
Setelah mereka mati, Lin Ye segera merampas semua cincin penyimpanan dari jari mereka. Tentu itu adalah hal yang tidak boleh dilewatkan setelah menang, setelah itu dia berlari menuju Zhou Jiao.
“Pangeran, cepat minumlah pil ini!” ucap Lin Ye sembari memberikan sebuah pil berwarna biru langit.
Zhou Jiao langsung menelan pil pemberian Lin Ye, lalu dia duduk bersila menyerap khasiat pil tersebut. Sembari menunggu penyerapan Zhou Jiao, Lin Ye berjalan ke depan pintu dan memilih bentuk dari pecahan berlian yang berceceran di tanah.
Perlahan-lahan kubus yang tadinya kosong melompong kini mulai terisi oleh berbagai bentuk pecahan berlian.
Satu jam telah berlalu, Zhou Jiao belum menunjukkan tanda-tanda berhasil menyerap khasiat pil langit cerah.
Lin Ye hampir selesai menyelesaikan puzzle tersebut, tetapi terdapat satu lubang yang masih belum terisi dengan bentuk yang aneh.
Lin Ye terus mencari bentuk yang sesuai tetapi hasilnya nihil, tidak ada satupun berlian yang bentuknya seperti bentuk di lubang kubus.
Dua jam berlalu, Zhou Jiao telah sepenuhnya pulih. Dia membuka matanya dan melihat Lin Ye sedang menyusun puzzle.
“Adik Lin, pil apa yang kau berikan padaku?” tanya Zhou Jiao yang telah berada di samping Lin Ye lalu dia membantu memilih pecahan berlian yang bentuknya sesuai dengan satu lubang tersisa.
“Pil Langit Cerah” jawab Lin Ye sembari mencoba menempelkan pecahan berlian lalu dia buang karena bentuknya tidak sesuai.
__ADS_1
“Pil Langit Cerah? Aku belum pernah mendengar nya” ucap Zhou Jiao yang mencoba menempelkan pecahan berlian tetapi bentuknya tidak sama lalu dia buang.
“Itu adalah pil buatan ku. Jika Pangeran mau, namai saja pil itu sesuai keinginan Pangeran” ucap Lin Ye yang mulai kesal karena satu lubang pada kubus itu belum juga terisi.
“Kau seorang alkemis?” tanya Zhou Jiao terkejut.
“Apa kau pernah mencoba pil langit cerah pada oranglain?” lanjutnya.
“Sejujurnya belum pernah, tapi untung nya Pangeran bersedia jadi bahan percobaan pil tersebut” ucap Lin Ye acuh sedangkan Zhou Jiao terkejut dirinya jadi bahan percobaan pil.
Pikiran negatif mulai bermunculan. Bagaimana jika pil itu beracun? Bagaimana jika pil itu membuat nya mati? Bagaimana jika pil itu merusak meridian nya? Bagaimana jika pil itu...?
'Ah sudahlah, aku sudah bertekad untuk mempercayai nya!' batin Zhou Jiao kemudian tersenyum.
“Aku akan ingat itu” jawab Lin Ye yang tak terasa bibirnya tersenyum.
~•~
Lima jam berlalu, Lin Ye yang sudah habis kesabaran membuang semua pecahan berlian di tangannya.
__ADS_1
“Ahh, sial! Sepertinya gua ini mempermainkan ku!” umpat Lin Ye.
Lin Ye membalikkan badan sembari berkacak pinggang, dia perlu mengatur emosinya terlebih dahulu.
Zhou Jiao masih belum menyerah, dia terus mencoba menempelkan berlian pada lubang itu tetapi hasilnya tetap nihil.
Kakinya terasa pegal lalu dia melompat agar tidak terlalu pegal.
Krek
Zhou Jiao tidak sengaja menginjak pecahan berlian. Dia menunduk dan melihat pecahan berlian yang hancur berkeping-keping.
Zhou Jiao menatap lekat pecahan berlian yang hancur berkeping-keping itu, dia seperti melewatkan sesuatu.
Dia tersenyum sembari mengambil pecahan berlian yang hancur berkeping-keping.
“Adik Lin, kau tidak boleh semudah itu menyerah pada keadaan...” ucap Zhou Jiao. Lin Ye mengerutkan keningnya lalu menatap Zhou Jiao.
“Adakalanya tidak ada jalan keluar...”
__ADS_1
Lin Ye memperhatikan pergerakan tangan Zhou Jiao yang hendak menempelkan pecahan berlian pada lubang terakhir.
“Jika itu terjadi, maka kita sendiri yang harus membuat jalan keluarnya...” ucap Zhou Jiao tersenyum lalu berhasil menempelkan pecahan berlian pada lubang terakhir.