
Yumna menceritakan semua tentang pria yang mengikuti di belakang mobil mereka. Dan Rey pun mengijinkan, untuk ke restoran hantu miliknya.
"Kita ke rumah dulu ya," ajak Rey sambil menyalakan mesin mobilnya.
"Lhoh, gak anter aku pulang dulu aja? Mau ngapain hayooo.......," seru Yumna dengan menyiapkan posisi seperti hendak memukul seseorang di depannya.
"Apaan sih. GR banget!"
"Trus mau ngapain ke rumahmu? Gak mau kenalin aku ke orang tuamu juga kan?"
"Lebih GR lagi kayaknya. Hadeeehhh.....," jawab Rey menggelengkan kepala sambil menepuk dahinya.
"Trus?"
"Mau ambil bahan makanan buat restoran nanti malam. Sekalian, kan deket rumahmu juga. Biar cepat diolah dan kita tak terburu-buru untuk datang."
"Owalah," jawab Yumna membetulkan posisi duduknya dengan sedikit malu.
Perjalanan hanya dilalui dalam diam. Yumna terlihat gugup meski tak terlalu jauh jalan yang ditempuh. Tapi cukup membuat suasana menjadi canggung untuk sementara waktu.
"Tunggu sini aja, aku ambil bahan masakannya dulu!" sahut Rey meminta Yumna setelah tiba di halaman rumahnya.
"Okey!"
"Tak lama, Rey pun tiba. Dia muncul dengan membawa segebok bahan makanan."
"Banyak juga ternyata bahannya ya? Tapi, kalau boleh aku tanya....ehmm, gimana ngomongnya ya?"
"Kenapa? Ngomong aja!" kata Rey meyakinkan.
"Kan hantu itu cuma makan sarinya aja. Trus sisa makanan yang sebenarnya diapakan sih? Apa gak mubadzir kalau harus dibuang setiap hari? Tapi kalau dikasih orang juga dah hambar gak ada rasa?" tanya Yumna mulai berani mengutarakan ganjalan dipikirannya selama ini.
" Setahumu gimana? "
" Lhah, ditanya balik nanya? "
" Jodi yang bertugas membersihkan piring kotor kan? Tanyalah sama dia! "
" Hih, ribet banget jadi orang? Kamu kan bosnya, harusnya semua atas perintah kamu kan? Meskipun orang awam yang melihatnya tak ada yang berubah, tapi itu cuma sisa. Nah, trus diapakan? Kalau gak mau jawab ya udah deh! " sahut Yumna mulai kesal dengan menampakkan nada tingginya.
" Jangan marah dong. Nanti hilang lo cantiknya," bujuk Rey mengelus halus puncak rambut Yumna, tapi sepertinya tak berhasil membuat raut wajah kesalnya berubah.
" Gitu aja pake ribet, harus tanya Jodi segala lagi. Kalau gak mau jawab tinggal bilang aja kenapa sih?"
"Iya.... Iya..... Jadi setiap kita selesai dan pulang, Jodi mengumpulkan sisa makanan di tempat khusus belakang restoran. Di sana sudah menunggu ratusan ekor kucing setiap paginya. Jadi tidak ada yang mubadzir, terbuang sia-sia. Puas?"
__ADS_1
"Ohw, jadi gitu! Soalnya kan aku gak pernah ke belakang. Gelap banget sih, lagian buat apa juga ke sana he.....," jawab Yumna mulai bisa meringis.
"Senyum gitu manis!" sahut Rey sambil menyalakan mesin mobil.
Mereka berencana pergi ke restoran hantu dahulu, sebelum mengantar Yumna untuk pulang ke rumahnya. Suami Kinan juga sepertinya masih setia mengikuti.
Namun saat di tengah jalan, telepon genggam Rey berbunyi.
" Ya, hallo? Oh, Reina!"
Mulai ada rasa tak suka saat Yumna mendengar Rey dihubungi oleh Reina. Tapi dia masih belum punya kuasa untuk melarangnya.
"Oh, jadi gitu. Ya sudah, kamu hati-hati sama bapak tirimu itu," jawab Rey singkat.
Rey menutup sambungan telepon, dan mulai memandang wajah Yumna sebentar sambil masih melajukan kendaraan.
"Hei, kamu kenapa?" tanya Rey langsung meraih tangan Yumna untuk digenggamnya.
"Eh," jawab Yumna kaget saat tangan mereka saling menempel, dan mengganti rasa kesal dengan perasaan deg-degan tak karuan.
"Eng... Enggak apa-apa!" jawab Yumna gugup, sambil membalas genggaman tangan Rey.
Mereka saling berpandangan satu sama lain tanpa kata. Sekejap saja sudah membuat mereka bahagia.
"Rey!" teriak Yumna mengeratkan genggaman, saat kemudi Rey hampir tak fokus di jalanan.
"Duh, kalian ini pengen kayak aku ya? Gak enak tau!"
"Enggak, Om. Jangan, Yumna masih pengen nikah dulu, pengen bahagiain nenek dulu!" jawab Yumna asal nyeplos saja.
"Ayo!" seru Rey membuat Yumna dan suami Kinan sempat bingung.
"Ayo kemana? Bukannya kita memang mau ke restoran hantu?"
"Katanya mau nikah dulu?" sahut Rey tersenyum manis, dengan sorot mata serius meskipun sebenarnya untuk menggoda Yumna.
"Apaan sih! Masih sekolah juga," jawab Yumna memalingkan muka, untuk menutupi wajah malunya dengan melepas genggaman tangan mereka.
"Kok malah dilepas? Sini tangannya!"
"Kenapa? Tangan-tanganku sendiri, kenapa situ yang ngotot?" seru Yumna mencoba bercanda untuk menghilangkan rasa canggung.
"Ini perintah, masih mau kerja sama bos kan?" tanya Rey membuat Yumna menuruti genggaman tangan itu lagi dan mereka tertawa bersama.
Sesampainya di depan restoran, hari masih terlalu terang. Dan belum terlihat banyak aktifitas di sekitarnya selain kucing-kucing yang ternyata banyak mereka lewati.
__ADS_1
" Kucing sebanyak ini kalau malam kemana? Ternyata banyak juga ya?" tanya Yumna.
"Kalau malam, mereka tidur sambil menunggu di belakang."
"Waow, ini restoran hantunya?" kagum suami Kinan yang masih mematung berdiri di depan.
"Iya, ayo masuk Om, eh Pak, eh....harusnya manggil apa sih? Lhah, yang penting silahkan aja deh!" sahut Yumna mulai tak bisa menahan rasa gugupnya, karena tangannya masih digenggam erat oleh Rey untuk masuk ke dalam.
"Restoran ini bergaya Eropa, tapi kok orang-orangnya Asia semua tampaknya?" sahut suami Kinan melihat penghuninya meski belum nampak Meyta dan Kinan.
"Restoran ini bangunan lama. Trus aku beli saja, meski sebelumnya juga ada penunggunya dari ras Eropa," jelas Rey sambil menyerahkan bahan makanan pada Shema.
"Trus mereka kemana? Kok aku gak pernah lihat?" tanya Yumna.
"Mereka sudah tenang menuju alam selanjutnya, setelah dibantu bos menyelesaikan masalahnya yang tertinggal di dunia," sahut Boni mendekati mereka.
"Oh, lalu kalian pegawainya hantu juga kan? Bagaimana bisa?" tanya suami Kinan lagi.
"Kami bertiga berhutang budi sama bos Reyhan. Dan kami berjanji akan selalu menemaninya sampai dia menikah nanti!" jawab Jodi yang melongok menembus tembok seperti yang pernah dia lakukan sebelumnya.
"Oh, jadi gitu. Trus, dimana istriku?" tanya sosok pria itu lagi.
"Tunggu sini aja dulu, Mas. Istrinya yang mana?" tanya Shema mulai menggoda.
"Ehem..., mbak Shema. Ini suaminya mbak Kinan," jawab Yumna menjelaskan singkat.
"Oh, maaf ya Mas. Mbak Kinannya masih menemani Meyta menjenguk kelurganya," jawab Shema lagi dengan nada genitnya.
"Sebaiknya kamu membantu di dapur dulu!" perintah Rey pada Shema.
"Yah, pak Bos."
Shema sedikit kecewa karena tak bisa menemani pria itu. Tapi Rey yang tau sifat Shema, sengaja membuat dia menjauhi pria itu karena sudah punya maksud mencari istrinya saat datang di restoran ini.
"Iya, mbak. Kita saja yang temani suaminya mbak Kinan," kata Yumna menguatkan perintah Rey.
Semua kembali ke pekerjaan masing-masing. Dan Yumna diminta untuk menemani Rey sebentar sebelum Kinan datang, sampai tak ingat kalau mereka masih saling bergandengan tangan.
"Nanti malam apa gak capek kalau sekarang gak pulang dulu?" ajak Yumna.
"Nanti malam kamu free, jadi kerjanya sekarang saja."
"Oke, baiklah. Apa cuma menunggu sampai mbak Kinan datang?"
"Ya, duduklah di situ saja tak usah kemana-mana!" perintah Rey sebelum Yumna berdiri untuk membantu Shema membereskan ruangan.
__ADS_1