Reinkarnasi Putra Kaisar Dewa

Reinkarnasi Putra Kaisar Dewa
Ch. 51 -- Kepergian Lin Ye


__ADS_3

Swoooosssshhhh


Dua tornado saling bertubrukan berusaha menelan tornado lawan.


Xiao Bai masih menjadi pusat tornadonya tanpa terpengaruh oleh serangan tornado dari lawan.


Melihat Xiao Bai yang tidak terpengaruh di dalam sana, salah satu ahli strategi memberi perintah.


“Alirkan energi bumi ke dalam tanah lalu seret tetua keluar dari sana.” perintah ahli strategi.


Prajurit yang menguasai energi bumi maju ke depan dan menempelkan kedua tangan mereka ke tanah.


Drrrrrrrrr


Terjadi getaran hebat di dalam tanah yang mengarah pada Xiao Bai.


Di saat itu pula Xiao Bai menghentakkan kaki dan--


Duarrrr


Terjadi ledakan di tempat kelima ahli strategi berdiri. Mereka melambung tinggi lalu jatuh dengan sangat keras.


Kelima ahli strategi itu mengalami luka dalam yang cukup serius. Mereka tidak sadarkan diri lalu ditopang oleh prajurit dan terbang tinggi.


Melihat sepuluh prajurit terbang sembari membopong ahli strategi, prajurit lainnya ikut terbang dan berniat melakukan serangan dari atas sana.


Xiao Bai kembali menghentakkan kakinya ke tanah.


Duarrr


Duarrr


Duarrr


Tanah yang tadinya datar berubah menjadi puluhan gunung yang berbentuk tabung serta lancip ujungnya.


Prajurit yang sedari tadi masih menjalani perintah dari ahli strategi untuk mengalirkan energi bumi ke dalam tanah mengalami luka dalam dan pendarahan.


Sedangkan prajurit yang melayang tak terlalu tinggi hanya mengalami luka ringan karena terkejut.


“Kita akan mati jika terus begini” ucap salah seorang prajurit sembari terbang tinggi.


“Benar, kita hanya menang jumlah” sahut prajurit lainnya.

__ADS_1


Salah satu ahli strategi memuntahkan darah segar, perlahan dia membuka mata dan melihat rekannya mengalami luka serius di bawah sana.


“Gabungkan kekuatan kalian, keluarkan semua jurus dan teknik kalian” ucapnya lalu kembali memuntahkan darah.


Prajurit yang mendengar ucapan temannya itu memberi mengoneksikan telepati kepada semua prajurit.


“Kita tidak boleh menyerah begitu saja, ini adalah latihan penghormatan dari tetua. Jadi keluarkan semua kekuatan kalian sebagai serangan terakhir” ucap sang ahli strategi lemah.


Prajurit yang mendengar itu kembali bersemangat. Mereka mengeluarkan jurus dan teknik terbaik yang mereka punya.


“Cepat selesaikan ini, aku tidak punya waktu untuk meladeni kalian satu per satu” gumam Xiao Bai.


Kembali ke pertaruangan Lin Ye.


Lin Ye berjalan sejauh mungkin menghindar dari pria yang sedang sibuk dengan api birunya sekarang.


Tanpa dia sadari, pria itu sedang berdiri tenang di depannya.


“Lin... Yi...!” lirih Lin Ye menatap pria di depannya.


“Kau masih saja lemah adik kecil. Ku pikir kau akan jadi kuat setelah pertarungan kita di ibukota” ucap pria itu yang tak lain adalah Lin Yi.


Lin Ye menoleh ke belakang dan ternyata yang sekarang sedang sibuk dengan api birunya hanyalah klon lalu dia kembali menatap Lin Yi.


Skiiiiippp!


“Itu bukan urusan mu!” tegas Lin Ye.


Lin Yi mengeluarkan pedang asli dan Lin Ye menjadi waspada akan hal itu.


“Sayang sekali pengajaran dari Lin Ya dan Lin Yu sia-sia” jawab Lin Yi lalu dia menghilang dan muncul tepat di depan Lin Ye.


Sreet


Netra Lin Ye membola menatap Lin Yi di depannya. Penglihatannya mulai kabur, Lin Yi telah menusuk tepat di jantungnya.


Dia mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya untuk menggerakkan kedua tangannya. Lin Yi masih menekan pedangnya di jantung Lin Ye.


Lin Ye membiarkan Lin Yi terus menekan pedangnya pada jantungnya. Jujur saja ini rasanya sakit, sangat sakit. Apalagi orang yang telah membunuhnya adalah saudaranya sendiri.


Dengan sisa kekuatannya, Lin Ye memeluk erat Lin Yi sembari tersenyum.


Netra Lin Yi membola, dadanya terasa sesak, sangat sesak. Bukan karena pelukan Lin Ye yang erat melainkan rasa yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata.

__ADS_1


“Aku... menyayangi mu kakak... huuuh... aku menyayangi mu...” ucap Lin Ye lirih, tak lama kemudian pelukannya terlepas, matanya terpejam di dada bidang Lin Yi.


Srakkk


Lin Yi mencabut pedangnya dan mundur beberapa langkah lalu Lin Ye ambruk ke tanah.


Netra Lin Yi buram tertutup air mata. Dia menatap langit dan tak terasa terdapat tetesan air di pipinya.


“Apa aku menangis?” gumam Lin Yi sembari terus menatap langit. Tak lama kemudian hujan turun dengan derasnya.


“Ternyata hujan” ucapnya sembari memejamkan mata.


Api biru Lin Ye masuk ke dalam tubuh Lin Ye dan tidak memperdulikan keberadaan Lin Yi.


“Tuan... tuannn... bangunlah... ayo bangun....!” Quzhujian berusaha memperbaiki organ tubuh Lin Ye yang terluka. Dia lupa satu hal, dia tidak bisa pengobatan.


“Adik Lin...!” teriak Lan Tian berlari tergesa-gesa.


Lin Yi membuka mata setelah mendengar teriakan Lan Tian. Dia melirik sekilas lalu Lin Yi pergi menghilang.


“Adik Lin!” ucap lirih Lan Tian sembari memeluk tubuh Lin Ye yang kaku.


Air matanya tersamarkan oleh hujan yang saat ini begitu deras seolah ikut meratapi kepergian Lin Ye.


TAMAT!


~•~


Terimakasih kepada pembaca setia RPKD dalam menemani hari-hari Lin Ye. Mohon maaf sebesar-besarnya jika ada kata-kata yang menyinggung kalian.


Sambil nunggu season 2 nya, ayo baca novel terbaru Runi yang berjudul N.



Hormat Saya,


IRUN INEARUN


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2