Reinkarnasi Putra Kaisar Dewa

Reinkarnasi Putra Kaisar Dewa
Ch. 19 -- Mulai Mengembara


__ADS_3

Lin Ye berlari menggunakan teknik meringankan tubuh membuat larinya sangat cepat. Tujuannya saat ini adalah mencari Lin Yi.


Dia melewati perbatasan Kekaisaran Lin dan disambut oleh daratan yang sangat luas. Lin Ye berlari selama tiga hari dan tanpa terasa larinya semakin lambat akibat kelelahan. Staminanya terkuras karena terus menerus berlari tanpa henti.


Selama tiga hari berlari dia belum juga menemukan desa untuknya singgah sebentar, di sekelilingnya masihlah daratan yang luas lalu dia memutuskan beristirahat di tengah daratan luas itu.


“Sepertinya tidak ada desa terdekat di sini” ucapnya sembari melihat sekeliling.


“Sebaiknya aku beristirahat dulu.” Lin Ye mengeluarkan botol air di cincin penyimpanan nya lalu meminumnya, setelah itu dia berbaring di rumput sembari menatap langit yang luas.


“Kakak, aku pasti akan menemukan mu” ucapnya kemudian tertidur. Angin sepoi-sepoi terasa sejuk membuat tidurnya semakin nyenyak.


Tidurnya sangat pulas menampilkan raut wajah teduhnya. Kejadian yang menimpanya membuatnya berubah menjadi sosok yang dingin, Lin Ye yang dikenal sangat periang sudah tidak ada lagi di planet ini. Yang sekarang memenuhi isi kepala Lin Ye saat ini hanya tentang menemukan Lin Yi.


Seorang pria paruh baya duduk di rumput tak jauh dari tempat Lin Ye tertidur sembari mengawasi kambing-kambingnya yang sedang memakan rumput. Dia bersenandung penuh dengan diksi-diksi indah yang dilontarkannya.


🎶Sendu risak sanubari


Pancarona wiyata; Janardana, Jejal


Ina hirap harsa


Eminser gundah gamang gulita


Merapah nabastala🎶

__ADS_1


Mbekkk... Mbeekkk


Kambing-kambingnya bersuara seperti menjawab senandung pria paruh baya itu.


Lin Ye mendengar suara berisik kambing dan akhirnya dia membuka matanya. Dia melihat seorang pria paruh baya sedang duduk tak jauh darinya lalu dia pun segera menghampiri pria paruh baya itu.


“Permisi senior, perkenalkan nama junior, Lin Ye!” sapa Lin Ye sembari menangkupkan tinjunya.


“Kau sudah bangun, Nak.” jawabnya sembari tersenyum.


“Terimakasih senior sudah menjaga Junior yang lengah ini” ucap Lin Ye penuh hormat.


“Aku hanya menjaga kambing, Nak” jawabnya.


“Maaf senior, apa senior tahu desa terdekat di sini?” tanya Lin Ye.


“Terimakasih senior, kalau begitu junior izin pamit” Lin Ye berlari ke utara menuju desa tersebut sedangkan pria paruh baya itu kembali bersenandung.


~•~


Antrian masuk desa sangat panjang dan terpaksa Lin Ye ikut mengantri. Pos pemeriksaan terbagi menjadi dua yaitu bagian kanan dan bagian kiri, sedangkan di tengahnya jalan besar khusus kereta kuda. Lin Ye berada di antrian kanan.


'Masuk desa saja kenapa harus mengantri?' batin Lin Ye.


“Cih, lama sekali!” ucap seorang pria berkepala botak di antrian kiri.

__ADS_1


“Woy, cepat sedikit!” bentaknya. Karena tak sabar pria itu pun keluar dari antrian dan berjalan menuju depan antrian.


“Minggir!” bentaknya pada seseorang di antrian paling depan.


“Mengantri lah dasar botak!” bentak pria yang disingkirkannya.


“Apa kau bilang?!”


Bugh


Pria botak itu langsung memukul wajahnya membuat pria itu tersungkur ke tanah lalu dia berbicara pada petugas.


“Cepatlah periksa, aku tidak punya banyak waktu di sini!” ucapnya pada petugas. Petugas tersebut langsung melakukan pemeriksaan pada pria botak itu.


“Hey!” ucap seseorang sembari memegang pundak pria botak.


Bugh


Pria botak itu tersungkur ke tanah mendapat serangan tiba-tiba dari anak berusia sepuluh tahun.


“Kurang ajar!” pria botak itu langsung mengeluarkan pedangnya dan langsung menyerang pria itu.


“Berhenti!” teriak seseorang.


Terlihat rombongan kereta kuda yang sangat mewah, semua orang yang berada di sana langsung berlutut sembari berkata.

__ADS_1


“Hormat pada Raja!” ucap mereka serempak, Lin Ye masih berdiri menghadap pos pemeriksaan dan tidak memperdulikan kehadiran orang yang disebut Raja tersebut.


__ADS_2