bisa memurnikannya”
“Aku akan bertanya pada ayah letak benua timur sekalian memberi tahu ayah dan ibu bahwa aku akan pergi ke sana untuk mencari obat untuk kakak” ucap Lin Ye keluar kamar sembari memegang kitab obat.
__ADS_1
Lin Ye berjalan menuju kamar ayah dan ibunya, tiba di depan pintu kamar, terdengar jeritan kesakitan dari kedua orangtuanya.
“Akkkkkkkhhhhhh”
“Ayah, Ibu, kalian kenapa?” ucap Lin Ye panik dan segera membuka pintu kamar orangtuanya.
Lin Ye membelalak melihat kedua orangtuanya telah mati bermandikan darah dan seseorang yang sedang menarik pedang yang menancap pada jantung ayahnya.
“Ayaaaaahhhh....Ibuuuuu!” teriak Lin Ye histeris melihat kematian kedua orangtuanya di depan matanya.
Orang yang telah membunuh kedua orangtuanya berbalik dan tersenyum pada Lin Ye.
Sekali lagi Lin Ye dibuat terkejut setelah melihat wajah orang yang membunuh kedua orangtuanya adalah orang yang dikenalinya.
“Adik keempat, kakak senang kau baik-baik saja” ucap Lin Yi sembari tersenyum.
“Lin Yi! Kenapa kau membunuh ayah dan ibu?!” ucap Lin Ye penuh penegasan. Terasa sesak di dada mengetahui semua kenyataan semua ini.
Lin Ya dan Lin Yu datang setelah mendengar teriakan Lin Ye.
“Adik keempat, ada apa?” tanya Lin Yu.
Lin Ya dan Lin Yu terkejut melihat kedua orangtuanya telah mati dan Lin Yi yang berdiri di sana dengan pedang berlumuran darah.
“Ayaaaahhhhh...Ibuuuuu!” teriak Lin Yu histeris melihat kedua orangtuanya tak bernyawa.
.
.
.
__ADS_1