
"Nanti malam kamu libur saja, sepertinya besok kita masih harus ke rumah Leila," kata Rey.
"Kenapa, apa ada masalah lagi di sana?"
"Tak ada. Tapi aku hanya ingin menghormati undangan kakaknya saja," kata Rey menjelaskan setelah membaca isi pesan dari telepon genggamnya.
"Sepertinya ada yang mulai akrab nih dengan kak Reina," kata Yumna mulai sewot.
"Gak baik anak gadis manyun gitu, ayo makan saja. Laper!"
Ucapan Rey tak menjelaskan apapun setelah nampak nenek datang membawa beberapa masakan. Tapi tanpa disadari, hal itu membuat Yumna semakin panas karena terbakar hatinya.
"Yumna, tolong ambilkan nak Rey piring dan air. Kasihan dia dah mulai lapar, ini tadi terlanjur cuma siapin dua piring saja."
"Biar dia ambil sendiri, Nek. Dah gedhe, punya tangan kaki lengkap juga. Lagian, dia dah hafal letak rak alat makan di rumah ini."
"Yumna, kamu kenapa? Tak biasanya bersikap tak sopan sama tamu?"
"Sudah, Nek. Biar Rey ambil sendiri saja, mungkin Yumna lagi capek," jelas Rey semakin membuat Yumna gemas karena dia ternyata tak peka atas sikapnya.
Makan malam Yumna dilakukan dengan cepat, agar bisa segera masuk ke kamar untuk menenangkan dirinya setelah membereskan semuanya. Sedangkan Rey juga pamit pulang untuk mempersiapkan bukanya restoran nanti malam.
"Apa aku cemburu? Tapi buat apa? Siapa dia, dan aku apanya, bisa sampai membuat aku seperti itu?" gumam Yumna sambil memandang foto profil milik Rey dari gadget.
"Ah, gak penting! Lebih baik aku lupakan perasaan ini!" lanjut Yumna lagi.
Malam semakin larut, dan matanya juga sudah mulai mengantuk. Diselesaikannya tugas sekolah untuk bisa segera masuk ke alam mimpi.
Sebelum tidur, dia terus memandangi foto kedua orangtuanya. Yumna kangen akan utuhnya keluarga. Tak terasa bulir bening menetes hingga membuat matanya berat dan mulai tertidur lelap.
"Yumna, anakku. Ayah dan ibu bangga kamu menjadi wanita dewasa yang kuat. Tapi kami juga sedih kalau kamu terus mengingat kesedihanmu. Pandanglah masa depanmu, untuk kebahagiaanmu!"
Seperti terasa nyata, ibu Yumna sudah berdiri dan mendekap Yumna bersama sosok ayahnya. Meski dia tak pernah merasa bertemu mereka sebelumnya.
"Ibu, berat sekali hidup ini tanpa kalian. Yumna tak sekuat yang kalian bayangkan."
"Yumna bisa. Kamu pasti bisa!" sahut ayah Yumna menggandeng istrinya untuk pergi menuju cahaya menyilaukan di depan mata.
"IBU!!!!!" teriak Yumna berkeringat membasahi tubuh, dengan masih berada di atas ranjangnya.
Pagi hari telah tiba. Yumna besiap untuk menunggu Rey berangkat sekolah, meski sebenarnya dia tak ingin bertemu. Dia masih kesal atas sikap Rey semalam.
"Pagi, Yumna. Cemberut aja?" tanya Rey yang terlihat bahagia.
__ADS_1
Tapi sikap itu justru membuat Yumna semakin geram. Karena dipikirannya, Rey sedang tak sabar untuk menemui Reina nanti.
Yumna masuk ke dalam mobil tanpa menjawab sepatah kata pun. Dia menatap lurus ke depan, masih dengan egonya yang tak mengakui penyebabnya.
"Hei, kamu kenapa?" tanya Rey.
Masih tak ada jawaban sedikitpun dari Yumna. Rey segera menepikan mobilnya, untuk menanyakannya.
"Apa aku salah?"
"Enggak! Ayo jalan, kenapa berhenti?"
"Aku tak mau jalan, sebelum kamu menjelaskannya dulu."
"Tak ada yang perlu dijelaskan. Ayo jalan, nanti keburu siang."
"Apa kamu marah padaku?"
"Aku bukan siapa-siapamu, kenapa harus marah?" sahut Yumna hampir keceplosan.
"Yumna, aku sudah mengenalmu beberapa bulan ini. Jadi aku sudah sedikit tahu tentang perubahan sikap kamu."
"Kamu tak tahu apapun tentang aku. Kamu terlalu cuek untuk peka pada siapapun!" jawab Yumna masih memandang ke depan.
"Kenapa wajahnya jadi kayak udang rebus?" tanya Rey sedikit menggoda.
"Maksudnya apa?" tanya Yumna masih mengelus pipinya dengan senyum yang hampir tak tertahan.
Rey tak menjawab sedikitpun, dan segera melajukan kembali kendaraannya menuju sekolah. Kali ini wajah Rey yang sudah berubah merah.
Sesampainya di sekolah, mereka belum melihat bu Reni berjualan. Mungkin karena pagi ini, beliau masih mengadakan pemakaman untuk Leila, anak keduanya.
"Yu Nah, kantin lagi tutup. Kita cari sarapan ke depan yuk!" ajak Rey.
"Terserahlah, tapi aku harus berhemat nih kalau mau jajan di luar. Soalnya mahal," jawab Yumna.
"Kayak sama siapa aja, aku yang traktir deh!"
"Wah, kita denger lo. Bakso di depan enak tuh kayaknya," sahut Mifta dari belakang mereka.
"Kayaknya kalau sarapan, lebih enakan bubur deh," sahut Agnes kemudian.
"Gimana kalau makannya pulang sekolah nanti saja. Bentar lagi kayaknya bel sudah mau bunyi," jawab Yumna.
__ADS_1
"Yahh, gak jadi dapat sarapan gratis dong," seru Mifta tersenyum menggoda mereka.
"Kan aku bilang nanti siang, sudah ayo kita masuk saja!"
Benar perkiraan Yumna, bel segera berbunyi saat baru sebentar menempelkan badan ke kursi. Mereka semua mengikuti pelajaran dengan tak terlalu konsentrasi, karena tak ada warung makan yang buka di kantin sekolah pagi ini.
'Teeeet...... Teeeet.....'
Akhirnya, jam pulang yang dinantikan pun tiba.
Beberapa teman laki-laki yang dekat dengan mereka, ikut mengusulkan beberapa menu makanan di food court yang terletak tak jauh dari seberang sekolah.
"Kok banyak yang ikut? Aku kan jadi gak enak kalau ditraktir. Kita bayar sendiri-sendiri aja ya," usul Yumna.
"Yah, padahal kita dah semangat," sahut Mifta.
"Ayo ke sana, aku yang traktir. Anggap aja sekarang hari spesial kami," kata Rey membuat semua mata menuju ke arah Yumna.
"Jadii... Cieh... Cieh..., pajak jadian nih kayaknya" sahut Agnes.
"Apaan sih, kenapa lihat aku semua. Nih juga Rey, ngomong apa gak jelas," kata Yumna mencoba menyembunyikan perasaan bahagia, meskipun tak bisa menutupi senyumnya.
"Sudah, ayo!"
Rey memimpin berjalan paling depan. Ada sekitar tujuh orang yang mengikutinya dari belakang. Termasuk Handi dan Brodi.
Mereka sudah memesan masing-masing, dan menunggu kedatangan makanan yang sudah terbayangkan. Tapi, ada sosok lain yang menarik perhatian Yumna dan Rey lagi.
Sosok berbadan hitam legam, telinga runcing ke atas, lidah panjang menjulur ke depan, dan siap mencelupkannya ke dalam panci bakso di salah satu kedai.
"Yakin masih mau makan bakso?" tanya Yumna menatap Mifta.
"Waduh, kalau Yumna yang bilang gitu, aku jadi gak enak ini."
"Kenapa? Kan Yumna cuma tanya gitu aja?" tanya Agnes menatap Mifta.
"Kalau kamu yang ngomong, aku sih biasa aja. Tapi kalau sudah Yumna yang tanya gitu, pasti ada hubungannya sama makhluk tak kasat mata," jawab Mifta keceplosan.
"Ma..maksudnya?"
"Maksudnya bakteri, atau kuman gitu ya? Pake ngomong makhluk tak kasat mata segala," timpal Yumna.
"Nah, itu maksudnya. Soalnya si Yumna kan ahli biologi kalau di kelas, pasti dia lebih paham hal itu," kata Mifta memperbaiki ucapannya.
__ADS_1
"Kayaknya bukan cuma biologi, semua mata pelajaran diserapnya dengan sangaaaattt baik," timpal Agnes yang ternyata tak paham maksud sebenarnya.