Restoran Hantu

Restoran Hantu
Kakek Tua Misterius


__ADS_3

Traktiran makan siang bisa terlewati dengan sangat baik, meski mereka semua terus menggoda Yumna yang sudah jadi pacar dari Reyhan. Yumna berulang kali berkata tidak, tapi mereka semakin lebih semangat saat melihat Rey yang hanya tersenyum dan tak menolaknya.


"Sudah, ayo kita pulang saja," kata Handi memberi usul.


"Apa kamu cemburu?" sahut Agnes menebaknya.


"Apaan sih! Semakin ngaco, ayo kita pulang," seru Yumna sebelum Handi menjawabnya.


Semua beranjak meninggalkan meja setelah Rey selesai membayar semuanya.


"Dadah,.... Yumna, Rey. Besok lagi ya, he.....," sahut Mifta melambaikan tangannya dengan cengengesan senang, setelah makan di dekat Brodi target kesayangan.


Yumna membalas lambaian itu diiringi senyum simpul Rey, dan ditanggapi juga oleh teman lainnya sebagai perpisahan sementara.


"Berangkat sekarang?," tanya Rey sambil berjalan menuju parkiran mobilnya.


"Trus, gimana? Jadi ke rumah Leila?"


Yumna bertanya dengan sedikit menahan kesal di dada.


"Jadilah, kan sudah janji."


"Huff......," hembusan nafas kasar Yumna membuat Rey semakin gemas melihatnya.


"Kamu kenapa? Cemburu?"


Pertanyaan Rey tiba-tiba membuat lebih sesak di dada untuk menjawabnya.


"Eh, memang aku siapa? Pakai cemburu segala."


"Justru aku lebih suka kalau kamu merasa cemburu seperti itu, ayo!" sahut Rey sambil mendahului untuk masuk ke dalam mobilnya.


Merekapun melanjutkan perjalanan ke rumah Leila, untuk bertemu dengan kakaknya, Reina.


Sebenarnya, ada hal lain yang membuat Rey merasa harus ke sana. Terasa ada energi yang selalu memanggil hatinya untuk kembali ke sekitar tempat pembunuhan Leila.


Perjalanan terasa padat, karena bersamaan dengan para pekerja kantor yang melintasinya. Dan seperti biasa, Yumna menggunakan waktunya untuk tidur sebentar di dalam mobil saja sebelum nanti malam harus bekerja.


Masih dalam mimpinya, Yumna melihat seorang kakek tua. Kakek itu tersenyum di atas sebuah jembatan lama. Dia melambaikan tangan, dan menunjuk ke sebuah gundukan di bawah bambu dekat jembatan itu.


Dia terus mengamati perilaku kakek yang lama-lama berubah menjadi mengerikan. Lehernya perlahan seperti teriris benda tajam. Kemudian goresan itu semakin menyayat, dan terus meneteskan darah yang teramat sangat.


Sampai pada akhirnya kepalanya terputus, menggelinding sampai di kaki tempatnya berdiri.


"Aaaaarrghh.......!" teriak Yumna mulai sadar bahwa itu hanya mimpi.


"Kenapa sih?" tanya Rey memandang aneh sebentar ke arah Yumna yang masih berusaha mengatur nafasnya.

__ADS_1


"Tadi.... Tadi aku mimpi buruk. Buruk sekali, heh.... Sudahlah. Aku tak mau mengingatnya lagi."


"Makanya, jadi orang jangan gampang tidur di jalan. Nih, minum dulu!"


Rey mengambil botol kecil air mineral yang masih belum terbuka.


"Trimakasih."


"Biasa aja, cuma air mineral pake trimakasih segala."


"Trimakasih atas perubahan sikapmu yang lebih menghargai orang akhir-akhir ini."


Yumna langsung mencium pipi kiri Rey, dengan malu-malu meski pada awalnya Rey yang sudah memulainya dahulu.


"Apa maksudnya?"


Rey bingung, memegang pipinya yang hampir merona merah karena merasa berbunga-bunga.


"Rey, stop! Jembatan itu, kok gak asing buatku?"


Yumna mengingat mimpinya yang bertemu kakek tua di jembatan ini. Sama, dan tak ada yang berbeda selain keberadaan kakek itu yang tak terlihat ada.


"Kenapa? Apa kamu pernah ke jembatan ini sebelumnya? Padahal kemarin kita ke rumah Leila melalui jalan yang lainnya, ini aku mau coba lewat jalan tembus dari belakang rumahnya."


"Tapi dimana kakek tua itu?" sahut Yumna celingukan dan tak menanggapi perkataan Rey barusan.


"Iya, tadi dalam mimpiku aku bertemu kakek tua dijembatan ini. Tapi kondisinya mengerikan."


"Oh, mungkin energi ini yang menarikku untuk kembali ke sini. Baiklah, kita ketemu Reina dulu saja. Mungkin dia bisa memberikan suatu petunjuk untuk kita."


"Ja... Jadi. Kamu ngotot ke sini bukan karena pengen ketemu kak Reina? Tapi karena ada panggilan batin padamu?"


"Iyalah, kamu kira aku suka sama Reina?"


Senyum Rey terkembang saat melihat tingkah malu Yumna pada dirinya. Rey mengusap lembut kepala Yumna, untuk menenangkan rasa malunya. Dan mereka berdua turun saat mobil sudah terparkir dengan sempurna.


"Ayo turun, tenang aja. Kamu gak usah khawatir kalau aku bisa suka sama dia," sahut Rey menambah rasa malu Yumna.


Sesampainya di depan pintu rumah tujuan, mereka berdua mengetuknya. Dan tak membutuhkan waktu lama, sosok Reina sudah menyambut kedatangan mereka.


" Lagi libur, Kak? "


" Iya, masih cuti buat temani ibu yang masih trauma. Silhkan masuk!"


"Iya, Kak. Trimakasih."


"Mau minum apa?"

__ADS_1


"Tak usahlah, santai saja. Gimana keadaan ibu?"


"Sudah lebih baik, sekarang lagi istirahat."


Kami membicarakan obrolan basa basi seputar kematian Leila, yang sebenarnya sudah diketahui oleh masing-masing dari kami.


Tapi tak lama setelah itu, Rey langsung mengubah arah pembicaraan ke tujuan utama.


"Reina, apa di sekitar sini sering ada kakek tua? Gimana ciri-cirinya, Yu Nah?" tanya Rey sambil sesekali meledekku.


"Kakeknya tua, pakai baju hitam dengan terbuka dan kaos putih kumal terlihat di dalamnya. Trus celana sedikit dibawah lutut, dengan warna hitam senada. Tapi kelihatannya masih kuat untuk bekerja."


"Darimana kamu tahu kalau masih kuat untuk bekerja?" tanya Rey.


"Soalnya tubuhnya masih terlihat tegap, meskipun rambutnya sudah memutih semuanya."


"Sebentar, aku ambilkan dulu."


Reina meminta ijin untuk masuk ke dalam rumah, mengambil sesuatu yang ingin ditunjukkannya pada kami. Dan tak lama, ia pun kembali membawa sebuah album seperti foto keluarganya.


"Apa mirip seperti dia?" tanya Reina menunjuk ke foto salah satu pria.


"Yaa, mirip dia tapi yang aku lihat versi tuanya."


"Ini memang foto lama, jaman aku masih kecil dulu. Kalau benar itu pak Sahroni, dimana dia sekarang?"


"Lhah, memang itu siapa?" tanya Rey menyela.


"Itu dari dulu selalu diminta keluargaku kalau sedang membutuhkan jasa tukang bersih-bersih halaman sekitar rumah dan kebun peninggalan ayah. Tapi, setelah Leila hilang, diapun tak ada kabar."


"Kok bisa?"


"Awalnya kami mengira dia yang mengajak Leila pergi. Tapi setelah terungkap semuanya, kami jadi berpikir untuk meminta maaf kalau bertemu lagi dengannya. Dia hanya tinggal sendiri setelah istrinya meninggal, dan anak-anaknya sudah berumah tangga. Lalu kalian tahu dimana dia? "


"Aku nggak tahu, tapi aku memimpikan dia sedang berdiri di jembatan besar belakang rumahmu. Trus menunjuk ke arah pohon bambu," ceritaku sesuai mimpi.


"Baiklah, ayo ke sana bersama. Apa ibumu tak apa kalau ditinggal sendiri?" tanya Rey.


"Ibu sedang tidur setelah meminum obat penenang dari dokter tadi. Aku akan titip sebentar ke tetangga sebelah supaya bisa memanggilku segera kalau dibutuhkan."


Kami bertiga berjalan kaki menuju jembatan yang ku ceritakan tadi, setelah sebelumnya berpamitan pada tetangga sebelah rumah Reina.


"Kamu yakin, itu orangnya. Semoga saja hanya mimpi, karena dia orang baik. Dan tak tega rasanya kalau kejadian itu benar menimpanya."


"Coba kita lihat saja, semoga memang itu tidak benar. Eh, itu gundukannya sudah kelihatan."


Yumna menunjuk sebuah tanah yang lebih menonjol dari sekitarnya.

__ADS_1


__ADS_2