Reinkarnasi Putra Kaisar Dewa

Reinkarnasi Putra Kaisar Dewa
Ch. 20 -- Abaikan Saja Aku


__ADS_3

Pria botak itu juga ikut berlutut pada rombongan tersebut dan menyarungkan kembali pedangnya di pinggangnya.


“Apa yang akan kau lakukan pada Pangeran?!” bentak jendral pada pria botak.


“A-aku tidak tahu dia adalah Pangeran!” jawab pria botak itu.


“Kau pantas mati!” ucap jendral yang telah bersiap dengan pedangnya dan segera menebas leher pria botak.


Prangggg


Pedang yang di pegang jendral itu tiba-tiba patah ketika hendak menebas leher pria botak. Semua orang terkejut sedangkan jendral tersebut tampak marah.


“Siapa yang berani mematahkan pedang ku?!” bentak jendral sembari menatap sekeliling.


Dia melihat Lin Ye berdiri dengan santai menghadap pos pemeriksaan.


“Hey, bocah! Kenapa kau masih berdiri?! Cepat berlutut!” bentaknya menatap tajam Lin Ye.


Lin Ye menoleh sejenak melihat Raja di dalam kereta kuda dan Pangeran yang dilindungi jendral tersebut, kemudian dia mengalihkan kembali pandangannya pada pos pemeriksaan.

__ADS_1


“Abaikan saja aku,” ucap Lin Ye acuh.


Raja dan Pangeran mengerutkan keningnya melihat sikap Lin Ye yang acuh terhadap mereka. Bukan tanpa alasan Lin Ye bersikap seperti itu, dia adalah Pangeran Kekaisaran terbesar di benua barat sehingga pantang baginya merasa kagum pada seseorang. Apalagi ini pertama kalinya dia melihat dunia luar.


“Penjaga, apa kau tidak melanjutkan pemeriksaannya? Aku tidak ingin terlibat dengan mereka.” ucap Lin Ye. Penjaga gerbang itu terkejut melihat Lin Ye yang sangat berani meskipun ada penguasa di sana.


“Tunggu setelah Raja lewat” jawab penjaga itu.


Lin Ye berbalik dan segera berjalan menghampiri kereta kuda yang di tumpangi Raja. Para pengawal menodongkan pedang mereka pada Lin Ye sehingga dia berhenti mendekat.


“Hormat hamba pada Raja, apa Raja akan tetap di sini? Jika iya izinkan hamba untuk masuk terlebih dahulu dan membawa pria botak itu.” ucap Lin Ye sembari menangkupkan tinju pada Raja.


Zhou Wang terbelalak melihat keberanian pria itu, selama dia hidup tidak ada yang berani bertindak tidak sopan padanya. Ini adalah pengalaman pertamanya mendapat perlakuan seperti itu, tetapi dia tetap bersikap tenang.


“Kenapa kau sangat terburu-buru? Apa ada urusan mendesak di desa kabut?” tanya Zhou Wang ramah.


'Jadi nama desa ini desa kabut!' batin Lin Ye.


“Iya Raja,” jawab Lin Ye dengan hormat.

__ADS_1


“Pria itu boleh pergi, tapi kau ikut bersama kami” ucap Zhou Wang. Lin Ye bingung atas ucapan Zhou Wang, tetapi dia menyetujui permintaan nya.


“Baiklah” jawab Lin Ye. Zhou Wang tersenyum.


“Kau, pergilah dan jangan buat keributan di sini lagi” ucap Zhou Wang pada pria botak.


“Terimakasih Raja, terimakasih Pangeran!” ucap pria botak itu lalu berlari ke dalam desa tanpa diperiksa.


Zhou Jiao menghampiri ayahnya dengan wajah penasaran.


“Lepaskan dia” ucap Zhou Wang pada pengawal.


“Baik Raja” ucap pengawal yang tidak lagi menodongkan pedang pada Lin Ye.


“Kau tetaplah di sampingku” ucap Zhou Wang, Lin Ye hanya menurut dan berjalan di samping kereta kuda Zhou Wang.


“Siapa nama mu?” tanya Zhou Wang.


“Nama hamba Lin Ye Raja” jawab Lin Ye.

__ADS_1


“Lin Ye, aku Zhou Wang, Raja kerajaan Zhou dan ini putraku Zhou Jiao” ucap Zhou Wang.


“Salam hormat Raja Zhou Wang, salam hormat Pangeran Zhou Jiao” ucap Lin Ye sembari menangkupkan tinjunya.


__ADS_2