Restoran Hantu

Restoran Hantu
Pertolongan Om Barjo


__ADS_3

Yumna masih terus mengamati sepasang suami istri jahat itu. Sampai tiba-tiba, ada sebuah tangan mencengkeram pundak Yumna. Dan belum sempat dia melihat, sosok itu sudah menariknya dalam sebuah lubang cahaya berwarna menyilaukan.


"AAAAAARRGGHHHH......," teriak Yumna.


"Yumna.... Yumna sayaangg....., ayo bangun!" sahut seorang laki-laki yang tak asing untuknya.


"Rey? REYY!!" panggil Yumna langsung memeluk orang yang dia sayangi, saat baru membuka mata.


Rey sudah duduk di sebelah ranjangnya. Dia menunggu semalaman, sambil terus menggenggam dan mencium jemarinya sampai lupa untuk mengistirahatkan tubuhnya sendiri.


"Kamu kenapa? Tolong, jangan seperti itu lagi. Andai rasa sakitmu bisa aku gantikan, biarlah aku saja yang merasakan. Aku tak sanggup melihat kamu yang biasa ceria, jadi lemah tak berdaya," celoteh Rey panjang, tak seperti biasanya.


"Rey.....," ucap Yumna terpotong, karena masih belum yakin akan diceritakannya atau tidak.


"Kenapa?"


"Aku haus!" jawabnya tak jadi bercerita, karena tubuhnya masih lemas juga.


Saat Rey mengambilkan minum untuknya, dari jauh Yumna melihat sosok besar berbulu lebat seperti yang pernah dikenalnya sedang berdiri di balik jendela.


"HATI-HATI, JANGAN SAMPAI TERTARIK KE ALAM ITU LAGI. NANTI KAMU TAK BISA KEMBALI, KARENA ULAH MAKHLUK YANG SELALU MENCARI TUMBAL ITU!" peringatan yang dia berikan melalui batin Yumna.


"Om Barjo?" panggil Yumna lirih.


"Om Barjo? Maksudmu makhluk hitam berbulu itu?" tanya Rey mencari ke arah Yumna menoleh tadi, setelah menyerahkan minum ke mulut Yumna hati-hati.


"He'eh," kata Yumna menunjuk ke arah jendela rumah sakit, tempat dia dirawat saat ini.


Terlambat, karena makhluk itu ternyata sudah pergi menghilang. Jadi Rey tak bisa melihat apapun di sana.


"Yumna, kamu kenapa?" tanya nenek Kip baru saja tiba bersama bu Nuri, yang diantar suaminya tadi sekalian berangkat bekerja.


"Cuma kecapekan aja kok, Nek. Yumna baik-baik saja!"


"Maaf, nenek baru datang pagi ini," ucap nek Kip penuh penyesalan, mengelus rambut di kening Yumna.


"Iya, tadi malam sekali soalnya, saat Rey mengabari ibu. Jadi nek Kip cuma kami tenangkan saja, supaya tak khawatir menunggumu pulang," kilah bu Nuri tersenyum ramah seperti biasa.


"Trimakasih, Bu. Maaf sudah merepotkan!"


"Sama sekali tidak. Meski sebenarnya ibu khawatir sama kamu, tapi ibu pikir memang sebaiknya ke sini saat pagi saja. Biar nek Kip tak terkena angin malam di jalanan."


"Iya, itu terus yang jadi alasan bu Nuri sama nenek. Padahal nenek sudah tak sabar bertemu kamu."


"Yumna tak apa-apa kok, Nek, Bu Nuri."

__ADS_1


"Iya, Rey usahakan untuk terus jaga Yumna. Maafkan Rey juga, yang sudah tak melihat kondisi tubuhnya," ucap Rey menunjukkan wajah murungnya.


"Kamu suka sama Yumna?" tanya bu Nuri tiba-tiba.


Yumna dan Rey langsung saling memandang, dan tersenyum mengangguk mengiyakan.


"Iya, Bu, Nek. Saya suka sama Yumna. Saya tak memaksa untuk mempersuntingnya segera, karena semua keputusan ada pada Yumna," jelas Rey menahan malu saat mengatakannya.


"Ehemmm...., Nenek Kip? Setuju?" celetuk bu Nuri membuat mereka tertawa bersama.


"Berarti hari ini Rey tak ke sekolah?" tanya bu Nuri lagi.


"He.... Kalau saya sekolah, malah tak bisa konsentrasi karena terus memikirkan dia. Jadi lebih baik di sini saja," jawab Rey meringis.


"Ya sudah. Pasti belum makan dan istirahat juga, kan? Ini tadi ibu bawakan masakan dari rumah. Lalu kamu bisa pulang buat mandi dan tidur, biar ibu saja yang menemani Yumna di sini."


"Saya di sini saja! Nanti saya tidur di sofa saja. Tak jadi masalah gak mandi, daripada saya terus kepikiran bocah ini," tunjuk Rey pada Yumna.


"Ya sudah kalau begitu. Makan dulu sana. Terus mandi di sini biar segar, dan istirahat sebentar. Tuh, matanya kelihatan kalau nggak tidur semalaman," tebak bu Nuri.


"Kamu gak tidur, Rey? Cuma buat jagain aku?" tanya Yumna terkejut mendengarnya.


"Ya mana mungkin bisa tidur, kalau kamu sempat kritis juga. Nanti aja makannya, kalau mandi masih nunggu dibawakan baju ganti oleh Mang Aji."


"KRITIS?" tanya bu Nuri dan nenek Kip bersama.


Yumna melamun, berucap dalam hati sambil berpikir tentang mimpinya semalam.


"Tapi untungnya bisa segera membaik, trus langsung bangun tadi," lanjut Rey berusaha tak membuat nek Kip dan bu Nuri khawatir karena ucapannya.


"Rey, trimakasih!" sahut Yumna lemah.


"Iya, sama-sama sayang. Eh, maaf!" seru Rey menjauh karena malu, keceplosan saat ada bu Nuri dan nek Kip di sebelahnya.


****


Sore hari, ada beberapa teman Yumna datang menengok mereka. Kebetulan juga, nek Kip dan bu Nuri pulang sejenak bersama sebelum nanti malam kembali lagi untuk menginap di rumah sakit.


"Ya ampun, ternyata di sini kalian berdua. Terciduk ya!" sahut Mifta mengejek mereka.


Obrolan basa basi terjadi, sampai Mifta membicarakan tentang kak Robert lagi.


"Heh, kalian tahu nggak kalau ibunya kak Robert masuk rumah sakit jiwa?"


"Oh ya? Trus ayahnya?" tanya Yumna semakin antusias, karena dia yakin kalau ini semua ada hubungannya dengan nenek Rey juga.

__ADS_1


"Ayahnya ya gak kenapa-kenapa. Masih mengurus rumah dan usahanya," jawab Mifta lagi.


"Kamu tahu rumahnya?"


"Enggak sih, aku tahu kabarnya dari salah satu polisi teman kakakku. He....," senyum Mifta mengembang karena tak tahu harus menjelaskan apa lagi.


"Rey, kalau aku sudah sembuh, kita cari rumahnya ya!" seru Yumna serius.


"Iya, tapi kamu harus sembuh dulu. Jadi sekarang yang terpenting, kesehatanmu!" tegas Rey mengucapkannya.


"Cieehhh..... Ehem.. Ehemm.... Ada yang kasmaran. Berasa lagi nonton drama penuh kebucinan sejati, ha...ha...ha.....," celetuk Agnes menggoda mereka.


Wajah Yumna dan Rey bersemu merah bersama tanpa aba-aba. Dan itu membuat mereka semakin puas untuk menggoda lebih jauh lagi.


Beberapa saat kemudian,....


" Rey, Yumna, kita pulang dulu ya. Sudah semakin sore soalnya, " pamit Mifta memulai.


"Yaahhh.... Jadi sepi lagi ini," seru Yumna memasang wajah melasnya.


"Bukannya enak kalau lagi sepi, kalian bisa leluasa ngapain aja," celetuk Brodi.


"Dasar cowok. Pikirannya kotor terus ini!" sahut Agnes.


"Sudah, capek godain mereka terus. Ayo pulang!" ajak Mifta lagi.


"Trimakasih, ya! Besok pulang sekolah ke sini lagi, oke!" seru Yumna berharap.


"Kita usahakan, da..daa...."


Ruangan kembali sepi. Yumna dan Rey hanya saling memandang tanpa percakapan. Hingga sesosok tubuh besar menemui mereka di suasana hari yang mulai petang.


"SUDAH SADAR?" tanya Om Barjo muncul menembus tembok di sebelah jendela.


"Apa Om yang menarikku tadi?" tanya Yumna langsung bersemangat lagi.


"HA.. HAA.... HAA...., KAMU HARUS HATI-HATI SAAT TUBUHMU LEMAH. ITU BISA DIMANFAATKAN MAKHLUK YANG SUKA MENGECOH MANUSIA."


"Maksudnya apa sih?" tanya Rey tak mengerti.


"Jadi tadi aku mimpi, seperti sedang berada di masa lalu keluarga Robert. Trus mereka kehabisan tumbal, dan....."


Yumna tak tega untuk menceritakannya.


"DAN MEREKA MENUJU SEBUAH RUMAH BESAR UNTUK MENCELAKAI SEORANG NENEK TUA," lanjut Om Barjo.

__ADS_1


"Nenek tua?" tanya Rey masih bingung.


"Iya, dan rumah besar itu adalah rumahmu!" lanjut Yumna pelan sambil menunggu reaksi Rey.


__ADS_2