
Semua perlengkapan yang dibutuhkan saat pindah sementara sudah selesai. Tinggal mengurus sekolah Adit esok hari, ketika kepindahan rumah mereka sudah terurus dengan baik.
Dalam perjalanan, mereka menikmatinya tanpa ada masalah apapun. Hingga malam mulai menjelang, semua tertidur lelap di dalam mobil mewah keluarga Rey yang nyaman.
"Rey, dari tadi kamu lihat Yumna terus kalau pas dia tidur? Tapi pas bangun, diajak ngomong aja selalu berpaling? Heran aku sama kamu tuh sebenarnya," celetuk Meyta yang ternyata sedari tadi sudah mengamati lirikan mata Reyhan.
"Bukan urusanmu!" jawab Rey gugup.
"Kalau suka bilang aja, kamu tuh cowok. Masak harus nunggu Yumna dulu sih?" lanjut Meyta tak mengindahkan ucapan Rey.
"Aku tak pernah menyatakan suka terlebih dahulu," jawab Rey keceplosan.
"Jadi bener kan? Kamu memang suka sama Yumna! Cuma gengsi aja," goda Meyta semakin memojokkan perasaan Rey.
"Diam, atau tak ku lanjutkan buat menolong keluargamu!"
"Iya deh, aku diam. Paling tidak, aku tau apa yang kamu rasakan. Hihihi......," ejek Meyta lagi.
"Sekali lagi dibahas, langsung ku putar balik mobil ini kembali ke desa!"
"Huaaahhhh...... Apaan sih? Berisik aja?"
Yumna terbangun karena berdebatan mereka berdua, meski tak tahu apa yang diributkan.
"Ka.. Kamu bangun?" tanya Rey mulai gugup, takut kalau Yumna mendengar semuanya.
"Ya bangunlah, masak tidur bisa jawab kamu ngomong. Ada-ada aja!"
"Eh, kok lurus? Gak belok?" tanya Meyta.
"Kita ke rumahku dulu. Biar keluargamu sementara menginap di paviliun."
"Bener juga, masa iya keluarga mbak Meyta disuruh tidur di rumah yang lama gak ditempati? Pasti kotor kan!" sahut Yumna.
Handi yang mendengar ucapan Yumna terbangun, apalagi saat nama kakaknya tak sengaja disebut.
"Mbak Meyta? Apa dia ada di sini?" tanya Handi.
"Iya, dia ada di sebelahmu!"
"Mbak Meyta, maafkan Handi yang tak bisa menjaga mbak. Sampai ada orang jahat yang membuat kita terpisah seperti ini."
__ADS_1
Handi mulai terbawa emosi, dan tak bisa mengontrol air matanya yang jatuh membasahi pipi.
"Handi, nih tisu. Jangan sedih, mbakmu juga ikut sedih kalau kamu seperti itu!" kata Yumna memberi sekotak tisu pada Handi.
"Ehemm,.....!" kode Rey saat melihat Yumna yang mulai memberi perhatian pada Handi.
"Batuk Rey? Kamu pasti kecapekan!"
Yumna yang tak tahu maksudnya, segera mencari botol air mineral untuk meredakan tenggorokan Rey yang dia kira sedang tidak enak.
"Makasih! Tuh rumahku dah sampai!"
"Dia kenapa?"
Yumna bertanya pada Meyta, tapi hantu itu tak memberi jawaban karena takut ancaman dari Rey. Hanya menjawab dengan mengangkat pundak saja, sambil tersenyum penuh arti.
Rey memasukkan mobil ke halaman yang begitu luas. Semua pelayan dikerahkan untuk membantu keluarga Meyta menempati paviliun di sebelah kiri rumah megah Reyhan.
Semua penumpang mobil Rey tampak sangat takjub, melihat sebuah rumah yang hanya pernah dilihatnya dari sinetron, atau mungkin hanya di cerita dongeng saja. Tak cukup sampai di situ rasa takjubnya saat melihat isi paviliun, karena satu kamarnya lebih besar dari dua kamar di rumah sebelumnya.
Setelah membereskan semunya, Yumna diajaknya makan malam, hanya berdua dengan Rey saja di meja makan panjang. Keluarga Meyta minta ijin untuk makanannya diantar ke paviliun saja, karena sungkan untuk masuk ke rumah utama.
"Wah, ternyata banyak juga koleksi hantumu di sini!" celetuk Yumna sambil melihat sekeliling ruangan.
"Mereka yang mengikutiku. Selama tak mengganggu, ku biarkan saja. Rumah ini terlalu besar kalau hanya dihuni oleh manusia saja," jawab Rey.
"Okey, kayaknya kamu memang kesepian sama keberadaan manusia di rumah ini. Waoooww......boleh nggak nanti aku bungkus sedikit buat nenek?" ucap Yumna polos melihat begitu banyak makanan yang mulai terhidang, meski hanya untuk dua orang.
"Bungkus aja semaumu. Nanti kamu gak usah ke restoran. Meyta, yang akan membantu Shema malam ini!" kata Rey disela makan malamnya.
"Serius? Tau aja kalau aku lagi capek banget. Makasih ya Rey!"
"Ya, aku juga tak akan pergi ke sana hari ini. Besok ada ulangan, jadi aku mau fokus belajar," jawab Rey.
"Berarti aku pulang sendiri ya! Ya sudah, ku pesan taksi online saja sekarang. Biar gak lama nunggunya, karena sudah lumayan malam. Nenek pasti khawatir sama aku!"
"Lanjutkan makanmu saja. Nanti aku antar!"
"Tapi........," ucap Yumna belum sempat dilanjutkan.
"Ssstttt......makan jangan sambil ngomong. Nanti keselek!"
__ADS_1
Rey segera meminta pelayan untuk membungkuskan banyak makanan. Tapi Yumna tak enak hati dan memilih ikut membantu pelayan tersebut, agar tak terlalu banyak yang dibawanya.
Sedangkan Rey memanaskan mobil kesayangannya untuk mengantar Yumna pulang.
"Kok cuma segitu?" tanya Rey melihat sekantong plastik ditangan Yumna.
"Gak apa-apa. Kan cuma buat nenek, sama lumayanlah bisa dipanasi buat sarapan besok pagi. Hee.......," cengir Yumna yang hanya dijawab senyum tipis Rey dengan gelengan kepala.
"Ayo masuk. Tuh, Meyta sudah nemplok di belakang!" ajak Rey sambil menunjuk Meyta yang sudah siap berdiri hendak mengikuti.
"Serius, mau anter aku. Katanya capek!"
"Bawel, ayo masuk!" Rey keluar mobil lagi, menggenggam tangan kanan Yumna dan menggiringnya menuju pintu mobil yang sudah terbuka.
"Makasih!" jawab Yumna seperti kehabisan kata.
Tak ada percakapan seperti biasa, sampai mereka tiba di rumah Yumna. Nenek yang terus mengkhawatirkan Yumna, sudah menunggu di teras rumahnya.
Rey menjelaskan kalau ada kerja lembur yang membuat Yumna terlambat untuk pulang. Dan nenek percaya saja, karena sudah terlalu sayang dengan mereka berdua.
"Aku merasa bersalah setiap berbohong pada nenek," bisik Yumna setelah nenek masuk ke dalam, untuk menyiapkan makanan yang baru dibawa Yumna.
"Sama, aku juga! Makanya kita harus cepat cari waktu untuk memberitahu nenek yang sebenarnya."
Rey pamit pulang, untuk memikirkan lagi cara yang tepat itu. Sedangkan Yumna bisa beristirahat dengan tenang malam ini.
****
Sepulang sekolah, Rey menjemput Yumna bersama keluarga Meyta. Mereka berencana ke bank Mayara untuk mengambil surat rumah yang sempat digadaikan Meyta sebelumnya.
Tapi tak disangka, satpam bank yang berdiri diluar sempat membuat Meyta tak mau ikut masuk ke dalamnya. Akhirnya mereka mengurus semuanya tanpa sosok Meyta.
Setelah selesai semua, mereka menuju rumah Meyta untuk membersihkannya.
"Mbak, kenapa sih tadi gak mau ikut ke dalam bank?" tanya Yumna ikut merapikan barang tak terpakai.
"Tadi, satpam itu.... Huaaaaaaa....... Dia yang dulu pernah suka sama aku. Dia yang sudah membuatku seperti saat ini!"
"Yang bener? Mbak yakin dia orangnya? Kenapa gak bilang dari tadi?"
Handi yang tak sengaja melewati mereka, mulai ikut mendengarkan Yumna yang nampak berbicara sendiri olehnya. Tapi setelah beberapa saat mendengarkan, sepertinya dia mulai menebak apa yang dibicarakan.
__ADS_1
"Jadi salah satu pembunuh kak Meyta, satpam tadi?" tanya Hadi muncul di depan mereka.