
"Eheeemm..... Bener kan kalau pak Bos sekarang jadi bucin sama Yumna. Kemarin aku juga bilang apa. Tapi jadi pengen deh ikut dipeluk kayak gitu, aaaaa... Aaa!" sahut Shema yang ternyata masih mengamati mereka dari lantai atas.
"Sssstt...., diam saja! Kita lihat bagaimana mereka selanjutnya. Semoga dengan adanya Yumna yang terus ada di sampingnya, membuat bos jadi bisa lebih ceria lagi ya," sahut Boni yang berdiri di sebelah Shema.
Saat Yumna menyadari ada banyak mata yang mengamati mereka berdua, akhirnya dia melepaskannya perlahan pelukan itu dengan wajah merahnya menahan malu.
" Sebaiknya kita bahas masalah kak Robert dulu, ya!" ucap Yumna semakin malu karena ternyata, Novi masih ada di belakang tubuhnya berdiri.
"Aku jadi saksi buat jadian kalian berarti. Wah, kalau satu sekolah tahu pasti langsung banyak yang patah hati sepertinya. Andaikan Robert masih ada, aku juga akan mengatakannya agar tak menyesal seperti sekarang," jawab Novi ikut terbawa perasaan saat memandang kedekatan Rey dan Yumna.
" Ja.. Jadi..., kamu...! " sahut Robert menatap pedih pada Novi.
" Ma... Maaaf, Kak. Baiklah, kita fokus pada kak Ravon dulu. Ada yang bisa ceritakan, bagaimana kejadian yang sebenarnya?" tanya Yumna merasa tak enak.
" Waktu itu sepulang sekolah, Robert menyuruhku untuk pulang terlebih dahulu. Jadi aku pulang saja tanpa menunggu dia, tapi... Hiksss.... Robert. Aku tak sanggup membayangkan kejadian itu, " kata Novi mulai bercerita.
Robert yang tak tahan melihat sahabatnya merasa bersedih karena dirinya, langsung mengambil duduk di sebelah kiri Novi. Karena Yumna sudah berada di sebelah yang satunya lagi.
" Sshhh.... Sshhh, tenang dulu Mbak. Rey, di kulkas ada air kan? " tanya Yumna yang belum pernah ikut memasak di dapur.
" Ada lah, kamu di sini aja aku ambilkan. "
" Trimkasih, Rey! "
" Iya, sama-sama. Sayang, " jawab Rey lirih memahan malu saat mengucapkannya.
" Kak Robert, bisa cerita dulu? " tanya Yumna melongok pada Robert yang terhalang tubuh Novi, tapi hanya dijawab gelengan kepala karena sepertinya dia juga terlalu sedih untuk menceritakannya.
"Robert ada di sini? Apa di sebelah kiriku?"
"Iya, Kak! Memang kenapa?"
__ADS_1
"Aku merasa ada hawa dingin yang menenangkanku, tapi aku tak tahu kalau ternyata Robert yang ada di situ. Ku kira, Robert marah padaku setelah apa yang aku lakukan tak membuat kematiannya tenang," jawab Novi terus memandang ke sebelah kiri, dengan Robert yang mendekapkan tangannya pada pundak kanan Novi.
Sejenak mereka diam untuk menunggu Rey yang tak lama datang dengan membawa minuman segar dari campuran buah-buahan yang dihaluskan.
" Silahkan!" ucap Rey pada mereka semua.
"Trimakasi! Eh, ini sebenarnya restotan atau apa sih? Kenapa tempatnya tertutup seperti ini?" tanya Novi mulai ingat pertanyaannya yang belum sempat dijawab tadi.
"Ini restoran Rey. Tapi sudah tak terpakai lagi, jadi cuma dibuat melepas penat saja kalau Rey lagi bosan di rumahnya," jelas Yumna yang tak mungkin mengatakan yang sebenarnya.
"Berarti bisa dibilang rumah kedua Rey gitu? Tapi apa nggak takut kalau kamu sendirian di sini, kayaknya ngeri deh kalau dah malam nanti."
Rey dan Yumna hanya saling pandang, dan tersenyum sebagai tanda kesepakatan.
"Kak Novi sudah bisa cerita sekarang?" tanya Yumna mengajak untuk memulainya lagi.
"Saat aku sampai di gerbang, ada perasaan tak enak dan penasaran. Akhirnya aku balik untuk mencari keberadaan Robert lagi. Sampai akhirnya aku mendengar pertengkaran di sungai belakang sekolah."
"Iya, aku lihat di sana ada Robert yang sedang bertengkar dengan kakaknya. Aku sudah berusaha melerai, tapi Robert membentaku untuk pertama kalinya dan menyuruhku pergi dari situ."
"Maafkan aku, Novi!" ucap Robert menyesal.
"Heeehhh.... Aku tak menyangka kalau itu bentakan pertama kali, dan ucapan terakhirnya padaku. Bodohnya lagi aku merasa kesal, lalu meninggalkan mereka berdua tanpa mencoba melerai lagi," cerita Novi sudah terlihat tegar, dan mulai tak terdengar isakan tangis dari bibirnya.
"Kak Robert bisa menambahkan? Paling tidak nanti kita punya bukti untuk menjerat kak Ravon sebagai pelakunya," ucap Yumna.
"Ravon tak pernah menyukaiku. Dia selalu iri pada semua yang aku miliki. Tapi dia juga terlalu malas untuk bisa mendapatkan apa yang bisa aku dapatkan."
"Sabar, Kak. Mungkin kak Ravon sedang gelap mata saat melakukannya. Tapi aku akan berusaha membantu kakak agar bisa pergi dengan tenang tanpa beban yang tertinggal."
"Sore itu, setelah semua murid pulang, dia sengaja mengajakku bertemu di sungai belakang sekolah untuk meminta uang sakuku. Aku pikir dia tak akan berbuat sekejam itu, tapi tetnyata aku salah. Dia sudah terjerat obat-obatan terlarang yang membuatnya bisa nekat melakukan apapun itu, termasuk mengkhiri hidupku," cerita Robert sambil menundukkan kepala.
__ADS_1
" Hahhh! Jadi kak Ravon termasuk pengguna juga? " sahut Yumna terkejut.
" Ya, dia butuh uang untuk membeli barang jahanam itu. Tapi aku tak mau memberikan, karena aku tak mau dia semakin terjerumus ke dalam lingkaran obat terlarang. Ternyata, dia malah nekat melakukan itu padaku. "
" Apa saja yang dia lakukan?" tanya Yumna lagi yang dilihat oleh Novi seperti sedang bicara sendiri.
" Dia memukulku sampai aku pingsan. Lalu mengambil uangku, dan ternyata sifat irinya mulai muncul saat melihat foto orangtua kami dalam dompetku. "
" Lalu? "
" Ravon menyeret tubuhku agar tenggelam di sungai yang sedang pasang itu. Dia sengaja menaruh batu-batuan di dalam tas ranselku agar aku kesulitan terapung sebelum ajal datang. Aku lihat tawanya saat meninggalkan tubuhku di sana, " jelas Robert.
" Apa ada bukti untuk menangkap kakakmu selain keterangan dari kak Novi tadi? "tanya Yumna semakin penasaran.
" Ya, dia sempat memukul wajahku dengan sebuah kayu. Di sana pasti masih tertinggal bercak darahku, dan sidik jari dari kak Ravondra. "
" Dimana letak kayu itu? "
" Disembunyikan diantara kayu bekas di gudang belakang sekolah."
" Baiklah, nanti aku akan ke sana untuk mencari kayu tersebut. Kak Robert, sebaiknya jangan pergi kalau kak Ravon mendekati kak Novi. "
" Trimakasih atas bantuannya. Akan ku coba memberanikan diri untuk menghadapi kak Ravon, demi menyelamatkan nyawa Novi. "
" Baguslah! Sekarang ayo kita antar Novi pulang dulu. Nanti keburu petang! "ajak Rey pada Yumna.
" Hadeehh, kayaknya bakal lengket terus mereka nanti! "sahut Shema beranjak turun menemui mereka.
" Ikut senang saja, biar ada yang mengontrol emosi Rey juga, " sahut Jodi yang melewati mereka menuju dapur sebagai ruang kerjanya setiap hari.
Yumna dan Rey hanya tersenyum, saling bergandengan sambil beranjak berdiri. Tangan Rey semakin mengejek mereka yang melihatnya dengan terus mengelus rambut lembut Yumna di sepanjang jalannya menuju mobil mewah yang masih terparkir mulus di halaman restoran. Kemudian menjalankannya sesuai perintah Yumna.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, Novi hanya diam menatap ke jendela mobil yang dibasahi sedikit air hujan. Bersamaan dengan itu, teteslah air mata Novi yang terus mengingat kebersamaannya dengan Robert dahulu.