
Lin Ye telah selesai membuat pil dari tanaman obat di sekelilingnya. Dia telah membuat sembilan puluh ribu pil dari resep umum alkemis dan sepuluh ribu pil hasil resep nya sendiri.
Zhou Jiao datang menampilkan senyum di wajahnya, dia menghampiri Lin Ye yang sedang menyimpan tungku ke dalam cincin penyimpanan. Kemudian Lin Ye berbalik menyadari keberadaan Zhou Jiao.
“Adik Lin, kau telah selesai?” tanya Zhou Jiao dengan senyum di wajahnya.
“Hmm” jawab Lin Ye mengangguk.
“Adik Lin, aku akan kembali ke tempat ayah. Apa kau mau ikut?” ucap Zhou Jiao.
“Aku akan tetap di sini sampai portal menutup” jawab Lin Ye.
“Kalau begitu ambil ini” Zhou Jiao memberikan lencana emas yang berlambang kan kerajaan Zhou pada Lin Ye.
Lin Ye menerima lencana itu dengan heran. Dia tahu kegunaan lencana itu adalah sebagai tamu kehormatan kerajaan karena di kekaisarannya juga mempunyai lencana seperti ini hanya berbeda bentuk dan lambang.
“Jika kau telah selesai di dunia bawah ini datanglah ke istana untuk beristirahat, kehadiran mu sangat di nanti” ucap Zhou Jiao.
__ADS_1
“Kenapa Pangeran memberikan lencana ini padaku?” ucap Lin Ye penasaran. Pasalnya lencana seperti itu hanya diberikan pada seseorang yang sangat berjasa pada kerajaan.
“Aku tau kau yang lebih dulu masuk ke dalam gua itu,” ucap Zhou Jiao sembari menunjuk gua kecil. “Atas nama leluhur kerajaan Zhou, aku sangat berterimakasih karena kau tidak mengambil Pedang Enma yang menjadi harta kerajaan yang hilang sejak ribuan tahun yang lalu. Ini adalah pedang yang dititipkan leluhur” ucap Zhou Jiao menangkupkan tinju.
Sedari awal masuk ke dalam gua kecil Lin Ye melihat Pedang dan api purnama. Aura yang dikeluarkan pedang Enma terasa sangat gelap seperti telah membunuh banyak kultivator hebat, awalnya Lin Ye sangat tertarik pada pedang Enma tetapi dia teringat dengan ucapan Zhou Jiao bahwa itu adalah pedang kerajaan Zhou, akhirnya dia lebih mengabaikan pedang Enma dan beralih ke inti api purnama.
'Pangeran Zhou Jiao sangat tau terimakasih, aku menghargai itu' batin Lin Ye.
“Kalau begitu aku tidak akan segan menerima lencana ini” ucap Lin Ye.
“Terimakasih, Pangeran Keempat, Lin Ye!” ucap Zhou Jiao sembari tersenyum.
Zhou Jiao tersenyum melihat ekspresi Lin Ye yang terlihat datar.
“Apa yang Pangeran katakan?” ucap Lin Ye santai.
“Saat aku masih berusia delapan tahun, aku pernah ikut kunjungan ke Kekaisaran Lin untuk meminta bantuan. Saat itu aku melihat mu yang masih berusia tiga tahun sedang menjahili kakak mu” ucap Zhou Jiao menjelaskan.
__ADS_1
“Aku tidak pernah melupakan wajah setiap orang yang aku temui meskipun hanya sekilas,”
“Tapi pada saat perjalanan pulang, aku mendapat kabar buruk tentang kematian Kaisar dan Permaisuri Kekaisaran Lin, dan juga penculikan Pangeran kedua, Lin Yi.” ucap Zhou Jiao sedih. Lin Ye teringat kembali pada saat Lin Yi membunuh kedua orangtuanya.
Melihat ekspresi Lin Ye, Zhou Jiao merasa bersalah karena telah mengulang cerita yang sangat menyakitkan bagi Lin Ye.
“Adik Lin, aku minta maaf! Aku tidak bermaksud menginginkan mu kembali tentang kejadian itu” ucap Zhou Jiao panik.
“Tidak masalah, lanjutkan” jawab Lin Ye. Zhou Jiao pun melanjutkan cerita nya.
“Meskipun pada saat itu Kekaisaran Lin sedang berduka, tapi Kekaisaran Lin tetap mengirimkan bantuan pada kerajaan Zhou atas perintah Pangeran pertama sebagai kaisar sementara. Aku sangat kagum pada Pangeran Lin Ya” ucap Zhou Jiao.
“Karena bantuan Kekaisaran Lin, Kerajaan Zhou masih bisa bertahan dari serangan pemberontak. Aku sangat berterima kasih” ucap Zhou Jiao sembari menangkupkan tinju.
“Pangeran, aku ingin kau tidak memberitahu Identitas ku pada siapapun” ucap Lin Ye serius. Zhou Jiao mengerti kenapa Lin Ye tidak ingin identitas nya diketahui pasti suatu alasan, dan Zhou Jiao menebak bahwa Lin Ye sedang mencari Lin Yi.
.
__ADS_1
.
.