Restoran Hantu

Restoran Hantu
Canda, Sosok Anak Tanpa Orang Tua


__ADS_3

"Ya sudah, mungkin dia bingung sama dirinya sendiri. Ayo aku antar pulang, jangan ngambek lagi!" ajak Rey mencubit pelan pipi Yumna.


Hari sudah mulai gelap saat Rey mengantar Yumna pulang. Banyak hal yang dilalui mereka hari ini, sehingga tak terasa waktu begitu cepat berlalu.


Hingga sesampainya di halaman rumah, Yumna merasa tak enak pada nenek Kip yang pasti sudah menunggunya dari tadi.


"Nek, nenek?"


Yumna mengetuk rumahnya beberapa kali, tapi tak ada jawaban dari dalam sedikitpun. Perasaan khawatir dimulai, tapi Yumna terus berusaha mencari seseorang yang disayanginya itu melalui jendela yang bisa melihat isi dalam rumahnya.


"Kenapa? Nenek gak ada di rumah?" tanya Rey mendekat setelah mengamati Yumna dari mobilnya.


"Nggak tau, ini nenek gak jawab. Nek... Nenek?" teriak Yumna lagi.


"Baru pulang, Nak?" jawab nenek Kip yang ternyata sudah berdiri di belakang mereka.


"Nenek? Bikin khawatir aja, darimana? Kok dia?"


Yumna dan Rey terkejut, saat melihat anak yang ditinggalkannya tadi sudah berada di samping neneknya.


"Oh, ini? Namanya Canda, dan dia cucunya mbah Marsiah tetangga kita di ujung sana. Tapi neneknya sekarang sedang ke luar kota, ikut ibunya dia. Nenek juga bingung gimana dia bisa ada di desa ini sendiri? Soalnya dia kan memang tuna grahita dari kecil jadi susah ditanya apapun."


"Rey? Katamu?" tanya Yumna memandang ke arah Rey.


"Iya, aku yakin. Lihat saja nanti," jawab Rey masih pada pendiriannya.


"Kenapa? Kok kalian bingung gitu?"


"Darimana nenek? Kok bisa ketemu dia? Kenapa pintu rumah juga dikunci? Yumna khawatir sama nenek."


"Tadi nenek denger ada suara anak nangis, trus karena kamu belum pulang ya nenek kunci rumahnya. Nenek cari suara yang lagi nangis itu, eh ternyata si Canda yang lagi nangis di dekat rumah neneknya."


"Nenek masuk aja, nanti biar Yumna yang urus dia."


"Iya, Nek. Nenek istirahat saja, mau Rey masakin nggak?" ajak Rey menggandeng nenek Kip.


"Ajak Canda masuk, kasihan tangannya sampai dingin gitu diluar," perintah nenek pada Yumna.


"Rey?" tanya Yumna yang hanya dijawab anggukan olehnya.


Akhirnya mereka memutuskan untuk masuk ke dalam. Yumna minta ijin pada nenek Kip, untuk diperbolehkan tidur dengan Canda.


Selesai Rey pamit pulang, Canda masih terlihat pucat dan diam seperti sebelumnya. Tapi terkadang terdengar tangisan tiba-tiba saat ditanya tentang orang tuanya. Paksaan nenek Kip untuknya makan, juga tak diturutinya.


"Nak, nenek tidur dulu ya! Yumna bisa kan jaga dia?" kata nenek Kip yang menjadi kesempatan untuk Yumna menyelidiki Canda.

__ADS_1


"Bisa, nenek tidur saja!"


Yumna masih menemani Canda di ruang santainya. Sambil sesekali meliriknya, sembari melihat berita di televisi.


"Hik... Hik....," tangis Canda mulai lagi saat acaranya tentang kebersamaan keluarga.


"Kamu kenapa? Ada yang salah dengan orang tuamu?" tamya Yumna pelan-pelan.


"Huwaaa......," tangia Canda lagi sambil menunjuk ke luar rumah.


"Sssttt,... Oke kakak antar kamu mau kemana? Tapi diam jangan nangis, biar nenek gak bangun!" ucap Yumna memberi syarat.


Tangis Canda mulai reda, diiringi anggukan kepala.


"Sebentar, kakak telepon teman kakak dulu ya!"


Yumna mencoba menghubungi Rey, tapi tak ada jawaban darinya. Akhirnya Yumna memutuskan untuk mengantar Canda sendiri, dengan meninggalkan pesan pada Rey sebelum pergi.


"Rey, Canda mengajakku keluar. Aku tak tahu kemana, soalnya dia hanya menunjuk saja."


Isi pesan Yumna untuk Rey sebelum dia menjauh dari rumahnya.


"Ayo!! Mau kemana?" tanya Yumna lagi.


Canda hanya menunjuk ke luar rumah. Terus diikutinya arah yang ditunjuk olehnya. Mulai sampailah mereka di jalan raya.


Canda hanya menggelengkan kepala, dan terus menunjuk ke jalan yang lebih jauh lagi.


Mereka terus berjalan di kegelapan malam. Hanya berbekal senter, dengan baju hangat yang menempel di tubuh Yumna.


" Masih jauh? " tanya Yumna lagi dan lagi.


Canda hanya menggelengkan kepala di setiap pertanyaan Yumna. Sampailah mereka tiba di tempat pertama kali Yumna menemukannya.


"Tempat Pemakaman Umum?" gumam Yumna membaca tulisan di depannya.


Nampak para makhluk sudah ramai di dalamnya. Dengan beraneka bentuk, yang tak nyaman untuk dilihat rupanya.


"Maksudnya apa?" tanya Yumna lagi saat Canda menunjuk untuk mengajak masuk ke dalamnya.


"Waduh, serius? Tap... Tapi di sana ramai lo. Besok pagi saja gimana?" tanya Yumna.


Tanpa diduganya, Canda berlari masuk ke dalamnya.


"CANDAAA!!!" teriak Yumna membuat para penghuni tempat itu mendapat perhatiannya.

__ADS_1


"Waduh, gawat nih. Aku harus segera pergi, sebelum mereka mengajak aku ke pesta gak jelas itu!" gumam Yumna hendak meninggalkan tempat itu.


Terlambat, karena sudah ada makhluk berdaster putih yang menarik tangannya.


"Stop, Mbak! Pliss, aku capek. Mau pulang dulu," jawab Yumna mencoba merayu untuk dilepaskan pergi.


"Ayo, lagi seru nih. Masuk aja, gak apa-apa!" kata wanita yang terus menarik Yumna untuk masuk ke dalamnya.


Yumna menikuti dari belakang, dan terlihat jelas sebuah lubang menganga dari punggungnya. Lubang penuh darah, dengan belatung penuh mengelilinginya.


" Mbak, tolong aku mau pulang saja! "seru Yumna.


Tapi dia terus ditarik maju untuk masuk ke dalamnya. Sedikit rasa takut selalu menyelimuti, meski dia terbiasa menghadapi. Karena dia belum pernah sekalipun untuk berinteraksi dengan makhluk tak kasat mata sebanyak ini.


Tanpa dia duga, ternyata sampai di dalam banyak yang menyambut kedatangannya. Dia sudah cukup pinya nama di kalangan mereka. Banyak dari mereka uang sudah pernah datang di restoran tempatnya bekerja.


"Yumna....," ucap sekelompok berbalut kain putih dengan ikatan di kepala.


"Yumna!"


"Eh, iya bener. Itu Yumna!"


"Yumna, ajak kita ke restoran ya."


"Yumna, eh iya bener itu Yumna."


"Ajak kiya juga ya!"


Suara panggilan untuknya memenuhi rongga telinga. Seperti selebriti yang dikelilingi para penggemarnya. Semakin ke dalam, semakin banyak yang memperhatikannya.


"Eh, itu Canda. Dia di atas makam siapa?" gumam Yumna mendekat, mulai tak menghiraukan semuanya.


Ada satu makam yng sepertinya masih baru dibuat. Tanpa nisan yang jelas di atasnya, hanya sebuah batu sebagai penanda.


...Masih sibuk dia terus mengamati, hingga suara dering telepon membuyarkan lamunannya....


"Kamu di mana? Aku jemput sekarang!" seru Rey dari seberang.


"Ak.. Aku... Akuu...," ucap Yumna belum sempat menunjukkan lokasi tempatnya berada.


...'Tut... Tut... Tut...'...


Suara sambungan terputus karena kehabisan baterai.


"Waduh, gimana ini? Canda, ayo kita balik pulang! Besok sepulang sekolah kita ke sini lagi," rayu Yumna yang tak berhasil mengajak Canda.

__ADS_1


Yumna tak bisa pergi tanpa Canda, karena dia takut nanti nenek mencarinya. Selain itu, para penghuni makam semakin banyak berdatangan, dan memenuhi jalannya untuk menuju pulang.


" Canda, ayo pulang! " kata Yumna berulang kali sampai rasa kantuk mulai datang di pelupuk matanya.


__ADS_2