Reinkarnasi Putra Kaisar Dewa

Reinkarnasi Putra Kaisar Dewa
Ch. 32 -- Bertemu


__ADS_3

Malam harinya Lin Ye sedang bermeditasi di dalam ruangan nya. Tadi sore para pengawal Ye Yue menjemputnya di restauran. Duke Ye tidak memerintahkan pengawal nya untuk menyerang Lin Ye karena dia takut anaknya telah menyinggung kultivator hebat.


Tiga jam berlalu Lin Ye larut dalam meditasinya. Seorang pria berbaju serba hitam serta memakai tudung tiba-tiba muncul di hadapan Lin Ye yang sedang bermeditasi di atas ranjang.


Pria itu berdiri sembari memperhatikan Lin Ye dengan seksama. Tanpa sadar bibirnya tersenyum melihat Lin Ye di hadapan nya.


Sringg


Lin Ye menghunuskan pedang nya pada leher pria berbaju hitam itu. Ujung pedang nya menyentuh leher pria itu sehingga darah mengalir sedikit karena pedang Lin Ye yang sedikit menekan pada lehernya, tetapi pria itu tetap berdiri tenang meskipun nyawa nya sedang di ujung tanduk.


“Siapa kau?!” ucap Lin Ye dingin sembari menatap tajam pria yang tidak terlihat wajahnya itu. Pria itu tersenyum menanggapi.


Karena merasa diabaikan, Lin Ye segera menusuk leher pria itu.


Jleb


Pedang Lin Ye menembus leher pria itu, lalu tubuh pria itu berubah menjadi asap hitam yang tak lama kemudian menghilang.


“Teknik ini?” gumam Lin Ye terkejut melihat pria di depannya berubah menjadi asap.

__ADS_1


Lin Ye berdiri di atas ranjang sembari mengedarkan pandangannya. Dia merasa jika pria itu masih berada di kamarnya.


Sring


Lin Ye menodongkan pedang nya pada pria yang tiba-tiba muncul di sudut kamar.


“Akhirnya aku menemukan mu...” ucap Lin Ye yang tidak menyingkirkan pedang nya.


Pria itu membuka tudungnya ke belakang kepala sembari tersenyum.


“Yo...Lama tidak berjumpa adik kecil ku!” ucap pria itu yang tak lain adalah Lin Yi dengan senyuman manis di wajahnya.


“Apa kau baik-baik saja adik kecil ku? Jujur saja kelakuan mu sangat kasar pada nona bangsawan itu” ucap Lin Yi tersenyum.


Lin Ye sangat geram mendengar ucapan Lin Yi.


“Orang yang telah membunuh orang tuanya sendiri tidak pantas berkata seperti itu!” tegas Lin Ye sembari menahan air matanya agar tidak jatuh.


“Haha...aku lupa, maaf-maaf...” jawab Lin Yi yang malah tertawa tanpa tanpa dosa.

__ADS_1


Lin Yi memperhatikan Lin Ye yang sedang menahan air matanya dengan senyuman mengejek.


“Kau masih saja cengeng seperti dulu” ejek Lin Yi.


Lin Ye hendak menyerang Lin Yi tetapi muncul lima niat pedang sedang mengelilinginya dari depan sehingga dia tidak bisa menyerang Lin Yi dengan gegabah.


“Kenapa kau sangat tidak sabar untuk membunuh ku? Padahal aku ini adalah kakak mu” ucap Lin Yi memasang wajah sedih.


Lin Ye memegang erat gagang pedangnya karena perasaan sedih, marah, dan kecewa bercampur jadi satu.


“BERHENTI BERPURA-PURA! AKU SANGAT MEMBENCIMU! AKU SANGAT INGIN MEMBUNUH MU SEKARANG JUGA!” teriak Lin Ye yang tak kuasa menahan amarahnya, air matanya berlinang tanpa suara.


Suasana menjadi hening, baik Lin Ye atau pun Lin Yi tidak berbicara lagi.


“Kenapa kau sangat ingin membunuh ku?” ucap Lin Yi serius.


“Karena kau telah membunuh orang tua kita!” jawab Lin Ye yang kembali mendapatkan ketenangannya. Lin Yi tidak menjawab beberapa saat.


“Kenapa kakak tega membunuh ayah dan ibu? Jika itu disebabkan karena aku yang telah membuat kakak cacat, aku sungguh minta maaf” ucap Lin Ye dengan suara bergetar, air matanya terus mengalir merasakan sesak di dada.

__ADS_1


“Kakak pertama melarang ku dan kakak ketiga untuk membenci kakak kedua. Tapi setelah melihat kakak yang sama sekali tidak merasa bersalah atas kematian ayah dan ibu, aku jadi ingin sekali membunuh mu!” ucap Lin Ye penuh tekad.


__ADS_2