Restoran Hantu

Restoran Hantu
Penumbalan Oleh Praja


__ADS_3

"Rey, tunggu!!" teriak Yumna menyusulnya.


Rey dengan cepat berlari, untuk segera masuk lebih dalam di rumah yang sedikit temaram. Guna menemui Praja dengan hati tak sabar karena geram.


"Wah, akhirnya kamu datang juga."


Praja muncul dengan jubah hitam, persis sama seperti orang yang menculik nek Kip tadi. Sambil bertepuk tangan, dia tersenyum lebar tanda kemenangan.


"Apa maumu! Lepaskan nenek itu!" Rey berteriak marah pada Praja.


"Hahaha...., bodoh sekali kalau aku mau menuruti maumu, setelah susah payah kami culik nenek ini untuk memancingmu. Bisa-bisa, kami dihajar warga kalau mereka mengadu."


"Tak cukupkah kau telah menumbalkan nenekku? Ibumu sendiri?"


"Ibu? Apa masih boleh dipanggil ibu, saat dia sudah mengusirku? Tak memberikan warisannya sedikitpun untukku? Cuiihh....tak sudi!"


"Sekarang, siapa yang akan kau jadikan tumbal selanjutnya?"


"KAMU! Ayo tangkap. Sasaran sudah datang sendiri, sebelum kita mengancamnya dengan sandra nenek tua ini. Hahahaaa........," tawa Praja kembali terdengar menyakitkan.


Dua orang berjubah hitam lain dengan sigap segera menarik lengan Rey ke belakang. Rey tak berkutik, karena lengannya sudah cukup terkunci.


Lalu membawanya ke sebuah ruangan bernuansa hitam, yang aromanya pengap karena tak terdapat celah udara sedikitpun.


" REY!! " teriak Yumna baru masuk ke ruangan pemujaan di rumah Praja, karena sempat melihat sekelebat dari mereka masuk ke sana.


" Nah, itu yang punya nenek datang. Ikat dia bersama neneknya di kursi. Sampai acara pemujaan hari ini selesai, agar kita bisa menyerahkan jiwa anak lelaki ini pada tuan Darkon, tanpa ada gangguan lagi."


Yumna juga ikut ditangkap dan diikat oleh para pemuja lain. Ada sekitar sepuluh orang yang mengenakan jubah, termasuk Praja sendiri sebagai pemimpinnya.


" Apa yang ingin kamu lakukan? " Yumna terus meronta, berusaha membebaskan diri.


" Lepaskan mereka! Hadapi aku saja!!" marah Rey pada pamannya sendiri.


"Tenang saja. Nanti aku akan mengirim mereka berdua ke surga, setelah mengirimmu ke neraka untuk menemani tuanku Darkon. Hahahaa......."

__ADS_1


"Kalau kau menginginkanku, kenapa kau membuat mereka masuk dalam rencanamu juga? Mereka tak ada hubungannya, jadi lepaskan saja!" teriak Rey menyorotkan mata murkanya.


"Sangat berhubungan. Karena kalau tak seperti ini, kau tak akan mau datang ke sini bukan? Ah, memang kau keponakanku yang tampan. Yang bisa menjadi tumbal besar ku malam ini. Karena di dalam darahmu masih mengalir darah yang sama denganku."


"Kenapa kau korbankan Rey? Kenapa harus mengorbankan keluargamu? Tak pedulikah kau tentang hal itu?" tanya Yumna mencoba melunak.


"Justru karena keluarga, aku bisa menumbalkan. Karena malam ini memang diperuntukkan penyerahan tumbal sedarah."


"Untuk memulai pembangunan kembali istana megahku karena kesalahan yang aku buat, sampai membuat tuan Darkon marah dulu. Supaya nanti istriku bisa kembali waras, dan menemaniku menjadi penguasa sukses lagi di sini."


"Jadi, kau tak berniat menumbalkan istrimu?" tanya Yumna merasa langkah yang di susun salah.


"Kalau ada tumbal yang lain, kenapa harus orang yang aku sayang? Apalagi istriku juga ikut melakukan pemujaan, ah harusnya aku ajak dia ke sini tadi biar bisa melihat langsung hari ini."


Dari jauh, nampak Rey masih berusaha membuka tali yang membuatnya terlentang diatas lantai bergambar bintang banyak sudut. Di sekelilingnya juga terdapat lilin merah menyala melingkari tubuhnya.


" Tuan, pisaunya sudah siap! " ujar seseorang memberikan gagang pisau tanpa besi di ujungnya.


"Apa yang ingin kau lakukan? Kenapa tak kau cari tumbal orang lain. Dia masih keponakanmu, anak satu-satunya dari kakakmu. Ingat itu!" teriak Yumna sambil meneteskan air mata, berharap Praja lebih melunak untuk melawannya lagi nanti saat dia sudah mulai lengah.


" Tumbal orang lain? Tak bisa. Aku gak ingin membuat tuanku marah lagi, saat aku memberikan tumbal yang tak sedarah. Itu hanya sekedar camilan untuknya, tapi saat ini aku sudah berjanji untuk memberikan makanan lezat setelah aku bertemu anak ini tempo hari."


" Iya, hanya sebagai penahan lapar dia sebelum aku memberi korban sedarah lagi di waktu berikutnya. Itupun harus memberikan calon camilan itu sesuatu dulu, sebagai simbol kesediaannya menjadi tumbal."


" Memang, apa yang biasa kau berikan sebelum menjadikannya tumbal camilan?" tanya Yumna berusaha mengulur waktu.


" Biasanya makanan, atau barang apapun yang sudah kubacakan mantra. Ah, banyak omong sekali kamu rupanya. Aku selesaikan dia dulu, jangan berisik! "


Praja mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna hitam. Saat dibuka, terlihat ada bola bercahaya merah menyilaukan. Lalu ditancapkannya pada gagang pisau aneh berukiran kepala kerbau hitam.


" Kau tahu, dengan pisau ini tak akan ada orang yang tahu kalau aku sudah menghilangkan nyawamu. Karena tak akan berbekas luka sama sekali. Persis seperti yang aku lakukan pada nenek kesayanganmu. Hahahaaa......"


"Stopp, aku saja. Aku saja yang jadi tumbalnya, meskipun hanya camilan!" teriak Yumna tak tega melihat Rey, yang sudah tak berdaya setelah diberi minuman berwarna hitam kecoklatan oleh salah satu pemuja setan.


"Kamu? Tak ada yang bisa ku berikan padamu saat ini. Tapi nanti akan aku pikirkan lagi setelah aku menyerahkan anak ini!"

__ADS_1


Para pemuja lainnya langsung menyuarakan mantra anehnya. Mengiringi pemimpin yang hendak melakukan ritual penumbalan hari ini.


"Hyyaaaaat........!"


Pisau gaib tersebut mulai diayunkan ke atas kepala, sebelum ditancapkan pada tubuh Rey yang sudah lemah.


'JLEDEEERRrrr.......'


Suara pisau saat mengenai jantung manusia.


"REYYYYY.....," Yumna berteriak sekuat tenaga, bersamaan dengan dia menutup kedua matanya.


"TIDAAAAAKKKK!!!"


Terdengar teriakan laki-laki, yang tak lain adalah Praja sendiri.


"Rey?" tanya Yumna kaget, sambil terus meneteskan air mata saat mulai membukanya perlahan.


Ternyata dengan sigap, kakek Deva sudah berusaha untuk menghadang pisau gaib yang hendak menghunus jantung Rey. Tapi sayangnya, dia yang menerima akibatnya.


"Tuan Praja, bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?" tanya seorang pemuja ketakutan.


"Kurang ajar! Siapa dia? Kenapa dia ada di sini dan menghalangi pisau ini?"


Praja semakin ketakutan, tak tahu akan seperti apa marahnya Darkon nanti. Setelah tancapan pisaunya mengenai orang lain yang tak memenuhi syaratnya sebagai tumbal, sesuai perjanjian sebelumnya.


" Yumna? Kau tak apa? " tanya seorang polisi sepupu Mifta yang baru datang ke tempat itu.


Praja kebingungan, kehilangan arah saat tanah rumahnya mulai bergetar hebat. Para pengikutnyapun sudah tak memperdulikan keadaan sekitar, lari sendiri-sendiri hendak menyelamatkan diri.


Sepupu Mifta bersama dua rekannya berusaha melepas ikatan semua sandra dengan cepat. Dan membopong dua tubuh manusia yang sudah tak berdaya.


Getaran tanah semakin hebat, sampai menjatuhkan barang-barang di seluruh bagian rumah.


Yumna hanya bisa menangis memeluk tubuh neneknya yang sedari tadi tak menanggapi apa-apa.

__ADS_1


"Ayo, kita keluar dulu. Sebelum rumah ini ambruk nanti!" seru sepupu Mifta memimpin di depan sambil menuntuk nek Kip yang masih sadar.


Runtuhan semakin hebat, membuat sedikit kesusahan saat membawa orang keluar. Ditambah desain rumah Praja yang sengaja membingungkan, membuat mereka kesusahan mencari jalan keluar.


__ADS_2