Restoran Hantu

Restoran Hantu
Penjebakan Bimo


__ADS_3

"Eh, Handi! Sebaiknya kamu jangan gegabah, selidiki dulu sebelum kamu mengambil keputusan," kata Yumna mencoba menenangkan.


"Aku gak bisa tinggal diam, aku harus menemuinya," jawab Handi bersikukuh.


"Handi, pliss! Dengerin aku kalau kamu tak ingin kakakmu lebih bersedih lagi atas kecerobohanmu!"


Tangan Yumna menahan lengan Handi yang hendak beranjak pergi menemui satpam bank Mayara.


"Kalau kamu melakukan sesuatu ke dia, kamu bisa mendapatkan masalah," Yumna terus meyakinkan.


"Aku tak peduli, lepaskan!"


"Berarti kamu tak peduli juga sama keluargamu. Bagaimana kalau kamu punya masalah dengan hukum? Ibumu, adekmu, siapa yang akan mencari nafkah untuk mereka lagi?"


"Tapi, satpam itu harus mendapatkan balasan yang setimpal. Apa aku harus diam saja, saat sudah tahu orang yang mengakhiri hidup kakakku?"


"Apa kamu punya bukti yang nyata?"


Yumna semakin erat mengguncangkan lengan Handi agar dia sadar. Handi mulai diam, tak membantah lagi.


Semua yang berada di rumah itu mulai menghampiri Handi dan Yumna, yang sejak tadi terdengar sedang meributkan sesuatu.


"Ada apa ini?" tanya Rey yang mulai terlihat gerah melihat pemandangan di depannya.


"Eh, ini si Handi. Dia ingin menghampiri satpam bank Mayara tadi," jelas Yumna sambil melepas genggaman tangannya dari lengan Handi.


"Satpam itu yang telah menghabisi nyawa kak Meyta," sahut Handi.


"Meytaaa.......!" tangis ibunya mulai pecah, dan membuatnya kembali pingsan.


"Besok akan saya carikan tukang untuk membersihkan dan memperbaiki rumah ini. Sekarang, sebaiknya kita bawa pulang ibumu dulu," sahut Rey membantu menggendong ibu Meyta ke dalam mobil.


"Trimakasih, Rey!" kata Handi saat mobil sudah mulai melaju dan ibunya sudah menunjukkan tanda siuman.


Mereka kembali ke rumah Rey, dan kembali membicarakan rencana penjebakan untuk satpam Bank Mayara.


****


Keesokan paginya, Rey dan Yumna berangkat sekolah seperti biasa. Sedangkan Handi, pergi mencari tahu keberadaan maupun informasi tentang satpam bank Mayara bersama Meyta.

__ADS_1


Meyta nampak sedikit takut karena trauma yang pernah dirasakannya. Tapi Yumna dan Rey berhasil meyakinkannya, bahwa tak akan selesai masalah ini kalau Meyta tidak bisa memberanikan diri.


Setelah banyak mendapat informasi, sampailah Handi di depan sebuah rumah kontrakan milik satpam bernama Bimo.


'Tok.... Tokk.... Tookkk.....'


Suara pintu terdengar saat Handi mengetuknya. Dari dalam terdengar suara laki-laki yang dicarinya.


"Ya, mau cari siapa?" tanya Bimo setelah membuka pintu.


"Apa ini rumah mas Bimo? Saya Handi temannya Ratno," kata Handi berpura-pura.


Ratno adalah nama satpam yang sempat diajak Bimo untuk membantunya menghabisi nyawa Meyta.


"Sssstttt..... Masuk, cepat!"


Bimo celingukan di sekitar rumahnya, dan segera menarik tangan Handi ke dalam rumah kontrakan barunya setelah beberapa kali berpindah tempat.


"Kenapa, Mas?" tanya Handi.


"Memangnya kenapa kamu mencari Ratno?"


"Ratno? Ehmmm.... Katanya dia mau pergi ke luar pulau. Apa yang kamu tahu? Dia cerita apa?"


"Dia cerita, katanya dia tidak tahu apa-apa. Tapi tiba-tiba disuruh sama mas Bimo untuk mengecek rumah wanita yang bernama Meyta yang sudah tergantung mati. Tapi dia bilang, dia curiga kalau mas Bimo yang sudah membunuhnya," cerita Handi mengarang untuk memancing Bimo.


"Aapaaa? Dasar kurang ajar si Ratno! Dia ikut menikmati juga, kenapa melempar kesalahan sama saya saja!"


"Memang sebenarnya, apa yang terjadi? Soalnya, Ratno bilang kalau semua orang komplek perumahan tahu kalau mas Bimo sudah lama suka sama Meyta. Jadi dia curiga ada yang tak beres dengan kematian itu," sahut Handi terus memancing pengakuan Bimo.


Dengan kondisi Bimo yang sedang bermasalah dengan keluarganya, ditambah hutang yang ditinggalkan istrinya untuknya, membuat kemelut di pikirannya Bimo semakin memuncak.


Kesempatan itu digunakan Handi untuk lebih mudah menghasut Bimo agar mau menceritakan yang sebenarnya. Sampailah tiba saat Bimo tak bisa mengontrol emosi untuk tetap menutup cerita lama yang sudah dipendamnya.


Handi sudah bersiap merekam semua yang akan dibicarakan Bimo di smartphone miliknya. Hal itu tepat dilakukannya saat Bimo mulai menjelaskan detail-detail semua kejadian yang sesungguhnya, agar dia tak disalahkan seorang diri.


Di akhir cerita, Bimo meminta Handi agar bisa menemukan Ratno sebagai imbalan pengakuannya. Bimo bermaksud untuk menanyakan tujuan Ratno yang melimpahkan semua kesalahan padanya sendiri, karena telah menceritakan rahasia mereka di hadapan Handi.


"Ya sudahlah, Mas. Kalau begitu saya pamit dulu, saya akan usahakan segera menemukan keberadaan Ratno sesuai petunjuk dari Mas Bimo."

__ADS_1


Handi segera pamit pulang, menuju paviliun di rumah Rey. Sedangkan Meyta sudah terlebih dahulu meluncur pergi, karena tak bisa terlalu lama menahan ketakutan saat memantau adiknya meskipun dari luar rumah Bimo.


Di perjalanan pulang, hari sudah cukup malam. Handi mencari angkutan umum yang sudah mulai jarang melewati jalan. Hingga ada taxi yang mulai berhenti di depannya.


"Pak, boleh antar saya?" tanya Handi sembari memberi alamat tujuannya.


"Iya, Nak. Silahkan!"


"Trimakasih, memang biasa anter penumpang sampai malam ya, Pak?" kata Handi sambil duduk di sebelah sopir.


"Nggak, Nak. Biasanya sebelum petang sudah pulang, tapi hari ini agak sepi. Jadi bapak nekat saja nyetir malam," jawab pak sopir taxi yang mudah bergaul dengan orang yang baru dikenalnya.


Jarak ke paviliun rumah Rey sedikit jauh, mungkin membutuhkan waktu sekitar hampir satu jam. Jadi sepanjang perjalanan, mereka berdua terus bercanda dan tak terasa kalau hari sudah semakin larut malam.


Tapi ditengah perjalanan, ada seorang wanita muda yang menghentikan mobil mereka. Wanita itu nampak pucat, dengan memegang perutnya yang sudah mulai membesar dan sedikit mengeluarkan darah di kedua kakinya.


"Pak, bantu saja!" usul Handi.


"Tapi, Nak....." ucap pak sopir yang terputus saat Handi sudah keluar mobil dan menuntun wanita tersebut untuk duduk di kursi belakang mereka.


"Ayo pak, kita ke rumah sakit terdekat!" ajak Handi.


Tanpa diduga, wanita itu justru mengatakan bahwa dia ingin diantarkan ke alamat yang disebutkannya saja untuk menemui suaminya.


"Tapi, Mbak. Kita harus ke rumah sakit dulu!" kata Handi bersikeras.


Wanita itu terus memohon agar Handi dan pak sopir mau mengantarkan ke alamat yang memang tak terlalu jauh dari tempat itu.


"Sudah, kita antar saja. Toh jarak rumah sakitnya lebih jauh, jadi kita menemui keluarganya dulu saja," usul pak sopir.


Hening, tak ada percakapan lagi sampai mereka tiba di alamat yang dituju. Tapi....tak nampak ada kehidupan di rumah itu. Bahkan halaman rumahnya terlihat sangat kotor, seperti berhari-hari tak pernah dibersihkan.


"Bener ini rumahnya, Mbak? Sepertinya, sudah lama tidak dihuni?" tanya Handi.


Handi dan pak sopir masih terus mengamati keadaan sekitar rumah kosong di sebelah kanannya, sebelum mereka memutuskan untuk turun.


"Berarti, apa saya sudah mati?" terdengar suara gemetar perempuan itu.


Handi dan pak Sopir serentak saling berpandangan, dan bersama-sama melihat ke arah belakang,....kosong. Sudah tak ada siapapun di kursi belakang mereka.

__ADS_1


__ADS_2