
Indentitas Lin Yi sebagai pemimpin dari kelompok pembunuh kalajengking merah telah diketahui oleh semua orang.
Kerajaan dan Kekaisaran yang pernah ia bantai melakukan aksi balas dendam terhadap Kekaisaran Lin. Kekaisaran Lin terkenal sebagai Kekaisaran termakmur di benua barat. Selain itu, Kekaisaran Lin juga merupakan Kekaisaran terkuat di benua barat.
Bukan tanpa alasan kenapa Kekaisaran Lin merupakan kekaisaran terkuat di benua barat. Itu karena semua penduduk di kekaisaran Lin merupakan seorang kultivator dan tidak ada manusia biasa di sana.
Penduduk yang tinggal di area perbatasan selalu ditempa menjadi seorang kultivator kuat untuk menjaga diri sendiri dari serangan mendadak.
Tidak hanya itu, keluarga kekaisaran Lin dianugrahi kekuatan yang dahsyat turun temurun. Biasanya anggota kekaisaran Lin dapat menyerap energi Qi dua kali lipat lebih besar dari kultivator biasa dan mempunyai ingatan yang kuat.
Jadi tidak heran mengapa keluarga kekaisaran Lin sering menggunakan teknik; atau jurus yang membutuhkan energi Qi besar, karena kebutuhan energi Qi mereka tidak pernah habis.
Semua kerajaan dan kekaisaran di benua barat sepakat untuk menghancurkan Kekaisaran Lin sama seperti Lin Yi menghancurkan kerajaan dan kekaisaran mereka.
Mereka menjadikan Zhou Jiao sebagai Kaisar karena dialah satu-satunya keturunan raja yang masih selamat. Sedangkan di kerajaan atau kekaisaran yang lainnya, semua anggota kerajaan telah di bantai habis oleh pembunuh kalajengking merah sehingga mereka mau tak mau menerima keputusan para tetua untuk menjadikan Zhou Jiao sebagai Kaisar Benua Barat yang artinya Kaisar dari seluruh kerajaan dan Kekaisaran di benua barat kecuali Kekaisaran Lin yang tidak termasuk ke dalamnya.
~•~
Seorang pengawal berzirah masuk ke dalam aula rapat dengan tergesa-gesa.
Brak!
Tatapan semua orang tertuju padanya memasang wajah marah.
“Lancang! Berani sekali kau mengacaukan rapat para petinggi!” bentak salah seorang petinggi.
“A-ampun Duke... saya tidak bermaksud mengacaukan rapat” jawabnya berkeringat dingin.
“Pengawal... penggal kepalanya sekarang juga!” bentak petinggi itu lagi.
“Ampuni saya Duke... saya hanya ingin menyampaikan informasi penting pada yang mulia kaisar!” ucap pengawal tersebut mencoba menjelaskan.
“Berani sekali kau--” bentaknya dan hendak menghukum pengawal tersebut.
“Tunggu Duke, biarkan dia berbicara” ucap Kaisar yang akhirnya membuka suara.
“Tapi dia--”
“Informasi apa yang kau bawa?” tanya Kaisar mengabaikan Duke.
Pengawal itu bertekuk lutut memberikan hormat pada Kaisar yang sempat dia lewatkan.
“Yang Mulia, benteng barat berhasil di jebol dan benteng selatan dalam posisi bertahan karena Jendral Yang Yi terluka parah. Sedangkan di benteng timur terjadi serangan dari spirit beast dari hutan jura. Di benteng utara terdapat keanehan dimana musuh tidak menyerang sama sekali.” ucap pengawal itu panjang lebar.
“Apa?!” ucap para petinggi serempak.
“Putraku... putraku berada di benteng barat!” ucap salah seorang petinggi dengan raut wajah cemas.
“Menantuku... apa yang terjadi padanya?!” tambah petinggi lainnya.
Kaisar memejamkan mata mendengar celotehan para petinggi yang mulai gusar sembari mengetukkan jarinya ke meja dengan tempo pelan.
Raooooorrrrrr....
Auman harimau menggelegar di dalam aula rapat, para petinggi yang tadinya sibuk sendiri akhirnya terdiam lalu mengalihkan pandangannya pada Kaisar.
Kaisar tersenyum tipis lalu membuka matanya.
“Akhirnya kalian berhenti juga” ucap Kaisar dingin.
Tiba-tiba seseorang muncul di samping Kaisar.
“Kakak, aku akan pergi kesana” ucap orang itu.
“Bawa Tiger bersama mu” ucap Kaisar yang tak lain adalah Lin Ya.
Lin Ye mengangguk lalu menghilang bersama harimau putih.
Lin Ya menatap dingin para petinggi sedangkan pengawal tadi masih dalam keadaan berlutut.
“Kalian bersiaplah untuk pergi ke medan perang. Aku akan menyusul nanti” ucap Lin Ya kemudian berlalu dari ruang rapat.
Para petinggi panas dingin mendenger mereka harus pergi ke medan perang, tetapi mereka tetap menjalani perintah Kaisarnya itu.
~•~
Lin Ye muncul di atas benteng yang menjulang tinggi. Dia memperhatikan musuh yang berhasil menjebol benteng kuat nan gagah itu.
Seorang prajurit menyadari kedatangan Lin Ye di atas benteng dan dia secara sembunyi-sembunyi naik ke atas benteng untuk menghampiri Lin Ye.
“Pangeran Lin Ye!” ucap sopan prajurit tersebut.
“Berapa prajurit yang tersisa?” tanya Lin Ye tanpa menoleh.
“Seratus orang Pangeran, dan pemimpin kami hanya tersisa kolonel Yu Gang” jawab prajurit tersebut.
“Namamu?” tanya Lin Ye.
“Nama saya San Ju Pangeran” jawabnya.
Lin Ye menoleh dan menatap lekat San Ju.
Jleb!
“Arrrgggh!” Lin Ye melempar pisau kecil tepat di jantung San Ju lalu tubuhnya jatuh dari atas benteng menimban tubuh tubuh prajurit di bawahnya.
Prajurit tersebut terpekik kala tertimban sesuatu yang berat.
“Sialan... apa ini?!” makinya kesal. Prajurit itu melihat mayat yang sangat dia kenal. Lalu dia mendongak ke atas dan melihat Lin Ye yang sedang menatap rendah ke prajurit di bawahnya.
“Itu Pangeran keempat!” teriaknya membuat yang lain ikut mendongakkan kepala.
Mereka terdiam kala melihat sosok Lin Ye di atas benteng dengan penuh kharismatik.
“Kuberi kalian pilihan, pilihlah dengan bijak... Pergi; atau Mati!” ucap Lin Ye penuh penekanan.
“3”
“...”
“2”
“...”
“1”
“SERAAAANNGGG!” teriak salah satu dari mereka yang berhasil membangkitkan semangat rekannya.
Mereka berlari menuju Lin Ye dan mulai menaiki benteng yang menjulang tinggi itu.
“Sayang sekali” gumam Lin Ye lalu melesat ke arah musuh yang naik ke atas benteng.
Clap... Clap
Lin Ye melemparkan pisau-pisau kecil pada mereka dan berhasil membunuh tanpa perlawanan.
Lin Ye terjun ke bawah sembari mengeluarkan api di tangannya lalu mengibaskannya ke bawah.
Swooooshhhh
Kobaran api begitu besar membakar prajurit yang berada di dekat pintu benteng. Api tersebut menghalangi jalan keluar benteng yang pintunya telah rusak.
Setelah itu Lin Ye melesat ke depan sembari mengeluarkan pedangnya.
Srat... Srattt
Gerakan Lin Ye begitu cepat ditambah teknik seribu bayangannya membuat musuh tidak bisa berkutik dan mereka hanya pasrah ketika kepalanya telah terpisah dari tubuhnya.
Clap... Clapp
Prajurit yang ragu-ragu menyerang karena melihat teman mereka mati satu persatu akhirnya harus mati karena tertusuk pisau kecil di kepalanya, ada juga yang tertusuk di leher dan jantungnya.
“Iblis! Serang Iblis itu bersama-sama!” teriak prajurit mencoba menyemangati teman-temannya.
“Jangan biarkan iblis itu hi---” suaranya tercekat ketika sebuah tangan mencengkram lehernya dengan kuat. “Arrrrghh” mata prajurit itu melotot dan tangannya mencoba melepaskan cengkraman tangan tersebut dari lehernya tapi cengkraman itu semakin kuat dan seperti hendak menusuk lehernya.
“Jika kau ingin mati, aku akan mewujudkannya.” ucap Lin Ye sembari menekan leher prajurit itu.
Tidak ada yang berani menyerang Lin Ye. Mereka ketakutan dan menatap iba rekannya yang akan mati di tangan Lin Ye.
Blessss...
Tangan Lin Ye berhasil menusuk leher prajurit tersebut lalu mencengkram tulang tenggorokannya dan setelah itu Lin Ye menarik tulang tenggorokan itu hingga keluar.
Sreeeepp...
Darah prajurit itu menyembur keluar setelah Lin Ye menarik tulang tenggorokan. Tangan Lin Ye berlumuran darah segar dari prajurit itu.
Lin Ye menendang mayat prajurit itu sebelum darah yang menyembur itu mengenai tubuhnya.
Bugh...!
Mayat itu menabrak prajurit musuh yang sedari tadi menonton aksi keji yang dilakukan Lin Ye.
Mata prajurit melotot melihat mayat yang begitu mengenaskan itu. Tubuhnya bergetar merasakan ketakutan serta kemarahan yang bercampur menjadi satu.
“Ka-kau... manusia mana yang tega melakukan hal seperti ini!?” bentaknya yang sudah dia ketahui sendiri jawaban atas pertanyaannya itu.
“Iblis... kita tidak boleh takut pada iblis itu... kita harus membalas dendam atas kehancuran kerajaan dan kekaisaran di benua barat!” bentak prajurit lainnya dengan penuh amarah.
“Benar! Para iblis ini harus dimusnahkan!”
“Kau menghancurkan tanah kelahiranku!”
“Iblis keparat! Ternyata kalian adalah keluarga iblis”
Berbagai umpatan mereka lontarkan pada Lin Ye sembari memegang senjata masing-masing.
Aura pendekar merembes keluar dari tubuh para prajurit itu yang berniat menundukkan Lin Ye. Tapi yang mereka lakukan sia-sia saja karena tubuh Lin Ye kebal terhadap aura pendekar ataupun aura pembunuh.
“Kalian terlalu banyak omong kosong!” ucap Lin Ye yang tiba-tiba menghilang dan muncul di tengah-tengah mereka.
Jleb...!
Lin Ye menancapkan tombak ke tanah lalu mengalirkan energi Qi pada tombak tersebut.
“Gawat... ini jurus pangeran ketiga!”
“Lari....!”
Semangat yang tadinya berkobar bagaikan api besar tiba-tiba saja menghilang.
Mereka berlari menuju pintu keluar benteng yang dijaga oleh kobaran api biru.
“Terlambat!” gumam Lin Ye.
Tombak yang ditancapkan Lin Ye mengeluarkan sinar dan muncul rambatan seperti akar di permukaan tanah yang merambat ke segala arah.
“Arrrrghhhhh”
“Tolongg akuuuuu!!”
“Tidak, aku tidak mau mati disinii” teriakan kesakitan prajurit menggema setelah terkena energi yang merambat itu.
Sedangkan prajurit yang lebih memilih menerobos api biru yang menghalangi pintu benteng, tubuh mereka tiba-tiba membusuk lalu meleleh menyisakan gumpalan daging, organ, dan tulang yang menjijikkan dipandang.
Benteng barat yang berhasil di jebol akhirnya dapat di rebut kembali. Para prajurit yang berada di depan benteng melihat semua kejadian itu dengan ngeri.
Lin Ye menatap ke arah pintu benteng yang terbuka lebar. Matanya bertemu dengan prajurit yang berada di luar benteng.
“Munduuuuur!!!” teriaknya lalu mundur di ikuti oleh prajurit lainnya yang juga melihat kejadian mengerikan di dalam benteng.
Lin Ye menghela napas lega, “Syukurlah aku tepat waktu sebelum pertahanan barat benar-benar jatuh ke tangan musuh!” batin Lin Ye.
Lin Ye memperhatikan keadaan di di dalam benteng barat yang di porak porandakan oleh musuh. Dia berjalan menuju salah satu sudut benteng setelah menyadari hawa keberadaan prajuritnya.
Terdapat lorong di bawah tanah, jari Lin Ye mengeluarkan api biru sebagai penerangan jalan.
Tak..tak...tak...
Lin Ye sengaja berjalan tanpa menyembunyikan keberadannya, suara langkah kakinya itu membuat prajurit yang sedang bersembunyi di sana merasa was-was terhadapnya karena berpikir musuh telah mengetahui persembunyian mereka.
Sring...
Lin Ye dikelilingi oleh prajurit yang melingkarinya sembari menodongkan pedang pada lehernya.
Lin Ye sama sekali tidak berniat melawan atas penghinaan terhadap Pangeran Kekaisaran Lin karena dia mengerti situasi prajuritnya itu.
“Pangeran keempat!” ucap salah seorang prajurit lalu berlutut.
Prajurit yang menodongkan pedang terhadap Lin Ye segera berlutut setelah mengenali wajah Lin Ye.
“Pangeran Lin Ye!” ucap prajurit sembari berlutut.
“Dimana para pemimpin kalian?” tanya Lin Ye.
“Yang tersisa hanya kolonel Yu Gang dan sisanya--”prajurit itu tidak melanjutkan kata-katanya.
“Sisanya gugur Pangeran, dan sekarang hanya tersisa seratus prajurit” jawab prajurit lain. “dan kolonel Yu Gang sedang terluka parah” Lin Ye mengangguk paham.
“Antarkan aku pada kolonel Yu Gang” ucap Lin Ye.
Salah seorang prajurit memandu Lin Ye ke salah satu sudut bawah tanah. Disana terlihat Kolonel Yu Gang sedang terbaring tak sadarkan diri dengan bertelanjang dada dan tubuhnya terbalut kasa.
Lin Ye duduk di samping Kolonel Yu Gang lalu menotok tubuh Kolonel Yu Gang.
“Uhuk... uhuk... Oeeeek” Kolonel Yu Gang memuntahkan darah hitam dari mulut dan perlahan membuka mata.
“Pangeran...” lirih Kolonel Yu Gang.
“Bantu dia duduk” perintah Lin Ye yang langsung dijalankan oleh prajurit.
“Telan ini dan ambil posisi lotus”
Kolonel Yu Gang menelan pil pemberian Lin Ye lalu mengambil sikap lotus yang di bantu prajurit.
Lin Ye duduk di belakang Yu Gang sembari menekan punggung Yu Gang menggunakan telapak tangannya.
“Jernihkan pikiran mu kolonel” ucap Lin Ye. Yu Gang mengangguk.
Ketika kolonel Yu Gang sedang menyerap khasiat pil, Lin Ye mengalirkan energi panas ke dalam tubuh Yu Gang.
Setelah beberapa menit berlalu, tubuh kolonel Yu Gang menjadi bugar kembali. Luka tusukan dan racun yang berada di dalam tubuhnya telah sembuh.
“Kolonel, tetap pertahankan benteng barat. Bangun kembali pertahanan di benteng ini dan--” Lin Ye menyerahkan sebuah gulungan pada Yu Gang. “lakukan apa yang ada di dalam gulungan itu” lanjutnya.
Yu Gang mengangguk mengerti lalu mengikuti Lin Ye dari belakang. Semua prajurit yang tersisa segera berbaris rapi dihadapan Lin Ye.
“Ku beri kalian pilihan... pilihlah dengan bijak... pulang; atau mati dengan terhormat” tegas Lin Ye dengan penuh wibawa.
“Mati dengan terhormat!” jawab prajurit serempak. Lin Ye mengangguk bangga.
“Bagus... kalau begitu kalian perkuat pertahanan benteng!” tegas Lin Ye lalu menghilang.
Lantas Kolonel Yu Gang memerintahkan semua prajurit membangun kembali benteng yang telah hancur.
~•~
Lin Ye muncul di atas benteng sembari melihat jauh ke depan. Sedangkan api birunya telah ia padamkan agar memudahkan prajurit membangun benteng yang lebih kokoh.
Ribuan prajurit musuh sedang berdiri gagah menunggu perintah.
“100 banding ribuan prajurit. Tidak heran jika benteng ini jebol.” batin Lin Ye.
“Setidaknya aku harus menunggu sampai benteng ini selesai.” gumam Lin Ye.
Beberapa menit kemudian, benteng berhasil diperbaiki dan lebih kokoh dari sebelumnya. Darimana mereka dapat bahan-bahannya? Tentu saja dari Lin Ye.
Lin Ye mengibaskan tangannya ke depan dan swoooshhh. Muncul api biru yang memisahkan antara benteng barat dan musuhnya.
Setelah melakukan itu, Lin Ye menghilang.
~•~
“Bagaimana? Apa masih belum ada pergerakan dari musuh?” tanya seorang prajurit kepada rekannya.
Rekannya itu menggeleng sebagai jawaban.
“Ini aneh, sebenarnya apa yang sedang mereka rencanakan?” tanya prajurit itu.
Lin Ye muncul di samping kedua prajurit yang sedang mengintai diatas benteng itu. Dia juga ikut memperhatikan musuh yang sama sekali tidak bergerak. Mereka hanya berbaris menunggu perintah.
“Tiger!” panggil Lin Ye.
Seekor Harimau seukuran kucing muncul dari balik bayangan Lin Ye.
Miaowww
“Cari tau keberadaan mereka” ucap Lin Ye.
Miaoooww
Tiger melompat dari atas benteng dan tiba-tiba tubuhnya berubah menjadi seukuran gajah.
Tiger memperlihatkan gigi taringnya lalu berlari mencari musuh.
Kedua prajurit baru menyadari keberadaan Lin Ye di samping mereka lantas segera memberi hormat pada Lin Ye.
“Salam hormat pada Pangeran Lin Ye!” ucap mereka sembari berlutut. Lin Ye mengangguk menerima penghormatan mereka.
“Bagaimana situasinya?” tanya Lin Ye.
“Sampai saat ini tidak ada pergerakan dari musuh. Kami sudah beberapa kali mengintai untuk menemukan apa yang mereka rencanakan. Tapi kami tidak menemukan apapun” ucap prajurit.
Di perkemahan musuh.
“Lapor jendral, musuh mengirimkan seekor harimau es kemari.” ucap prajurit pada jendral.
Brak
“Tidak bisakah mereka membiarkan ku minum!” gerutu jendral.
__ADS_1
“Gu Weiyi, kau harus mengalahkan mereka terlebih dahulu setelah itu kau boleh minum sepuasnya” ucap wakil jendral sembari merampas guci arak di tangan Gu Weiyi.
“Sepertinya begitu” jawab Gu Weiyi. “Bunuh Harimau es itu!” perintah Gu Weiyi.
“Baik Jendral!” prajurit langsung memberitahukan perintah Gu Weiyi pada prajurit yang lain.
“Ming Hao, apa ada orang kuat di sana? Aku tidak mau melawan tikus” ucap Gu Weiyi.
“Aku merasakan keberadaan Pangeran Keempat di sana. Bukankah dia lawan yang bagus?” jawab Ming Hao.
“Sangat bagus, aku tidak sabar untuk bertukar pedang dengannya” ucap Gu Weiyi sembari menyeringai. “Bagaimana rencananya--?” tanya Gu Weiyi.
“Sudah selesai sejak satu jam yang lalu” jawab Ming Hao ketus.
“Hahahah, kau sangat bisa diandalkan Ming Hao!” ucap Gu Weiyi sembari menepuk punggung Ming Hao.
Di luar perkemahan, para prajurit kesulitan menghadapi serangan Harimau Es. Harimau itu mengeluarkan napas es yang mampu membuat prajurit membeku setelah itu Harimau es akan menghancurkan prajurit yang membeku tersebut.
Gu Weiyi keluar dari tenda diikuti oleh Ming Hao di belakangnya. Dia berkacak pinggang sembari tersenyum lebar melihat para prajuritnya kewalahan menghadapi seekor Harimau.
“Ming Hao, bukankah mereka sangat lemah? Melawan harimau saja tidak becus. Aku tidak menyangka mereka bisa bertahan setelah tertiup angin” ucap Gu Weiyi.
Ming Hao menggeleng pelan mendengar ucapan sahabatnya itu.
“Kalau begitu bantulah mereka bodoh! Apa kau senang jika kita kehilangan banyak orang?” kesal Ming Hao.
Gu Weiyi mengerutkan dahi lalu menoleh ke belakang, “Kau saja cukup untuk melawan harimau itu.” ucap Gu Weiyi tersenyum penuh arti.
Tanpa pikir panjang Ming Hao langsung melesat menyerang Harimau Es yang sedang membantai pasukannya.
“Katakan pada mereka kita akan segera menyerang” ucap Lin Ye. Kedua prajurit itu mengangguk lalu turun dari benteng.
Lin Ye membuat dua kloning yang terbuat dari asap hitam.
“Ada apa?” tanya kloning Lin Ye.
“Pergilah ke benteng timur dan benteng selatan. Aku takut jika terlalu lama di sini mereka tidak akan bertahan” ucap Lin Ye.
Tanpa basa-basi lagi kedua kloning Lin Ye menghilang dan masing-masing dari mereka pergi ke benteng timur dan benteng selatan.
~•~
Salah satu kloning Lin Ye muncul di dalam salah satu perkemahan benteng selatan. Semua prajurit sedang berperang mempertahankan benteng selatan.
Ini adalah salah satu bukti kenapa Kekaisaran Lin merupakan kekaisaran terkuat di benua barat. Meskipun semua kerajaan dan kekaisaran bersatu untuk menghancurkan kekaisaran Lin, nyatanya hingga saat ini mereka belum menaklukkan satu benteng pun, meskipun benteng barat sempat kebobolan, tetapi dengan adanya Lin Ye benteng barat berhasil dipertahankan.
Lin Ye masuk ke dalam tenda dan melihat Jendral Yang Yi sedang terbaring lemas di sana.
Wajahnya pucat dan tubuhnya menggigil kedinginan. Tubuh jendral Yang Yi di selimuti beberapa kain untuk menghangatkan tubuhnya, tetapi itu sama sekali tidak berefek.
Hanya ada satu prajurit yang menjaga jendral Yang Yi. Prajurit tersebut mengalirkan energi ke kening jendral Yang Yi, tapi sampai saat ini belum ada perubahan pada Yang Yi.
Lin Ye berjalan cepat lalu duduk di samping jendral Yang Yi. Prajurit itu terkejut melihat Lin Ye yang tiba-tiba muncul, tetapi dia segera menyingkirkan keterkejutannya setelah melihat wajah serius Lin Ye.
Lin Ye segera mengambil alih mengalirkan energi ke kening Yang Yi. Energi panas dari api birunya ikut mengalir ke dalam tubuh Yang Yi.
Tak lama kemudian tubuh Yang Yi berhenti menggigil namun tubuhnya masih tetap dingin tetapi tidak sedingin tadi.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Lin Ye.
“Ada seorang mata-mata yang bisa merubah wajahnya, dia merubah wajahnya mirip hamba, lalu dia memberikan racun es pada minuman jendral Yang Yi” ucap prajurit itu. Lin Ye mengangguk.
“Lalu setelah keluar dari tenda jendral Yang Yi, salah seorang prajurit yang menyangka itu adalah hamba dia menyapa tiruan hamba, tapi dia tidak menjawab dan malah menyerangnya. Tak lama kemudian wajahnya berubah ke wajah aslinya” lanjut prajurit itu.
“Berapa lama perubahan wajahnya?” tanya Lin Ye.
“Sepuluh menit Pangeran. Itulah kenapa kita dalam posisi bertahan karena ternyata bukan hanya dia yang bisa merubah wajah. Kami dilanda kebingungan ketika menyerang karena kami tidak mengetahui dia lawan apa kawan? Kami melakukan cara bertukar kode agar tidak dapat dikelabui, ternyata musuh memperlajari kodenya” ucap prajurit panjang lebar.
Lin Ye mengangguk lalu memasukkan ramuan ke dalam mulut Jendral Yang Yi dan mendorongnya dengan energi Qi agar ramuan tersebut di telan oleh jendral Yang Yi.
Lin Ye mengeluarkan api kecil untuk menjaga jendral Yang Yi, setelah itu dia mengajak prajurit itu keluar tenda.
“Perintahkan mereka untuk mundur!” tegas Lin Ye. Prajurit itu mengangguk lalu menunggangi kuda menuju medan perang.
Lin Ye melompat ke atas benteng sembari memperhatikan para prajurit yang sedang berperang.
Kerugian berada di pihaknya karena prajuritnya kerap kali salah sasaran dan berakhir membunuh kawan seperjuangan mereka.
Sepertinya musuh mempunyai teknik rahasia sehingga Lin Ye dapat merasakan kebingungan prajuritnya.
Quzhujian muncul dari dalam tubuh Lin Ye lalu dia melayang di samping Lin Ye.
“Tuan, aku bisa melihat dengan jelas perbedaan mereka” ucap Quzhujian merasakan kekhawatiran Lin Ye.
“Bagaimana bisa?” tanya Lin Ye.
“Aku adalah inti api purnama, sehingga aku bisa melihatnya dengan jelas setelah mendapatkan energi dari bulan purnama sebelumnya.” jawab Quzhujian.
“Begitu rupanya. Apa kau bisa membantuku?” tanya Lin Ye.
“Tentu Tuan!” jawab Quzhujian.
Quzhujian membagikan penglihatnnya pada Lin Ye hingga kedua mata Lin Ye bungkus oleh api biru.
Netra Lin Ye membola ketika dia bisa melihat dengan jelas musuh yang sedang menyamar ditandai dengan wajahnya yang merah.
Quzhujian dapat membedakan antara lawan dan kawan tergantung pada warna wajah mereka. Jika dia melihat wajah prajurit berwarna biru itu artinya prajurit tersebut adalah kawan, dan jika wajah prajurit berwarna merah itu artinya prajurit tersebut adalah lawan meskipun ia berubah wajah sekalipun warna pada wajah musuh tetap merah.
Ketika pasukan Lin Ye mundur, pasukan musuh berusaha mengejar mereka, Lin Ye yang melihat itu langsung membuat pembatas dari api birunya agar pasukan musuh tidak dapat mengejar para prajuritnya. Alhasil pasukannya berhasil mundur tanpa ada yang tertinggal.
Mereka berbaris di depan benteng sembari berlutut pada Lin Ye yang berada di atas benteng.
Keadaan pasukannya sangat mengenaskan. Tidak ada satupun dari mereka yang tidak terluka, itu karena kebingungan yang terus menghantui mereka hingga mereka mendapat serangan dari musuh.
Di depan sana musuh ikut mundur setelah melihat pembatas api yang dibuat Lin Ye. Mereka memilih memikirkan cara selanjutnya agar terus bisa menekan mental prajurit Lin Ye.
Lin Ye mengeluarkan ribuan pil dari cincin penyimpanannya lalu memberikan pil tersebut menggunakan energi Qi nya hingga pil-pil tersebut melayang kepada setiap Prajurit.
“Cepat pulihkan luka kalian. Kita akan melakukan serangan balasan!” tegas Lin Ye penuh wibawa.
Para prajurit segera mengambil pil yang melayang di hadapan mereka lalu mengambil posisi lotus untuk menyerap pil tersebut.
“Quzhujian, apa kau bisa melakukan seperti ini pada semua prajurit?” tanya Lin Ye.
“Bisa, tapi aku butuh banyak makanan” jawab Quzhujian.
“Kau bisa memakan semua mayat itu” jawab Lin Ye sembari menatap ribuan mayat yang tergeletak di tanah.
Quzhujian mengangguk lalu melesat ke arah mayat-mayat yang tergeletak.
Booom
Quzhujian membakar semua mayat itu hingga menjadi debu tanpa ada yang tersisa.
Prajurit musuh yang melihat itu berpikir Lin Ye membakar semua mayat karena tidak ingin menimbulkan penyakit, namun kenyatannya bukan seperti itu.
“Andai bukan cuma wajah yang berubah tapi tubuh juga bisa berubah”
“Hmm... memangnya kau mau berubah jadi apa?”
“Aku ingin berubah jadi wanita, aku tidak tahu kapan aku mati, tapi sebelum itu aku mau menyentuh setiap inci tubuh wanita”
Plak!
“Hei... apa yang kau lakukan!?”
“Kau sudah menyentuh telapak tanganku, jadi singkirkan pikiran kotormu itu”
“Pftttt... hahahaha... bukankah telapak tangan nona Sindi sangat halus?”
Bugh!
“Tidak ada yang lucu bodoh!”
“Nona Sindi, apa kepalaku berdarah?”
“Tidak”
“Syukurlah!”
Skiiiip
“Apa kau bisa melakukannya sekarang?” tanya Lin Ye. Quzhujian melayang naik turun yang bermakna anggukan setelah itu Quzhujian membagikan penglihatannya pada setiap prajurit, kecuali musuh yang sedang menyamar.
“Apa ini?”
“Wajah mu kenapa jadi biru?”
“Loh, kenapa wajah mu berwarna merah?
Lin Ye mengeluarkan aura pendekarnya yang membuat prajurit berhenti terkejut lalu mendogakkan kepala mereka.
“Kalian bisa membunuh sepuasnya tanpa takut membunuh rekan kalian. Jika kalian melihat warna biru, itu berarti mereka adalah rekan kalian. Dan jika kalian melihat warna merah--”
Jleb!
Trang... Trang
Lin Ye menyeringai melihat prajuritnya sudah bergerak membunuh musuh yang sedang menyamar.
Jleb
Lin Ye menghilangkan api biru yang menjadi penghalang antara pasukannya dengan pasukan musuh.
“Kita harus membalaskan dendam rekan kita!” teriak salah seorang prajurit.
“Benar, mereka telah melakukan trik licik. Kita harus memperlihatkan kekuatan dari prajurit Kekaisaran Lin yang tidak mudah dikalahkan!” sahut prajurit lain.
“SERANGGGG!”
~•~
Kloning yang lainnya muncul di atas benteng timur dekat dengan hutan jura yang tidak termasuk ke dalam wilayah manapun.
Hutan Jura dipimpin oleh makhluk misterius yang tidak dapat diganggu keberadaannya. Tetapi sekarang spirit beast hutan jura berlarian keluar hutan lalu menyerang manusia yang ditemuinya sehingga pasukan Lin Ye dan pasukan musuh disibukkan oleh para spirit beast.
Samar-samar Lin Ye mendengar suara seruling dari dalam hutan jura. Lin Ye berspekulasi bahwa yang memainkan seruling tersebut adalah alasan dibalik para spirit beast keluar dari hutan.
Lin Ye melesat ke dalam hutan dan mencari keberadaan orang yang meniup seruling. Suara yang dihasilkan dari seruling tersebut sangat merdu tetapi sangat memabukkan.
Lin Ye tidak menemukan satu pun spirit beast di dalah hutan, mungkin semua spirit beast yang berada di sini sudah keluar.
Lin Ye terus melesat masuk ke dalam hutan, suara seruling semakin jelas menandakan dia sudah semakin dekat dengan orang yang meniup seruling itu.
Hutan jura terkenal dengan hutan yang tidak memiliki siang karena keadaan di dalam hutan terus menerus gelap tanpa adanya cahaya matahari.
Seorang pria berambut putih panjang sedang duduk santai di atas pohon sembari meniup seruling.
Rambutnya begitu panjang hingga menjuntai ke bawah. Lin Ye berjalan mendekat untuk melihat dengan jelas.
“Hanya kloning” ucap pria itu tanpa mengalihkan pandangannya.
“Apa kau yang telah mengendalikan para spirit beast itu?” tanya Lin Ye mengintimidasi.
pria itu mengabaikan pertanyaan Lin Ye.
Tuuuutttttt... Tut!
Bugh
Lin Ye terpental jauh menabrak pohon.
“Si*alan!” gerutu Lin Ye.
Lin Ye mengeluarkan pedangnya lalu melesat ke arahnya.
Tutututtttttt.... Tut... Tutt
Lin Ye terpental kesana kemari dan tubuhnya beberapa kali menabrak pohon.
Setelah Lin Ye berhenti terpental, Lin Ye menenangkan pikirannya.
Dia mengganti pedangnya dengan tombak lalu menancapkan tombak tersebut ke tanah.
Sretttt
Cahaya biru muncul lalu merambat naik mengikuti pria itu.
Pria itu dengan santai melompat ke pohon lainnya sembari meniup serulingnya.
Tutut... Tutut... Tut... Tut... Tutt
Boomm
Boommm
Boommm
Terjadi ledakan pada tanah yang dipijaki Lin Ye. Lin Ye melakukan gerakan salto untuk menghindari ledakan tersebut.
Sringgg
Duarrrrr
Pria itu mendapat serangan kejutan dari seseorang. Dia lantas melompat ke pohon lainnya namun terus menerus muncul pedang yang terus menyerangnya.
Lin Ye melihat seseorang yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Dia sangat familiar dengan aura orang itu.
“Lin Yi!” ucap Lin Ye yang langsung mengeluarkan panah phoenix nya untuk menyerang Lin Yi.
Lin Yi mengeluarkan niat pedangnya lalu menghalau serangan Lin Ye.
Lin Ye yang sudah hafal akan hal itu langsung menancapkan tombaknya ke tanah lalu energi biru merambat menyerang Lin Yi.
Lin Yi terbang menggunakan pedang aslinya lalu mengejar pria misterius tadi dan mengabaikan Lin Ye.
Tuttt... Tuttt
Terbentuk gumpalan angin yang menghalangi serangan niat pedang Lin Yi.
“Sudah kuduga kau akan berkhianat Lin Yi!” ucap pria misterius itu sembari mengeluarkan boneka manusia lalu menggerakkan boneka tersebut menggunakan seruling.
Boneka manusia itu langsung melesat menyerang Lin Yi.
Trang... Trangg... Trangg
Lin Yi menangkis serangan boneka manusia itu tanpa melepaskan niat pedangnya yang terus menerus menyerang pria itu.
“Dari awal aku tidak pernah bilang untuk menjadi anjing mu!” jawab Lin Yi santai sembari terus menangkis serangan dan sesekali melawan balik.
Sretttt
Muncul anak panah dari belakang dan berhasil menggores pipi Lin Yi.
“Lin Ye!” gumam Lin Yi.
Sretttt
Lin Ye kembali melontarkan anak panahnya kepada Lin Yi hingga membuat Lin Yi kesulitan karena harus menyerang boneka manusia serta menghindari serangan Lin Ye.
“Kau masih punya urusan dengan ku Lin Yi!” ucap Lin Ye penuh penegasan.
“Hahah... bahkan kau berhasil membohongi adik mu itu” ucap pria misterius.
Serangan dari niat pedang Lin Yi semakin brutal menyerang pria misterius itu.
“Kau tidak terlalu banyak omong kosong!” tegas Lin Yi.
Tuttt... Tuttt...
Muncul pusaran angin yang menerbangkan niat pedang Lin Yi.
Duar...
Ledakan terjadi kala Lin Yi menghindari pusaran angin tersebut dan terus ditekan oleh Lin Ye dan boneka manusia.
Lin Ye tidak menyukai jika urusannya dan Lin Yi di ganggu oleh orang lain, Lin Ye pun akhirnya memutuskan untuk menyerang pria berambut putih itu.
“Phoenix Splittt”
koakkkk
Panah phoenix Lin Ye melesat ke arah pria itu dengan sangat cepat.
Tiba-tiba saja tubuh pria misterius itu tidak dapat di gerakkan.
Boommm
Panah phoenix Lin Ye berhasil mengenai tubuh pria misterius itu lalu Lin Ye melemparkan pisau kecil padanya.
Clap... Clapp
“Arrrrgggg” Pria misterius itu menjerit kesakitan setelah mendapat tusukan di bahu dan perutnya.
“Sudah cukup bermain-mainnya anak muda” Pria misterius itu mengeluarkan aura ranah absolute god yang mampu membuat Lin Ye dan Lin Yi berlutut.
~•~
Di benteng utara, Lin Ye tertegun merasakan kekuatan dahsyat dari benteng Timur.
Dia segera mengeluarkan kloningnya lalu kloning tersebut mengambil alih pertarungan antara dirinya dan Gu Weiyi.
“Oyy Oyyy... kenapa kau menggunakan kloning mu!?” tanya Gu Weiyi yang merasa tersinggung.
“Maaf Gu Weiyi, bisakah kau mendengarkan penjelasanku terlebih dahulu?” tanya Lin Ye. Selama pertarungan, dia benar-benar tidak berniat melawan Gu Weiyi.
“Apa kau sedang merendahkanku hah!?” sentak Gu Weiyi.
'Pria ini sungguh tidak bisa diajak berbicara' batin Lin Ye.
“Kalau begitu lanjutkan pertarungannya, aku akan pergi” ucap Lin Ye lalu menghilang.
Gu Weiyi berdecak kesal karena kepergian Lin Ye dan malah digantikan oleh kloningnya. Kloning Lin Ye merasakan kekesalan Gu Weiyi lalu tersenyum penuh arti.
__ADS_1
“Tenang saja, hanya untuk melawan mu tidak perlu menggunakan tubuh asli ku” ucap kloning Lin Ye yang membuat Gu Weiyi makin naik pitam.
~•~
“Absolute god?” ucap Lin Ye setelah memasuki tubuh kloningnya jantungnya berdegub kencang merasakan intimidasi yang sangat mengerikan dari ranah absolute god.
Di planet bintang merah ini Lin Ye hanya mengetahui satu-satunya orang yang berada di ranah absolute god adalah leluhur benua tengah dari cerita orang-orang.
Tubuh Lin Ye semakin tertekan dan dia batuk darah.
srettt...!
Pria misterius itu menarik benang yang sedari tadi membuatnya tidak bisa bergerak.
Bugh
“Arrrgh”
Seorang pria bertopeng rubah tersungkur ke tanah dan darah mengalir dari hidung dan mulutnya.
“Wolf!” ucap Lin Yi yang menahan sakit di tubuhnya.
“Aku tidak menyukai pria pengecut seperti mu!” ucap pria misterius itu penuh penekanan sembari menginjak kepala Wolf di bawah kakinya.
“Lepaskan dia Jing Mi!” tegas Lin Yi mencoba berdiri sembari memegang dadanya yang terasa sesak karena aura yang dikeluarkan Jing Mi.
Bugh...
Jing Mi menendang tubuh Wolf dan ditahan oleh Lin Yi.
“Quzhujian!” lirih Lin Ye.
Quzhujian membungkus tubuh Lin Ye yang membuat Lin Ye sedikit lebih baik meskipun masih merasakan sesak di dadanya tetapi tidak separah tadi.
“Wolf, apa kau masih bisa bergerak?” lirih Lin Yi. Wolf mengangguk lemah.
“Wolf, bawa adik ku pergi dari sini” ucap Lin Yi.
“Tidak, bagaimana dengan ketua?” bantah Wolf.
“Aku akan menghadapinya. Jadi cepat bawa Lin Ye pergi dari sini!” ucap Lin Yi penuh tekad. Wolf mengangguk lalu membelit tubuh Lin Ye dengan benang terkuatnya berwarna emas.
Duarrr
Setelah Lin Ye dan Wolf pergi terjadi ledakan sangat besar. Ledakan tersebut berhasil mengurangi aura penekan dari Jing Mi.
“Lin Ya... Lin Yu!” ucap Lin Yi dengan tubuh bergetar melihat kakak dan adiknya berdiri di hadapannya.
Lin Ya menoleh lalu menyentil kening Lin Yi. Pletak.
“Dasar adik tidak tau diri! Kau pergi seenaknya dan sekarang membawa kekacauan bagi Kekaisaran Lin. Kau sungguh membuat pekerjaan ku semakin banyak, apa kau ingin kakak mu ini mati muda!?” omel Lin Ya panjang lebar.
“Lin Ya... kenapa kau---”
Pletak
Lagi-lagi Lin Ya menyentil kening Lin Yi hingga membuat sang empu meringis kesakitan.
“Kau bahkan tidak menyebutku kakak! Apa yang terjadi pada otak kecil mu itu!?” sentak Lin Ya membuat Lin Yi mengerutkan dahi. Sedangkan Lin Yu menatap sinis pada Lin Yi.
“Apa kau lihat-lihat!?” bentak Lin Yi pada Lin Yu.
“Ck... Ckk... ” Lin Yu mengalihkan pandangannya pada Jing Mi lalu dia menyerang Jing Mi dengan tombaknya.
“Kakak... aku--”
“Nanti saja bicaranya, sekarang kita selesaikan dia terlebih dahulu” potong Lin Ya sembari fokus pada panahnya.
Lin Yi tersenyum lalu membantu Lin Yu menyerang Jing Mi.
~•~
Setelah beberapa menit berusaha akhirnya Lin Ye berhasil membakar benar emas milik Wolf.
“Apa kau masih membenci Ketua Lin Yi?” tanya Wolf.
“Itu bukan urusan mu!” tegas Lin Ye yang masih geram karena wolf membawanya pergi dari sana.
“Yang membunuh kedua orangtuamu bukan ketua.” ucap Wolf, “Apa kau mau mendengarkannya terlebih dahulu... setelah ini aku tidak akan memaksamu untuk percaya ceritaku” lanjutnya.
Lin Ye tidak bergerak, dia memilih untuk mendengarkan Wolf.
“16 belas tahun yang lalu, pada saat kau berusaha melarikan diri dari istana dan berakhir membuat cacat Lin Yi.
Lin Yi sangat frustasi mengetahui bahwa dirinya tidak akan menjadi seorang kultivator. Pada saat dia sedang frustasi, muncul seorang pria bertopeng yang berada di ranah Absolute God.
Seperti yang diketahui oleh semua manusia di planet bintang bahwa satu-satunya orang yang berada di Ranah Absolute God adalah Leluhur Benua Tengah yang tidak diketahui keberadaannya selama ribuan tahun. Bahkan ketujuh muridnya saja tidak diketahui.
Tapi ternyata Lin Yi menyadari satu hal. Ternyata ada orang yang bisa mencapai tingkatan tersebut, dan orang tersebut adalah Jing Mi, pria berambut putih tadi.
Pada saat itu Jing Mi menyembuhkan cacat pada tubuh Lin Yi dan mengangkat Lin Yi sebagai muridnya dengan syarat membunuh kedua orangtuanya lalu Jing Mi menghilang dan menunggu di hutan jura.
Lin Yi tidak bisa membunuh kedua orangtuanya. Pada malam itu Lin Yi masuk ke dalam kamar orangtuanya dengan perasaan campur aduk.
Kedua orangtua Lin Yi menyadari kekhawatiran Lin Yi dan dia membujuk Lin Yi untuk menceritakan semua yang dirasakan Lin Yi. Akhirnya Lin Yi menceritakan semuanya kepada mereka termasuk ancaman yang akan dihadapi oleh benua barat. Tidak, maksud ku planet merah.
Kedua orangtua Lin Yi tersenyum dan mereka berkata, “Kami akan selalu mendukung mu Lin'er”. Lalu kedua orangtua Lin Yi menyerang Lin Yi tanpa niat membunuh, setelah menyadari kedatangan mu. Mereka bunuh diri seolah-olah Lin Yi yang telah membunuh mereka.
Dan pada saat kau membuka pintu kamar, tepat pada saat Lin Yi mencabut pedangnya, rencana Lin Yi berhasil untuk membuat mu dan kakak-kakak mu membencinya agar kalian semakin kuat dan membunuh nya.
Setelah itu, Lin Yi membentuk kelompok pembunuh kalajengking merah dan berakting seolah menuruti setiap perintah Jing Mi.
Kelompok kami menghancurkan setiap kerajaan dan kekaisaran di benua barat, agar mereka menghancurkan kekaisaran Lin, tapi Jing Mi tidak mengetahui jika semakin ditekan, kekuatan keluarga kekaisaran Lin semakin bertambah.” ucap Wolf panjang lebar.
“Emangnya apa tujuan Jing Mi menghancurkan Kekaisaran Lin?” tanya Lin Ye.
“Dia ingin mencabut paku bumi yang berada di bawah istana. Di sana tersegel Raja Iblis Adalman. Tapi sayangnya itu tidak akan terjadi karena semakin kuat kaisar Kekaisaran Lin, maka segel tersebut tidak akan pernah terkikis oleh waktu. Sebab itulah tidak ada anggota kekaisaran yang lemah” jawab Wolf.
“Jadi Jing Mi adalah salah satu pengikut Raja Iblis Adalman?” tanya Lin Ye.
“Bisa dibilang begitu.” jawab Wolf. “Sejujurnya Lin Yi sama sekali tidak peduli jika semua kerajaan dan kekaisaran di benua barat bersatu untuk menghancurkan kekaisaran Lin, karena Lin Yi sendiri tahu kekuatan tersembunyi dari keluarga kekaisaran. dan untung saja Jing Mi tidak mengetahui fakta itu dan memerintahkan Lin Yi untuk menghancurkan mereka semua agar mereka bisa menghancurkan Kekaisaran Lin. Hahhh, lucu sekali”
“Siapa kau sebenarnya?” tanya Lin Ye.
“Aku adalah sahabat Lin Yi. Apa kau tidak ingat?” ucap Wolf sembari melepaskan topengnya.
“Xin Zixin!” ucap Lin Ye membelalakkan.
“Yo... apa kau masih manja Ye'er?” tanya Xin Zixin lalu menutup kembali wajahnya dengan topeng.
“Kenapa kau baru mengatakannya padaku!?” kesal Lin Ye.
“Hahah... aku tidak tahan melihat Lin Yi selalu murung di pojokan kamar” jawab Xin Zixin.
“Kak Xin, apa kak Lin Ya dan kak Lin Yu mengetahui ini?” tanya Lin Ye. Xin Zixin mengangguk.
“Itu artinya... hanya aku yang baru mengetahui kebenaran ini!?”
“Begitulah. Ye'er, mulai sekarang jika aku memakai topengku, kau harus memanggilku Wolf!” Lin Ye mengangguk.
Duarrrr
Booommmm
“Kita harus membantu mereka” ucap Wolf. Lin Ye mengangguk.
Lin Ye terbang menggunakan panah sedangkan Wolf berdiri di atas benangnya.
Aura Ranah Absolute God dapat dirasakan oleh kedua pasukan yang letaknya jauh dari hutan jura tetapi mereka masih merasakan tekanan dari hutan jura.
Lin Ye memperhatikan pertarungan antara ketiga kakaknya melawan Jing Mi. Meskipun kalah jumlah, Jing Mi masih unggul dalam hal kekuatan. Lalu Wolf bergabung menyerang Jing Mi.
Lin Ye mencari kelemahan pada gerakan Jing Mi, tetapi sayangnya Jing Mi tidak mempunyai kelemahan.
“Jika dia tidak memiliki kelemahan, maka aku akan jadi satu-satunya kelemahannya!” tegas Lin Ye.
“Quzhujian, ini saatnya kau bersinar!” ucap Lin Ye lalu mengangkat kedua tangannya.
Tercipta awan hitam serta petir di atas hutan jura membuat kedua pasukan dan spirit beast mendongak ke atas.
Roarrrrr
Terdengar raungan hebat yang memekakan telinga dan tak lama kemudian muncul seekor naga yang diselimuti petir dari balik awan hitam itu.
Naga itu mendarat tepat dihadapan Lin Ye sembari menundukkan kepala.
“Tuan, silahkan naik!” ucap naga itu. Lantas Lin Ye langsung naik ke punggu naga itu yang lain adalah bentuk asli dari inti api purnama.
“Quzhujian, kita harus mengusir mereka terlebih dahulu. Aku takut pertarungan ini akan berdampak bagi mereka” ucap Lin Ye.
Quzhujian mengepakkan sayapnya lalu terbang menuju medan perang yang tidak lagi berperang.
Mereka semua menggigil ketakutan melihat hewan mitologi itu terbang menghampiri mereka.
Lin Ye berdiri di atas punggung Quzhujian sembari berkata, “Larilah jika kalian ingin selamat. Jika ada yang merasa hebat, hadapi aku sekarang. Aku akan mengubah kalian menjadi debu” ucap Lin Ye lantang menggunakan energi Qi.
Pasukan musuh lari terbirit-birit meninggalkan perkemahan mereka. Zho Jiao ikut serta menatap Lin Ye yang berada di atas punggung naga.
“Kau juga harus menyelamatkan diri Zhou Jiao” ucap Lin Ye. Zhou Jiao mengangguk lalu pergi dari perkemahan.
“Tidak terkecuali kalian, cepat tinggalkan tempat ini dan bawa orang yang terluka!” perintah Lin Ye. Pasukannya itu mengangguk lalu bersiap melarikan diri.
“Gunakan binatang-binatang itu” tunjuk Lin Ye pada spirit beast yang mematung melihat naga.
“Bantu prajurit Tuan ku melarikan diri dan jangan sakiti mereka. Jika kalian membantah, akan ku bakar habis tubuh kalian” ancam Quzhujian.
“Kau, kau, kau dan kau selamatkan empat orang yang berada di hutan jura lalu bawa mereka pergi” ucap Quzhujian para spirit beast yang paling kuat diantara mereka.
Para spirit beast itu berlarian menuju benteng timur lalu meringkuk agar tubuh mereka mudah dinaiki oleh prajurit, sedangkan empat spirit beast lainnya mengikuti Quzhujian.
Awalnya para prajurit enggan menaiki spirit beast itu, mereka takut jika tiba-tiba saja spirit beast itu menyerang mereka, tetapi Lin Ye meyakinkan mereka bahwa spirit beast itu tidak akan menyerang jika diperlakukan dengan baik.
Akhirnya mereka pun memberanikan diri naik ke punggu spirit beast lalu meninggalkan benteng timur.
Setelah mengusir para prajurit, Lin Ye melontarkan beberapa panah phoenix menuju hutan jura.
Suara panah-panah tersebut terdengar seperti kembali api yang disulut.
Duarr
Duarrr
Seorang Ranah absolute god melayang diatas hutan jura. Dia menatap tajam ke arah Lin Ye.
Siungggg
Lin Ye kembali melontarkan panah phoenixnya pada Jing Mi, tetapi Jing melapisi tubuhnya dengan pelindung.
Quzhujian melesat cepat di iringi Lin Ye yang terus menerus melontarkan panahnya.
Rooaaarrrrrr
Quzhujian mengeluarkan api biru dari mulutnya berharap Jing Mi terbakar, tapi perisai yang dibuat Jing Mi sangat kuat.
Sementara di bawah sana Wolf, Lin Ya, Lin Yi, dan Lin Yu terluka akibat melawan Jing Mi. Meskipun mereka telah menggabungkan kekuatan, tetap saja tidak bisa melawan ranah absolute god.
Auuuungggg
Roarrrr
Grrrrr
Muncul spirit beast Harimau, Singa, Serigala, dan Macan kumbang berlari cepat menghampiri mereka.
Mereka pun bersikap waspada terhadap kedatangan empat spirit beast itu. Tapi keempat spirit beast itu meringkuk seolah berkata, “Cepat naik, kita harus pergi dari sini!” tapi sayangnya Lin Yi, Lin Ya, Lin Yu, dan Wolf tidak mengerti maksud mereka.
Seekor serigala menghampiri Lin Yu sembari mengeluskan kepalanya pada kepala Lin Yu, karena keempat spirit beast itu mempunyai ukuran sebesar gajah.
Setelah itu serigala itu langsung meringkuk berharap Lin Yu mengerti maksudnya. Lin Yu bingung menatap serigala yang terus menatap punggungnya itu, “Manusia bodoh ini, kenapa dia tidak mengerti maksudku!” batin serigala geram.
“Kau mau aku naik?” tanya Lin Yu. Serigala itu mengangguk seolah mengerti perkataan Lin Yu.
Lin Yu pun naik ke atas punggung serigala itu. Lin Ya, Lin Yi dan Wolf pun ikut naik ke punggung spirit beast yang meringkuk di depan mereka masing-masing.
Setelah mereka naik, keempat spirit beast itu berlari kencang meninggalkan hutan jura.
Duarrr
Booommm
Ledakan terus menerus terjadi di langit hutan jura. Bahkan kini keadaan hutan tersebut terbakan oleh api.
Serigala menoleh kebelakang melihat rumahnya terbakar.
“Rumahku!” pekik Serigala itu. “Selama ribuan tahun menghilang, naga itu kembali untuk membakar rumahku!? dan sekarang... seekor raja serigala menjadi tunggangan manusia!?” gerutu Serigala itu.
“Tenang saja, Naga itu akan memperbaikinya kembali” ucap Harimau.
“Benar, meskipun begitu dia tetaplah penguasa hutan jura. Dia tidak akan membiarkan kita tidak punya rumah” tambah Macan Kumbang.
Keempat spirit beast yang ditunggangi mereka adalah raja dari masing-masing kawanan mereka sendiri dan mereka juga merasakan apa yang serigala rasakan.
“Maafkan aku telah merepotkan mu” ucap Lin Yu sembari mengelus kepala serigala. Serigala itu merasa malu ketika di elus oleh Lin Yu.
Kembali ke pertarungan Lin Ye dan Jing Mi.
Jing Mi mengeluarkan pedang pusakanya lalu melesat ke arah Lin Ye. Lin Ye melontarkan anak panahnya yang diselimuti api biru.
Trang
Trangg
Jing Mi menangkis setiap panah yang dilontarkan Lin Ye padanya.
“Quzhujian, akan ku pastikan dia terbakar api birumu!” ucap Lin Ye sembari berdiri di atas punggung Quzhujian.
“Tapi Tuan tidak bisa terbang!” jawab Quzhujian.
“Aku punya kau yang bisa terbang!” ucap Lin Ye tersenyum hangat.
Lin Ye mengganti busurnya menjadi pedang.
Trangggg
Lin Ye menangkis serangan Jing Mi sembari melompat dari atas punggung Quzhujian.
Jing Mi tersenyum licik mengetahui Lin Ye tidak bisa terbang, lalu Jing Mi meraih tangan Lin Ye untuk di lempar ke bawah, tetapi sayangnya Lin Ye menempelkan telapak tangannya ke dada Jing Mi.
Bughhh
Jing Mi terpental dan tubuhnya terasa panas. Sedikit demi sedikit tubuh Jing Mi mengalami ruam dan semua lubang pada tubuhnya mengeluarkan darah.
“Arrrrghhhhh” teriakan Jing Mi begitu pilu ketika dia merasakan sakit pada tubuhnya.
Lin Ye pasrah ketika dirinya terjun dari atas langit dengan kecepatan tinggi. Quzhujian segera melesat dengan kecepatan tinggi untuk menyelamatkan Lin Ye.
Grab
Tubuh Lin Ye jatuh diatas punggung Quzhujian. Lin Ye tersenyum bangga pada Quzhujian.
“Kau memang bisa diandalkan kawan!” ucap Lin Ye lemas karena energinya telah habis.
Jing Mi jatuh ke tanah dalam bentuk gumpalan daging yang menjijikan. Quzhujian menghembuskan napasnya hingga api biru yang membakar hutan jura padam, lalu Quzhujian mengeluarkan energi kehidupan dalam tubuhnya hingga hutan jura kembali lebat seperti sebelumnya.
Zhou Jiao menghentikan peperangan yang terjadi, dia menjelaskan bahwa Pangeran Kedua Kekaisaran Lin benar diculik dan pikirannya dimanipulasi oleh musuh yang sebenarnya yang berada di ranah ablosute god.
Meskipun penjelasan Zhou Jiao nampak tidak bisa dipercaya, namun nyatanya ada juga yang berpendapat seperti itu karena mereka telah ditolong oleh Lin Yi setelah pikiran Lin Yi tidak dimanipulasi.
Akhirnya perang dihentikan, meskipun sebenarnya Kekaisaran Lin keluar menjadi pemenang, tetapi itu bukanlah yang terpenting dari semua ini.
Lin Yi meminta maaf pada semua kerajaan dan kekaisaran yang pernah dia hancurkan, dia di hukum menerima 1000 cambukan dan gelarnya sebagai Pangeran dicabut yang berarti sekarang dia adalah penduduk biasa tanpa gelar bangsawan.
Zhou Jiao menjadi perwakilan atas perdamaian antara semua kerajaan dan kekaisaran di benua barat terhadap Kekaisaran Lin, meskipun ada yang merasa kecewa karena telah menggabungkan kekuatan untuk menghancurkan Kekaisaran Lin, tapi nyatanya Kekaisaran Lin terlalu kuat dan tidak bisa diremehkan. Ini akan menjadi pr bagi mereka agar tidak bermusuhan dengan kekaisar Lin.
Dua tahun kemudian, Zhou Jiao diangkat menjadi Raja di Kerajaan Zhou dan tidak lagi menjadi kaisar gabungan antara Kerajaan dan Kekaisaran di benua barat.
~•~
“Aku tidak menyangka akan berakhir seperti ini. Jika pada saat itu aku tidak di tolong oleh Guru Xiao Bai, mungkin sekarang aku sudah mati dan tidak akan pernah tahu kebenaran tentang kematian kedua orangtuaku.” Lin Ye menatap langit-langit kamarnya.
“Kira-kira sekarang Tian gege sedang apa ya di benua tengah? Huuh... pasti banyak gadis-gadis di benua tengah yang menggoda Tian gege!” Lin Ye menggeleng pelan.
“Tak terasa dua tahun berlalu sejak perang besar itu... umurku pada saat perang terjadi adalah 14 tahun. Bukankah aku terlalu hebat diumur 14 tahun bisa mengalahkan ranah absolut god? Hahaha... ternyata aku memang hebat!” Lin Ye terkekeh pada dirinya sendiri lalu terlelap.
“Tidak ada musuh yang bisa melumpuhkan ku. Sekalipun dia adalah seorang tanpa kelemahan, itu salah! Karena satu-satunya kelemahan orang tanpa kelemahan adalah Aku, Putra Kaisar Dewa!” gumam Lin Ye dalam tidurnya.
Lin Yi yang sedari tadi bersembunyi di dalam lemari Lin Ye mendengar semua celotehan Lin Ye. Lin Yi menyembunyikan hawa keberadaannya di tingkat tinggi hingga Lin Ye tidak dapat menyadari keberadaannya.
Setelah itu dia keluar dari dalam lemari lalu tersenyum melihat wajah Lin Ye yang terlelap. Lin Yi menempelkan jari telunjuknya ke kening Lin Ye lalu mentrasnfer sesuatu.
“Sekarang kau pantas mempelajari niat pedang ku!” ucap Lin Yi tersenyum lalu menghilang dari kamar Lin Ye.
Lin Ye tersenyum kala merasakan keningnya disentuh oleh Lin Yi tanpa membuka mata lalu dia terlelap kembali setelah tidak merasakan kehadiran Lin Yi di kamarnya.
TAMATTTT
~•~
Novel baru!!
Judul : Pertempuran Nirwana
genre: Fantasi Timur
Author : Irun Inearun
Sinopsis:
Di negeri di mana tidak ada sihir. Negeri di mana yang kuat membuat aturan dan yang lemah harus patuh. Negeri yang penuh dengan harta dan keindahan yang memikat, namun juga penuh dengan bahaya yang tak terduga.
Tiga tahun lalu, Xiao Yan, yang telah menunjukkan bakat yang belum pernah dilihat orang selama beberapa dekade, tiba-tiba kehilangan segalanya.
Kekuatannya, reputasinya, dan janjinya kepada ibunya. Sihir apa yang menyebabkan dia kehilangan semua kekuatannya? Dan mengapa tunangannya tiba-tiba muncul?
__ADS_1
***