Restoran Hantu

Restoran Hantu
Pencarian Kamar Bersalin


__ADS_3

Rey dan Yumna mulai berjalan mendahului Ringgo. Mencari jalan lain untuk menemukan tempat bersalinnya. Dalam kegelapan malam, hanya cahaya dari HP yang dipegang oleh Rey dan Yumna untuk menerangi.


"Rey, kira-kira itu ruangan apa ya?" tanya Yumna pada Rey.


"Yang jelas bukan ruang bersalin."


"Susah juga kalau begini caranya. Soalnya. Hampir semua ruangan tak ada label yang masih bisa terbaca."


"Iya, tapi berdoa saja supaya bisa cepat menemukannya."


Yumna masih terus berjalan mengikuti langkah kaki Rey, dengan memeluk lengan Rey tanpa berani melepasnya. Sampai mereka mulai merasakan ada sesuatu yang mulai mengikuti dari belakangnya.


"Rey?" tanya Yumna mengajak berhenti sejenak.


"Ya, aku tahu. Biarkan saja!"


Rey mengajak Yumna untuk terus melangkah, mengamati setiap ruangan di sekitarnya. Meski belum jelas terlihat sejauh mana mereka berjalan mendekati tempat yang mereka tuju saat ini.


'Sreett.... Sreeett.....'


Terdengar suara sesuatu yang diseret di belakang mereka. Semakin lama semakin jelas mendengarnya.


"Rey?" tanya Yumna lagi.


"Sudah, tak usah ditanggapi!" perintah Rey menahan kepala Yumna yang hampir menengok ke belakang.


Lambat laun suaranya mulai menghilang, dan pergi tak terdengar lagi. Tapi sesampainya di sekitar ruangan yang bertuliskan 'penyakit dalam', Rey dan Yumna mulai merasa terganggu lagi oleh godaan mereka. Para makhluk tak kasat mata yang tak mau menampakkan dirinya.


'Tuk.... Tuk.....Tukkk......'


Mulai terdengar lagi suara tongkat seseorang yang berjalan mengikuti mereka. Tapi Yumna sudah tak mau bertanya pada Rey lagi, karena pasti akan mendapatkan jawaban yang sama.


Yumna sudah berusaha tak menanggapi sampai tiba-tiba terasa ada sebuah tangan yang menggenggam pergelangan kakinya.


"Kenapa lagi berhenti?" tanya Rey ikut menghentikan langkah kakinya.


"Rey? Di bawah kakiku, lihat!" seru Yumna menunjuk ke bawahnya.


Ada seorang wanita memakai seragam seperti seorang suster, sedang meringis memperlihatkan giginya yang dipenuhi darah dan belatung sedang menggenggam kaki Yumna.


"Siapa kamu?" tanya Rey hendak berjongkok supaya bisa melihatnya dengan jelas.

__ADS_1


Tapi wanita itu malah melepaskan genggamannya, dan seketika menghilang dengan entah kemana.


"Yaaahhh, kemana sih dia? Padahal baru aja mau tanya, ruangan bersalinnya dimana!" sahut Rey menyesali.


"Sudah pergi, Rey?" tanya Yumna memastikan.


"Sudah, padahal belum sempat ditanya apa-apa juga!"


"Sebenarnya rumah sakit apa sih ini? Kenapa aneh gini? Hantunya juga suka sembunyi, gak seperti yang lainnya langsung menampakkan diri. Jadinya kan malah serem," ucap Yumna mulai mengoceh kesal.


"Sudah, ayo kita lanjutkan jalan lagi saja!" ajak Rey menggeret Yumna menjauhi tempat itu.


Ruangan demi ruangan mulai mereka lalui, sampai menemukan deretan bangsal yang belum pernah mereka lalui sebelumnya bersama Rinto tadi.


Yumna sempat melihat seorang wanita dengan rambut panjangnya. Dia penasaran untuk terus mengikuti masih dengan menggenggam erat lengan Rey agar tak meninggalkannya sendiri. Wanita itu mulai memasuki sebuah ruangan, dan Yumna mulai mengintipnya dari luar.


Di dalamnya terdapat box-box tempat tidur berukuran kecil yang berjajar. Tak lama, sayup-sayup mulai terdengar tangisan dari bayi tanpa sosok yang terlihat selain wanita itu yang seperti menggendong bayi tanpa wujud di tangannya.


"Sebentar, kalau di sini ada box bayi seharusnya ruangan bersalin tak jauh dari sini. Benar nggak?" tanya Yumna masih mengintip dari jendela kaca.


"Iya, kita langsung cari sendiri atau tanya dulu pada makhluk itu?" tunjuk Rey pada wanita yang masih menimang udara.


"Cari sendiri saja. Kamu gak ngilu, lihat kepalanya yang miring terus dengan luka menganga di lehernya yang dipenuhi darah yang sudah berwarna hitam itu?"


Satu demi satu ruangan diintip oleh mereka. Sampailah pada satu ruangan yang membuat mereka penasaran. Terlebih saat Yumna mulai melihatnya dari kaca yang sengaja di pasang sebagai pengganti dindingnya.


'Baaaaaaaaa........'


Suara seorang laki-laki besar, yang sedang duduk mengagetkan mereka berdua. Sosok hitam itu juga menempelkan wajahnya pada dinding kaca tepat di hadapan Rey dan Yumna.


"Siapa sih? Ngagetin aja bisanya?" celoteh Yumna kesal karena jantungnya sudah dibuat berdetak lebih kencang dari sebelumnya.


"MAU CARI SIAPA????" suara menggelegar ada di depan mata.


Sepertinya ruangan yang mereka intip itu memang benar sebuah kamar bersalin. Tapi mereka tak melihat satu manusiapun di dalamnya. Hanya ada beberapa perawat dan dokter yang mengurus kelahiran makhluk sejenisnya.


" Eh, om yang baik hati. Lihat ada seorang wanita yang baru saja melahirkan di sini tidak? Dia tadi lagi hamil besar, dan sudah mulai merasakan kontraksi katanya," ucap Yumna melihat makhluk hitam besar yang berada di balik dinding kaca.


"ITU DIA!" jawabnya sambil menunjuk ke arah wanita yang sedang terbaring hendak melahirkan.


"Manusia maksudnya, Om. Bukan makhluk sejenis kalian."

__ADS_1


"ITU YANG KAMU CARI!"


"Lhah masa ada manusia masih bisa hidup dengan kepala hampir remuk kayak gitu? Mana darahnya netes terus lagi? Minta dilap dulu dong, Om. Ngilu banget lihatnya, iihhh......," sahut Yumna terus mengamati.


"CUMA DIA YANG BARU DATANG DI RUMAH SAKIT INI."


"Serius?" tanya Yumna lagi.


'Oeeekk..... Ooeekkk.....'


Terdengar nyaring suara bayi berwajah pucat, dengan dipenuhi darah sedang di gendong salah satu perawatnya. Dari tempat kami berdiri, bayi tersebut nampak sedikit aneh bentuknya.


"Om, itu kenapa bayinya?" tanya Yumna lagi.


"LIHAT SAJA SENDIRI!"


"Rey?" tanya Yumna meminta persetujuan Rey.


"Ayo, kita masuk ke dalam!" jawab Rey meyakinkan.


Saat Rey dan Yumna membuka pintu, suasana terasa sepi sekali. Para dokter dan perawat tadi juga sudah menghilang sendiri-sendiri.


Hanya tersisa Rey, Yumna, Om yang berbadan besar tadi, dan wanita yang masih menggendong bayinya sambil berbaring.


Yumna mengamati bentuk bayi yang menurutnya tidak biasa itu. Kaki dan tangan sebelah kanannya memutar terbalik. Begitu juga dengan kepalanya yang menghadap ke belakang.


"Ii... Ituu?" tanya Yumna berhenti melangkah setelah melihat lebih jelas.


Sebelum mendapat jawaban, tiba-tiba wanita di depan mereka mulai menangis histeris. Dia terus memandang wajah anaknya dengan miris.


"Maafkan ibu, Nak! Maafkan ibu. Huwaaa.....," serunya semakin kencang.


"Ke... Kenapa, Mbak? Waduh, mau coba menenangkan kok darah di kepalanya netes terus ya. Ehhhmmm, aduh gimana Rey?" tanya Yumna kebingungan, antara ingin membantu menenangkan tetapai a da rasa ngeri saat mendekati.


"Sudah, biarkan dia nangis dulu. Nanti juga kalau sudah reda bakal cerita," sahut Rey santai.


"Om, bisa jelasin nggak kenapa dia nangis?" tanya Yumna sudah mulai tak sabar.


"Tanya saja sendiri. Memangnya saya suaminya? Sudah ya, kalian urus saja mereka!" ucap makhluk yang dipanggil Om oleh Yumna tadi, menyerahkan masalah sosok wanita itu pada mereka.


"lha kok pergi? Trus ini maksudnya gimana?" Yumna mencoba mencari kejelasan.

__ADS_1


"Anakku.... Huwaaa.... Maafkan ibumu yang sudah membuatmu seperti ini. Mas Ringgooo, kamu dimana?" tangis wanita itu.


"Mas Ringgo???" ucap Yumna dan Rey saling menatap bersama.


__ADS_2