
Rey dan Yumna kembali menuju mobil. Tapi sesaat sebelum mereka masuk, ternyata Diana dan kedua anaknya sudah menunggu di sebelah kendaraannya.
"Trimakasih, kamu memang baik sekali!" ucap Diana yang sudah menunjukkan wajah cantiknya, tak seperti saat Yumna dan Rey baru pertama kali bertemu sebelumnya.
"Iya, nanti datanglah ke restoran hantu. Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu. Supaya aku bisa segera memberitahu polisi, dan cepat menangkap suamimu," kata Yumna dijawab anggukan oleh Diana.
"Setelah urusanmu selesai, tinggalkan rumah itu untuk ditempati temanku ya. Tolong ikhlaskan!" lanjut Rey sebelum memasuki mobilnya.
"Iya, da...daa....... Kak Yumna, kak Rey. Semoga cinta kalian tulus dan tak akan pernah ada penghianatan!" seru Diana melambaikan tangan diikuti kedua anaknya.
Lega, akhirnya pengalaman mereka hari ini sudah menunjukkan titik terang. Mobilpun bisa melaju dengan tenang, melakukan perjalanan untuk pulang.
"Capek ya?" tanya Rey melihat Yumna bersandar lemas.
"Iya, sedikit pusing kayaknya," sahut Yumna.
Rey terus mengamati Yumna di sepanjang perjalanan mereka. Sampai puncaknya, Rey semakin khawatir melihat wajah Yumna yang bertambah pucat saja. Apalagi saat Rey berniat memijat kepalanya, ternyata kulit di kening Yumna terasa panas karena terserang demam.
"Kita ke rumah sakit ya!"
Rey semakin memacukan mobilnya dengan cepat, mengarah ke rumah sakit yang sempat dibuat menginap ayah Novi sebelumnya.
"Kita pulang saja, nanti nenek menunggu. Lagian sudah dekat juga kan!" jawab Yumna dengan suara yang terdengar lirih dan tak bersemangat.
"Aku akan telepon bu Nuri saja. Kita ke rumah sakit sekarang," jawab Rey bersikeras.
Tanpa menunggu jawaban Yumna, Rey sudah menghubungi bu Nuri untuk memberitahu keadaan Yumna sekarang. Supaya mereka tak khawatir karena Yumna belum bisa pulang.
Yumna yang sudah tak kuat menahan beratnya kelopak mata, akhirnya terpejam juga.
Tak lama, mobil sudah terparkir di depan sebuah rumah sakit swasta. Tanpa pikir panjang, Rey segera menggendong tubuh Yumna ke dalamnya.
"Suster....Suster....., tolong teman saya!" serunya pada seorang wanita berbaju seragam putih yang baru lewat di depannya.
"Sini, Dek. Akan saya panggilkan dokter jaga sebentar!"
Suster bernama Silvy mengarahkan ke sebuah ruangan bertuliskan UGD. Kemudian berlari mencari sesuatu yang dibutuhkan.
"Itu, Dok!" ucapnya tak lama setelah Rey menunggu Yumna yang masih belum sadar juga.
__ADS_1
"Baiklah, akan kami periksa dulu!" ucap dokter menggeser Rey yang terus menggenggam erat tangan Yumna.
****
Yumna merasa berada di sebuah rumah sakit yang tak asing baginya. Para dokter, perawat bahkan pasienpun sepertinya sudah pernah ia temui sebelumnya.
"Dimana aku ini? Loh, sepertinya itu dokter yang menolong persalinan gaib di rumah sakit terbengkalai milik keluarga kak Robert?" gumam Yumna sendiri terus mengamati sekelilingnya.
Dia terus berusaha mengejar salah satu dokter yang sempat diingatnya.
"Dokter, dokter.....," sahut Yumna terus memanggil.
Tapi sepertinya percuma. Tak ada jawaban dari dirinya, bahkan semua orang yang lewat di sekitarnya serasa menembus tubuhnya yang berdiri bingung menghadapi kejadian yang dia alami hari ini.
Dia terus saja berjalan sendiri, mengelilingi rumah sakit besar ini. Karena tak tahu apa yang harus dia lakukan di sini.
"Kak Robert? Iya, itu kak Robert kecil!" seru Yumna melihat sosok anak yang berdiri sendiri di pinggir kolam ikan taman rumah sakit ini, mirip sekali dengan foto yang sempat ia temukan.
Yumna mendekat, dan bingung bagaimana cara dia bertanya tentang apa yang terjadi.
" Kak, Kak Robert! " panggilnya terus menerus sambil menggapai tubuh kecilnya yang ternyata menembus juga.
Yumna terus meratapi nasibnya, sambil berjongkok di sebelah Robert kecil yang tak menyadari keberadaannya.
"Hei, tuh lihat! Papa sama Mama kesayanganmu bertengkar!" seru suara anak yang lebih besar mendekati Robert kecil.
"Ravon? Ya, itu pasti Ravon kecil!" gumam Yumna lagi.
Ravon kecil menggandeng tangan Robert menuju sebuah ruangan bertuliskan nama seorang laki-laki, yang sama nama belakangnya dengan Robert.
"Ini pasti ruangan ayahnya!"
Sesampainya di dalam ruangan itu, Yumna melihat laki-laki dan perempuan mirip orangtua Robert seperti di foto, sedang bertengkar serius. Tapi langsung berhenti setelah melihat kedua anaknya masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Ravon, ajak main adikmu dulu. Kamu kenapa malah ajak dia ke sini?" sahut si wanita.
"Iya," hanya itu jawaban Ravon, lalu menggandeng adiknya keluar lagi.
Yumna tak ikut keluar, hanya berdiri mengamati percakapan kedua orang di depannya saja.
__ADS_1
"Pa, bagaimana? Hari ini kita harus menyerahkan tumbal lagi. Tapi sepertinya sudah tak ada yang mau menerima bantuan kita lagi. Apalagi makhluk itu semakin meminta tumbal yang lebih besar lagi," seru si wanita.
"Ya, kamu benar. Apa kita turuti saja untuk menumbalkan salah satu dari anak kita? Daripada harus mencari sepuluh tumbal dalam sehari ini," ucap si laki-laki.
"Jangan gila! Aku tak setuju."
"Tapi kalau nanti tak segera kita berikan, semua harta kita akan musnah tak bersisa. Kamu mau?"
"Ya enggak, tapi sebaiknya kita cari dulu saja. Aku gak rela kalau anak kita!"
"Ravon! Ya, sepertinya dia pantas menjadi tumbal. Dia anak yang tak terlalu pintar, jadi tak punya masa depan yang bisa dibanggakan!" seru si lelaki tersebut.
'glodaakkk......'
Suara sekelebat anak mirip Ravon dari balik pintu ruangan ini. Tadi saat dia keluar, entah sengaja atau tidak yang jelas tidak menutup rapat kembali.
Laki-laki itu memeriksa sekitar sumber suara. Tapi kelincahan Ravon berhasil membuatnya pergi tanpa diketahui.
"Bagaimana, Pa?"
"Tak ada apapun. Mungkin tadi ada kucing tak sengaja menginjak kayu di depan ruangan ini."
"Oh, syukurlah kalau begitu. Tapi aku tak setuju dengan usul papa tadi. Meskipun dia tak pintar, tapi kelincahannya sanggup untuk melindungi adiknya yang tak terlalu gesit dan tangkas sepertinya. Apalagi mama sudah melatihnya menjadi pria mandiri."
"Kamu benar. Kita sudah melatihnya menjadi pria tangguh. Aku tak tega juga menyerahkan jiwanya. Oh iya, kata makhluk itu yang penting dari keluarga kita. Bagaimana kalau ibuku saja?" ucap laki-laki penuh percaya diri.
"Terserah kalau itu maumu!"
"Baiklah, aku akan segera ke rumahnya. Mumpung cucunya masih dititipkan di sekolah juga."
"Kamu mau ngapain?"
"Menyerahkannya menjadi tumbal kita, he..he...he.....," ucapnya yakin sekali.
Yumna terus mengikuti kemana arah lelaki itu pergi. Dengan ikut naik mobilnya tanpa diketahui.
"Siapa ya yang akan dia tumbalkan? Ibunya? Tega banget sih ini orang? Dasar manusia gila harta!" seru Yumna sendiri tanpa bisa didengar pasangan yang mengemudikan kendali.
Semakin lama, Yumna semakin paham akan jalan yang hendak dituju mereka.
__ADS_1
"Rumah Rey???"